
Qing Yue'er berhenti tepat di depan bangungan bertingkat yang tampak elegan. Meskipun ada beberapa yang keluar masuk, namun tidak ada suara kebisingan. Ya, tepatnya itu adalah perpustakaan akademi.
Berjalan masuk, Qing Yue'er terpesona oleh barisan rak-rak kayu yang berisi buku-buku beraneka ragam. Ada yang hanya terdiri dari beberapa lembar lalu ada pula yang setebal pergelangan tangan.
Dia mencari buku yang dia tuju, yaitu pengetahuan mengenai alam ini. Meskipun dia sudah cukup lama bertransmigrasi ke dunia ini, sebelumnya dia belum pernah benar-benar mempelajarinya. Paling banyak hanya mendengarkan dari orang lain.
Langkahnya terhenti di sudut kanan. Dia mencari beberapa saat sebelum akhirnya menemukan apa yang dibutuhkan. Buku yang memiliki tebal satu senti itu dia ambil dari barisan buku lainnya. Masih dengan berdiri, dia mulai membuka dan memeriksa apa isinya.
Dalam waktu kurang lebih satu jam, akhirnya dia mencapai halaman terakhir. Dengan ini dia pun mulai memahami wilayah-wilayah dengan lebih jelas.
Tanah yang saat ini dia injak adalah bagian timur dari benua besar yang disebut Tongxuan. Benua Tongxuan terdiri dari lima wilayah yaitu Barat, Timur, Utara, Selatan dan Tengah yang disebut Dataran Pusat.
Wilayah Tongxuan Timur memiliki empat kerajaan yaitu Li, Quan, Linxiang dan Xirei. Selain itu ada juga sekolah besar seperti Akademi Surgawi atau klan dan sekte lain juga yang berpengaruh di wilayah ini.
Untuk wilayah Barat, Utara dan Selatan keterangannya kurang begitu rinci, namun Qing Yue'er dapat memahami sedikit-sedikit. Mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan Tongxuan Timur.
Sedangkan Dataran Pusat merupakan wilayah paling kuat yang berada di atas wilayah lainnya. Meskipun begitu biasanya Dataran Pusat tidak akan mencampuri wilayah yang lain. Selama orang lain tidak mengusik wilayah mereka maka mereka akan tetap bersikap sopan.
Setelah mengetahui wilayah-wilayah itu, Qing Yue'er tidak bisa berhenti merasa takjub. Dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Ketika tiba di dunia ini, dia melihat bahwa kerajaan Linxiang itu sangat besar dan menakutkan, namun dia salah karena kerajaan itu masih kalah kuat jika dibanding dengan Akademi Xinfeng.
Lalu setelah singgah di Akademi Xinfeng, dia menemukan bahwa ada kekuatan besar lain seperti klan Feng dan Jiang serta kerajaan Xirei. Dan akhirnya pada saat ini dia tahu masih banyak sekali dunia yang tidak dia ketahui.
Ternyata selama ini apa yang dia ketahui hanyalah secuil dari gunung es. Dia seperti semut yang akan mati begitu saja jika terinjak oleh orang lain. Dunia ini sangat luas. Apakah mungkin baginya untuk menjelajah?
"Yoh, aku ingin tahu sampai kapan kamu akan mengesampingkan Jiang Tua dan Feng Tua?"
Tiba-tiba dia mendengar pertanyaan dari Ying Jun. Dia berpikir sejenak. Sekarang dia tidak tahu bagaimana keadaan dua orang tua itu. Apakah ada salah satu yang menang atau mereka berakhir sama? Atau mungkin malah keduanya tidak selamat.
"Tunggu saja beberapa hari lagi. Biarkan mereka berkelahi dulu. Lagipula mereka yang telah mengacaukan Bai Fu'er. Sepertinya tidak layak jika mereka dibiarkan begitu saja," jawab Qing Yue'er dalam benaknya.
"Ah, kenapa repot-repot? Bagaimana jika aku langsung memakannya saja?" Taotie ikut bersuara untuk mengusulkan keinginannya.
Qing Yue'er mendengus. "Tunggu sedikit lagi. Nanti kamu pasti akan menerima makanan dalam jumlah yang besar."
"Benarkah?" tanya Taotie dengan antusias. Mungkin saat ini dia sudah mulai meneteskan air liur.
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia meletakkan buku di tangannya dan berjalan keluar dari ruang perpustakaan. Tidak ada banyak hal yang harus dia lakukan saat ini. Dia akan menunggu kedatangan batu roh dari Leluhur Yin. Namun sebelum itu mungkin dia harus mengunjungi gurunya terlebih dahulu.
Dia berangkat menemui Zu Tiankong di kediamannya. Rumah bambu itu masih sama seperti sebelumnya, dihiasi dengan pohon yang rindang. Rasanya memang sangat sejuk, berbeda dengan tempat-tempat lainnya.
Dengan langkah yang lambat dia berjalan mendekati pohon yang cukup besar. Seperti biasa, Zu Tiankong memang sedang ada di sana sambil berbaring menelungkup di atas bangku panjangnya. Matanya terpejam seperti sedang tertidur. Dia benar-benar tidak memiliki aura dari orang-orang yang berpengaruh.
"Hmm." Zu Tiankong meresponnya dengan gumaman.
"Bagaimana dengan penatua Tang?" tanya Qing Yue'er.
"Tentu saja dia dihukum. Tanpa aku bertindak pun Leluhur Yin tidak akan membiarkannya begitu saja."
Qing Yue'er menganggukkan kepala mengerti. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya dia kemari karena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Zu Tiankong. Bagaimana pun juga orang tua itu sudah seperti kakeknya sendiri. Dia merasa sedikit emosional jika harus pergi jauh meninggalkan akademi.
"Untuk apa kamu diam? Apakah kamu tahu aku sangat lelah? Ayo pijat tulang tua ini." Zu Tiankong berkata dengan mata yang masih terpejam.
"Baik." Qing Yue'er menyunggingkan senyum dan mulai memberi pijatan ringan pada punggung Zu Tiankong.
"Kapan kamu akan pergi?"
Qing Yue'er berpikir sejenak. Dia juga belum pasti kapan harus pergi, mungkin dalam dua atau tiga hari lagi. Yang jelas itu tidak akan lama.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi," jawab Qing Yue'er.
Zu Tiankong menghela napasnya. Dia baru saja menemukan seorang murid sebagai penerus, namun dia harus melepaskannya pergi. Jauh dan dia sendiri tidak tahu tujuan apa yang ingin dilakukan oleh muridnya.
Qing Yue'er menyadari perubahan ekspresi Zu Tiankong. Hatinya menghangat ketika mengingat guru yang satu ini. Meskipun tidak lama dia diangkat sebagai murid, namun memang ada pepatah seperti 'guru satu hari sama dengan ayah seumur hidup'.
Ya, meskipun hanya sebentar namun Qing Yue'er tidak bisa memungkiri bahwa mereka sudah menjalin hubungan yang cukup sentimental. Zu Tiankong sering melindunginya namun sepertinya dia belum pernah membalas apa pun yang cukup berarti.
"Tidak apa-apa. Kamu hanya perlu menjaga dirimu dengan baik. Seandainya bisa, kamu harus kembali ke tempat ini meskipun tidak tahu kapan waktunya," ucap Zu Tiankong. "Ngomong-ngomong kemana kamu akan pergi?"
"Aku harus pergi ke Jiang klan dan melihat keadaan kedua orang itu."
"Bagus. Kamu harus memiliki tujuan yang jelas. Yue'er, orang tua ini tidak memiliki apa pun untuk diberikan untukmu."
Qing Yue'er terkekeh. "Aku tidak membutuhkan banyak hal, tapi Guru, bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu?"
"Apa itu?" tanya Zu Tiankong.
"Tolong jaga saudara dan teman-temanku. Aku akan meninggalkan mereka di sini."
Zu Tiankong mengangguk mengerti. Tentu saja anak itu sangat peduli dengan rekan-rekannya. "Kamu bisa tenang. Lalu aku juga ingin meminta tolong padamu."