
Zhang Wudi menyipitkan matanya ketika melihat gadis yang sudah berdiri di depannya. Gadis itu terus menerus melirik cakram yang ada di tangannya. Sepertinya dia tertarik dengan senjata miliknya.
Dia terkekeh. "Apa kau tertarik dengan ini?" tanya Zhang Wudi.
"Kamu menebak dengan benar," ucap Jing Ling. Suaranya terdengar menyenangkan di telinga.
Zhang Wudi tidak mempermasalahkan hal itu. Dia sudah menemukan banyak orang yang menginginkan senjata miliknya. Namun dari banyaknya orang itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil mengambilnya. Jadi sekarang dia tidak merasa cemas kalau-kalau gadis itu berniat merebutnya.
"Kamu harus melakukan dengan benar. Aku tidak mau seorang wanita cantik sepertimu mendapatkan luka dariku," ucapnya tanpa menjatuhkan.
Mendengar ucapan Zhang Wudi membuat Jing Ling terkekeh seketika. Kemudian dia pun berkata dengan halus, "Kakak laki-laki, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Zhang Wudi tersenyum. "Jika kamu bisa menangkapnya, aku tidak akan memintanya kembali," ucapnya sebelum akhirnya mulai melakukan kuda-kuda. Tangannya memegang cakram, bersiap untuk melemparkannya menggunakan teknik yang berbeda.
Whoossh whooshh.
Dua cakram dilempar secara bersamaan melesat ke arah Jing Ling. Namun gadis itu memiliki tubuh yang lincah. Dia bisa bergerak dengan bebas, menghindar ke sana-sini.
Ketika cakram sudah melewati tubuh Jing Ling, zhang Wudi akan menariknya dan kembali melempar ke arah yang berbeda. Dia melakukannya dengan cepat dan tidak membiarkan gadis itu lolos begitu saja.
"Apa temanmu bisa merebut cakram itu?" Tiba-tiba Daoist Black Three bertanya pada Qing Yue'er. Dia hanya bertanya dengan asal.
"Ya, aku mempercayai kemampuannya," jawab Qing Yue'er dengan yakin.
Daoist Black Three merasakan antisipasi. Dia menjadi tidak sabar untuk mencoba berduel dengan gadis di sebelahnya itu. Kalaupun dia kalah, itu bukan penyesalan karena sudah bertemu dengan jenius bela diri.
Suara sorakan kembali bergema. Semua orang yang menonton merasa terkesan dengan duel antara Jing Ling dan Zhang Wudi. Keduanya sama-sama memiliki gerakan yang gesit, jadi akan sulit untuk menentukan siapa pemenangnya.
Jing Ling menyeringai penuh makna. Penglihatannya dipertajam untuk menentukan arah lintasan cakram. Setelah yakin, dia melapisi tangannya menggunakan qi spiritual. Tubuhnya kembali bergerak dengan cepat.
Whoosh.
Apa yang terjadi selanjutnya membuat Zhang Wudi tertegun. Jika dia pikir Jing Ling akan menghindar seperti sebelumnya, maka itu salah. Gadis itu bukannya menghindar malah dengan beraninya menangkap kedua cakram dengan tangan kosong. Bukankah itu terlalu berani?
Semuanya harus tahu kalau cakram bergerak dengan cara berputar. Jika seseorang salah meletakkan tangannya sedikit saja pasti mereka akan tersayat oleh tepian cakram yang sangat tajam. Namun gadis itu dengan beraninya menangkap senjata itu secara langsung. Dan hebatnya, dia bisa menangkapnya dengan sempurna!
Bukan hanya Zhang Wudi yang merasa terkejut, bahkan Daoist Black Three merasakan hal yang sama. Kalaupun Jing Ling bisa menangkap cakram, dia pikir itu akan memakan waktu beberapa lama. Namun itu hanya sebentar dan gadis itu sudah berhasil melakukannya dengan baik.
Dia melirik Qing Yue'er yang sedang mengembangkan senyum senang. "Dia benar-benar berhasil."
"Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya?" ucap Qing Yue'er dengan kebanggaan tersendiri.
Daoist Back Three hanya mengangguk-angguk sambil merenung. Dia menjadi waspada kalau-kalau tongkat rotannya juga akan diambil oleh gadis ini. Sepertinya dia harus lebih berhati-hati.
"Heheh, aku sudah mendapatkannya bukan?" Di arena, Jing Ling berkata dengan senang. Meskipun tangannya terasa kebas tapi dia merasa itu baik-baik saja. Yang terpenting cakram itu sudah berada digenggamannya.
Zhang Wudi ingin marah, tetapi dia harus tetap rasional. Ini adalah pertandingan yang adil. Meskipun dia merasa enggan kehilangan senjata itu, tapi dia tidak akan merendahkan dirinya dengan cara melanggar ucapannya.
"Baiklah. Aku akan mengakui kekalahanku," ucap Zhang Wudi pada akhirnya.
Jing Ling menatap kedua cakram di tangannya dengan rasa puas. Dia mengangguk pada Zhang Wudi. "Terima kasih."
"Bukan apa-apa." Zhang Wudi berjalan keluar dari arena. Tanpa cakram dia tidak akan mungkin bisa mengalahkan gadis itu. Akhirnya dia lebih memilih untuk memberikan tempatnya pada Jing Ling. Yang terpenting dia sudah menang dari Ye Ganghao. Sisanya hanya bonus yang tidak begitu berarti.
Setelah sesi pertandingan itu berakhir, Jing Ling menunggu orang lain untuk menantangnya. Kali ini ada seorang gadis yang masuk ke arena. Wajahnya terlihat sangat datar dan dingin. Usianya mungkin hanya sedikit lebih muda dari Jing Ling.
Gadis itu dikenal dengan nama Snow Maiden karena sifatnya yang dingin seperti salju. Aura dinginnya berbeda dari sikap dingin orang lain.
Mungkin jika Qing Yue'er mau membandingkan, dia bisa menyamakan Snow Maiden dengan wanita berjubah hitam yang pernah mengantarkan bulu Vermillion padanya. Mereka memiliki sikap dingin yang menolak didekati oleh orang lain.
Kali ini Qing Yue'er cukup tertarik. Dia ingin melihat apakah gadis itu bisa mengalahkan Jing Ling atau tidak. Itu akan sulit karena tingkat kultivasi mereka ada pada tingkat yang sama, yaitu level 3 alam langit.
Snow Maiden tidak mengeluarkan senjata apa pun. Dan karena Jing Ling ingin menyeimbangi, dia pun menyimpan cakramnya. Mereka membungkuk untuk saling memberi hormat. Setelah itu pertandingan pun dimulai.
Suara ledakan langsung terdengar ketika mereka mulai beradu tinju. Debu-debu kering beterbangan oleh ledakan-ledakan itu.
"Kira-kira apakah Snow Maiden akan bisa mengalahkan gadis itu?"
"Aku tidak yakin, tapi kalian harus tahu Snow Maiden jarang mengalah begitu saja. Dia akan selalu berjuang sampai akhir."
Segala terkaan datang dari kerumunan. Mereka semua menebak-nebak siapa yang kira-kira memenangkan pertandingan antara keduanya.
Sedangkan Qing Yue'er masih percaya dengan kemampuan Jing Ling. Jika dilihat-lihat sebenarnya gadis itu memiliki potensi yang bagus. Seandainya Jing Ling berlatih di tempat yang tepat pasti dia akan menjadi seseorang yang hebat.
Namun Snow Maiden juga tidak buruk. Gadis itu sepertinya telah memadamkan segala jenis emosi. Meskipun Jing Ling sudah melakukan sesuatu untuk mengujinya, wajah Snow Maiden tidak memiliki fluktuasi emosi apa pun.
Ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Siapa di dunia ini yang bisa benar-benar menjaga agar emosi tetap datar?
Hanya seorang Abadi yang bisa melepaskan diri dari ikatan 7 emosi dan 6 keinginan dasar manusia. Akan mustahil bagi manusia biasa untuk melepaskan salah satu ikatan itu. Namun Snow Maiden mampu melepaskan emosinya. Ini adalah sesuatu yang patut diacungi jempol.
Qing Yue'er menjadi semakin antusias. Terlepas dari hasilnya, dia ingin menemui Snow Maiden untuk menjalin sebuah pertemanan.
Kedua gadis itu masih tetap beradu. Tanah bergetar setiap kali ledakan terjadi. Jing Ling menjadi lebih serius. Dia tidak mau membuang energinya terlalu lama. Dia ingin segera menyudahi pertempuran ini.
Tiba-tiba dia ingat tentang kemampuan bawaannya. Namun untuk menggunakan itu dia memerlukan air. Jing Ling memutar otaknya. Dia melirik meja di mana Ding Yuhua duduk. Di sana ada sebuah kendi yang mungkin berisi arak.
Jing Ling menyeringai. Dia memejamkan matanya dan tangannya mulai melakukan gerakan yang mirip seperti segel tangan.
Snow Maiden merasa waspada, tetapi wajahnya tetap tanpa emosi. Setelah itu dia melihat mata Jing Ling yang terbuka. Pada saat itulah arak dari dalam kendi langsung melesat keluar dari tempatnya. Air arak pun melayang dan meluncur ke telapak tangan Jing Ling.
"Ah?" Ding Yuhua yang melihat air araknya melayang pun merasa bingung. Dia mengambil kendinya untuk memeriksa isinya. Ternyata sudah kosong, arak itu benar-benar dibersihkan semua oleh Jing Ling.
"Gadis ini benar-benar ...." Dia hanya bisa mengatakan itu karena dia tidak tahu harus berkata apa.
Qing Yue'er yang melihat itu juga ikut merasa takjub. Baru kali ini dia melihat Jing Ling mengendalikan air. Apakah gadis itu telah menyembunyikan kemampuan ini darinya?
Jing Ling mengendalikan agar arak tetap melayang di atas telapak tangannya. Dia merasa tidak sabar, ingin segera mencoba kemampuan kendalinya. "Nona Snow Maiden, bisakah kamu menebak apakah arak ini bisa melukaimu?"
"Tidak," ucap Snow Maiden dengan singkat. Dia tidak bisa menebak tetapi dia ingin memastikan kalau dia akan baik-baik saja.
Jing Ling tersenyum. Kemudian dalam satu ketukan arak yang berputar di telapak tangannya langsung memisahkan diri membentuk sebuah panah air.
Qing Yue'er berkedip. Ini hampir mirip dengan teknik manifestasi es miliknya. Teknik yang dia latih akan menjadi semakin menakutkan seiring dengan meningkatnya tingkat kultivasi. Begitupun dengan bakat bawaan. Itu bisa menjadi kuat jika dilatih dengan benar.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah meluncurnya panah-panah air. Jing Ling melakukannya dengan cepat hingga Snow Maiden tidak bisa menghindar dengan cepat.
Pada saat itulah salah satu panah air menabrak leher Snow Maiden. Gadis itu langsung tersentak. Tubuhnya menjadi kaku. Sepertinya panah air itu telah menekan salah satu meridiannya. Hal itu menyebabkan tubuhnya tidak bisa bergerak lagi.
Orang-orang yang menyaksikan hal ini langsung terdiam. Awalnya mereka berpikir kalau Jing Ling akan kalah di tangan Snow Maiden. Namun ternyata mereka salah. Bahkan Jing Ling tidak terluka sedikitpun. Ini benar-benar menakjubkan.
Jing Ling terkekeh. Dia merasa senang karena akhirnya dia berhasil mengendalikan air. Sepertinya dia harus sering melatih bakat bawaan ini.
Setelah itu dia mendekati Snow Maiden. Karena mereka tidak memiliki permusuhan, dia pun tidak mempersulit keadaan. Dia membebaskan meridian Snow Maiden dan membiarkan gadis itu pergi.
Snow Maiden merapikan bajunya. "Selamat untukmu."
"Terima kasih," ucap Jing Ling. Setelah itu dia melihat gadis dingin itu pergi meninggalkan arena.
Ding Yuhua bertepuk tangan dan berseru dengan senang. "Bagus bagus. Sekarang adakah yang ingin menantang gadis ini?!"
Semua orang saling lirik. Kebanyakan orang yang sudah dewasa akan menunggu sampai generasi muda habis, barulah mereka akan turun dari arena. Jadi mereka tidak akan turun sekarang.
Qing Yue'er terkekeh. Dia melompat turun ke dalam arena. Jangan salah, dia juga ingin mencoba kemampuan baru Jing Ling. Apakah itu akan menandingi teknik manifestasi es miliknya atau tidak.
Ekspresi wajah Jing Ling langsung berubah. Dia langsung memundurkan langkah kakinya. "Heheh, Xinyu kamu harus mempertimbangkan ini. Kau tahu? Aku tidak akan mungkin bisa mengalahkanmu," ucapnya.
Jing Ling mencoba untuk menggoyahkan niat Qing Yue'er. Ini adalah hal yang tidak perlu dipertanyakan. Seberapa keras dia mencoba, dia tidak akan mungkin bisa mengalahkan Qing Yue'er. Gadis itu adalah monster mengerikan yang bersembunyi di balik topeng polosnya.
"Tenang saja, Jing Ling. Aku akan menahan kekuatanku," ucap Qing Yue'er. Dia mencoba meyakinkan Jing Ling bahwa dia tidak akan terlalu keras.
Namun Jing Ling tetap menggelengkan kepalanya. "Tidak tidak. Kamu boleh mengambil tempatku. Aku ... lebih baik aku mengaku kalah sekarang," ucap Jing Ling sebelum melarikan diri ke tempat duduk asalnya.
Bukannya dia pengecut. Namun seseorang harus bijak dalam menentukan keputusan. Daripada kalah telak di arena lebih baik dia mengaku kalah sekarang. Lagipula dia tidak mengharapkan apa pun lagi karena cakram yang dia inginkan sudah ada di tangannya.
Orang-orang yang melihat interaksi itu hanya bisa tercengang. Jing Ling saja sudah terlihat menakutkan setelah mengalahkan Zhang Wudi dan Snow Maiden, tetapi ternyata dia ketakutan di hadapan Qing Yue'er. Lalu seberapa kuat gadis berjubah putih itu sampai-sampai Jing Ling dibuat menyerah?
Diam-diam semua orang yang menonton acara ini merasakan antisipasi. Sepertinya kompetisi kali ini akan lebih menarik daripada tahun-tahun sebelumnya.