
“Sudah lama aku tinggal di sini,” ucap Tuan Abadi.
Sejak meninggalkan Pengadilan Surgawi dia telah meninggalkan dunia fana di belakang dan memilih untuk menetap di pegunungan Jingcai sebagai Tuan Abadi yang misterius. Tidak ada yang tahu bahwa Tuan Abadi adalah mantan Tuan Pengadilan Surgawi.
Dia menatap Mo Jingtian dengan lembut. “Nak, bagaimana rasanya menjadi Anak Surga?” Dia bertanya.
“Itu sedikit buruk,” jawab Mo Jingtian tanpa menutup-nutupi.
“Pasti.” Tuan Abadi memaklumi. “Jika aku jadi kau mungkin aku sudah mengeluh sepanjang hari. Lagipula bagaimana mungkin seseorang harus bertanggung jawab atas dunia?”
Anak Surga memiliki kedudukan lebih tinggi dari Dewa. Anak Surga diturunkan untuk meluruskan hal-hal yang salah, termasuk berjalannya Pengadilan Surgawi dan Dewa-Dewi penjabatnya.
Namun, untuk meluruskan hal seperti itu pun tidak bisa hanya dengan menjentikkan jari. Anak Surga pun harus mengeluarkan usaha.
“Tuan, apa sebelumnya juga ada Anak Surga yang turun ke dunia?” tanya Mo Tianyu.
“Sepanjang sejarah yang aku tahu, hanya ada dua Anak Surga. Anak Surga pertama diturunkan jauh berjuta-juta tahun yang lalu. Mungkin hidupnya tidak akan sesulit hidupmu karena saat itu tidak ada Dewa-Dewi yang sesat seperti sekarang,” terang Tuan Abadi.
Sejujurnya Mo Jingtian baru mengetahui tentang hal ini. Dia pikir tidak ada Anak Surga yang lain karena sejauh ini tidak ada literatur mengenai Anak Surga secara detail dan mendalam.
“Lalu … ke mana dia saat ini?” tanya Mo Jingtian.
“Kau sudah ada di sini, itu bukti bahwa masanya sudah berakhir. Jika dia tidak kembali ke asal maka dia mengasingkan diri di suatu tempat,” ucap Tuan Abadi.
Kemudian dia menatap Mo Jingtian dengan serius. “Jika kau ingin mengetahui bagaimana cara melepaskan belenggu itu, kurasa kau harus mencarinya. Dia lebih mengetahui segala hal mengenai Anak Surga.”
Mo Jingtian menunduk. “Ya, mungkin seharusnya begitu.”
Mo Tianyu menyikut lengan Mo Jingtian. Matanya mendelik lalu berbisik, “Kenapa kau berbicara seolah-olah tidak ingin melepasnya?”
“Atau mungkin kau sudah mengetahui caranya?” tanya Tuan Abadi.
Mo Jingtian diam. Dia lalu bertanya, “Apa Tuan mengetahui tentang Jubah Pengantin Surgawi?”
Kening Tuan Abadi sedikit berkerut. “Apa itu sesuatu pemberian Langit?”
Mo Tianyu langsung menatap Mo Jingtian dengan rumit. Jubah Pengantin Surgawi, itu adalah isi dari kotak yang diperoleh Mo Jingtian dari altar putih di atas langit. Barang itu memang sedikit membingungkan.
“Ya.” Mo Jingtian mengangguk. “Sebelumnya aku juga sudah memperoleh dua Cincin Surgawi untuk pasangan kekasih.”
“Hmm ….” Tuan Abadi menatap ke kejauhan. Sorot matanya tampak redup selama beberapa saat. “Sepertinya Langit menciptakan Pengantin Anak Surga. Dan itu berarti kau harus menikahinya.”
“Aku juga berpikir seperti itu.” Mo Tianyu menyetujui gagasan itu. Sedangkan Mo Jingtian hanya diam.
“Dan orang yang menjadi Pengantin Anak Surga adalah putri Qing Yexuan?” tebak Tuan Abadi. Dia menatap Mo Jingtian dengan kening berkerut. Rasanya ada yang sedikit janggal.
Dia pernah mendengar tentang Pengantin Anak Surga. Pengantin Anak Surga diciptakan untuk melengkapi pasangannya. Namun, ada konsekuensi tertentu yang sampai saat ini masih menjadi misteri.
“Itu bukan sesuatu yang sederhana. Aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatan Qing Yue’er,” ucap Mo Jingtian.
“Kalau begitu bukankah itu berarti kau tidak akan menikahinya?” Mo Tianyu memelotot. “Jika aku jadi dia maka aku akan memakimu, dasar kau pria b*jingan.”
“Mungkin konsekuensinya tidak akan terlalu mengerikan,” ucap Tuan Abadi untuk mencairkan suasana. Dia sendiri juga tidak mengetahui masalah ini secara persis. Hanya saja itu terlalu menyedihkan untuk nasib mereka.
“Ya, benar. Bagaimana mungkin Langit menciptakan pasangan untuk Anak Surga jika pada akhirnya hanya untuk dikorbankan? Itu tidak mungkin, kan?” Mo Tianyu mencoba mengungkapkan gagasan.
Mo Jingtian hanya menghela napas. Mungkin dia harus menemukan Anak Surga yang lain. Dia harus menanyakan masalah ini agar tidak ada kesalahan yang mungkin saja berakibat fatal.
“Mari kita bicarakan hal lain.” Mo Jingtian menatap Tuan Abadi dengan serius. “Kipas Shen Feng sudah ada di tangan Qing Yue’er. Kami sudah melihat apa yang disembunyikan di sana.”
“Ah …, kipas itu.” Tuan Abadi langsung teringat pada rahasia yang hanya dia percayakan pada Qing Yexuan. Di sana terdapat informasi mengenai tempat di mana raja iblis dipenjara.
“Kalian pasti merasa penasaran kenapa aku memercayakan itu pada Qing Yexuan.” Tuan Abadi tersenyum. “Dia adalah muridku. Mungkin hanya segelintir orang yang tahu.”
Mo Jingtian terkejut mendengarnya. Ternyata ayah Qing Yue’er bukan hanya Dewa Angin biasa, tetapi memiliki guru seorang mantan Tuan Pengadilan Surgawi.
“Aku bangga padanya. Ternyata dia bisa begitu keras menjaga rahasia. Padahal jika dia mau dia bisa memberi tahu di mana raja iblis dipenjara.”
Tuan Abadi menghela napas. Terkadang dia ingin menolong Qing Yexuan, tetapi dia tidak bisa masuk ke Pengadilan Surgawi. Itu karena saat ini dia bukan lagi Dewa yang menjabat di sana.
“Yue’er pasti akan menyelamatkannya,” ucap Mo Jingtian dengan yakin.
“Ya. Aku percaya itu.”
Kemudian Mo Jingtian mengangguk beberapa kali. “Aku ingin pegi ke Tongxuan.”
Mo Tianyu menatap heran. “Dalam kondisi seperti ini kau tidak akan bisa pergi melintasi dua alam.”
“Itulah kenapa aku ingin meminta bantuan Guru,” balas Mo Jingtian tanpa merasa malu.
“Apa yang kau rencanakan?” tanya Mo Tianyu.
“Rencanaku? Mungkin mencari tubuh lain, atau mungkin juga menumpang hidup di tubuh gadisku,” ucap Mo Jingtian dengan santai.
Sebelum Mo Tianyu menanyakan apa maksud ucapannya, Mo Jingtian sudah terlebih dahulu membungkuk pada Tuan Abadi. “Senang bisa bertemu dengan Tuan.”
“Berhati-hatilah,” ucap Tuan Abadi pelan.
Mo Tinyu juga membungkuk pada Tuan Abadi. Kemudian sosok mantan Tuan Pengadilan Surgawi itu langsung menghilang ke dalam kekosongan.
“Ayo, Guru, antar aku ke sana,” desak Mo Jingtian. Dia sudah merasa tidak sabar ingin segera menemui Qing Yue’er. Bagaimanapun juga mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Bukankah begitu?
Mo Tianyu hanya mendengkus. “Bawa beruang itu!” perintahnya.
Bulu Terang dan Bulu Gelap langsung ditarik ke dalam dekapan Mo Jingtian. Setelah itu Mo Tianyu pun membawa Mo Jingtian pergi menuju benua Tongxuan.
***
Note:
Kotak yang diperoleh dari altar langit bisa dicek lagi di bab 369 ya.