
Qing Yue’er melebarkan matanya penuh kejutan. Jadi, rumor tentang Abadi yang tinggal di pegunungan Jingcai memang benar adanya. Dan Abadi itu sekarang ada di sana, di depan Qing Yue'er. Tentu saja dia merasa terkejut sekaligus senang.
“Apa Tuan yang sudah menolong Jingtian?” tanya Qing Yue’er.
Pria tua itu mengangguk lalu berjalan mendekati Mo Jingtian. Tangannya menekan dantian Mo Jingtian yang kosong. Setelah itu dia menghela napas panjang.
“Bagaimana ... bagaimana cara menyingkirkan belenggu itu?” tanya Qing Yue’er dengan suara tersendat.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kenapa?” Qing Yue’er menggelengkan kepala tidak mengerti. “Tuan pasti mengetahui tentang ini,” lirihnya.
Kemudian pria tua itu berbalik menatap Qing Yue’er. Sorot matanya tampak melembut. “Aku memang mengetahuinya. Namun, apa kau tahu siapa dia?”
Qing Yue’er langsung mengangguk. Dia tahu siapa Mo Jingtian, tentu saja. Sangat tahu.
“Dia orang yang istimewa. Untuk melepaskan belenggu itu pun memerlukan cara yang istimewa,” ucap Tuan Abadi. “Kau tidak bisa terburu-buru.”
“Tapi aku tidak mau menunggu terlalu lama. Tolong katakan padaku. Aku akan melakukan apa yang dibutuhkan untuk itu,” ucap Qing Yue’er yang meminta dan berusaha meyakinkan orang itu.
Jika mereka menunda terlalu lama dia takut belenggu itu akan memotong umur Mo Jingtian dan memakan kekuatan hidupnya. Tentu saja dia tidak mau.
Tuan Abadi lagi-lagi menghela napas. “Yue’er, aku tahu perasaanmu, tapi—“
“Kau tahu namaku?” Qing Yue’er bertanya, memotong ucapan Tuan Abadi. Dia merasa heran dan sedikit curiga. Bagaimana orang itu bisa mengetahui namanya?
Tuan Abadi tersenyum tipis. Dia tidak terlihat gugup sama sekali. Kemudian dia berkata, “Siapa yang tidak mengetahui pemiliki Taotie? Kurasa orang-orang di Celestial pasti mengetahuinya.”
Qing Yue’er sedikit ragu mendengar jawaban itu. Apakah sekarang dia sudah terkenal di Celestial?
“Apa kau tahu siapa orang yang dekat dengan dia?” tanya Tuan Abadi yang langsung mengalihkan perhatian Qing Yue’er.
Orang yang dekat dengan Mo Jingtian? Qing Yue’er langsung teringat pada guru Mo Jingtian, Mo Tianyu. Selain Guru Mo, dia tidak tahu siapa lagi yang benar-benar dekat dengan Mo Jingtian.
“Aku rasa gurunya,” balas Qing Yue’er.
“Itu hal bagus. Cobalah kau temui guru Mo Jingtian dan katakan apa yang terjadi. Dia pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.”
Qing Yue’er merasa senang mendengarnya. Dia hanya perlu menemui Guru Mo. Sekarang dia merasa bersyukur karena Mo Jingtian sudah pernah membawanya menemui orang tua itu.
“Namun, aku tidak menyarankanmu membawa dia pergi dari sini. Aku takut sesuatu terjadi di perjalanan.”
“Apa aku bisa memercayaimu?” Qing Yue’er secara terang-terangan bertanya. Tentu saja dia tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi.
Tuan Abadi tersenyum. “Kau bisa memercayaiku. Aku tidak akan berani melukai Anak Surga.”
Qing Yue’er menatap Tuan Abadi selama beberapa saat. Ternyata orang itu memang mengetahui identitas Mo Jingtian. Dan sepertinya juga mengetahui indetitas Qing Yue’er.
Dia bisa menyimpulkan. Tuan Abadi ini memang bukan orang sembarangan. Ini sebuah berkat karena dia dan Mo Jingtian sudah ditolong olehnya.
“Terima kasih,” ucap Qing Yue’er dengan tulus. Kemudian dia membungkuk hormat.
“Kau tidak perlu berterim kasih padaku. Aku harap kau bisa segera membawa gurunya ke sini.”
Qing Yue’er mengangguk. Dia akan secepat mungkin menemui Guru Mo dan meminta bantuannya.
Perlahan dia mendekati Mo Jingtian dan memegang tangannya. Ini adalah kali pertama dia melihat Mo Jingtian dalam keadaan tidak berdaya. Tidak bisa dipungkiri, hatinya merasa sakit dan dan cemas.
“Aku berjanji kau akan baik-baik saja,” bisik Qing Yue’er. Dia mendaratkan kecupan singkat di kening Mo Jingtian.
“Kau akan baik-baik saja,” gumam Qing Yue’er yang lebih tepatnya untuk meyakinkan diri sendiri.
“Aku akan pergi sekarang,” ucap Qing Yue’er pada Tuan Abadi.
“Berhati-hatilah. Jangan sampai mereka menemukanmu.”
Qing Yue’er mengangguk mengerti. Setelah itu dia langsung melesat pergi meninggalkan pegunungan Jingcai. Sosoknya menghilang hanya dalam sepersekian detik.
“Saat itu aku menginginkanmu naik. Jika itu terjadi, pasti semuanya akan berbeda,” lirihnya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
“Tapi tidak apa-apa. Aku percaya kau, kalian, bisa menggulingkan Baili Linwu.”
***
Qing Yue’er bergerak cepat menuju tempat di mana Guru Mo beristirahat. Dia berusaha mengingat-ingat jalur yang dilalui bersama Mo Jingtian hari itu. Tempatnya memang cukup tersembunyi dan rumit.
Ketika senja turun akhirnya Qing Yue’er berhasil tiba tanpa menemui masalah apa pun. Sepertinya langit sedang memberkatinya.
Qing Yue’er berada di luar pintu pemakaman berbatu. Dia mencoba membuka pintu itu, tetapi tidak bisa. Dia ingat waktu itu Mo Jingtian bisa membukanya dengan mudah tanpa menggunakan formasi atau apa pun.
Bagaimana sekarang? Qing Yue’er merasa sedikit bingung. Tempat peristirahatan Guru Mo saja cukup jauh dari pintu masuk. Seseorang perlu melewati beberapa koridor berbatu sebelum tiba di peti peristirahatan.
“Kalau begitu aku akan memanggilnya,” gumam Qing Yue’er.
“Guru Mo, Qing Yue’er di sini! Ada hal penting yang harus aku katakan!” teriak Qing Yue’er yang suaranya langsung menggema di sana. Sayangnya hingga beberapa saat tidak ada respons apa pun yang dia dapatkan.
Qing Yue’er mengulanginya lagi. Kali ini dia menggunakan kekuatan agar suaranya bisa menerobos masuk ke dalam. Namun, dia pikir dinding apa yang Mo Tianyu buat? Bagaimana mungkin suara seseorang bisa menerobos masuk?
Itu juga gagal!
Qing Yue’er mulai putus asa. Dia menggigit bibirnya dengan perasaan risau. Bagaimana caranya agar Mo Tianyu mau keluar? Dia yakin saat ini pria itu bahkan belum mengetahui kedatangannya.
Tatapan Qing Yue’er beredar mengamati tempat itu. Kemudian dia mengepalkan kedua tangannya dan mulai menguatkan tekad.
“Baiklah. Aku tidak memiliki pilihan lain. Maafkan aku, Guru Mo,” ucap Qing Yue’er.
Setelah itu apa yang terjadi adalah ledakan dan ledakan yang mengguncang tanah di sekitar. Suaranya menggema hingga ke langit malam.
“Siapa yang berani menyerang tempat peristirahatanku, hah?!” Mo Tianyu berteriak marah. Selama ini tidak ada yang pernah membuat kekacauan di sana. Lagi pula tidak ada yang mengetahui keberadaan tempat ini.
Dengan cepat dia langsung keluar dari peti batu dan membuka pintu masuk. Dia sudah siap menyemburkan amarah. Namun, setelah melihat gadis yang menatapnya dengan penuh keluhan, amarahnya tersendat di tenggorokan.
“Kenapa kau ada di sini, hah? Dan … kenapa kau menghancurkan tempat tinggalku?” Mo Tianyu ingin memarahi Qing Yue’er, tetapi gadis itu menatapnya seperti sedang melihat malaikat penolong. Hal itu membuatnya tidak tega marah.
Qing Yue’er ingin menangis sekarang. Sulit sekali memanggil Mo Tianyu keluar. Pria itu baru mau keluar setelah dia menyerang tempat tinggalnya. Benar-benar ….
“Guru Mo, aku tidak bisa menjelaskan itu sekarang. Aku hanya ingin mengatakan hal penting,” ucap Qing Yue’er yang tidak mau bertele-tele.
“Kenapa? Ada apa? Di mana Jingtian?” Mo Tianyu merasa heran karena Qing Yue'er datang seorang diri.
Qing Yue’er menghela napas panjang. “Itu yang akan aku sampaikan. Mo Jingtian … dia terluka.”
Mo Tianyu menatap Qing Yue’er dengan heran. Ada sedikit ketidakpercayaan di wajahnya. “Terluka? Bagaimana bisa?”
“Ini Baili Linwu. Mereka berdua melakukan pertempuran dan Mo Jingtian tidak sadarkan diri sekarang.”
Mo Tianyu langsung berubah menjadi serius. Dia tidak menduga akan mendengar laporan ini dari Qing Yue’er. Pertempuran dengan Baili Linwu adalah sesuatu yang serius.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Mo Tianyu.
“Dia menerima belenggu dari ras iblis,” balas Qing Yue’er. “Guru, aku meminta bantuanmu untuk segera melepaskan belenggu itu,” pintanya.
Mo Tianyu terkejut mendengar penjelasan Qing Yue’er. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur. Rasanya sulit menerima kabar tidak terduga ini.
Bahkan jika Mo Jingtian terluka, dia tidak pernah berpikir muridnya itu akan dibelenggu oleh Baili Linwu. Ini bukan hal yang mudah. Ini benar-benar masalah serius.
“Guru, kenapa kau hanya diam?” Qing Yue’er menjadi cemas melihat respons Mo Tianyu yang seperti itu.
“Ini benar-benar terkutuk!” geram Mo Tianyu.
“Yue’er, bawa aku ke sana! Biarkan aku menyadarkan Mo Jingtian terlebih dahulu sebelum kita memikirkan cara melepaskan belenggu itu!”
Qing Yue’er mengangguk. Dia hanya bisa berharap Mo Tianyu bisa membantu menyelesaikan ini. Hanya pria itu yang bisa diandalkan.