Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Bertemu Lagi


Yin Hu yang merupakan satu-satunya leluhur yang tersisa di akademi Xinfeng, kini sedang bertempur melawan Quan Bufan. Mereka berdua terikat dendam permusuhan yang tercipta sejak bertahun-tahun yang lalu. Keduanya sudah lama terpisah hingga akhirnya bertemu kembali di kuil Nushen ini.


Quan Bufan adalah seseorang dari keluarga Quan yang dulunya cukup ternama di wilayah Tongxuan Barat. Namun, karena suatu alasan, keluarga Quan mengalami permusuhan dengan Yin Hu hingga mereka semua dimusnahkan oleh wanita itu. Sayangnya Quan Bufan ini bisa lolos dari peristiwa itu hingga meninggalkan dendam yang mendalam.


“Aku akan membunuhmu!” teriak Quan Bufan dengan mata penuh kebencian. Bahkan jika dia harus mati di tangan wanita rubah itu, setidaknya dia sudah berusaha untuk membalas semuanya.


Dia melayang di udara dengan kaki yang disilangkan. Kemudian kedua tangannya bergerak membentuk gerakan yang rumit. Pada saat itu tiba-tiba kabut berwarna hijau menyelimutinya hingga sosoknya tertutup oleh kabut yang tebal.


Yin Hu menyipitkan matanya. Perasaannya menjadi waspada karena baru kali ini dia melihat teknik yang aneh seperti itu. Pada saat itu dia melihat kabut hijau yang menyelimuti Quan Bufan itu mulai membentuk sesuatu. Awalnya tidak terlihat begitu jelas, tetapi semakin lama bentuknya mulai tampak nyata.


Kabut hijau itu berubah dan mulai menampakkan dua tanduk besar. Selanjutnya ada taring serta mulut yang sangat besar dan mengerikan. Beberapa saat kemudian, kabut itu sepenuhnya berubah menjadi sebuah kepala yang sangat besar dan menakutkan. Jika diperhatikan mungkin itu akan terlihat seperti kepala iblis.


Yin Hu menarik napasnya dalam-dalam. Dalam sekejap dia mengeluarkan sebuah pedang yang sangat tajam. Ketika kepala yang sangat besar itu bergerak ke arahnya, dia langsung menebaskan pedangnya.


Ggggrrr!


Kepala yang berwarna hijau itu menggeram dengan keras. Suaranya menggema di dalam ruangan yang tertutup itu. Mungkin orang lain yang berada tidak jauh dari mereka bisa mendengar geraman tersebut.


Di balik kepala hijau, Quan Bufan menyeringai dengan kejam. Dia berseru dengan keras, “Yin Hu, kamu tidak akan bisa melawanku! Menyerahlah sebelum terlambat!”


Yin Hu menatap sosok Quan Bufan yang bisa dilihat secara samar. Dia menggelengkan kepalanya lalu dengan suara yang tenang dia berkata, “Dalam hidupku, sekali memutuskan untuk bertempur maka tidak ada yang namanya menyerah. Jadi, jangan berkata apa pun lagi. Aku akan melawanmu sampai semuanya selesai.”


“Hmm!” dengus Quan Bufan. “Baik, kalau begitu jangan salahkan aku karena kejam!”


Ggrrrr!


Kepala itu menggeram sekali lagi. Bahkan Yin Hu dapat merasakan lantai di bawah kakinya menjadi bergetar. Dia merasakan tekanan yang datang tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain melawan Quan Bufan ini. Akhirnya dia mengangkat pedangnya dan mulai berayun dengan kecepatan tinggi yang dia mampu.


Sementara itu, Qing Yue'er masih bergerak menyusuri labirin-labirin yang banyak membingungkannya. Di tempat seperti itu, dia benar-benar harus menentukan jalannya sendiri dengan benar. Karena tidak bisa menggunakan kekuatan rohnya, dia pun hanya bisa menajamkan instingnya.


Beberapa kali dia menemukan jalan buntu dan harus berbalik ke jalan awal. Meskipun begitu dia masih merasa begitu bersemangat. Beberapa kali juga dia menemukan array jebakan. Beruntung dia dapat menanganinya dengan baik.


Saat ini dia melihat jalan di depannya yang menjadi berundak-undak ke bawah. Tidak panjang hanya ada beberapa undakan saja. Di sisi kanan dan kirinya ada dua lentera kuno yang terpasang di dinding. Lentera itu tidak menyala. Siapa yang tahu sudah berapa tahun benda itu ada di sana.


Qing Yue'er bergerak maju dengan hati-hati. Tepat pada saat dia melewati lentera, ternyata benda itu tiba-tiba menyala dengan warna kuning terang. Qing Yue'er langsung meningkatkan kewaspadaannya jika sewaktu-waktu ada sesuatu yang muncul. Namun, setelah beberapa saat ternyata tidak ada apa pun yang terjadi.


Akhirnya Qing Yue'er kembali melanjutkan langkahnya menuruni jalanan yang sedikit menurun itu. Beberapa meter dari sana dia menemukan persimpangan lain. Dia berpikir sejenak, akhinya yang diambil adalah pintu sebelah kanan.


Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Setelah melangkah beberapa meter lagi lalu dia tiba di ruangan yang berbeda. Itu adalah ruangan yang sangat polos. Hanya ada satu pintu besar yang tertutup rapat. Pintu itu terbuat dari besi yang terlihat sangat kokoh. Di permukaannya terdapat ukiran yang lebih menyerupai rune kuno. Namun, rune itu sangat berbeda dari rune yang ditinggalkan oleh leluhur Hua.


Jika itu terjadi hanya sekali mungkin dia tidak akan begitu terganggu. Akan tetapi getaran itu terjadi hingga berkali-kali. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi?


Qing Yue'er menjadi sedikit penasaran. Akhirnya dia keluar dari ruangan yang polos itu. Sebelum benar-benar pergi, dia meninggalkan sebuah mantra yang bisa membuat tempat ini tidak terlalu mencolok. Dia melakukannya agar tidak ada seseorang yang tertarik datang ke ruangan tersebut.


Setelah itu, dia pun bergerak menuju arah di mana getaran itu berasal. Sepertinya tidak begitu jauh dari tempatnya berada sekarang. Memang benar, dalam beberapa saat saja dia sudah tiba di ujung tembok. Itu adalah jalan buntu. Dari apa yang dia dengar, seharusnya sumber keributan itu berasal dari balik tembok.


Qing Yue'er melakukan ancang-ancang untuk membuka tembok itu. Kemudian dengan gerakan yang cepat, dia melayangkan tinju serta tendangan ke tembok tersebut. Sayangnya sulit sekali untuk bisa menghancurkanya.


“Bagaiman cara membuka tembok ini?” gumam Qing Yue'er. Dia menggaruk kepalanya sebentar. Sepertinya dia harus memikirkan cara lain.


***


Boomm!


Suara ledakan bergema ke mana-mana. Banyak orang yang menjadi tertarik dengan apa yang terjadi karena bukan hanya satu atau dua orang saja yang mendengarnya. Mungkin ada pertempuran hebat yang terjadi. Untuk apa? Apakah mereka sedang memperebutkan sebuah harta?


Di pusat ledakan itu, Yin Hu hampir kehilangan napasnya. Beberapa bagian tubuhnya sudah meneteskan darah merah yang mencolok di atas jubah putihnya. Dia sudah berusaha keras untuk melawan Quan Bufan. Namun, pria itu ternyata memiliki tingkat yang lebih tinggi darinya.


Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Yin Hu memikirkan solusi. Sayangnya tidak ada yang bisa membantunya. Apakah dia benar-benar harus mati sekarang?


Boomm!


Ketika dia sedang diselimuti oleh kebingungan, tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dari belakang Yin Hu. Itu adalah ledakan yang sangat keras hingga mencuri perhatiannya. Dia menoleh ke belakang. Apa yang dia lakukan adalah tindakan yang bodoh. Pada saat itu Quan Bufan menyeringai dan mulai memanfaatkan kelengahan Yin Hu.


Whoossh!


Sebuah sinar hijau dengan kecepatan kilat keluar dari mata kepala yang sangat besar. Sinar itu melesat ke arah Yin Hu dalam sepersekian detik. Tanpa bisa dicegah, sinar itu langsung mendarat di bahu wanita yang memiliki rambut putih itu.


“Ahh!”


“Leluhur!”


Jantung Qing Yue'er langsung berdetak kencang. Dia benar-benar tidak salah lihat. Itu adalah leluhur Yin dari akademi Xinfeng. Bagaimana wanita itu bisa ada di sini? Mungkinkah dia juga ingin mencari sesuatu dari kuil ini?