
Ming Yuxia berjalan cepat menuju kediaman Han Qiong. Dia merasa kecemasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Setelah tiba di depan pintu, dia pun segera mengetuknya. Selama beberapa saat dia tidak menerima tanggapan apa pun. Dia mengetuk sampai tiga kali. Setelah itu barulah pintu yang tertutup rapat itu terbuka.
Xiao Mo muncul di sana. Anak kecil itu menatapnya dengan datar. "Ada apa kamu datang ke sini?"
"Aku mencari guru Han, apa dia ada?" tanya Ming Yuxia tanpa menunda-nunda.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Aku ingin meminta bantuannya, apakah benar-benar ... tidak bisa menemuinya?" Ming Yuxia tidak tahu apakah dia tidak percaya pada Xiao Mo atau malah tidak percaya pada kenyataan. Ini sudah sampai sore dan Jing Ling masih belum kembali sejak gadis itu berpamitan padanya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi.
"Apa sesuatu telah terjadi?" tanya Xiao Mo. Dia telah menyadari kegelisahan dalam hati Ming Yuxia. Rasa penasarannya pun muncul.
"Kamu tentunya ingat tentang aku dan Jing Ling bukan? Dia dan Luo Qingqi pergi menemui guru He dan sampai sekarang mereka masih belum kembali." Ming Yuxia berusahan menjelaskan sedikit pada Xiao Mo. Siapa tahu anak itu mungkin bisa membantunya sedikit.
"Memangnya kenapa jika mereka menemui guru He? Bukankah itu baik-baik saja?" tanya Xiao Mo dengan nada yang acuh tak acuh.
Ming Yuxia tidak tahu harus berkata apa. Dia baru ingat jika Xiao Mo tentunya tidak tahu tentang pembunuhan Ling Suyao. Apakah dia harus menceritakan kebenarannya? Dia masih merasa ragu. Akhirnya dia hanya berkata, "Kamu mungkin tidak tahu tapi ini memang berbahaya. Mereka tidak bisa berlama-lama di sekitar guru He."
"Lalu di mana Xinyu?" tanya Xiao Mo.
"Dia pergi. Tidak ada yang tahu ke mana tujuannya dan kapan dia akan kembali."
"Kalau begitu itu sama sekali bukan urusanku bukan? Tuanku tidak ada dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa." Xiao Mo tidak merasa menyesal atau sesuatu. Menurutnya dia hanya merasa harus ikut campur jika itu adalah tentang Qing Yue'er. Jika gadis itu tidak berurusan maka dia tidak ada kewajiban untuk turun tangan.
Ming Yuxia langsung menggertakkan gigi dengan marah. Dia merasa jengkel, bagaimana anak ini bisa begitu tidak peduli? Maksudnya, bagaimanapun juga mereka semua adalah rekan Qing Yue'er dan Qing Yue'er sendiri terhubung dengan Han Qiong. Bahkan mau tidak mau pasti Qing Yue'er juga terlibat dalam masalah ini.
Dia ingin mengutuk Xiao Mo tapi tiba-tiba tangan kanan Xiao Mo terangkat dan mengisyaratkannya untuk diam. Anak itu menutup matanya sejenak. Setelah beberapa saat dia sedikit tersenyum. "Tidak apa-apa. Xinyu telah kembali."
***
Jauh di belakang kediaman He Jin, suara cambukan bergema di udara. Suara teriakan dan desisan kesakitan membuat suasana tampak lebih suram meskipun saat itu hari masih sore. Bahkan meskipun saat itu semuanya ada di luar ruangan terbuka. Ada suara tawa kepuasan yang menimpa kesedihan orang lain.
Luo Qingqi dan Jing Ling sudah tidak terlihat baik-baik saja. Seluruh tubuhnya dihiasi oleh jejak merah bekas cambukan. Kulit mereka sedikit demi sedikit mulai robek. Orang lain yang melihat pasti merasa ngeri, tapi penyiksaan itu masih belum berhenti. Mungkin belum akan dihentikan sampai kematian menyambut 'mereka.'
Di depan mereka He Jin mengelus bulu dua beruang yang masih terlihat ketakutan. Kedua beruang itu sungguh sangat menyedihkan. Bulu-bulunya sudah berantakan. Ada beberapa luka juga di tubuh mereka. Jika pemiliknya tahu, bagaimana nasib orang tua itu?
"Jangan menyesalkan sesuatu. Kalian sendiri yang telah datang dan ternyata kalian memang mengakui perbuatan itu. Aku hanya ingin membiarkan jiwa Ling Suyao tenang di sana. Setidaknya itu yang aku harapkan," ucap He Jin dengan senang.
Luo Qingqi dan Jing Ling tidak merespon. Bukannya tidak mau, tapi mereka tidak bisa. Tubuh mereka sudah bergetar menahan kesakitan, bahkan untuk menyuarakan sesuatu rasanya sangatlah sulit.
"Aku rasa aku juga harus melakukan pembakaran pada mayat kalian bukan?" He Jin menatap kedua gadis itu secara bergantian. Pada akhirnya tatapannya berakhir pada Luo Qingqi. "Di mana binatang roh milikmu?"
Luo Qingqi meludah ke tanah. "Aku tidak akan pernah menunjukkannya padamu!" Suaranya terdengar gemetar. Sangat jelas jika dia sedang menahan kesakitan. Dia benar-benar harus dihargai karena sikapnya yang tidak tunduk di bawah rasa sakit.
"Kamu benar-benar menantangku?" He Jin mengerutkan wajahnya tidak senang. Sejak awal memang mereka tidak merasa bersalah sedikit pun. Jujur saja itu benar-benar membuatnya harus mengeluarkan banyak kesabaran.
"Apa aku harus memaksamu untuk mengeluarkannya? Setidaknya aku ingin binatang itu melakukan hal yang sama padamu, seperti bagaimana binatang itu membakar muridku!" He Jin tertawa terbahak-bahak. "Bukankah ini sangat adil?"
Jing Ling menutup matanya, dia tidak mau mendengar tawa He Jin yang sangat menjengkelkan di telinga. Jika dia bisa maka dia ingin menyumpal mulut orang tua itu dengan sepatunya. "He Tua, orang bilang ... jika terlalu banyak tertawa ... maka, tawa itu akan mendatangkan kesialan ..."
He Jin langsung melotot pada Jing Ling. "Omong kosong! Aku sudah sebahagia ini dan aku merasa puas dengan melihat bagaimana kalian dihukum."
"Xinyu!" Jing Ling dan Luo Qingqi langsung berseru secara bersamaan. Hati mereka langsung merasa terkejut. Namun, terlintas perasaan resah juga. Bagaimanapun juga mereka tidak begitu mengharapkan kedatangan Qing Yue'er.
Semua orang langsung memandang ke arah di mana suara itu berasal. Kemudian seorang gadis berpakaian putih langsung terlihat sedang berjalan ke arah tempat di mana penyiksaan itu terjadi. Wajahnya terlihat berseri-seri, bukan amarah atau kesuraman yang diprediksi oleh Luo Qingqi dan Jing Ling.
Mereka semua langsung tidak bisa berkata apa-apa ketika gadis itu menjinjing sesuatu di kedua tangannya. Mereka menatap Qing Yue'er dengan mulut yang ternganga lebar. "Kamu ...."
"Apa?" tanya Qing Yue'er tanpa merasa bersalah. "Aku ingin menghadiahkan ini kepadamu, He Tua." Qing Yue'er melemparkan dua kepala manusia yang sejak tadi dipegang olehnya. Dia melemparkannya hingga kepala itu menggelinding ke depan He Jin.
Tentu saja wajah orang tua itu langsung memucat. Dia menatap Qing Yue'er penuh amarah, amarah yang sama sekali baru. Ada kesedihan dan kehilangan juga di dalam sorot matanya. Dua kepala di depannya adalah muridnya yang lain, Yuan'er dan Qiu'er. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana ....
"B*jingan! Kamu berani membunuh muridku?!" Suaranya terdengar menggelegar di udara.
Seketika Jing Ling langsung tertawa terbahak-bahak. "He Tua, bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya? Tawa yang berlebihan akan mengundang kesialan."
"Diam!" He Jin meluncurkan serangan yang berupa qi spiritual, tapi kali ini Qing Yue'er membelokkannya hingga serangan itu justru tertuju pada bawahan He Jin. Tidak bisa dihindarkan, serangan itu membuat bawahan itu mati dalam sekejap. Jika serangan itu mengenai Jing Ling pasti gadis itu juga sudah mati.
Qing Yue'er tidak banyak bereaksi. Dia melihat dua beruang miliknya yang sudah tampak menyedihkan. Dia segera memanggil mereka untuk mendekat. "Bulu Terang, Bulu Gelap, kemarilah."
Kedua beruang itu langsung berlari ke arah Qing Yue'er. Mata mereka dipenuhi oleh sinar harapan. Tuannya ada di sini, tentu saja mereka merasa senang. Namun, langkah mereka tiba-tiba dihentikan oleh dinding transparan yang dibentuk oleh He Jin. Hal itu membuat mereka merasa takut dan gelisah.
Qing Yue'er segera menghancurkan dinding itu tanpa banyak kesulitan. Menyadari itu, kedua beruang langsung berlari dan memeluk kaki Qing Yue'er dengan erat. "Kamu telah menderita. Ah, bukankah aku juga harus membalas penderitaan kalian?"
He Jin menjadi marah. Ternyata gadis itu benar-benar memiliki kekuatan yang tidak terduga. Bagaimana level 1 alam duniawi bisa begitu mudah menghancurkan dinding tameng miliknya?
Qing Yue'er sepertinya sudah banyak belajar dari masa lalu. Sekarang amarahnya tidak bisa terpancing dengan mudah. Namun, hal itu justru membuat musuh semakin jengkel. Bagaimana gadis itu masih begitu tenang? Bagaimana gadis itu tidak merasa ketakutan sama sekali?
Itu pertanyaan yang terselip di kepala He Jin. Hatinya dirundung perasaan gelisah, kehilangan dan juga amarah. Awalnya dia sangat bahagia, tapi kehadiran gadis itu benar-benar melenyapkan segalanya. Semuanya lenyap begitu saja sejak Qing Yue'er muncul di depannya.
Qing Yue'er sangat senang melihat bagaimana wajah He Jin memucat oleh amarah. Dia senang mempermainkan perasaan musuh-musuhnya. Sekarang dia harus menceritakan kebenaran dan membuat orang tua itu semakin marah. "Pak Tua, apa kamu ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Apa?!" He Jin langsung berteriak. Seolah teriak adalah hal yang akan membuat gadis itu lenyap dari hadapannya.
"Yang membunuh Ling Suyao adalah tanganku." Qing Yue'er mengangkat tangan kanannya dan menatapnya dengan menggoda. "Tangan ini dan ... tongkat ini." Kemudian tongkat rotan miliknya muncul di tangan rampingnya.
Wajah He Jin semakin pucat saja. "Aku akan membunuhmu!"
"Lakukanlah." Qing Yue'er tidak merasa panik. "Kebanyakan dari mereka akan berteriak seperti itu ketika akan mati di tanganku."
Luo Qingqi dan Jing Ling terpesona oleh gaya Qing Yue'er saat ini. Gadis itu mengeluarkan udara yang berbeda. Dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang remaja. Mungkin lebih seperti seseorang yang menjelma menjadi seorang remaja.
Qing Yue'er tidak memperhatikan orang lain. Dia tersenyum pada He Jin yang bersiap untuk melancarkan serangan. Pada saat berikutnya, dia langsung mengeluarkan naga emas miliknya.
Naga emas melayang di langit dan mengaum beberapa kali. Hal ini membuat penghuni akademi merasa heran. Mereka menjadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Beberapa dari mereka mendeteksi jika itu bersumber dari belakang kediaman He Jin. Siapa pun tahu jika naga itu adalah milik Qing Yue'er. Lalu kenapa bisa ada di sana? Pasti ada sesuatu yang menarik!
***
Jangan lupa vote, like dan komen, ya.