
Ming Yuxia mundur dan berjalan mendekati Qing Yue'er. Ada banyak pasang mata yang menatapnya penuh kebencian, tetapi dia tidak mengindahkannya. Tentu saja membunuh salah satu anggota keluarga Chao membuat mereka memusuhinya. Namun karena Chao Long membiarkan masalah ini, mereka hanya bisa memendam permusuhan itu.
"Jika memang ayahku bersalah, aku akan mengembalikan harta yang dicurinya." Ming Yuxia berkata dengan tegas.
Chao Long tidak mengatakan apa-apa. Dia akan membiarkan gadis itu pergi untuk mencari kebenarannya sendiri. Untuk sekarang dia lebih peduli dengan urusan mayat Chao Yan.
Qing Yue'er memandang langit yang sudah mulai terang. Cahaya matahari mulai menyorot dengan hangatnya. Ini adalah momen yang tepat untuk mengakhiri kegelapan. "Ayo pergi sekarang."
Akhirnya mereka bertiga pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Chao. Kali ini tujuannya sudah begitu jelas. Mereka akan segera kembali ke rumah Ming Yuxia dan mencari kebenaran tentang Ming An.
Tanpa halangan apa pun mereka sudah hampir sampai ketika hari sudah siang. Ming Yuxia meningkatkan kecepatannya, mungkin dia ingin segera sampai.
Qing Yue'er mengikutinya. Hanya dalam beberapa saat akhirnya mereka sudah tiba di depan rumah Ming Yuxia. Udaranya masih terasa sama, sepi dan sejuk. Mereka masuk ke dalam untuk segera menemui Ming An.
Namun hal yang tak diharapkan ternyata terjadi. Mereka tidak menemukan sosok Ming An di mana pun mereka mencari. Bahkan Ming Xuan juga tidak ada di rumah. Ada kemungkinan orang tua itu sudah menebak kejadian ini dan akhirnya dia melarikan diri.
Qing Yue'er segera pergi ke gubuk kayu yang sebelumnya ditunjukkan oleh Ming An. Dia mencari di sekitar senjata dan melihat bekas galian di tanah. Ketika dia mencoba menyentuh tanah itu dia bisa merasakan aura yang berbeda. Tidak salah lagi, itu pasti jejak pusaka yang dimaksud oleh Chao Long.
"Jadi itu benar ...." Ming Yuxia yang ada di belakang Qing Yue'er bergumam dengan lirih. Perasaannya menjadi tidak menentu. Ayah yang selalu dia percaya ternyata melakukan hal seperti itu. Bagaimana dia harus menerima ini? Perasaannya benar-benar kecewa.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Qing Yue'er. Dia hanya akan mengikuti apa yang akan menjadi keputusan Ming Yuxia.
"Tunggu sebentar! Sepertinya aku tahu ke mana mereka pergi." Ming Yuxia berkata dengan cepat. Dia pun mengajak Qing Yue'er dan Jing Ling untuk mengikutinya.
Qing Yue'er tidak tahu ke mana Ming Yuxia membawanya. Dia hanya mengikuti gadis itu masuk ke dalam hutan. Hutan itu masih sangat alami, mungkin karena tidak pernah atau mungkin jarang dijamah oleh manusia.
Perjalanan itu memakan waktu beberapa lama, sebelum akhirnya sebuah bangunan yang sudah bobrok terlihat di depan mata. Itu adalah sebuah kuil yang sudah tua dan mungkin tidak pernah dirawat. Atapnya sudah ditumbuhi lumut dan halamannya bertabur dengan dedaunan kering.
Brakk!
Tanpa ragu Ming Yuxia langsung bergerak masuk ke dalam kuil itu. Seperti yang dia duga, Ming An memang ada di sana bersama dengan Ming Xuan yang saat ini sedang dalam keadaan berantakan dan tidak sadarkan diri. Pria muda itu diikat oleh ayahnya sendiri pada tiang yang ada di pusat kuil.
"Ayah! Apa yang kau lakukan?!" Ming Yuxia berteriak. Dia tidak pernah menyangka kalau ayahnya akan benar-benar melakukan hal-hal secara berlebihan. Bagaimana tidak berlebihan, sekarang Ming Xuan ditahan seperti itu untuk apa?
Ming An tertawa keras. "Aku tahu kamu pasti akan menemukanku."
"Jadi apa yang mereka katakan adalah kebenaran?" Ming Yuxia bertanya. Meskipun semua sudah jelas tapi dia masih tidak mau mempercayainya. Dia tidak mau percaya sebelum ayahnya benar-benar mengakuinya.
"Ya, itu memang benar. Aku mencuri pusaka ini. Ha ha ha, jadi apa? Apa kamu ingin menyerang ayahmu sendiri?" Ming An bertanya sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya terangkat menunjukkan cincin dengan hiasan batu giok berwarna biru di atasnya.
Ming Yuxia tersenyum masam. Sekarang semuanya sudah jelas dan rinci. Tidak ada lagi sesuatu yang membuatnya menolak untuk mempercayai kebenaran ini. Mungkin keluarga Chao telah memperlakukan ibunya dengan tidak adil, tetapi ayahnya juga salah karena telah mencuri harta pusaka keluarga.
Qing Yue'er juga berpikir seperti itu. Lagipula keluarga Chao sudah mau mengganti harta milik Chao Xing, tetapi Ming An tidak mau dan bersikeras untuk mempertahankan harta curian ini. Tentu saja Ming An tahu barang itu adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari harta biasa.
"Paman, kamu harus mengembalikan harta itu pada pemiliknya. Menjadi serakah juga bukan hal yang baik," ucap Qing Yue'er.
"Apa yang kamu tahu? Jangan menasihati orang yang lebih tua darimu!" Ming An berseru dengan nada mengejek. Meskipun dia tahu kalau ketiga gadis itu memiliki kultivasi yang lebih tinggi darinya, tetapi sekarang dia memegang cincin yang di dalamnya terdapat binatang roh. Apa yang perlu dia takutkan?
Qing Yue'er tidak merasa marah. Dia pun bisa mengerti apa yang ada di pikiran Ming An. Dengan cincin roh di tangannya, pria itu bisa saja menyerang mereka dengan binatang roh yang ada di dalam cincin tersebut. Namun yang memiliki binatang roh bukan hanya Ming An saja, dia sendiri juga memiliki Ying Jun.
Senyum mengejek muncul di bibir Qing Yue'er. "Aku memberimu sebuah pilihan."
"Aku tidak butuh pilihan. Orang yang mengendalikan situasi adalah aku!" ucap Ming An dengan dingin. Dia menatap Qing Yue'er dan Jing Ling dengan mata melotot.
Ming Yuxia menjadi marah. Sepertinya ayahnya sudah mempersiapkan segalanya dengan begitu baik. Dia bahkan menyiapkan kuil ini sejak lama. Dulu dia sempat menguntit ayahnya karena penasaran kenapa pria itu sering pulang larut. Ternyata pria itu membangun sebuah kuil di sini.
Awalnya itu adalah kuil untuk mendoakan ibunya, tetapi semakin ke sini sepertinya Ming An sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi. Itulah kenapa kuil tersebut sudah semakin rusak dan bobrok.
"Kenapa kamu harus menyebut orang yang sudah mati?" tanya Ming An.
Ming Yuxia langsung menggertakkan giginya. Dia tidak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu. Ketika dia ingin berseru lagi, tiba-tiba bahunya disentuh oleh Jing Ling. "Tahan amarahmu. Mari biarkan Xinyu yang mengatasinya."
Akhirnya Ming Yuxia hanya bisa menurut. Dia akan membiarkan Qing Yue'er melakukan apa pun yang diinginkan. Dia sudah berkata akan mengembalikan harta itu, jadi dia tidak akan mengingkari kata-katanya sendiri. Selama Qing Yue'er bisa mengambil cincin itu maka semuanya baik-baik saja.
Qing Yue'er terkekeh. Dia ingin tertawa melihat seberapa percaya dirinya Ming An. Sepertinya dia harus membiarkan pria itu merasakan sedikit pelajaran.
"Paman, mungkin kamu harus mencoba membiarkan binatang roh itu keluar. Bukankah kamu begitu percaya diri kalau situasi ini berada di bawah kendalimu?"
Ming An mendengus. Dia sangat membenci sikap Qing Yue'er yang begitu tenang dan tanpa rasa takut. Gadis itu benar-benar tidak merasa terintimidasi meskipun dia memegang cincin roh. Sepertinya dia memang harus menunjukkan kalau dia adalah seseorang yang patut ditakuti.
Dengan sisa qi spiritual yang lama tidak dipakai, dia mengundang keluar binatang roh yang ada di dalam cincin tersebut. Cahaya terang langsung melesat dari cincin itu dan berakhir mendarat di depan Ming An. Cahaya itu membentuk binatang yang panjang dan besar. Itu adalah seekor ular hitam yang memiliki dua kepala. Matanya berwarna merah dan terlihat begitu menakutkan.
Raut wajah Ming Yuxia langsung berubah. Itu adalah ular berkepala dua yang dikenal sebagai binatang roh dalam jajaran kuat. Dia menjadi khawatir apakah Qing Yue'er bisa menghadapi binatang itu atau tidak.
Ming An tertawa terbahak-bahak. Dia merasa puas dengan penampilan binatang roh itu. "Pergi! Buat dia merasa jera!" Dia menyuruh ular berkepala dua itu untuk menyerang Qing Yue'er.
Seketika ular tersebut langsung bergerak cepat untuk menyerang Qing Yue'er. Namun hal yang tidak terduga pun terjadi. Ketika ular itu semakin mendekati Qing Yue'er, tiba-tiba cahaya biru yang begitu lembut menyelimuti tubuh gadis itu.
Ular yang awalnya sudah menatap dengan ganas pun langsung mengalami perubahan. Bukannya melancarkan serangan, dia malah melingkarkan tubuhnya di depan Qing Yue'er. Kedua kepalanya menunduk sebagai tanda penghormatan.
"Ini ...."
Ming An tertegun. Ini bukan hasil yang diharapkan. Bagaimana ular itu malah tunduk pada gadis itu?
Qing Yue'er tersenyum penuh kemenangan. Dia mengerti akan satu hal, sesuatu yang lemah akan takut pada hal-hal yang lebih kuat. Seperti halnya binatang roh, mereka juga akan tunduk pada sesuatu yang lebih kuat. Hal ini membuat Qing Yue'er memanfaatkan kenyataan itu. Dia mengeluarkan aura Blue Phoenix dan itu membuat ular berkepala dua merasa takut.
Kedudukan Blue Phoenix jelas lebih tinggi karena dia adalah binatang ilahi. Sedangkan ular berkepala dua hanyalah binatang roh biasa. Mereka akan merasakan ketakutan naluriah bahkan tanpa perlu melakukan pertandingan.
"Apa kamu masih merasa situasi ini berada di bawah kendalimu?" Qing Yue'er bertanya dengan santai.
Ming An merasa lututnya melemas. Ternyata apa yang dia banggakan hanyalah sebuah kebodohan. Dia tidak tahu apa yang digunakan oleh gadis itu untuk menundukkan ular berkepala dua, tetapi sekarang dia yakin kalau gadis itu pasti memiliki banyak kartu truf di lengan bajunya.
Ketika dia ingin menyerah, tiba-tiba dia masih ingat bahwa seseorang masih ada di tangannya. Dia langsung mengambil belati dan dengan cepat mengacungkannya pada Ming Xuan, sedangkan tangan yang satunya masih mencengkeram cincin rohnya.
"Pergi dan tinggalkan ular itu di sini!" teriaknya.
Qing Yue'er yang mendengar itu pun merasa jengah. Kenapa orang ini masih keras kepala? Akhirnya dia melambaikan tangannya dan ular berkepala dua langsung berbalik. Ular tersebut bergerak dengan cepat dan berakhir di depan Ming An. Tubuh panjangnya membelit Ming An dengan secepat kilat.
Ming An melebarkan matanya. Cincin roh yang ada di tangannya tanpa sengaja terlepas dan terjatuh di tanah. Tentu saja Ming Yuxia tidak tinggal diam. Gadis itu bergerak untuk mengambil cincin itu dan mengamankannya.
Sedangkan Jing Ling, dia bergerak untuk membebaskan Ming Xuan. Pria itu saat ini sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri, jadi dia harus membantunya.
Ming An merasakan sesak di tubuhnya, napasnya menjadi tersendat karena lilitan dari ular berkepala dua itu. Diam-diam dia merasakan putus asa. Mungkin ini yang dimaksud dengan termakan oleh senjata sendiri.
"Jangan membunuhnya," ucap Ming Yuxia.
Qing Yue'er mengerti. Setelah semuanya terasa aman, dia pun membiarkan ular berkepala dua untuk melepaskan Ming An. Kemudian dia membuka ruang dimensi cincin agar ular itu bisa kembali masuk.
Mereka harus mengembalikan cincin itu. Mungkin orang lain akan berpikir benda itu sangat berharaga, tapi dia tidak menganggapnya spesial. Tentu saja karena dia sudah memiliki Ying Jun bersamanya.
Ming Yuxia hanya menatap Ming An dengan datar. Memang tidak bisa dipungkiri kalau pria itu adalah orangtuanya, tapi dia sudah merasa kecewa. Sekarang dia tidak akan melakukan apa pun untuk menghukum ayahnya. Namun dia sudah memutuskan satu hal, dia akan meninggalkan ini semua. Dia sudah berjanji untuk mengabdikan dirinya pada Qing Yue'er. Jadi itu adalah apa yang akan dia lakukan untuk sekarang dan di masa depan.