
“Menangkap harta?” Tikus besar itu menatap makhluk humanoid dengan bertanya-tanya. Namun, yang ditatap hanya menggelengkan kepala tidak tahu. Akhirnya mereka hanya membiarkan Qing Yue'er pergi begitu saja.
Sementara itu, Qing Yue'er bergerak cepat menuju arah di mana suara angsa berasal. Dia tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi dia akan melihat pada arogansinya. Siapa yang akan tahu seperti apa kebenarannya.
Dia naik ke bagian paling atas dari puncak Beifeng Xue ini. Gerakannya semakin cepat dan suara angsa pun menjadi semakin jelas. Hanya dalam beberapa waktu yang singkat dia sudah hampir sampai di puncaknya.
Ketika sampai di atas, dia dikejutkan oleh pemandangannya. Di puncak tertinggi ini dia benar-benar seperti ... dapat melihat hingga ke ujung dunia. Di atas, langit yang bertabur bulan dan bintang dapat dilihat dengan begitu jelas.
Bukan hanya itu, di bagian tengah puncak itu juga terdapat perairan yang tidak begitu luas. Itu mungkin sebuah danau kecil di antara bongkahan es. Qing Yue'er benar-benar dibuat takjub dengan keindahannya.
Dan yang lebih membuatnya semakin antusias adalah ketika melihat seekor angsa sedang berdiri membelakanginya. Bulu-bulunya yang tampak begitu putih dan bersih tersorot oleh cahaya bulan. Itu membuatnya terlihat sakral tetapi secara bersamaan juga terlihat arogan, terutama ketika kepalanya diangkat menghadap ke dunia luar.
Qing Yue'er merasa perasaannya menjadi rumit. Dia ingin melangkah lebih jauh, tetapi angsa itu sepertinya sudah menyadari kehadirannya. Binatang itu berbalik dan menatapnya dengan kedua mata yang dipicingkan.
“Untuk apa seorang gadis kecil datang ke sini?” Angsa itu berkata dengan cemoohan.
“Untuk apa?” Qing Yue'er menyeringai. “Untuk menangkapmu, tentu saja.”
Angsa itu menyipitkan matanya. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Menangkapku? Dengan hanya dirimu sendiri?” Dia tampak mengejek. “Jangan berharap.”
Kemudian dia langsung melesat pergi dari sana. Tentu saja Qing Yue'er tidak mau membiarkannya begitu saja. Dia segera mengejarnya dengan kecepatan kilat. Tidak menyangka ternyata angsa itu juga seekor pelari yang andal.
Qing Yue'er terus mengejarnya bahkan ketika angsa itu turun dari puncak teratas. Angsa itu tampak menyanyikan lagu yang tidak mengenakkan di telinga. Dia benar-benar terlihat sangat santai meskipun di belakangnya seorang gadis sedang mengejarnya.
“Kejar saja, heh. Sampai mana kamu masih ingin mengejarku!” Angsa itu terlihat sangat senang. Mungkin dia sudah terbiasa dikejar oleh orang atau binatang yang lain.
Sepanjang pengejaran, angsa itu tetap saja bernyanyi atau bersenandung. Qing Yue'er benar-benar dibuat heran. Kenapa dia bisa secepat itu? Apakah itu keistimewaannya? Dia tidak dapat memahaminya selagi belum mendapatkannya.
Qing Yue'er merasa semakin kesal setelah dia sudah mengejar dalam waktu yang lama. Dia mencoba menggunakan serangan qi spiritual, tetapi itu juga tidak berhasil. Angsa itu seperti memiliki mata di punggungnya sehingga dapat menghindari setiap serangannya.
Pantas saja kedua makhluk besar sebelumnya mengatakan sangat sulit untuk menaklukkan binatang yang satu ini. Kecepatan dan ketangkasannya memang melebihi manusia atau binatang pada umumnya. Sepertinya ini akan sangat sulit untuk bisa mendapatkannya.
Qing Yue'er memikirkan apakah ada cara yang bisa dia lakukan. Bermain kejar-kejaran seperti hanya akan membuang banyak waktu. Akhirnya setelah beberapa saat dia pun berteriak, “Bisakah kita berbicara dengan baik?”
Angsa itu ikut menghentikan pelariannya. Dia berbalik menatap Qing Yue'er dengan arogansi yang terlihat begitu jelas. Bahkan orang-orang arogan yang sudah pernah ditemui oleh Qing Yue'er sebelumnya, masih kalah dengan arogansi dalam sikap angsa ini. Sungguh mengherankan.
“Apa yang ingin kamu bicarakan? Bukankah kamu ingin menangkapku? Kenapa malah ingin mengajakku berbicara?” Angsa itu tertawa lagi. “Apa kamu sudah merasa lelah sekarang?” Dia mencemooh, “Terlalu lemah.”
Qing Yue'er menelan ludahnya. Menghadapi binatang yang satu ini juga sepertinya akan sangat menguras kesabarannya. Dia berusaha untuk tidak terpancing. Kemudian dia pun berkata, “Kau tahu orang bernama Hua?”
Tiba-tiba angsa itu tertawa lagi. “Hua? Maksudmu orang tua itu?” Angsa itu tampak menyipitkan matanya. “Jadi, apa kamu orang yang dipilih olehnya?”
Qing Yue'er merasa jantungnya berdetak semakin cepat. Jadi ini memang benar. Angsa ini adalah warisan yang dimaksud oleh penulis rune itu. Meskipun demikian, dia sebenarnya masih merasa heran. Memangnya apa keunggulan angsa ini hingga bisa disebut sebagai harta warisan?
“Tidak, aku bahkan tidak tahu seperti apa rupanya,” jawab Qing Yue'er tanpa kebohongan.
“Maksudmu? Jadi, bukan dia yang mengirimmu?” Angsa itu tampak terkejut. “Kalau begitu bagaimana kamu bisa mengetahui keberadaanku? Jangan bilang kamu mengetahuinya dari rumah batu bobrok itu?”
“Benar, aku mengetahuinya dari tempat itu.”
Mendengar jawaban Qing Yue'er, angsa itu langsung mendengus. “Jadi orang tua itu masih membuangku, ya?” Dia menundukkan kepalanya sesaat. “Aku membencinya, aku tidak menyukainya!”
“....”
Qing Yue'er tidak tahu apa maksud dari ucapan angsa itu. Kelihatannya binatang itu merasa tidak menerimanya. Akhirnya Qing Yue'er bertanya, “Apa yang kamu benci?”
“Aku membenci Hua Jiangshan!” Angsa itu mendengus dengan dingin. “Bagaimana dia bisa membuangku di sini?! Dingin dan sendirian, dia pikir ini sangat menyenangkan?!” ejeknya. Kemudian dia menatap Qing Yue'er dengan mata disipitkan. “Kamu cukup pintar juga karena bisa mengetahui keberadaanku.”
Qing Yue'er tidak tahu bagaimana harus merespons. Hua Jiangshan ini sepertinya adalah orang yang sudah menuliskan rune batu sekaligus pemilik angsa yang sebenarnya. Kalau begitu kenapa angsa ini malah membencinya?
Dia memiliki banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Namun, yang pertama harus dia lakukan adalah menundukkan angsa itu dulu. Setelah itu dia bisa mengorek banyak informasi darinya.
“Aku memang pintar,” ucap Qing Yue'er untuk sedikit meyakinkan angsa. “Jadi, apa kamu mau ikut denganku?”
“Sayangnya, kamu adalah orang yang mengetahui keberadaanku melalui petunjuk Hua Jiangshan. Jadi, aku tidak mau ikut denganmu!” Angsa itu kembali menghadap ke depan lalu kembali berlari.
Ini semakin mengherankan saja. Memang, sepertinya angsa itu sama sekali bukan binatang roh pada umumnya. Sebenarnya dia sama sekali tidak mencium aura binatang roh dari dalam tubuh angsa. Tidak mungkin pula jika itu adalah binatang ilahi. Apa mungkin itu adalah makhluk lain?
Qing Yue'er tidak mengetahuinya. Dia bergerak untuk menjelajah di seluruh puncak Beifeng Xue sepanjang malam yang tersisa. Namun, dia sama sekali tidak menemukan jejak apa pun. Ke mana angsa itu menghilang? Dia benar-benar merasa semakin penasaran.
Ketika matahari muncul, Qing Yue'er akhirnya menghentikan pencariannya sementara. Seharusnya binatang itu tidak pergi dari tempat ini. Dia berpikir seperti ini bukan tanpa alasan. Jika angsa itu bisa pergi, seharusnya dia sudah pergi sejak dulu. Namun, nyatanya angsa itu tetap tinggal di sini.
Jika disuruh mengambil kesimpulan, maka Qing Yue'er akan menyimpulkan, angsa itu pasti tidak bisa pergi dari sini. Mungkin Hua Jiangshan yang sudah mengaturnya sedemikian rupa agar angsa itu tetap di sini.
Akhirnya Qing Yue'er kembali naik ke bagian atas puncak. Dia sangat menyukai suasana di sana. Selain itu, dia juga pertama kali bertemu dengan angsa itu di sana. Jadi, siapa tahu angsa itu sewaktu-waktu akan kembali ke sana.
Setibanya di puncak, Qing Yue'er mengambil waktunya untuk beristirahat. Di sana dia bergerak menuju danau kecil yang ada di bagian tengahnya. Ini menakjubkan karena airnya tidak mengalami pembekuan. Padahal sisi-sisinya dibingkai oleh bongkahan es.
Qing Yue'er mencoba menyentuh airnya. Itu sangat dingin. Dia langsung menarik tangannya kembali. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa menunggu sampai angsa itu mau muncul kembali?
“Ying Jun, bagaimana menurutmu?” tanya Qing Yue'er.
“Tunggu saja, dia tidak akan mungkin mau bersembunyi untuk selamanya,” ucap Ying Jun.
Qing Yue'er mengangguk setuju. Pasti angsa itu mau muncul kembali. Akhirnya dia kembali merasa yakin. Kemudian untuk menghabiskan waktunya, dia pun masuk ke dalam dimensinya. Dia akan memeriksa perkembangan benih yang dia tanam.
Setelah sudah masuk ke dalam dimensi, Qing Yue'er berjalan menghampiri pot tanah liat yang bobrok. Kemudian dia melihat biji hitam yang sudah mengalami pertumbuhan secara signifikan. Biji itu sudah mulai berkecambah. Meskipun itu akan memakan waktu yang lama, dia masih akan merawatnya.
“Wah, aku menjadi semakin ingin tahu.” Qing Yue'er berkata sambil menyiramkan air Yin Yang ke dalam pot.
Ying Jun yang juga mengikutinya akhirnya mendengus. “Bukankah kamu memang selalu penasaran dengan segala hal?”
Qing Yue'er terkekeh. “Setengah benar, setengah salah. Tidak dengan segala hal, hanya beberapa.”
“Terserah apa katamu.” Ying Jun berbalik pergi.
Sementara itu Qing Yue'er mengangkat kedua bahunya. Dia juga keluar kembali ke puncak Beifeng Xue. Ketika dia kembali muncul di atas puncak, nyatanya angsa itu masih belum juga kembali. Akhirnya dia pun mencari tempat yang cocok untuk duduk.
Setelah menemukannya, dia duduk dalam posisi lotus. Dia ingat kemarin sebelum kedatangan tikus besar dan makhluk humanoid dia sedang mempersiapkan diri untuk melakuakan penerobosan. Sekarang sementara menunggu kedatangan angsa dia akan melanjutkan niatnya itu.
Akhirnya dia kembali mengeluarkan giok yang diberikan oleh Zi Xian serta kristal Burung Api yang didapatkan dari kompetisi. Sekarang dia akan mencoba melakukan terobosan.
Qing Yue'er menutup matanya dan mulai menyempurnakan energi spiritual dari batu giok. Energi spiritual itu mulai masuk ke meridiannya dan berakhir di dantian. Seperti itu seterusnya hingga esensi spiritual di dalam batu giok mulai terserap habis.
Itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika hari menjelang siang akhirnya dia selesai menyempurnakan batu giok itu. Dengan gerakan yang cepat, dia langsung beralih kepada kristal Burung Api. Dia pun kembali melanjutkan aksinya.
***
Di bagian bawah puncak, tikus besar dan makhluk humanoid itu kembali bertemu. Namun, kali ini pertemuan mereka bukan untuk bertempur, lebih tepatnya justru untuk membentuk pertemanan.
Sepanjang malam mereka sudah saling berbicara. Akhirnya permusuhan itu mulai terhapus. Mereka mungkin harus berterima kasih pada gadis itu. Berkatnya mereka pun berakhir menjadi teman.
“Apa dia masih di sini?”
“Aku rasa masih. Sepertinya dia ingin menangkap angsa sombong itu. Sayang sekali, itu adalah hal yang sulit. Seperti kita yang juga mengalami kesulitan jika ingin menangkapnya.”
“Aku penasaran, kenapa gadis itu mengatakan akan menangkap harta? Apa kamu pikir angsa itu adalah sebuah harta?”
“Itu tidak mungkin bukan? Binatang sombong seperti itu bagaimana mungkin bisa menjadi sebuah harta? Bukannya harta yang ada justru kesialan.”
Mereka berdua pun tertawa. “Benar, benar. Sebenarnya ini cukup menguntungkan. Jika gadis itu berhasil menangkapnya maka binatang-binatang di sini tidak akan merasa terganggu lagi.”
“Itu hal yang baik.”
Kemudian mereka pun bergerak ke atas puncak. Namun, setelah tiba di sana mereka melihat Qing Yue'er yang sedang dalam kultivasinya. Bagaimana gadis itu masih menyempatkan diri untuk berkultivasi?
Karena tidak mau mengganggu akhirnya mereka pun mundur untuk mengurungkan niatnya. Mungkin mereka akan berterima kasih di lain hari.