
Belasan tahun yang lalu, keluarga Chao yang awalnya dikepalai oleh Chao Shan akhirnya menjadi panas oleh sebuah konflik. Setelah Chao Shan mati, anak-anaknya yang serakah menjadi tidak senang ketika Chao Xing menerima lebih banyak harta warisan. Padahal jelas-jelas dia adalah seorang wanita, bukan pria.
Tentu saja keputusan tentang pembagian warisan menjadi bumerang bagi keluarga. Mereka ingin memprotes tapi sudah tidak ada gunanya karena Chao Shan sudah mati. Akhirnya mereka hanya bisa menekan Chao Xing agar membagi hartanya.
Saat itu Chao Xing ingin memeratakan hartanya, tetapi karena Ming An tidak mengizinkannya akhirnya dia mengurungkan niatnya. Hal itu membuat saudara-saudaranya semakin menjadi-jadi dalam melakukan tekanan. Putra Chao Xing yang bernama Ming Xuan mengalami kelumpuhan ketika kecil adalah hasil dari semua konflik itu.
Karena merasa tidak tahan akhirnya Chao Xing memutuskan untuk menyerahkan segala harta warisan yang awalnya adalah bagian miliknya. Dia beserta Ming An dan anaknya akhirnya pergi dari keluarga Chao dan memutuskan untuk hidup sederhana di tempat lain.
Namun, siapa yang akan menyangka kalau ternyata Ming An telah melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan. Dengan bangganya Ming An menunjukkan cincin yang di dalamnya terdapat binatang roh. Cincin itu adalah pusaka keluarga Chao yang sangat berharga.
"Istriku, lihat apa yang aku bawa! Mereka boleh mengambil warisan itu tetapi pada akhirnya pusaka ini jatuh ke tanganku!" Ming An berseru dengan mata yang berapi-api. Dia merasa puas karena bisa membalas keserakahan dengan keserakahan.
Chao Xing ingin memarahi Ming An karena telah berani mencuri harta berharga milik keluarganya. Sebenci apa pun dia pada keluarganya, dia tidak pernah memiliki keinginan untuk mencuri harta pusaka itu.
Namun ternyata dia tidak memiliki waktu lagi karena keluarga Chao sudah mengetahui perbuatan Ming An. Keluarga Chao mengejar mereka berdua dan meminta agar mereka mau mengembalikan harta pusaka itu.
Chao Xing dan Ming An melarikan diri ke area hutan. Dalam pelarian itu Chao Xing benar-benar kehabisan tenaganya. Dengan dipenuhi rasa putus asa, dia pun berkata, "Pergilah. Jaga anak-anak kita dengan baik. Aku akan menahan mereka."
Mungkin dia merasa marah dan kecewa pada Ming An, tetapi rasa cintanya selalu lebih besar dari kemarahan itu. Dia memutuskan untuk mengalah dan membiarkan suaminya pergi membawa anak-anaknya.
Ming An yang memang sedikit egois akhirnya pergi meninggalkan istrinya. Dia mencari tempat untuk bersembunyi. Saat itu dia harus membungkam mulut anak-anaknya yang selalu menangis, mungkin karena ikut merasakan ketegangan orangtuanya.
Keluarga Chao yang mengejar mereka akhirnya berhenti ketika menemukan Chao Xing menahan mereka. Mereka berusaha meminta baik-baik agar Chao Xing mau menyerahkan pusaka itu.
"Xing'er, mintalah suamimu untuk mengembalikan harta pusaka itu. Kamu tahu itu adalah sesuatu yang menjadi pelindung keluarga."
"Tidak akan! Meskipun jika suamiku mau mengembalikannya, aku tidak bisa menjamin kalau kalian akan melepaskan dia."
"Kenapa kamu begitu keras kepala?! Aku berjanji tidak akan melukainya, dan aku akan memastikan kalau saudara-saudara kita akan mengembalikan harta warisan yang menjadi hakmu."
Chao Xing tidak bisa mempercayai orang itu. "Aku tidak akan membiarkanmu menemukannya, bahkan jika kau membunuhku!"
"Keras kepala!"
Orang itu akhirnya kehilangan kesabarannya. Dia mengambil belati identitas keluarga Chao dan langsung menusukkannya tepat di jantung Chao Xing. Amarah yang menguasai hatinya sudah membutakan perasaan persaudaraan yang terjalin sejak lahir.
Dia marah karena Chao Xing lebih memilih melindungi suaminya, daripada menyerahkan harta pusaka yang akan melindungi keluarga Chao dari bahaya. Namun di sisi lain dia juga merasa tidak berdaya, karena mereka memang telah salah setelah mengambil harta warisan milik Chao Xing.
Dia menghela napas dan pergi meninggalkan mayat Chao Xing begitu saja. Dia ingin mencari Ming An untuk merebut kembali harta pusaka yang sudah dicuri. Bahkan jika dia harus menebus dengan harta, dia akan melakukannya tanpa ragu. Sayangnya sampai seluruh hutan dilacak, dia masih tidak bisa menemukan jejak Ming An.
Chao Long mengakhiri penjelasannya dengan kekehan tak berdaya. Ini adalah aib bagi keluarga Chao. Namun aib itu hanya akan ada untuk selamanya jika tetap disimpan tanpa diselesaikan.
"Omong kosong! Kamu pasti berbohong!" Ming Yuxia berteriak dengan keras. Dia sama sekali tidak percaya dengan cerita Chao Long. Sebelum pergi meninggalkan rumah, ayahnya sudah berpesan agar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh orang-orang Chao. Jadi sekarang dia pun tidak ingin mempercayainya
Selama ini dia selalu mempercayai ayahnya. Pria tua itu selalu mengatakan kalau dia hanya ingin hidup sederhana agar tidak mengalami banyak konflik-konflik yang tidak penting. Ayahnya pasti tidak mungkin membohonginya.
"Jika kamu tidak percaya maka tanyakan pada ayah b*jinganmu itu! Keluarga Chao tidak akan menciptakan cerita kebohongan!" Chao Yan berteriak dengan marah.
Chao Long melambaikan tangannya agar Chao Yan berhenti bicara. Dia tidak ingin masalah ini menjadi semakin panas. Mungkin mereka harus membicarakannya secara baik-baik dengan anak Ming An. Selain untuk memperbaiki hubungan, dia juga berharap agar gadis itu bisa membantu mengembalikan pusaka keluarganya.
Qing Yue'er memikirkan segalanya. Sekarang akhirnya dia menemukan duduk masalah yang sebenarnya. Mungkin ini adalah kebenaran yang tidak pernah terkatakan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otaknya mulai mendapatkan jawabannya.
"Jadi alasan kalian masih melakukan teror adalah untuk membuat Ming An mau menyerahkan pusaka itu kembali?" Qing Yue'er bertanya dengan tenang.
Ming Yuxia yang mendengar pertanyaan Qing Yue'er pun merasa kosong. Apakah gadis itu mulai mempercayai cerita Chao Long? Kenapa semuanya berubah menjadi seperti ini?
"Tenanglah, kita akan mengetahui kebenarannya," ucap Jing Ling dengan pelan. Dia dapat merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Ming Yuxia.
Sebagai gadis yang hanya memiliki seorang ayah, Ming Yuxia pasti sangat menghargai keberadaan ayahnya. Mendengar cerita tentang kebusukan ayahnya, tentu saja gadis itu akan kesulitan untuk menerimanya.
Jing Ling tidak bisa mengatakan kalimat pembelaan apa pun. Dia sendiri masih tidak yakin dengan semua kebenaran ini. Di satu sisi ini sangat masuk akal, tetapi di sisi lain dia merasa ragu kalau Ming An yang terlihat sangat baik itu, ternyata pernah mencuri pusaka keluarga Chao.
Chao Long menatap Qing Yue'er sambil tersenyum. "Benar. Mungkin ini bukan cara yang baik, tapi kami tidak memiliki cara yang lain."
"Lalu alasan kenapa kalian tidak bisa membunuh keluarga Ming adalah karena pusaka itu telah disimpan dengan begitu rahasia olehnya?" tanya Qing Yue'er lagi.
"Analisismu benar. Kami tidak bisa menemukan di mana pusaka itu disembunyikan. Dan kami juga tidak mau menggunakan kekerasan, akhirnya kami mencoba untuk menerornya. Aku pikir dia akan berubah pikiran, tetapi sampai sekarang dia masih kukuh pada pendiriannya," ucap Chao Long.
Qing Yue'er mengangguk. Pikirannya melayang pada saat ketika mereka berada di gubuk halaman belakang rumah Ming Yuxia.
Saat itu Qing Yue'er sengaja mendekati senjata-senjata yang digantung di dinding. Namun Ming An menyela langkahnya dengan mengatakan kalau saat itu adalah waktu yang tepat untuk pergi ke keluarga Chao. Saat itu juga Ming An mengatakan akan membereskan gubuk yang sudah lama tidak dipakai.
Selain itu Ming An memalingkan wajahnya saat Ming Xuan bertanya tentang alasan kenapa keluarga Chao meneror mereka, padahal ibunya sudah dibunuh oleh orang-orang Chao. Pria itu hanya menjawab alakadarnya.
Bukan hanya itu. Bahkan di awal ketika mereka ingin bertanya tentang informasi tentang kasus ini, Ming An sudah menolaknya untuk mengatakannya. Entah itu karena dia tidak mau mengungkitnya atau karena dia merasa takut kalau kebenaran ini akan terungkap.
Qing Yue'er membelai dagunya. Semua informasi ini menjurus pada Ming An yang melakukan pencurian itu. Namun dia masih tidak bisa langsung mengambil kesimpulan. Sekarang dia membutuhkan reaksi dari Ming An.
"Aku yakin dia tidak pernah membicarakan ini dengan siapa pun. Siapa namamu?" Chao Long bertanya pada Ming Yuxia.
"Kamu tidak berhak mengetahuinya."
Chao Long menghela napas. "Cobalah untuk mencari tahu kebenaran ini pada ayahmu. Aku juga tidak ingin disebut sebagai orang yang mengatakan omong kosong semata," ucapnya.
"Aku masih ingin bertanya, jadi siapa tepatnya orang yang telah membunuh Chao Xing?" tanya Qing Yue'er. Dia menatap Chao Long dengan santai, tetapi seseorang pasti bisa merasakan jejak kedinginan di dalamnya.
Chao Long terdiam sesaat. "Kalian akan mengetahuinya setelah kamu percaya dengan ceritaku."
"Aku ingin tahu sekarang!" Ming Yuxia berteriak dengan marah. Aura dinginnya menjadi semakin dingin saja.
"Aku, akulah yang membunuhnya. Apa kamu ingin membalasnya?" Chao Long merespons dengan tenang. Tidak ada jejak kekhawatiran di wajahnya.
"Ini ...." Semua orang-orang dari keluarga Chao langsung membelalak. Mereka tidak menyangka kalau Chao Long akan mengatakan hal itu.
"Aku akan membunuhmu!" Ming Yuxia berteriak sambil mencengkeram belati yang dia bawa dari gubuk ayahnya. Dia berlari dan bersiap untuk menyerang Chao Long. Namun seseorang menghalanginya. Orang itu tak lain adalah Chao Yan.
"Tidak. Bukan dia yang membunuh ibumu. Akulah yang melakukannya. Kamu boleh membalasnya padaku," ucap Chao Yan yang berdiri di depan Chao Long.
"Chao Yan!" Chao Long langsung berteriak marah. Dia tidak mau sesuatu terjadi lagi pada adik-adiknya. Sebagai kakak tertua, dia akan menanggung kesalahan adik-adiknya.
Chao Yan langsung berbalik untuk melihat Chao Long. Hatinya merasa begitu pahit. Pria tua di depannya adalah kakak tertua yang paling baik untuknya. Dia tidak mungkin bersembunyi di belakang punggungnya untuk selamanya.
"Kakak, aku tahu kamu ingin melindungiku tapi aku tidak bisa lari dari tanggung jawab. Aku yang membunuh Xing'er, maka aku juga yang harus menebusnya," ucap Chao Yan dengan tulus.
"Tidak, saat itu kamu hanya sedang ma ...."
Bahkan sebelum kata-katanya selesai, Chao Long sudah melihat Ming Yuxia yang bergerak untuk menikam Chao Yan menggunakan belatinya. Gadis itu terlalu cepat, bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk menjauhkan Chao Yan.
Ming Yuxia menikam Chao Yan dari belakang tepat menembus jantungnya. Apa pun yang terjadi dia ingin membalas darah dengan darah, nyawa dengan nyawa. Hanya itu yang dia inginkan, setelahnya dia akan menyelidiki ayahnya sendiri. Jika memang ayahnya bersalah, dia pun tidak akan tinggal diam.
Chao Long mencabut belati yang tertancap dengan tangan bergetar. Sudut matanya menjadi basah ketika melihat Chao Yan yang sudah jatuh di tanah. Dia memeriksa belati di tangannya. Dari ukiran yang ada di sana dia bisa mengetahui kalau itu adalah belati milik Chao Yan. Pada akhirnya adiknya mati oleh belati yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh Chao Xing.
"Maafkan aku ...." Ming Yuxia berkata dengan pelan.
"Jangan salahkan dirimu. Aku tahu bagaimana perasaanmu," ucap Chao Long lirih. Mungkin ini sudah menjadi takdir bagi keluarganya. Dia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Setelah ini semoga semuanya berakhir menjadi lebih baik.
***
Aku sudah berusaha keras saat menulis konflik ini, semoga kalian menyukainya. ^_^