
“Aiyoohhh, pelan-pelan, pelan-pelan!” seru Qing Yue’er ketika Mo Jingtian dengan berat hati menggendong tubuhnya dan membawanya ke kamar.
Dia tersenyum menyeringai lalu mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Telinganya ditempelkan ke dada Mo Jingtian dan mencoba merasakan detak jantungnya.
“Kenapa terdengar normal? Apa kau tidak gugup sama sekali?” Dia bertanya dengan kening berkerut.
Mo Jingtian menggertakkan giginya. “Benar! Apa kau pikir aku akan terus berdebar-debar jika bersama denganmu?”
“Seharusnya begitu,” balas Qing Yue’er dengan serius. Dia semakin menempelkan telinganya hingga menekan dada Mo Jingtian. Tangannya secara alami menarik tengkuk pria itu hingga sedikit membungkuk.
“Qing Yue’er!” Mo Jingtian menghentikan langkahnya di tepi ranjang. “Turun!”
“Tidak mau.” Gadis itu menggeleng cepat.
“Turun sekarang!”
“Tidak sebelum kau berjanji untuk menikah denganku!”
Mo Jingtian menjadi jengkel. Dia menurunkan tubuh Qing Yue’er ke atas tempat tidur. Namun, gadis itu menarik bahunya hingga dia jatuh menimpa tubuh rampingnya.
Dengan cepat gadis itu memeluk tubuhnya. Begitu erat hingga dia kesulitan bergerak. “Qing Yue’er!”dia menahan geramannya.
“Jingtian, kau mau berjanji atau tidak?!”
“Tidak!”
Qing Yue’er terkekeh. “Baiklah. Kalau begitu, aku yang akan memaksamu.”
Ujung jari yang diselimuti dengan energi spiritual memukul beberapa titik meridian Mo Jingtian. Pria itu seketika tidak bisa bergerak. Kedua matanya langsung melebar.
“Kau benar-benar ….”
“Sssstttt …!”
Qing Yue’er menarik pria itu berbaring di sisinya. Senyum di bibirnya menjadi semakin lebar. Dengan penuh kemenangan dia membuka ikatan pakaian luar Mo Jingtian hingga wajah pria itu memerah.
“Yue’er, apa yang kau lakukan?!”
Mo Jingtian terdengar panik. Dia ingin memberontak, tapi tubuhnya sudah dikunci. Saat ini kekuatan Qing Yue’er jelas lebih unggul, apalagi gadis itu sudah mencapai roh perak.
Dia mungkin bisa menggunakan kekuatan jiwa, tapi dia tidak ingin menggunakannya pada Qing Yue’er. Ini membuatnya merasa tidak berdaya.
“Jingtian, jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Sungguh! Bagaimanapun juga aku seharusnya bukan gadis yang tidak bermoral,” ucap Qing Yue’er dengan manis.
“Tapi ini sudah tidak bermoral!” Mo Jingtian menatap tajam. “Kau adalah seorang gadis. Bagaimana kau bisa begitu tidak tahu malu seperti ini? Apa kau tidak takut reputasimu akan hancur?!”
Qing Yue’er terkekeh. “Kenapa aku harus peduli pada reputasi baik atau buruk? Aku tahu kau tidak pernah melihat itu dariku,” balasnya dengan santai.
Mo Jingtian menggertakkan giginya tanpa bisa berkata-kata. Dia memang tidak pernah peduli dengan reputasi atau bagaimana orang lain memandang Qing Yue’er. Selama itu adalah Qing Yue’er, maka dia akan selalu menerimanya.
“Mo Jingtian, seharusnya kau senang karena memiliki kekasih sepertiku. Aku adalah gadis modern. Aku jauh lebih mengerti tentang masalah seperti ini daripada gadis-gadis di sini yang pemalu dan banyak aturan.”
“Masalah seperti apa?” Mo Jingtian bertanya sambil menggertakkan gigi.
“Kau tidak tahu apa maksudku?” Qing Yue’er langsung berpura-pura terkejut. “Tentu saja masalah seperti bagaimana cara menjebak seseorang di atas ranjang, bagaimana menggoda seorang pria dan menarik mereka ke tempat tidur.”
Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Mo Jingtian, lalu melanjutkan, “Aku bahkan mengetahui berbagai gaya yang bisa dilakukan suami-istri di atas ranjang. Bagaimana? Apa kau tertarik mencobanya denganku?”
Warna merah di wajah Mo Jingtian menjalar hingga ke leher dan telinganya. “Tidak tahu malu!” geramnya dengan marah.
Qing Yue’er tertawa terbahak-bahak. Dia tidak pernah melakukan hal-hal itu di dunia modern, tapi dia senang menggoda Mo Jingtian hingga membuatnya marah. Ini adalah kesenangan tersendiri baginya.
Mo Jingtian hanya menatap tajam padanya. Dia terlalu marah sampai tidak bisa berkata-kata.
Qing Yue’er menyeringai melihat itu. Dia sudah melepaskan pakaian luar Mo Jingtian. Kemudian tangannya mulai mendarat di ikatan tali jubah dalamnya di sisi pinggang. Jika itu dibuka, pria itu akan setengah telanjang.
“Qing Yue’er!” pria itu langsung berteriak. Marah dan juga panik. Gadis itu lalu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
“Katakan, kau masih tidak ingin berjanji padaku?”
Mo Jingtian menggertakkan giginya. “Tidak akan!”
Senyum di bibir Qing Yue’er menjadi semakin lebar. Dia melepaskan topeng Mo Jingtian. Ekspresi marahnya menjadi begitu jelas.
Namun, dia tidak peduli. Tangannya bergerak melepaskan hiasan rambut pria itu. Tusuk rambut peraknya ditanggalkan. Rambut putih panjang itu langsung terurai di atas bantal.
Qing Yue’er menelan ludahnya susah payah. Mo Jingtian terlihat begitu menggoda dengan dadanya yang sedikit terbuka. Jubah dalamnya yang tipis tidak bisa menyembunyikan bayangan tubuhnya yang berotot.
Rambutnya yang terurai dengan berantakan membuatnya terlihat lebih menggairahkan. Dia indah, tapi keindahannya bisa menarik keinginan liar seorang gadis.
Oh, bolehkah dia memakannya sekarang?
“Yue’er, ini tidak benar. Berhentilah!”
“Tidak,” Qing Yue’er bergumam. Ujung jarinya membelai bibir Mo Jingtian yang lembab dan cerah. Perlahan dia membungkuk lalu menempelkan bibirnya pada bibir pria itu.
Kedua matanya dipejamkan. Bibirnya mlumat bibir Mo Jingtian lalu menyesap rasa manisnya. Pria itu menolak pada awalnya. Namun, beberapa saat kemudian dia tidak tahan untuk membalasnya.
Bibir dan lidah mereka saling beradu untuk bertukar rasa manis. Tangan Qing Yue’er tanpa sadar mencengkeram bahu Mo Jingtian. Ciumannya menjadi semakin dalam dan memabukkan.
Ketika mereka mulai kehabisan napas, barulah ciuman itu terlepas. Benang perak jatuh dari sudut bibir Qing Yue’er ke leher Mo Jingtian. Dia turun dan menyapukan lidahnya di sana.
Mo Jingtian mendesis merasakan gejolak panas yang timbul di tubuhnya. Selama ribuan tahun tubuhnya tidak disentuh wanita. Ketika mendapat sedikit sentuhan dari orang yang dicintainya, rasa haus langsung mendobrak keinginannya.
“Yue’er ….”
Qing Yue’er mendongak, menatap kedua mata Mo Jingtian yang memerah. Napas pria itu terasa panas dan tidak beraturan. Gairah yang tidak pernah muncul akhirnya terlihat di matanya.
“Jingtian ….”
Pria itu memejamkan matanya dengan ekspresi sakit. “Jangan seperti ini,” bisiknya penuh permohonan. “Jangan menarikku ke dalam kegilaan.”
Qing Yue’er menggeleng. “Aku hanya …. Maaf, bukan ini maksudku,” lirihnya dengan perasaan bersalah. Dia ingin mengutuk diri sendiri karena sudah bertindak jauh.
Tujuannya malam ini bukan untuk melakukan hal-hal berdosa dengan Mo Jingtian. Namun, secara tidak sadar dia telah kehilangan kendali hingga menarik keinginan terdalam pria itu.
Dia segera bangkit lalu melepaskan pakaian luarnya hingga menyisakan jubah dalamnya. Aksesori rambutnya dilepas. Setelah itu dia mengambil selimut dan berbaring di sisi Mo Jingtian.
Telapak tangannya yang diselimuti dengan energi spiritual mendarat di dada pria itu. Dia mencoba memadamkan keinginan Mo Jingtian. Beberapa saat kemudian, pria itu terlihat lebih relaks.
“Bisakah kau melepaskanku?” tanya Mo Jingtian dengan lirih.
Qing Yue’er menggeleng pelan. “Biarkan aku menjadi egois malam ini,” bisiknya yang lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Mo Jingtian hanya bisa memejamkan matanya. Kesedihan dan perasaan tidak berdaya memenuhi hatinya. Keputusan Qing Yue’er sudah tidak bisa diganggu lagi. Gadis itu memaksanya bahkan sampai mengambil langkah ini.
“Maafkan aku,” lirihnya tanpa berani menatap Qing Yue’er.
“Tidurlah. Aku ingin tidur bersamamu malam ini,” kata gadis itu sambil menepuk dada Mo Jingtian. Tepukannya perlahan menghilang bersamaan dengan jatuhnya dia ke alam mimpi.