
Qing Yue'er dan Mo Jingtian berhenti sebelum padang pasir. Di sana ada kedai yang besar dan cukup ramai. Orang-orang banyak yang singgah di sana setelah melalui padang pasir yang sangat luas.
Kedua mata Qing Yue'er terpaku ke depan. Udara di tempatnya berdiri sudah sangat panas, bagaimana dengan di tengah padang pasir? Ini membuatnya merasa penasaran. Lagi pula dia ingin tahu bagaimana iblis bersembunyi di tempat seperti itu.
“Jingtian, ayo pergi melihat kedai dulu,” ajak Qing Yue'er, ia berjalan mendahului Mo Jingtian menuju kedai di samping jalan.
Kedatangan Qing Yue'er dan Mo Jingtian tidak membuat orang lain tertarik karena penampilan mereka yang sangat sederhana. Ini membuat semuanya terasa mudah, pada awalnya. Tidak ada yang merasa ingin membuat keributan.
Qing Yue'er mengamati orang di sekitar. Orang-orang di sana tampak lebih kusam dari yang pernah dia lihat. Mungkin karena tempat ini memiliki udara yang lebih panas dari daerah lain.
Setelah duduk cukup lama, Qing Yue'er baru menyadari jika tidak ada seorang pelayan yang ingin menawarkan apa pun padanya. Ini membuat kening Qing Yue'er berkerut cukup dalam. Apakah penampilannya sudah membuat mereka tidak berniat memperlakukannya dengan baik?
“Haiz. Jingtian, tunjukkan batu rohmu. Biarkan mereka melihat betapa kayanya kita,” ucap Qing Yue'er dengan sedikit kesombongan dalam nadanya. Orang-orang mendengar ucapan Qing Yue'er, tetapi mereka tidak banyak memberikan respons.
Qing Yue'er menoleh menatap Mo Jingtian, lalu mengulurkan tangannya untuk meminta batu roh pada Mo Jingtian. Namun, pria itu hanya termenung diam.
“Kenapa kau hanya diam? Ayo, bagaimanapun juga kau pasti memiliki banyak harta.” Qing Yue'er kembali meminta.
“Batu roh? Kenapa kau tidak mengeluarkan milikmu sendiri?” tanya Mo Jingtian.
“Ah?” Qing Yue'er tertegun. “Aku tidak memiliki banyak. Jika aku bisa meminta padamu kenapa aku harus mengeluarkan milikku?”
Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berkata, “Kau pakai punya sendiri.”
“Hei! Kenapa kau begitu pelit?” protes Qing Yue'er.
“Aku bukannya pelit.” Mo Jingtian menghela napas panjang. Dia malu mengakuinya, tetapi dia harus mengatakan ini. “Sejujurnya aku tidak memiliki itu.”
Orang-orang yang melihat hal ini akhirnya terkekeh. Mereka benar-benar melihat ini sebagai lelucon. Sementara itu Qing Yue'er hanya bisa menggelengkan kepala dengan takjub dan heran. “Aku pikir kau sangat kaya. Ck.” Lidahnya berdecak. “Ternyata kau cukup miskin juga.”
Mo Jingtian berkedip. “Tentu saja aku kaya. Tidak ada yang lebih kaya dariku,” kata Mo Jingtian sedikit sesumbar. Dia ingin menyangkal ucapan Qing Yue'er.
Bagaimana mungkin dia, Mo Jingtian, disebut miskin? Dia memiliki hal yang jauh lebih berharga daripada batu roh. Benda seperti batu roh hanya akan menyita ruang dimensi jadi dia tidak berminat menyimpan hal seperti itu.
“Tetap saja kau tidak memiliki batu roh,” gumam Qing Yue'er dengan tatapan mata yang beredar ke segala arah. Barusan dia melihat ada beberapa orang yang masuk kedai sambil memapah orang lain. Kemudian beberapa orang dengan pakaian pelayan langsung bergegas untuk memeriksa kondisi.
Qing Yue'er merasa sedikit tertarik. “Jingtian, kau tunggu di sini sebentar,” kata Qing Yue'er, ia langsung meninggalkan Mo Jingtian dan bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
“Lakukan apa yang kau mau,” gumam Mo Jingtian sambil mengamati Qing Yue'er yang dengan gesit meninggalkannya.
Qing Yue'er melihat para pelayan kedai berkumpul mengelilingi seorang pria yang terluka. Tampaknya luka itu seperti sebuah luka bakar yang hampir memenuhi seluruh tubuh. Orang-orang menampilkan keresahan di wajah mereka dengan cukup jelas.
“Bagaimana? Aku rasa ini sudah terlalu banyak. Kita tidak tahu apa penyebabnya,” ucap salah satu pelayan yang terlihat paling muda.
“Ah, kita bahas itu nanti. Biarkan seseorang mengobati pria ini dulu,” sahut yang lain.
Qing Yue'er merasa cukup penasaran. Akhirnya dia menyela, “Permisi, permisi. Apakah ada yang ingin menjelaskan sesuatu padaku?” Pertanyaan itu langsung membuat mereka menatapnya.
“Kau, gadis, cukup diam di sana dan tunggu sampai kami menangani ini,” ketus seorang pelayan yang berbadan besar. Tampaknya dia sudah melihat kemiskinan Qing Yue'er dan Mo Jingtian barusan.
Qing Yue'er tidak merasa tersinggung. Dia justru menutup mulut dan menunggu sampai pria yang terluka itu selesai ditangani. Setelah itu dia ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi.