
“Tidak, Di Moxie. Aku harus menyelamatkannya.”
Mo Jingtian dengan cepat berjalan ke depan, hendak mendekati Qing Yue’er lagi. Namun, Di Moxie segera menahannya.
“Di Futian, satu tetes darah emasmu mewakili satu helai rambutmu. Dan satu helai rambutmu adalah sepuluh ribu tahun umur dan kehidupanmu. Mohon jangan impulsif!”
Mo Jingtian menutup matanya dengan putus asa. Enam helai rambutnya telah rontok. Itu artinya 60.000 tahun kehidupannya di masa depan telah diambil. Namun, dia tidak peduli dengan itu.
“Dia telah mempertaruhkan nyawanya untukku. Dia menahan hukuman langit yang seharusnya aku dapatkan. Bahkan jika dia ingin mengambil satu juta umurku, aku pasti akan memberikannya,” ucapnya dengan sendu.
Di Moxie menghela napas. “Aku tahu. Tapi dia hanya membutuhkan satu tetes darahmu. Kau tidak perlu memberikan lebih dari itu.”
Darah emas Mo Jingtian terlalu berharga. Hanya dia yang memilikinya, dewa lain tidak. Dan ini adalah hal yang selalu dirahasiakan.
Pria itu pernah bersumpah tidak akan menggunakan darah emasnya karena itu terhubung dengan umurnya. Namun, hari ini dia menggunakannya bukan hanya untuk satu tetes, tapi enam! Di Moxie benar-benar tidak mengerti.
“Kau sudah menyelamatkannya, Di Futian. Dia akan baik-baik saja,” ujar Di Moxie dengan lembut.
Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa. Dia menarik napas dan mencoba menenangkan diri. Setelah itu, dia melangkah perlahan mendekati Qing Yue’er. Luka yang menganga di dadanya benar-benar mulai menutup.
Dia berlutut di dekatnya. Memegang tangannya dan menciumnya dengan lembut. “Jika aku tahu akan berakhir seperti ini, sejak awal aku tidak akan menggunakan kekuatan jiwa. Maafkan aku ….”
“Di Futian, apa yang sebenarnya sudah terjadi di sini?” Di Moxie bertanya dengan pelan. “Puncak Beifeng Xue hancur. Ini adalah kerusakan yang tidak seharusnya kau lakukan.”
Mo Jingtian menutup matanya dalam penyesalan. Selama beberapa hari terakhir ini dia terlalu banyak menggunakan kekuatan jiwa. Itu memicunya untuk mengalami peningkatan dan terobosan ke tahap penguasaan yang baru.
Hari ini, hal itu terjadi. Kekuatan jiwanya memasuki tahap penguasaan akhir. Itu hal yang baik sekaligus buruk. Tempatnya tidak tepat sehingga akibatnya tidak terbayangkan.
Langit menghukumnya dengan petir surgawi karena dua hal ini. Pertama, karena dia telah sepenuhnya menguasai kekuatan jiwa. Dan yang ke dua, karena dia telah menghancurkan puncak Beifeng Xue yang menjadi tatanan alam Benua Tongxuan.
“Aku telah melakukan kesalahan. Langit memang pantas menghukumku,” gumamnya. “Tapi kenapa gadis ini mengambilnya? Kenapa dia begitu bodoh?”
Di Moxie tersenyum tipis. “Karena dia tidak ingin kau terluka. Jika kau berada di posisinya, bukankah kau akan melakukan hal yang sama?”
Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa. Dia mengangkat tubuh Qing Yue’er dan menggendongnya dengan lembut. Napas gadis itu terdengar lebih tenang dan teratur. Itu membuatnya merasa lebih lega.
“Untunglah masih bisa diselamatkan.”
“Bagaimanapun juga dia adalah pasanganmu. Dia tidak akan mati dengan mudah,” kata Di Moxie dengan senang.
“Moxie, kenapa kau datang ke sini?” Mo Jingtian akhirnya bertanya. Di Moxie sangat jarang meninggalkan singgasananya, apalagi datang jauh hingga ke benua Tongxuan.
Di Moxie tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia mengeluarkan topeng perak lalu menjentikkannya hingga terpasang di wajah Mo Jingtian. Jika pria itu tidak memakainya, dia tidak akan bisa berbicara lebih lama dengannya.
“Terima kasih,” ucap Mo Jingtian sambil sedikit menunduk. Memang hanya Di Moxie dewa yang benar-benar mengerti kondisinya.
“Di Futian, aku selalu tahu kapan kau dihukum. Jadi, aku cemas karena saat ini kau tidak sekuat biasanya,” jawab Di Moxie dengan tenang. Perangai dewanya sama sekali tidak berubah.
“Mendengar ini, sepertinya kau sudah menentukan ke mana kau akan memihak,” kata Mo Jingtian dengan lirih.
“Kau benar.” Di Moxie menyilangkan tangan kanannya di dada. Dia memberikan penghormatan dewa pada Mo Jingtian.
“Selama ini aku terlalu acuh tak acuh sehingga membuat beberapa orang semakin bertindak leluasa. Mulai sekarang aku akan mendengarkanmu,” ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.
Penyerahan itu membuat Mo Jingtian tersenyum tipis. Selama ini Di Moxie tidak pernah melawannya, tetapi dia juga tidak mendukungnya dengan sungguh-sungguh. Pria itu tidak banyak ikut campur. Namun, hari ini akhirnya dia sudah memutuskan.
“Aku lega mendengarnya. Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi di Celestial?”
“Untuk saat ini belum ada sesuatu yang besar. Namun, seseorang telah merencanakan sesuatu pada pesta ulang tahun kepala klan Hua. Itu harus dicegah.”
“Aku mengerti.” Mo Jingtian mengangguk. Dia menatap Qing Yue’er yang masih terpejam. “Kalau begitu aku akan kembali ke Celestial.”
Di Moxie tiba-tiba bergerak membuat portal untuk menerobos pembatas alam. Tak lama kemudian, sebuah lubang transparan yang diselimuti dengan energi spiritual kuat muncul di hadapannya.
Dia mempersilakan Mo Jingtian masuk. Pria berjubah merah itu melangkah mendekati portal. Namun, sebelum melompat masuk, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tatapannya jatuh pada mayat Di Honghuo.
“Siapa pun yang ingin menghancurkan dunia memang pantas mendapatkan kematian. Kelak tempat ini akan disebut Tanah Reruntuhan Dewa. Siapa pun yang masuk akan diuji dengan dendam, amarah, dan kebencian di hati mereka. Siapa yang selamat adalah mereka yang berhati putih.”
Mo Jingtian menggumamkan mantra dewa. Setiap kata yang keluar dari bibirnya merajut benang khusus pada struktur tanah di sana. Sebuah formasi yang tak terlihat mulai terbentuk. Itu akan menjadi formasi berumur jutaan tahun yang menyatu dengan alam.
Di Moxie menunduk dan memberikan penghormatan untuk mandat itu. Ketika dia mendongak, sosok Mo Jingtian sudah pergi. Kekaguman langsung terpancar di matanya.
“Kalau begitu, mulai sekarang tempat ini bernama Tanah Reruntuhan Dewa.”
***
Klan Xie, Istana Tianjun
Xie Yingfei di aula istana menatap undangan di tangannya dengan ragu. Dia berjalan ke sana kemari hingga beberapa kali, lalu mendesah gusar.
Xie Wuqing yang sejak tadi melihat itu menjadi heran. “Kakak, apa yang membuatmu begitu bingung? Tidak bisakah kau duduk dengan tenang?”
“Klan Hua mengundang keluarga Xie kita menghadiri perjamuan ulang tahun kepala klan mereka. Tapi aku ragu untuk menghadirinya.”
“Kenapa?” Xie Wuqing menanggapi dengan santai.
“Terakhir kali, aku dan ayah memiliki konflik yang buruk dengan Hua Yan. Selain itu, Hua Tian memiliki dendam khusus dengan Yue’er. Aku ragu mereka sudah melupakan itu.”
“Kalau begitu tidak perlu datang,” ucap Xie Song yang tiba-tiba muncul. Pria tua itu membawa banyak sekali gulungan kertas yang harus dia periksa hari ini.
“Apakah Ayah yakin? Jika kita tidak datang, mereka mungkin juga akan tersinggung.” Xie Yingfei menjadi semakin bimbang.
“Biarkan aku dan Yue’er yang datang.” Tiba-tiba suara lain datang dari pintu masuk.
Ketiga orang itu serentak menoleh dan langsung terkejut ketika melihat siapa yang datang. Awalnya mereka senang melihat kedatangan Mo Jingtian, tapi ketika melihat gadis yang berlumuran darah di gendongannya, mereka menjadi panik.
“Apa yang terjadi?!”
Xie Song yang begitu menyayangi cucunya itu segera meletakkan gulungan-gulungan di tangannya dan berlari mendekati Mo Jingtian. Namun, setelah itu dia terdiam dengan kaku, sedikit bingung apakah dia harus bersujud pada pria itu.
“Lupakan formalitas. Yue’er terluka. Aku sudah membantu mengatasi situasi kritisnya, tapi dia masih perlu banyak istirahat. Aku akan mengantarnya ke kamar terlebih dahulu.”
Xie Yingfei berdiri di dekat ayahnya. Dia menyenggol lengan pria tua itu yang termenung. Mereka akhirnya segera membungkuk hormat.
“Terima kasih sudah menjaga Yue’er dengan baik.”
Mo Jingtian mengangguk sekali lalu berbalik tanpa mengatakan apa-apa. Xie Song menekan dadanya yang berdebar-debar. Seluruh tubuhnya gemetar menahan rasa bahagia dan antusiasnya.
“Aku benar-benar melihat pria itu lagi! Surga, keluargaku pasti sangat diberkati jika dia bisa menjadi keluargaku.”
Xie Yingfei tersenyum, lalu dia pura-pura memarahi pria tua itu, “Ayah, Yue’er terluka dan kau terlihat begitu bahagia. Apa kau bahkan khawatir dengan keselamatannya?!”
“Aiyyaa, lukanya itu sudah tertutup, aku melihatnya sendiri. Lagi pula dengan dewa kita di sini, apa yang bisa terjadi pada cucuku? Hahaha …. Aku tidak akan mengganggu mereka.”
Pria tua itu mengibaskan lengan bajunya lalu dengan cepat memungut gulungan-gulungan kertasnya untuk diperiksa. Senandung riang pun keluar dari mulutnya.
Xie Wuqing dan Xie Yingfei saling menatap. Pria muda itu lalu berbisik, “Sepertinya kita juga tidak perlu mengganggu mereka, kan?”
“Ya. Lebih baik begitu.”