
Setelah beberapa saat akhirnya Qing Yue'er tiba di depan istana Tianjun. Bersamaan dengan Mo Jingtian dia bergerak menuju gerbang istana. Tentu saja kedatangannya langsung banyak menarik penghuni istana. Terutama mereka yang tidak tahu identitas asli Qing Yue'er, seperti Xie Linxi.
Dengan wajah penuh permusuhan Xie Linxi langsung menghampiri Qing Yue'er. “Kamu masih berani datang ke sini? Tidakkah kamu takut kalau orang-orang di sini ingin mengulitimu hidup-hidup?!” teriak Xie Linxi.
Xie Yang yang melihat putrinya berbicara seperti itu langsung menggelengkan kepalanya. “Linxi, jangan bicara sembarangan. Cepat masuk, jangan ikut campur dengan masalah ini.”
“Ayah, apa maksudmu? Dia sudah berkomplot dengan musuh kita!” protes Xie Linxi.
“Aku tahu, aku tahu. Biarkan petinggi istana yang mengatasi masalah ini. Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa.” Xie Yang menepuk pundak putrinya dan memintanya untuk tidak ikut campur. Lagi pula dia sendiri juga masih belum tahu apa yang sudah dilakukan Qing Yue'er dan ingin segera tahu.
Xie Linxi ingin menolak dan tetap menuntut, tapi dia tidak berani terlalu banyak membantah ayahnya. Jadi, dengan kesal dia memelotot pada Qing Yue'er. Gadis itu malah menyunggingkan senyum kemenangan yang membuatnya semakin kesal.
Qing Yue'er tersenyum dan membiarkan Xie Linxi pergi dengan kejengkelannya. Kemudian dia melihat Xie Yang yang mendekatinya dengan cemas. “Gadis, apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu benar-benar pergi ke klan Liu?” Xie Yang bertanya dengan serius lalu pandangannya beralih pada Mo Jingtian. Pria tua itu sedikit menyipitkan matanya.
“Siapa ini?” tanya Xie Yang.
Pria yang berdiri tak jauh dari Qing Yue'er itu terlihat tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi di sekitar. Bahkan, tidak menyapanya sama sekali. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang dipandang hormat di sebagian wilayah Celestial. Namun, pria itu dengan terang-terangan mengabaikannya.
“Kakek, lebih baik kita bicarakan ini di dalam. Di luar tidak akan nyaman,” ucap Qing Yue'er.
Akhirnya Xie Yang mengangguk. Mereka pun bergerak masuk ke dalam istana. Suasana di sana sedikit berbeda. Seperti yang sudah Qing Yue'er perintahkan, istana memperketat penjagaan dan mereka tampak lebih siaga. Jadi, jika ada kejadian tak terduga klan Xie tidak akan begitu bingung.
Ketika mereka sampai di istana, Xie Song dan Xie Ying Fei langsung menemui Qing Yue'er. Bagusnya kondisi Xie Ying Fei sudah lebih baik sehingga dia sudah bisa dengan bebas melakukan apa pun.
“Yue'er, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya Xie Ying Fei sambil mengamati keadaan Qing Yue'er. Selain wajahnya terlihat lelah , tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan. Ini adalah hal yang baik.
“Ibu, aku memang datang ke klan Liu, tapi tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku hanya pergi untuk melihat-lihat sebentar.” Qing Yue'er berbohong. Dia tidak ingin orang-orang mengetahui apa yang sudah terjadi atau mereka mungkin akan merasa cemas.
Xie Ying Fei menghela napasnya. Dia tidak percaya dengan ucapan itu. Dia adalah ibu Qing Yue'er, wanita yang sudah melahirkannya. Jadi, dia bisa melihat bagaimana gadis itu berbohong di depan semua orang.
“Anak nakal. Jangan pernah melakukan hal ini lagi. Kesalahan sedikit saja bisa langsung merenggut nyawamu,” ucap Xie Ying Fei dengan lembut.
Xie Song dan Xie Yang mendengarkan dengan baik. Mereka masih tidak menyangka dengan keberanian Qing Yue'er. Bahkan, mereka harus berpikir beberapa kali jika harus pergi ke klan itu. Tidak sedikit orang yang tidak pernah kembali setelah datang ke sana.
“Kalau begitu apa yang kamu lihat di sana? Tunggu dulu ....” Xie Ying Fei menatap Mo Jingtian sesaat. Entah kenapa dia merasakan perasaan yang tidak asing ketika melihatnya. Bukan dari penampilannya, tapi dari udara di sekitarnya. Apa mungkin dia pernah bertemu sebelumnya?
Xie Ying Fei sedikit menggelengkan kepala. Tidak juga. Dia belum pernah melihatnya. Siapa pun itu, nalurinya mengatakan agar tidak terlalu banyak melibatkan orang ini ke dalam masalah keluarga mereka.
Dia tersenyum sedikit lalu bertanya, “Bisakah kami mengetahui identitas Tuan ini?”
Qing Yue'er berdehem. “Namanya adalah Jing Tian,” ucapnya sambil melirik Mo Jingtian. Dia mengubah nama pria itu sesukanya, berharap pria itu tidak akan protes. Lagi pula itu hanya meninggalkan marganya saja.
“Oh, kalau begitu kami akan memanggilnya Tuan Jing,” ucap Xie Yang.
Qing Yue'er hanya menunduk untuk menahan tawanya. Dia sedikit lega karena tidak ada yang menanyakan mengenai apa hubungannya dengan Mo Jingtian atau tentang alasan kedatangan pria itu. Pasti orang-orang menahan rasa penasarannya.
“Emm, Kakek, Ibu, jadi pria ini akan tinggal di sini juga. Ah, tapi jangan khawatir, dia orang yang baik dan tidak akan ikut campur dengan urusan klan,” ucap Qing Yue'er.
“Jika kamu berbicara seperti itu maka kami tidak akan keberatan,” ucap Xie Wuqing yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Dia datang agak terlambat. “Bukankah begitu, Ayah?” lanjutnya.
Xie Song mengangguk meskipun masih merasa sedikit ragu. Mungkin dia akan mengawasinya selama pria bernama Jing Tian itu tinggal di sini. “Kalau begitu kamu bisa siapkan tempat tinggal untuknya,” perintah Xie Song pada Xie Wuqing.
“Baik, Ayah,” ucap Xie Wuqing. Sebelum benar-benar pergi, dia menyempatkan diri untuk mengedipkan sebelah matanya pada Qing Yue'er. Biarkan kali ini dia melakukan bantuan pada gadis itu. Lihat saja nanti.
Setelah Xie Wuqing pergi, suasana berubah menjadi lengang. Orang-orang mulai sibuk dengan pikiran masing-masing. Pada saat itulah seseorang tiba-tiba muncul di depan semua orang.
“Xie Mao, dari mana saja kamu?” tanya Xie Song dengan perasaan yang kurang senang. Xie Mao adalah adiknya yang terakhir, tapi selama ini dia tidak pernah banyak memberikan kontribusi. Lebih seperti sibuk dengan hidupnya sendiri, padahal masalah terus datang ke klan Xie.
Orang yang ditanya itu tidak begitu memperhatikan pertanyaan Xie Song. Sebaliknya dia lebih peduli dengan kehadiran Qing Yue'er dengan Mo Jingtian. Dia sudah mendengar tentang kedatangan gadis yang katanya adalah putri Xie Ying Fei. Jadi, ini orangnya?
“Tunggu dulu, Kakak-kakakku. Kenapa kalian bisa dengan mudahnya menerima orang luar? Maksudku, meskipun gadis ini mungkin memang putri Xie Ying Fei tetapi bagaimana kalian bisa tahu tentang kesetiaannya? Apalagi dia sudah bertahun-tahun tidak tinggal di sini,” ucap Xie Mao dengan alis yang berkerut.
“Paman Mao, apa kamu meragukan putriku?” tanya Xie Ying Fei yang menjadi tidak senang.
“Sudah bertahun-tahun kamu hanya peduli dengan hidupmu. Xie Mao, sejak kapan kamu ingin ikut campur dengan masalah seperti ini?” tanya Xie Song.
Xie Mao berjalan lalu duduk tak jauh dari Xie Yang. Setelah itu dia menyandarkan punggungnya sambil berkata, “Sejak hari ini. Aku pikir mulai sekarang aku harus mulai peduli pada klan Xie. Bukankah ini hal yang selalu kamu inginkan, Kakak Pertama?”
Qing Yue'er sedikit mendengus dengan jawaban Xie Mao. Kemudian dia berkata, “Jika kamu tidak percaya pada kesetiaanku, bukankah kami juga berhak tidak percaya pada kesetiaanmu? Seperti yang kakekku katakan, kamu sudah bertahun-tahun tidak peduli. Bagaimana kami bisa tahu tentang kesetiaanmu terhadap klan Xie?”
Xie Mao mengangkat kedua alisnya. “Jadi kamu memang memiliki keberanian tinggi ya. Lihat, Ying Fei. Bagaimana putrimu bisa berkata seperti itu padaku? Biar bagaimanapun aku adalah kakeknya,” ucapnya tidak senang.
Xie Ying Fei tidak mengatakan apa-apa. Dari dulu dia memang tidak senang dengan perangai Xie Mao. Pria tua itu seringkali membuat jengkel dengan menyinggung pernikahannya. Dan dia tidak menyukai hal itu.
“Ais, Xie Mao, jangan katakan apa-apa lagi. Itu bagus kalau kamu mau mulai berpartisipasi melawan klan Liu,” ucap Xie Song agar Xie Mao tidak mengatakan hal-hal yang akan membuat ribut.
Namun, Xie Mao tidak langsung diam. Dia malah beralih menatap Mo Jingtian. Kekehan geli keluar dari mulutnya. “Ah, dulu Ying Fei kembali dengan membawa pria asing yang tidak diketahui asal-usulnya. Dan sekarang anak gadisnya juga melakukan hal yang sama? Seperti yang orang katakan, buah memang tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”
Mendengar ini Qing Yue'er langsung mengerutkan keningnya. Awalnya dia tidak begitu mempermasalahkan ucapan orang itu. Namun, sejak Xie Mao mengungkit masa lalu ibunya dengan cara merendahkan seperti itu, perasaannya menjadi tidak senang.
Xia Mao tidak memperhatikan ketidaksenangan Qing Yue'er. Dia menatap Mo Jingtian dan bertanya, “Dari mana asalmu? Setidaknya jangan menjadi seperti ‘pria itu’ yang hanya mengambil manisnya lalu meninggalkan Ying Fei begitu saja. Aku sedikit kasihan melihat keponakan berhargaku ditinggalkan seperti itu.”
Mo Jingtian menatap Xie Mao dengan acuh tak acuh. “Hati-hati ketika kamu membicarakan seseorang.”
Tawa keras langsung meledak dari bibir Xie Mao. Dia merasa lucu dengan ucapan Mo Jingtian. Lagi pula orang yang dia bicarakan tidak ada di sini. Kenapa dia perlu hati-hati? Paling-paling Xie Ying Fei yang akan marah dengan ucapannya. Itu bukan masalah baginya.
“Aih, kenapa aku harus berhati-hati? Aku hanya mengutarakan apa yang menjadi pemikiranku,” ucap Xie Mao dengan santai.
Qing Yue'er mendengus. “Ayahku bukan orang seperti itu. Jangan menyemburkan omong kosong,” ucapnya dengan nada yang terasa dingin. Kedatangan orang itu benar-benar membuat suasana hatinya memburuk.
“Ya, ya, ya. Aku tidak akan mengatakan omong kosong, tapi siapa pun akan berpikir seperti itu. Pria yang tidak bertanggung jawab, meninggalkan istri dan anaknya dengan cuma-cuma. Jika aku bertemu dengannya lagi maka aku akan menumbuk wajahnya dengan keras.”
Xie Ying Fei menutup matanya untuk menahan amarahnya. Memang, di sini hanya dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya dan bagaimana mereka bisa berpisah hingga sekarang. Namun, itu bukan karena tidak ada tanggung jawab. Bukan. Dia tahu ini dengan sangat jelas.
Bahkan, suaminya mau mengorbankan umurnya untuk memindahkan jiwa Qing Yue'er ke alam lain. Tidak ada orang yang dengan mudah mau mengorbankan umurnya pada orang lain kecuali benar-benar ada kasih sayang.
Dia ingin menghentikan ucapan Xie Mao tapi ayahnya sudah terlebih dahulu membuka mulutnya. “Cukup, Xie Mao. Jika kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi maka tutup mulutmu. Jangan membuat masalah di antara kita sendiri.”
“Aku tidak membuat masalah. Bagaimana kalau kita membuat semuanya jelas sekarang? Daripada nantinya gadis ini mengalami hal yang sama dengan Ying Fei,” tanya Xie Mao sambil menatap Xie Song dengan serius.
Saat itu juga udara dingin tiba-tiba menyelimuti ruangan tersebut. Suhu udara seolah turun hingga beberapa derajat. Tentu saja ini membuat mereka langsung terdiam dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Menyadari hal ini, Qing Yue'er langsung memegang tangan Mo Jingtian. “Jangan dengarkan dia. Aku tahu itu tidak akan terjadi. Ayo pergi dari sini,” ucapnya dengan lembut.
Sejujurnya dia sendiri merasa terkejut dan sedikit waswas. Baru kali ini dia melihat Mo Jingtian mengeluarkan udara dingin seperti itu. Mungkin Mo Jingtian marah, tapi dia tidak bisa membiarkan pria itu menumpahkan amarahnya di sini.
Mo Jingtian menatap tajam pada Xie Mao. Dengan nada yang dingin dia berkata, “Katakan lebih banyak dan aku akan mengirimmu ke dunia bawah.”
Xie Mao langsung terdiam. Punggungnya sedikit meremang mendengar ancaman itu. Seharusnya dia tidak takut, tapi nalurinya tidak bisa berbohong. Orang itu mengetahui dunia bawah dan mengancam akan mengirimnya ke sana. Dominasi macam apa itu?
Xie Song dan Xie Yang menatap Mo Jingtian dengan penghormatan yang lebih nyata. Sepertinya pria yang bersama dengan Qing Yue'er itu bukan orang sembarangan. Mereka benar-benar tidak bisa membuat masalah dengannya. Atau setidaknya sebelum benar-benar mengetahui identitasnya.
Sementara itu Xie Ying Fei menatap Qing Yue'er tidak mengerti. Bagaimana gadis itu bisa bertemu dan membawa pulang pria seperti ini? Dari segi kekuatan saja dia tidak bisa mendeteksinya. Dan dari cara bicaranya, sepertinya orang bernama Jing Tian ini sudah terbiasa mendominasi orang lain.
Mo Jingtian berdiri dan menarik Qing Yue'er ke sisinya. Dia hendak membawa gadis itu pergi tetapi langkahnya terhenti sejenak. Tatapannya meredup lalu beralih pada Xie Ying Fei.
“Ketika surga berkehendak maka siapa pun sulit untuk melawan. Dan jika surga berkehendak maka siapa pun akan kembali pada tempatnya,” ucapnya dengan tenang. Tanpa menunggu lagi dia langsung membawa Qing Yue'er keluar dari ruangan itu.
Xie Ying Fei menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan yang rumit. Jantungnya berdegup dengan kencang. Pria itu ... siapa sebenarnya dan dari mana asalnya? Kenapa dia seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya?
Dengan perasaan tidak menentu Xie Ying Fei berdiri dan berjalan keluar. Dia tidak peduli dengan ayahnya yang bertanya ke mana dia akan pergi. Perasaannya sedikit tidak tenang. Bukannya apa, dia sedikit curiga kalau Jing Tian ini mengenal Qing Yexuan. Dan ini sama sekali bukan hal yang sepele.
***
Yexuan atau Qing Yexuan, kalian bisa menebak kan siapa dia?