
Ying Jun membawa ketiga pria itu hingga ke tepi tebing. Bahkan dia yang memiliki kekuatan tinggi pun tidak berani bertindak secara sembarangan.
Sebelumnya dia telah mencoba untuk melihat ke dasar jurang, tapi dia tidak mempu melakukannya. Seperti ada suatu penghalang yang membatasi kekuatan deteksinya. Dan kekuatan apa itu dia tidak dapat mengetahuinya.
"Tolong lepaskan aku!"
Teriakan-teriakan seperti itu masih terdengar. Mungkin ketiga pria itu berpikir bahwa dengan memohon atau pun memelas akan membuahkan hasil. Nyatanya Qing Yue'er tidak melakukannya.
Dia juga menyusul Ying Jun ke tepi jurang. Apa yang terlihat hanya kegelapan pekat tanpa dasar. Hanya melihatnya saja akan membuat bulu kuduk seseorang berdiri.
Ketiga pria itu langsung bergidik ngeri. Jika mereka benar-benar dilemparkan maka tidak ada kemungkinan untuk hidup lagi. Itu karena tidak pernah ada seorang pun yang pernah keluar dari jurang tersebut.
Ying Jun menanamkan auranya pada ketiga pria itu sebelum melemparkan mereka ke dalam jurang. Setelah itu dia nampak memejamkan mata untuk mendeteksi jejak aura yang dia tanamkan.
Jing Ling juga ikut mengamati apa yang sedang mereka lakukan. Meskipun dia tidak tahu apa tujuan Qing Yue'er, namun dia tidak mengganggunya dengan pertanyaan.
Setelah beberapa saat kedua mata Ying Jun terbuka. Lalu dia merubah wujudnya menjadi anak kecil yang menggemaskan. Hal itu membuat Qing Yue'er mengangkat alisnya.
"Ada hal mengerikan dan menakjubkan dalam saat yang sama. Sayangnya kita masih belum layak untuk memasuki wilayah itu," ucap Ying Jun.
"Apa yang tidak layak? Bukankah itu hanya warisan kuno?" celetuk Taotie dari arah belakang. Dia menyunggingkan senyum lebarnya penuh kemenangan, seolah-olah dia mengatakan bahwa dia tahu lebih banyak dari pada Ying Jun.
"Apa yang kau tahu?! Apa kamu pikir ini hanya warisan kuno semata?!" seru Ying Jun tidak senang. Dia mengatakan hal itu bukan tanpa alasan.
Tentu saja warisan kuno memiliki berbagai sistem mekanisme yang tidak biasa. Tebing Akhir Kematian masih murni tanpa ada seseorang yang mencoba masuk untuk menyelidiki. Hal itu membuat mekanisme dan sistem perlindungannya masih kuat tanpa jamahan manusia.
Mungkin mereka harus menunggu beberapa lama untuk membiarkan seseorang mencoba melemahkan pertahanan itu. Ketika saatnya tiba, itu akan menjadi waktu yang tepat untuk mengambil apa yang ada di dalam sana.
Tidak perlu takut orang lain mengambilnya, karena dia yakin tidak ada seorang pun di bawah ahli alam duniawi yang bisa memasukinya.
"Jing Ling, beritahu orang lain soal masalah ini. Semakin banyak yang tahu itu akan semakin baik," ucap Qing Yue'er.
Untuk orang-orang yang gila harta pasti mereka akan masuk dan mencari jalan tanpa pikir panjang. Sedangkan orang yang lebih berhati-hati mereka akan memikirkan untung dan ruginya.
Jika nanti ada banyak manusia-manusia yang tergiur dan harus mati, dia tidak akan merasa bersalah. Itu hanya karena hati mereka yang serakah dan dibutakan oleh harta.
Jing Ling mengangguk mengerti. Dia langsung membuat pesan dengan caranya sendiri untuk memberitahu orang-orang mengenai harta tersembunyi yang ada di Tebing Akhir Kematian.
Sebenarnya dia cukup penasaran dengan apa yang tersimpan di bawah sana. Namun mengingat kalau binatang illahi pun tidak berani memasukinya, berarti tempat itu memang berbahaya.
Qing Yue'er menabur beberapa batu roh di tepi tebing. Ini akan memungkinkan orang lain untuk berspekulasi semakin berani. Kemudian dia hanya berdiri dengan pikiran yang melayang.
Selain itu, warisan apa yang bisa sangat berbahaya? Jika memang benar maka itu harus sesuatu yang sangat berharga.
Qing Yue'er menghela napasnya. Setelah itu dia terbang kembali ke kudanya dan disusul oleh yang lain. Dia melihat darah merah yang berceceran di tanah, namun sisa mayatnya sudah tidak bisa ditemukan.
Dia menoleh melihat Taotie. "Apa kau sudah kenyang sekarang?"
Taotie terkekeh. "Tentu saja belum. Ini hanya mengisi celah-celah gigi saja."
Ying Jun mendengus mendengar jawaban Taotie. Iblis itu memang benar-benar serakah. Pantas saja dia dihukum oleh orang-orang itu.
"Eh, ngomong-ngomong bagaimana aku harus memanggil kalian? Ini ...." Jing Ling memandang Ying Jun dan Taotie secara bergantian. Jika Ying Jun adalah Phoenix lalu pria yang satu lagi, siapa dia?
Taotie mendekati Jing Ling dengan senyum menggoda. Kali ini dia yakin pesonanya akan meluluhkan hati gadis itu.
"Panggil aku Mo Ran," ucap Taotie dengan percaya diri.
Qing Yue'er langsung menatap Taotie dengan datar. "Ganti. Tidak ada yang akan menggunakan marga Mo."
"Ah? Memangnya kenapa? Ini adalah namaku ketika dalam masa jaya," protes Taotie.
Ying Jun terkekeh. Tentu saja alasannya karena Qing Yue'er tidak ingin Taotie memiliki nama marga yang sama dengan Mo Jingtian.
"Aku tidak peduli. Sekarang namamu adalah Wu Hei'an." Qing Yue'er tidak menerima penolakan. Dia langsung naik ke kudanya.
"Hmm, nama yang cocok. Dan ah, aku tidak menyangka kalau kamu bisa menjadi begitu menggemaskan," ucap Jing Ling sambil menarik kedua pipi Ying Jun.
Taotie tercengang. Dia pikir Jing Ling akan merasa hanyut oleh pesonanya, tapi kenapa gadis itu sama sekali tidak peduli padanya? Dan malah sebaliknya lebih perhatian pada Ying Jun?
"Huh." Dia mendengus. Tanpa mengatakan apa-apa lagi dia pun kembali ke ruang dimensinya.
Ying Jun melepaskan diri dari Jing Ling dan menjauh dari gadis itu. Pipi besarnya nampak merah akibat cubitan Jing Ling. "Kalian dua gadis sama saja! Tidak bisakah kalian memperlakukan orang tua ini seperti leluhur yang terhormat?!"
"Hah? Kamu tidak terlihat seperti leluhur sama sekali," ucap Qing Yue'er.
"Hmm!" Ying Jun merasa tidak senang tapi dia tidak bisa melakukan apa pun pada mereka. Akhirnya dia hanya bisa masuk kembali ke ruang dimensinya.
"Ayo, kita harus segera pergi. Akan ada waktunya kita kembali untuk mengambil alih tempat ini," ucap Qing Yue'er.
Jing Ling mengangguk. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.