
Anak Surga jatuh dengan racun yang diminum. Dia tidak bisa melawan orang yang memaksanya meminum racun itu. Rasa sakit yang tidak tertahankan langsung menyerang kepala dan jantungnya. Darah merah tiba-tiba keluar dari 7 lubang di kepalanya.
Dia takut kalau sekarang adalah akhir dari hidupnya. Tidak, dia tidak bisa mati sekarang. Dia masih belum melawan orang-orang yang sudah menghina orang tuanya. Dia tidak bisa mati sekarang.
Mengingat situasinya yang menyedihkan membuat amarah yang begitu besar langsung menyerang hatinya. Dia menggertakkan giginya dengan keras. Matanya yang meredup tiba-tiba terbuka lebar dengan warna kemerahan.
“Aku tidak akan mati sekarang! Aku akan membunuhmu!”
Teriakan anak itu menggema di seluruh desanya. Tiba-tiba petir yang jumlahnya tidak terbatas turun dari langit menciptakan dunia yang penuh dengan guncangan. Petir-petir itu datang menghantam orang yang baru saja memberi racun padanya.
Boomm!
Orang itu langsung menahan serangan petir yang datang tiba-tiba. Namun, seberapa banyak dia mencoba, pertahanannya masih kalah kuat dari petir tersebut. Dengan cara yang cukup tragis tubuh orang jahat itu mulai meretak. Sayangnya sebelum benar-benar hancur orang itu berhasil melarikan diri.
Anak Surga tidak bisa melihat semuanya lagi dengan jelas. Dia hanya tahu bahwa setelah itu hujan petir masih turun dan seluruh wilayah yang sudah mengasingkannya langsung dibumihanguskan oleh sambaran petir.
Tubuh Anak Surga melemah. Pada detik-detik terakhir seseorang yang tampak misterius datang memeriksa keadaan anak itu. Dia menghela napas dan membawa anak itu pergi dari gubuk tua yang sudah reyot.
***
Napas Qing Yue'er langsung terengah-engah setelah mendapat penglihatan ini. Anak Surga itu lagi? Apa hubungannya dengan anak itu? Kenapa dia diberi penglihatan seperti ini?
Qing Yue'er bangkit dari duduknya. Perasaannya menjadi tidak menentu. Dia merasa takjub dengan kekuatan anak itu. Seharusnya jika segel Anak Surga itu bisa dihapus maka kekuatannya adalah sesuatu yang menakutkan. Dia jadi penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi pada anak tersebut.
Sejujurnya dia benar-benar tidak mengerti. Sekali lagi dia mendapat penglihatan ini ketika sedang berkultivasi. Apa mungkin ini adalah sesuatu yang memang harus dia ketahui? Akan tetapi untuk apa?
Qing Yue'er mengembuskan napasnya. Kemudian dia mengambil langkah pergi dari menara. Dia hanya akan menunggu sampai periode penglihatan itu datang lagi. Mungkin dia akan mengetahui siapa Anak Surga itu sebenarnya. Untuk sekarang dia hanya akan fokus pada klannya terlebih dahulu.
Saat Qing Yue'er keluar dari menara, hari sudah berganti pagi. Dia mungkin akan mulai bergerak sekarang selagi istana Shenghuo maih berantakan dengan penyerangannya kemarin. Dengan cepat dia berjalan untuk menemui kakeknya.
“Ying Jun, katakan pada Taotie dan Jinlong untuk mempersiapkan diri. Aku mungkin akan membutuhkan bantuan kalian nanti,” ucap Qing Yue'er pada Ying Jun.
“Kamu bisa tenang. Saat ini kami sudah selalu siap.”
Qing Yue'er menganggukkan kepalanya dengan puas. Tepat pada saat itu dia melihat kakeknya yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Wajahnya terlihat sangat cemas.
“Kebetulan aku menemukanmu di sini,” ucap Xie Song.
“Ada apa, Kakek?”
“Katakan dengan jujur, apa kemarin kamu pergi ke klan Liu untuk melenyapkan pasukan mereka?” tanya Xie Song menuntut jawaban dari Qing Yue'er.
“Bagaimana Kakek bisa tahu?”
Xie Song langsung meringis. Dia baru mendengar masalah ini dari mata-mata yang dia tanam di klan Liu. Awalnya dia tidak percaya, bagaimana mungkin gadis itu bisa memiliki keberanian sebesar itu? Namun, sekarang gadis itu mengakuinya sendiri! Dia benar-benar terkejut.
“Gadis, apa kamu tahu mereka bisa saja mengetahui identitasmu,” sesal Xie Song.
Qing Yue'er menghela napas. “Kakek, ayo kita pergi.”
“Pergi ke mana?” Xie Song menjadi heran dengan ajakan cucunya itu.
“Pergi ke klan Liu, Kakek. Sementara mereka sibuk akan lebih baik jika kita menyerang mereka terlebih dahulu,” ucap Qing Yue'er dengan serius. Dia sudah memikirkan ini juga. Sudah bertahun-tahun klan Xie ditekan, mau sampai kapan mereka akan seperti itu?
Xie Song hampir tersedak ludahnya sendiri. Apa gadis ini gila? Bagaimana mungkin pagi-pagi seperti ini dia datang untuk berbicara tentang penyerangan? Ini terlalu mendadak baginya dan dia belum memikirkan ini dengan benar.
“Kamu ... Nak, tolong jangan bercanda padaku. Kakekmu ini sudah tua,” ucap Xie Song yang merasa ingin mengeluh.
“Dari mana keberanian itu datang? Bahkan, Ying Fei tidak pernah berbicara hal seperti itu.” Tiba-tiba seseorang berbicara dari arah belakang. Orang itu tak lain adalah Xie Mao, yang datang sambil memegang kocokan ekor kuda.
Qing Yue'er langsung menyipitkan matanya tidak senang. Orang ini datang lagi, pasti akan membuat keributan seperti kemarin. Saat ini suasana hatinya tidak sebaik kemarin. Jika Xie Mao membuat masalah mungkin dia juga tidak akan membiarkannya.
“Kakak Pertama, bukankah kamu bilang patung di menara itu hancur? Itu adalah pertanda buruk atau malah bisa menjadi pertanda datangnya malapetaka. Kamu harus berhati-hati. Jangan menjadi gegabah, jangan menjadi gegabah,” ucap Xie Mao sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Xie Song menjadi sedikit bingung. Dia sudah memeriksa apakah patung dewa yang berada di ruangan lain juga hancur atau tidak. Hasilnya ternyata mereka masih utuh, hanya patung yang ada di menara saja yang hancur.
Jadi untuk menenangkan pikirannya dia telah berpikir dengan positif. Mungkin itu semua terjadi karena patung yang ada di menara sudah dibuat dalam waktu yang lama, makanya hal itu bisa hancur. Namun, sekarang mendengar ucapan Xie Mao, dia harus berpikir sekali lagi. Benarkah itu pertanda malapetaka?
Qing Yue'er memutar bola matanya dengan malas. Sudah jelas-jelas patung itu meledak karena Mo Jingtian yang menghancurkannya. Dia tidak mungkin percaya dengan omong kosong mengenai malapetaka yang Xie Mao katakan. Apa pun yang terjadi pasti ada sebab dan akibatnya. Bukan ramalan malapetaka seperti itu.
“Gadis, sebagai generasi muda, bagaimana kamu bisa berpikir ceroboh seperti itu? Kamu datang ke klan Liu dan melenyapkan pasukan mereka. Seharusnya kamu memikirkan konsekuensinya. Mereka akan semakin menekan klan Xie jika mengetahui identitasmu,” ucap Xie Mao yang mengkritik tindakan Qing Yue'er.
“Sudah, sudah. Jangan katakan lebih lanjut.” Xie Song menghentikan Xie Mao. Dia tidak mau orang itu bicara hal-hal yang akan memicu keributan.
“Hais, apa anak muda zaman sekarang sudah berubah? Kenapa mereka begitu impulsif?” Xie Mao menghela napasnya, seolah sedang meratapi kemajuan generasi muda yang tidak baik.
“Kakek Mao, kenapa kamu begitu banyak bicara? Apa tulangmu yang sudah tua itu akan terasa sakit jika tetap diam di tempat?” tanya Qing Yue'er yang merasa tidak sabar. Orang itu terlalu menjengkelkan untuknya.
Mendengar ucapan Qing Yue'er membuat Xie Mao mendengus tidak senang. “Kamu benar-benar .... Huh, sepertinya kamu harus diberi sedikit pelajaran agar tahu bagaimana berbicara pada orang tua dengan sopan,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan kocokan ekor kudanya. Nada bicaranya terdengar seperti sedang mengancam akan melepaskan serangan sewaktu-waktu.
Qing Yue'er menyipitkan matanya. Dengan dingin dia pun berkata, “Ying Jun, bungkam mulutnya! Aku tidak ingin mendengar mulut tuanya itu menyemburkan omong kosong.”
Seketika cahaya biru langsung melesat dari dahinya. Bayangan biru besar langsung bergerak mendekati Xie Mao lalu menyeret bajunya dengan kecepatan kilat. Itu benar-benar terlalu mendadak hingga Xie Mao tidak memiliki waktu untuk menghindar.
Whoossh.
Ying Jun melemparkan Xie Mao dengan keras hingga orang tua itu melesat menabrak dinding bangunan. Suara gebrakan keras tentunya langsung mencuri perhatian orang-orang. Mereka mulai datang untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Sementara itu Xie Song menjadi tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara. Dia menatap Qing Yue'er dengan pandangan yang penuh dengan keterkejutan. Gadis itu menjalin kontrak dengan seekor phoenix? Kenapa dia baru tahu tentang ini?
“QING YUE'ER!” Xie Mao berteriak dari jauh. Amarahnya semakin tidak tertahankan setelah diperlakukan seperti itu. Meskipun dia terkejut dengan kemunculan phoenix tapi dia juga marah karena diperlakukan dengan buruk oleh seorang gadis muda. Harga dirinya benar-benar hancur!
“Orang tua bodoh. Ke sini dan lawan aku,” ejek Ying Jun pada Xie Mao. Jangankan Qing Yue'er, dia sendiri juga merasa tidak senang dengan ucapan Xie Mao.
“Berhenti, berhenti. Aiya, jangan bertengkar di sini! Xie Mao, tidakkah kamu ingin diam? Kamu adalah sesepuh, bagaimana kamu masih bisa memancing kemarahan gadis seperti Qing Yue'er?”
Xie Mao memelotot sejenak. Dia tidak senang dengan kondisi seperti sekarang. Dia ingin membuka mulutnya tetapi sayap besar Ying Jun tiba-tiba bergerak untuk menghantam pipinya.
Bamm!
Tubuh Xie Mao langsung terlempar ke belakang lagi. Kali ini Ying Jun tidak berhenti. Sebelum Xie Mao bisa bereaksi, dia langsung melepaskan serangan sayapnya lagi untuk menampar orang tua itu sebanyak-banyaknya.
Orang-orang yang melihat ini langsung menelan ludahnya dengan takjub. Mereka tidak berpikir akan melihat phoenix di tempat ini. Dan yang membuat mereka tidak bisa berkata-kata adalah phoenix itu yang menampar Xie Mao hingga berkali-kali. Ini sedikit ... luar biasa.
Qing Yue'er hanya mendengus melihat ini. Biarkan saja orang tua itu merasakan pelajaran agar lebih berhati-hati dalam menyemburkan kata-katanya. Ini mungkin masih sesuatu yang ringan. Namun, jika setelah ini Xie Mao masih tetap sama, maka dia pasti akan mengirimnya ke neraka.
Xie Song mengembuskan napas gelisah. Dia menatap Qing Yue'er dengan rumit. Apakah dia harus mengirim pasukan sekarang? Seperti apa yang gadis itu katakan, saat ini memang waktu yang tepat karena klan Liu pasti masih sibuk dengan urusan pasukan kemarin.
Belum lagi dia sendiri sepertinya belum mengenal kedalaman kekuatan Qing Yue'er. Apakah mungkin gadis itu memiliki sesuatu yang tersembunyi di balik lengan bajunya? Jika dia mengikuti pemikirannya apakah itu baik-baik saja?
“Ayah, ayo bersiap-siap. Aku setuju dengan Yue'er.” Tiba-tiba Xie Ying Fei muncul dan mengutarakan pendapatnya. Dia memikirkan hal yang sama dengan Qing Yue'er. Lagi pula sekarang dia sudah sembuh dan dia siap untuk melakukan pertempuran.
Xie Song menatap kedua ibu dan anak itu dengan pasrah. “Ying Fei, apa kau yakin orang itu tidak akan kembali? Maksudku, dewa itu ....”
Xie Ying Fei menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tapi tidak sepantasnya dewa ikut campur dalam masalah ini. Jika dewa itu datang kita memiliki alasan kuat untuk melawan.”
Qing Yue'er menatap ibu dan kakeknya dengan heran. Apakah mungkin kekuatan yang berdiri di belakang klan Liu adalah seorang dewa? Jadi begitu ya .... Pantas saja klan Xie tidak bisa sembarangan menyerang klan Liu.
Jika dipikir-pikir apa yang ibunya katakan itu benar. Seharusnya dewa tidak ikut campur dalam masalah ini. Kalaupun ada satu yang ikut campur maka seharusnya mereka ada untuk mengadili atau menghentikan kejahatan. Bukan untuk membela klan Liu yang serakah itu.
Qing Yue'er menatap kakeknya. Dengan nada yang arogan dia berkata, “Bahkan, jika dewa menghentikanku, aku masih akan melawannya. Kakek jangan merasa khawatir.”
Xie Song terkekeh mendengar kata-kata itu. Bagaimana cucunya bisa searogan itu? “Baiklah. Ikut denganku sekarang. Aku akan memberimu lebih bnyak persiapan terutama kekuatanmu masih terlalu lemah. Kau tahu?”
Qing Yue'er langsung menganggukan kepalanya dengan senang. Sepertinya kakeknya akan memberikan sesuatu padanya. Apa itu?
“Ying Fei, aku menyerahkan pasukan padamu. Persiapkan dengan baik, berikan mereka senjata terbaik yang ada di gudang senjata. Aku akan membawa Qing Yue'er untuk benda itu terlebih dahulu,” ucap Xie Song dengan tegas yang langsung diangguki oleh Xie Ying Fei.
“Jangan lupa katakan pada Xie Yang untuk mengaktifkan formasi pelindung istana. Jangan sampai kita pergi dengan keadaan istana yang lemah dan tanpa perlindungan,” lanjut Xie Song.
“Baik, Ayah,” jawab Xie Ying Fei.
Setelah itu mereka mulai berpisah. Xie Ying Fei pergi untuk menjalankan perintah ayahnya. Sedangkan Xie Song membawa Qing Yue'er ke suatu tempat. Tempat yang selama ini selalu mereka lindungi dengan baik.
Qing Yue'er mengikuti kakeknya dengan antusias. Kakeknya membawa dia ke area terdalam istana Tianjun. Jadi, dia pikir ini pasti sesuatu yang sangat berharga. Dia menjadi semakin ingin tahu.
Setelah melewati banyak bangunan akhirnya mereka berhenti di halaman belakang istana. Di sana terdapat satu bangunan yang terlihat cukup tua tetapi tetap terawat dengan baik. Itu adalah bangunan yang menjadi tempat peristirahatan para leluhur.
Qing Yue'er tidak tahu kenapa kakeknya membawa dia ke sana. Apakah mungkin kakeknya akan meminta berkat dari leluhur untuk melakukan penyerangan? Sepertinya tidak, mungkin lebih tepatnya ada benda tertentu yang disembunyikan di dalam bangunan itu.
***
Jika ada yang lupa dengan Anak Surga, kalian bisa baca ulang bab 240.
Jangan lupa tetap jaga kesehatan, kalau keluar jangan lupa pakai masker 👍