
Qing Yue'er dan Mo Jingtian sudah keluar dari kedai. Mereka berdua bergerak menuju padang pasir dan berhasil tiba di atasnya tanpa ada gangguan dari orang lain.
Di atas tempat yang luas itu, Qing Yue'er nyaris tidak melihat di mana ujungnya. Hanya hamparan cokelat keemasan yang memasuki mata. Ada beberapa orang juga yang terlihat. Mungkin mereka tidak peduli pada rumor bahaya yang baru-baru ini tersebar.
“Jingtian, tidakkah kau memiliki kuda, unta atau binatang roh yang bisa kita naiki?” tanya Qing Yue'er. Kedatangannya ke sini adalah untuk menyelidiki keberadaan iblis. Rasanya kurang pas jika melewati padang pasir dengan cara terbang.
“Tidak punya, tapi aku bisa menyuruh Heilong agar mau mengubah wujudnya,” balas Jingtian.
Qing Yue'er menjentikkan jarinya dengan senang. “Itu ide yang bagus!”
Heilong alias Naga Hitam milik Mo Jingtian yang berada di dalam dimensi langsung memelotot. Apakah dia salah dengar? Bagaimana mungkin dia yang merupakan binatang ilahi harus mengubah wujud menjadi bintang rendahan? Itu akan mempermalukan statusnya!
“Tidak bisa. Aku akan menolak permintaan itu!” Heilong berseru pada dirinya sendiri. Sayangnya sebelum dia bisa melakukan penolakan, tiba-tiba tubuhnya terasa kaku dan nyaris tidak bisa bergerak.
“Keluar sekarang. Kau harus berubah menjadi lebih sederhana.” Terdengar suara tuannya di dalam benak Heilong. Dia merasa ingin menangis karena tuannya benar-benar serius dengan ucapannya.
“Tu—tuan, kenapa harus aku? Kenapa tidak Jinlong saja?” usul Heilong yang tidak mau melaksanakan perintah.
“Keluar atau kau akan kupanggang di tengah padang pasir,” ancam Mo Jingtian, dia sama sekali tidak menerima usulan atau protes dari Heilong.
“B—baik ....” Heilong mengusap keringat di dahinya. Mau tidak mau dia harus tetap keluar jika tidak ingin mendapat hukuman dari Mo Jingtian. Dalam sekejap tubuhnya langsung berubah menjadi kuda hitam yang terlihat sangat kuat.
Qing Yue'er merasa takjub setelah melihat kuda hitam yang muncul di bawah sana. Dia segera turun melihat kuda tersebut. Meskipun penampilannya hampir sama seperti kuda pada umumnya, aura ilahi yang terpancar tidak bisa disembunyikan.
Mo Jingtian melompat naik ke atas kuda. Kemudian dia menarik Qing Yue'er dengan sekali sentakan. Gadis itu cukup terkejut, tetapi akhirnya bisa membiasakan diri setelah duduk tepat di depan Mo Jingtian.
Tiba-tiba kedua tangan Mo Jingtian menelusup ke pinggang Qing Yue'er dan menariknya agar lebih dekat. Punggung Qing Yue'er tanpa sengaja menekan dada bidang Mo Jingtian dan merasakan panas dari detak jantungnya. Dia menoleh ke belakang, lalu menyindir “Sungguh mencari-cari kesempatan.”
“Bukankah ini yang disebut mengutamakan keamanan?” Mo Jingtian membalas tanpa melepaskan pelukannya.
Qing Yue'er menggigit bibirnya lalu segera memalingkan wajah, ia tidak ingin memperlihatkan wajah malunya. “Kalau begitu cepatlah pergi,” pintanya.
Mo Jingtian menyunggingkan senyum tipis dan semakin mengeratkan tangannya. “Heilong, pergi sekarang!”
Heilong tidak memerlukan tali kekang selayaknya kuda pada umumnya. Dia mulai melesat pergi, tetapi sebenarnya otaknya mulai mencarut-carut. Belum cukup tuannya membuat penampilannya seperti ini, lalu sekarang tuannya menjadikan dia sebagai tempat berkencan?
Qing Yue'er tidak tahu apa yang dipikirkan Heilong. Saat ini dia sedang menikmati perjalanan yang penuh dengan debaran jantung. Berada di atas kuda, bersandar di dada bidang Mo Jingtian, merasakan angin yang berembus dan ... dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Dia berdehem. Jika tidak ada percakapan yang tercipta maka dia akan merasa canggung. Akhirnya dia pun bertanya, “Jingtian, apa yang kau tahu tentang pegunungan Jingcai?”
“Pegunungan yang terletak setelah padang pasir ini?”
Qing Yue'er mengangguk. “Ya. Benarkah ada Abadi yang tinggal di sana?”
“Itu rumor yang sudah beredar cukup lama, tapi aku tidak pernah benar-benar bisa membuktikannya. Entah itu hanyalah rumor atau Abadi itu yang telah bersembunyi dengan sangat baik,” terang Mo Jingtian.
“Kalau begitu apakah kabar yang katanya berkultivasi di sana bisa meningkatkan kekuatan juga tidak benar?”
Mo Jingtian menggeleng. “Kalau yang ini adalah kebenaran. Seseorang memang bisa meningkatkan kekuatan di sana. Hanya saja tidak ada yang tahu apakah itu benar-benar karena keberadaan Abadi atau bukan. Seperti yang aku katakan, aku tidak bisa memastikan keberadaannya.
“Mm. Aku mengerti,” ucap Qing Yue'er. Bisa saja di pegunungan Jingcai itu terdapat harta tersembunyi atau apa pun itu yang bisa membuat kekuatan seseorang meningkat. Kedua mata Qing Yue'er membesar, semoga saja benar ada harta. Dia terkikik geli menyadari pikirannya sendiri yang cukup picik.
Qing Yue'er mengalihkan pandangannya dan melihat fatamorgana di beberapa tempat. Semakin jauh ke depan udara menjadi semakin panas, tetapi dia bisa menggunakan qi spiritual untuk menetralkan.
Selain itu semua, Qing Yue'er juga melihat ada banyak kelompok yang sedang menuju ke arah yang sama. Ini cukup mengejutkan, sepertinya ada banyak orang yang tidak takut menemui bahaya.
Kuda hitam terus bergerak dengan kecepatan kilat. Kehadiran aura ilahinya cukup banyak menarik perhatian orang-orang. Mereka bertanya-tanya siapa yang mengendarai binatang hebat itu.
Qing Yue'er menatap lurus ke depan dan tiba-tiba melihat gumpalan kecokelatan yang besar di kejauhan. Dia menyipitkan matanya dan menyadari apa yang terjadi. “Itu badai pasir,” gumamnya. Meskipun ini sudah diantisipasi, tetapi dia masih sedikit terkejut.
“Benar. Bersiaplah.”
“Bersiap untuk apa?” tanya Qing Yue'er.
“Masuk ke dalam badai,” jawab Mo Jingtian. Ada gairah yang terdengar dari dalam suaranya dan itu membuat Qing Yue'er merasa cukup heran. Jadi, bukannya mereka harus menghindari badai, orang yang sedang memeluknya ini malah mengajaknya masuk ke dalam badai.
Jika yang mengucapkan kalimat itu adalah orang lain, maka Qing Yue'er hanya akan menyebutnya tidak normal. Namun, yang ini adalah Mo Jingtian. Memangnya apa yang dia takuti?