
Malam ini akademi mengadakan sambutan untuk murid baru. Tapi Qing Yue'er tidak menghadirinya. Dia lebih berminat pergi ke Aula Bela Diri di puncak utama.
Aula Bela Diri memiliki fasilitas untuk melatih teknik bela diri. Di sanalah Qing Yue'er bisa menukar slip bambu dengan teknik yang sudah tersedia.
Aula Bela Diri memiliki 6 lantai. Lantai 1 untuk memilih teknik kelas 1. Lantai 2 untuk memilih teknik kelas 2. Lantai 3 untuk memilih teknik kelas 3. Untuk lantai 4,5 dan 6, itu adalah lantai untuk melatih teknik bela diri.
Qing Yue'er masuk. Lantai 1 dan 2 dipenuhi orang-orang. Terutama lantai 1, disana hampir tidak ada celah untuk bergerak. Saat Qing Yue'er naik ke lantai 3 disana hanya ada sedikit orang.
Itu tidak mengherankan. Meskipun peringkat yang berbeda dari teknik bela diri memiliki kualitas yang berbeda, kesulitan untuk pelatihan juga berbeda.
Itulah mengapa para murid baru lebih memilih untuk melatih teknik dari peringkat 1 ataupun 2. Namun Qing Yue'er berbeda. Bahkan jika tujuan teknik bela diri hanya untuk pertahanan, dia harus memilih yang terkuat.
Saat Qing Yue'er memasuki lantai 3, dia melihat seorang penatua sedang duduk dan menatapnya. Usianya mungkin hampir 100 tahun. Tapi auranya masih terasa sangat kuat.
"Anak muda, saya sarankan untuk tidak menggigit apa yang tidak mampu anda kunyah. Ketrampilan disini tidak cocok untukmu." Penatua itu berkata kepadanya.
Qing Yue'er bisa menebak. Orang ini pasti penjaga Aula Bela Diri. "Terima kasih atas pengingatnya. Tapi aku punya rencana sendiri."
Qing Yue'er berjalan ke konter setelah menangkupkan tangannya pada penatua itu.
Penatua itu menghela nafas kecewa. "Aih murid arogan lainnya."
Dia telah menemui banyak murid arogan seperti ini. Biasanya mereka langsung melatih teknik yang menurutnya paling kuat. Tapi tentu saja tidak banyak yang berhasil.
Ketika menemui kegagalan ringan, mereka masih bisa memperbaiki. Tapi jika gagal sepenuhnya, mereka bisa kehilangan masa depannya.
Penatua itu hanya bersikap baik hati untuk mengingatkan, terutama para murid baru. Namun, kebanyakan mereka tetap bersikeras dengan pilihannya.
Qing Yue'er menyerahkan slip bambu kepada petugas di lantai 3. Kemudian petugas itu menunjukkan barisan mana yang tersedia untuk para murid baru.
Qing Yue'er memilih di barisan rak. Disana mungkin hanya terdapat 100 teknik bela diri yang disiapkan. Sisanya adalah teknik kelas 3 yang lebih unggul.
Setelah menemukan teknik yang menurutnya paling kuat, Qing Yue'er mendaftarkannya ke petugas.
"Kamu yakin memilih Tinju Bayangan ini?"
Qing Yue'er mengangguk.
"Ini adalah teknik yang sulit." Petugas itu menggelengkan kepalanya.
"Saya mengerti. Ini yang ingin saya latih." Qing Yue'er tersenyum.
Petugas itu menghela nafasnya. Anak muda sekarang selalu melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri. Tapi dia masih tetap mendaftarkan nama Qing Yu di bukunya.
Setelah Qing Yue'er selesai dia mulai naik menuju lantai 6 untuk pelatihan.
Lantai 4 sampai 6 itu di desain khusus untuk tempat pelatihan. Di tengah ruangan terdapat area luas yang dipenuhi mekanisme. Itu adalah area yang digunakan secara bersamaan.
Untuk orang yang senang dengan suasana hidup, area ini adalah tempat yang cocok. Mereka bisa saling membantu dengan temannya.
Sedangkan untuk seseorang yang lebih suka dengan ketenangan, mereka bisa memasuki kamar batu yang disediakan. Ketika pintu batu ditutup, itu seperti mengisolasi diri dari dunia luar.
Qing Yue'er memasuki kamar batu. Di tengah-tengah terdapat pilar mekanisme. Pilar itu terbuat dari baja sehingga sangat kokoh. Jika diserang, itu akan secara otomatis menghindar.
Qing Yue'er membuka buku di tangannya. Dia membaca deskripsi dan metode pelatihan teknik Tinju Bayangan.
Qing Yue'er mendekati pilar mekanisme. Dia mulai mengendapkan qi spiritual di telapak tangannya.
*woshh woshh
Qing Yue'er mengayunkan tinjunya dan dia bisa melihat tinjunya menghasilkan 3 jejak. Tapi tepat saat tinjunya akan mendarat di pilar mekanisme, pilar itu bergerak menghindari serangan Qing Yue'er dengan kecepatan tak terlihat.
Qing Yue'er tertegun sejenak. Tapi kemudian dia tersenyum. "Ini sangat menarik."
Kemudian Qing Yue'er mulai berlatih sampai tengah malam. Keringat sudah membasahi bajunya. Tapi Qing Yue'er merasa puas. Dia sedikit demi sedikit mulai memahami sifat teknik Tinju Bayangan.
Teknik Tinju Bayangan mengandalkan mata yang jeli. Mengganti realita dan menyerang saat mereka tertangkap basah.
Ini mungkin bukan teknik terkuat, tapi ini jelas bisa dengan mudah mengelabui lawan yang dihadapinya.
Qing Yue'er menyeka keringat di dahinya sebelum kembali ke asrama. Dia akan melanjutkan pelatihan untuk hari lain.
Saat Qing Yue'er hendak berjalan melewati jembatan, dia merasakan sosok putih melintas dengan kecepatan kilat. Sosok itu tidak berhenti dan melewati Qing Yue'er begitu saja.
Qing Yue'er merasa sedikit penasaran. Dia mengejar dengan kecepatan maksimal, tapi dia tetap tertinggal. Sosok itu menghilang di atas jembatan. Qing Yue'er hanya melihat rambut putihnya yang panjang hampir menyentuh tanah.
Tiba-tiba dia teringat wanita dengan mata rubah yang dia temui di jurang alun-alun kerajaan Linxiang. Qing Yue'er tertegun. Apakah mereka orang yang sama?
"Anak muda, apa kamu mencariku?"
Suara itu datang dari belakang. Qing Yue'er segera berbalik dengan cepat.
Dugaan Qing Yue'er tidak salah. Itu adalah wanita rubah yang dia temui. Tapi seharusnya wanita itu tidak mengenalinya bukan?
"Maafkan junior ini jika telah mengganggu Senior." Qing Yue'er menangkupkan tangannya.
"Benar, sepertinya aku harus menghukummu." Wanita itu tersenyum miring.
Mendengar ini, Qing Yue'er langsung waspada. Dia tidak tahu seberapa kuat orang itu.
Wanita itu bergerak secepat kilat sebelum Qing Yue'er menyadarinya. Dia hanya merasakan ledakan rasa sakit di dadanya.
Mata Qing Yue'er membola saat dia melihat tangan halus mendorong tubuhnya hingga terlempar keluar dari jembatan.
Qing Yue'er tidak diberi kesempatan untuk menolak. Tubuhnya langsung terjun bebas dari ketinggian. Dia bisa melihat jembatan yang semakin mengecil sedikit demi sedikit.
Hatinya langsung tenggelam. Dia tidak pernah berpikir wanita itu akan langsung menjatuhkannya. Apakah dia akan mati begitu saja seperti ini?
Hatinya terasa masam. Benar, rasa penasaran memang bisa membuatmu terbunuh begitu saja.
Wanita rubah itu melihat tubuh Qing Yue'er yang semakin mengecil. Senyum miringnya telah menghilang dengan sempurna.
"Leluhur, bagaimana dia bisa dijatuhkan begitu saja? Mungkinkah dia telah menyinggungmu?" Suara pria tua datang dari belakangnya.
"Tidak, aku hanya menjalankan tugasku." Kemudian sosoknya menjadi kabur.
Pria tua itu mengerutkan keningnya. Dia tidak memahami maksud ucapan leluhurnya.