
Pulau Langit adalah sebuah pulau yang asal-usulnya cukup misterius. Sepanjang waktu pulau tersebut akan melayang di udara kosong, tepatnya di atas lautan lepas yang tidak ada batasnya. Jumlah Pulau Langit tentunya bukan hanya ada satu, ada hingga sembilan pulau yang dikuasai oleh beberapa kekuatan. Salah satunya adalah klan Xie.
Siapa pun yang memiliki Pulau Langit akan dianggap sebagai kekuatan yang patut diperhatikan di alam Celestial. Namun, tentu saja kadang ada orang-orang yang berusaha untuk mencoba merebutnya.
Antara Pulau Langit yang satu dengan yang lain jaraknya cukup jauh. Itu hal yang bagus karena bisa meminimalisir terjadinya persaingan yang tidak diinginkan, atau pergesekan kekuasaan.
Kebanyakan Pulau Langit dijadikan sebagai markas harta karun atau hal-hal yang berharga lainnya. Tentu saja tingkat keamanannya sangat tinggi. Orang yang tinggal di sana tidak banyak, tapi array perlindungannya bukan sesuatu yang bisa disepelekan.
Di antara pulau-pulau itu, ada dua Pulau Langit yang dibiarkan begitu saja tanpa penghuni dan tanpa ada aktivitas kehidupan apa pun. Meskipun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa menginjakkan kaki di dalamnya. Itu bisa dilihat dari energinya yang begitu mati.
Qing Yue'er melayang di udara bersamaan dengan Mo Jingtian. Dari kejauhan dia bisa melihat pulau-pulau besar yang melayang di langit. Meskipun jaraknya jauh tapi dia bisa melihat semuanya dengan jelas.
Tatapan matanya berhenti pada dua pulau yang sangat rimbun dipenuhi oleh pepohonan hijau. Ada aliran air terjun yang menjuntai jatuh dari ketinggian ke dalam laut yang ada di bawahnya. Itu memang indah tapi Qing Yue'er bisa merasakan udara dingin yang terpancar dari sana.
Di antara semua Pulau Langit, keduanya adalah yang paling menonjol. Hal itu membuat Qing Yue'er merasa tertarik. “Apakah benar-benar tidak ada yang bisa memasukinya? Kira-kira siapa yang mungkin menyia-nyiakan tempat seperti itu?” gumam Qing Yue'er.
“Bagaimana jika kamu mencobanya memasukinya?” balas Mo Jingtian dengan santainya.
Qing Yue'er langsung tersenyum, tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala. “Itu ide yang bagus, tapi sekarang aku ingin terlebih dahulu melihat keadaan Pulau Langit milik klan Xie,” ucapnya.
“Mungkin kamu sudah bisa menemukannya?” tanya Mo Jingtian.
Qing Yue'er menggeleng. “Tidak tahu, tapi seharusnya kamu tahu yang mana, 'kan?”
Mo Jingtian menunjuk pada sebuah Pulau Langit yang di bagian pusatnya terdapat bangunan putih berukuran besar. Ada pendar cahaya yang menyelimuti pulau tersebut. Qing Yue'er meyakininya sebagai array pelindung.
“Klan Xie identik dengan warna putih, berbeda dengan warna abu-abu milik klan Liu,” ucap Mo Jingtian yang berakhir menunjuk pada Pulau Langit yang cukup jauh.
Pulau Langit milik klan Liu lebih didominasi oleh kabut asap yang berwarna abu-abu. Jadi orang luar tidak akan bisa melihat ke dalamnya dengan mudah.
“Tapi kediaman mereka bukan di sana, 'kan?” tanya Qing Yue'er.
“Klan Liu adalah penguasa istana Shenghuo. Jadi, sama seperti klan Xie, mereka menggunakan Pulau Langit untuk kepentingan tertentu.”
Qing Yue'er mendengus. Namanya istana Shenghuo yang berarti kebajikan, tapi kenapa sikap mereka benar-benar buruk? Sungguh tidak sesuai. Kemudian dia menatap Mo Jingtian dengan heran. “Kenapa kamu tahu begitu banyak, hm?”
“Secara alami aku mengetahuinya,” ucap Mo Jingtian dengan santai. Seolah apa yang dia tahu memang sudah sepantasnya diketahui.
“Tunggu, kamu bilang mereka tidak menempati Pulau Langit itu?” tanya Qing Yue'er untuk memastikan. Wajahnya menjadi sumringah sampai melihat Mo Jingtian mengangguk.
“Hahaha ....” Qing Yue'er langsung tertawa. Namun, tawanya tidak sampai hingga ke sudut matanya, sebelum beberapa saat kemudian berubah menjadi sarkas. “Bagus. Aku harus memanggil Taotie!”
Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya diam mengamati tindakan Qing Yue'er. Dia melihat gadis itu memanggil Taotie hingga iblis itu keluar dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Apa? Apa yang harus kulakukan?! Apa aku akan mendapatkan makanan?” tanya Taotie dengan antusias. Namun, setelah menyadari keberadaan Mo Jingtian nyalinya sedikit menciut. Dia langsung terdiam dan menatap takut-takut.
“Aku ingin kamu pergi ke Pulau Langit itu,” ucap Qing Yue'er, menunjuk pada Pulau Langit milik klan Liu. “Kamu boleh memakan apa pun asal kamu tetap baik-baik saja.”
Taotie langsung menatap Qing Yue'er dengan sumringah. “Benarkah?! Kalau begitu aku akan pergi sekarang!” Bahkan sebelum Qing Yue'er bisa merespons, Taotie sudah melesat pergi dengan semangat tingkat tinggi.
Dulu sebelum mendapat hukuman berupa pengurungan di dalam akademi Xinfeng, dia memang sudah sering membuat banyak kekacauan. Memakan segala hal yang ada. Justru itulah alasan kenapa dia dihukum.
Apa dia tidak takut akan dihukum oleh seseorang yang berkuasa seperti dulu? Tentu saja tidak. Dia berada di pihak Qing Yue'er dan itu berarti dia juga memiliki Mo Jingtian yang mungkin tidak akan membiarkannya dihukum. Untuk apa dia takut? Selama dia tidak melawan Qing Yue'er atau Mo Jingtian maka dia akan baik-baik saja.
Memikirkan hal seperti itu membuat Taotie terbahak-bahak. Tawanya yang begitu keras terdengar menggema hingga di seluruh lautan. Beberapa orang yang kebetulan sedang berada di wilayah itu menjadi waspada. Siapa yang mungkin bisa tertawa begitu mengguncang?
Mereka langsung keluar dari wilayah masing-masing untuk melihat siapa yang tertawa. Tentu saja mereka tidak bisa lengah dengan hal seperti ini. Mereka melihat cahaya hitam melesat dengan kecepatan kilat menuju Pulau Langit yang sudah dikenal sebagai milik klan Liu.
Dia menyipitkan matanya demi melihat siapa cahaya hitam itu. Namun, tatapan matanya langsung menyusut ketika melihat penampakan selanjutnya. Kepala hitam sebesar gunung, serta mulut dan tanduk yang begitu besar. Apa itu? Makhluk apa itu?!
Orang tua itu terhuyung hampir jatuh dari langit. Beruntung dia bisa menjaga keseimbangannya. Sambil memegang dadanya yang tidak tenang, dia pun bergumam linglung, “Taotie .... Benarkah itu Taotie?”
Wajahnya langsung memucat. Tentu saja dia tahu cerita masa lalu tentang makhluk sebesar Taotie. Betapa menakutkannya itu. Dan sekarang, makhluk itu benar-benar kembali. Bagaimana dia bisa tetap tenang!
Hal yang dia lihat selanjutnya benar-benar membuatnya semakin pucat. Mulut besar Taotie itu terbuka lebar sebelum dengan mudahnya mulai menggigit Pulau Langit milik klan Liu yang lebih besar dari kepala Taotie itu sendiri.
“Tidak. Bencana, ini benar-benar bencana!” Orang tua berjubah ungu itu langsung mundur hingga beberapa langkah. Dia hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Kedua tangannya menggosok-gosok matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat. Setelah beberapa saat akhirnya dia benar-benar yakin bahwa apa yang sedang dia lihat adalah sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa Taotie yang menjadi legenda ketakutan orang-orang ternyata benar-benar muncul kembali.
Sebenarnya bukan hanya dia yang terkejut dan ketakutan. Beberapa orang yang melihat ini juga merasakan hal yang serupa. Mereka hampir tidak percaya dan berusaha untuk menelan ludah dengan susah payah.
Berbeda dengan reaksi mereka, Qing Yue'er justru menatap takjub pada Taotie. Dia tidak menyangka ternyata Taotie akan langsung memakan Pulau Langit itu. Dia pikir Taotie hanya akan memakan apa yang ada di dalamnya. Namun, ternyata lebih dari itu.
“Woah, ini benar-benar hebat. Bukankah dia terlalu rakus?” ucap Qing Yue'er dengan takjub. Ternyata ada makhluk seperti itu di dunia ini.
“Dia memang rakus, tapi itu hal yang bagus,” sahut Mo Jingtian yang menyetujui ucapan Qing Yue'er. Kemudian dia menambahkan, “Apa kau tahu ini akan sedikit berisiko?”
Qing Yue'er mentap Mo Jingtian sejenak. “Aku tahu, tapi aku tidak takut,” katanya dengan percaya diri.
“Bagus.” Mo Jingtian memujinya. Dia salut dengan keberanian Qing Yue'er. Jika orang-orang Celestial mengetahui keberadaan Taotie maka mereka pasti akan segera memburunya. Meskipun begitu gadis itu tidak merasa terganggu akan hal itu.
Qing Yue'er kembali mengamati perbuatan Taotie. Dalam benak dia mengirimkan pesan pada Taotie. “Setelah memakan Pulau Langit, kembalilah ke dalam dimensi. Kamu tidak ingin ditangkap oleh orang-orang, bukan?”
Setelah itu dia mendengar Taotie yang menggeram dari jauh sebagai tanda mengerti. Ini membuatnya merasa baik-baik saja. Kemudian dia menatap ke sekeliling. Dia bisa merasakan beberapa orang yang bersembunyi untuk mengamati Taotie. Mereka pasti akan menuturkan berita ini pada orang lain.
Qing Yue'er tidak merasa keberatan. Jika Taotie sudah kembali ke dimensi maka mereka tidak akan begitu mudah untuk menemukannya. Kemudian keberadaan Taotie hanya akan berakhir menjadi gosip semata.
“Aku harus memberi tahu hal ini pada kepala istana. Kepala istana harus tahu mengenai kemunculan Taotie.” Orang tua berjubah ungu itu langsung berbalik. Dia ingin segera menceritakan hal ini pada kepala klannya.
Sama seperti orang berjubah ungu, beberapa orang yang melihat kejadian ini juga berpikir seperti itu. Dengan cepat mereka langsung pergi menemui penguasa masing-masing.
Sementara mereka pergi, Taotie sudah selesai dengan konsumsinya. Dia langsung bersendawa dengan keras. Suara sendawanya terdengar menggelegar seperti suara guntur. Tanpa menunggu lama dia langsung menghilang ke dalam udara kosong. Seperti yang Qing Yue'er minta, dia sudah kembali ke dimensinya.
Qing Yue'er mengamati semuanya dengan perasaan puas. Pulau Langit milik klan Liu yang ukurannya bukan hal sepele, sekarang benar-benar hilang, lenyap tanpa ada apa pun yang tersisa. Nanti ketika berita ini menyebar maka wilayah Celestial mungkin akan menjadi gempar.
Meskipun Qing Yue'er merasa puas tapi dia juga merasa sedikit aneh. Kenapa dia tidak melihat ada orang-orang klan Liu di sana? Jika ada yang berkeliaran seharusnya ada yang mencoba melawan Taotie atau sekadar mencegahnya. Namun, ini senyap, tidak ada sama sekali.
“Apa memang tidak ada seseorang dari Klan Liu di sini?” tanya Qing Yue'er dengan heran.
“Mungkin memang tidak ada. Aku rasa mereka juga terluka setelah melawan ibumu,” ucap Mo Jingtian dengan yakin.
Qing Yue'er mengangguk. Itu memang sebuah kemungkinan yang bagus. Kemudian dia beralih mengamati Pulau Langit milik klan Xie yang tampak tenang. Apa mungkin seseorang yang berjaga di pulau itu juga sedang melaporkan masalah ini pada istana Tianjun? Kalau begitu sepertinya dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum orang-orang mulai berdatangan.
Awalnya dia ingin mematahkan tulang orang-orang klan Liu. Namun, dia tidak bertemu dengan mereka di sana. Jadi, mungkin dia akan menundanya sekarang. Namun, dia yakin akan satu hal, ada waktunya dia akan melakukan pembantaian.
Qing Yue'er menarik napas dengan lembut. Dia menjadi penasaran dengan bagaimana ekspresi masam di wajah kepala klan Liu setelah mengetahui Pulau Langitnya menghilang. Orang itu pasti akan terbang dalam kemarahan.
“Ayo pergi sekarang,” ajak Qing Yue'er yang langsung disetujui oleh Mo Jingtian. Mereka pun pergi meninggalkan kelengangan Pulau Langit.
Setelah Qing Yue'er menghilang, seseorang tiba-tiba keluar dari udara kosong. Dia adalah sosok pria tua yang memanggul sebuah tongkat di pundaknya. Di ujung belakang tongkat tersebut tergantung dua botol kendi yang berisi arak.
Matanya bergerak menatap pada tempat yang baru saja ditinggalkan oleh Qing Yue'er. “Apa itu benar-benar putri Xie Ying Fei?” gumamnya sambil menerawang jauh.