Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Keberangkatan


Matahari terbit menandakan datangnya hari yang baru. Qing Yue'er masih terlelap di alam mimpi ketika tiba-tiba suara bising mengusik tidurnya. Terpaksa dia harus membuka mata dengan rasa kantuk yang memuakkan. Semalam dia tidur terlalu larut karena harus mempersiapkan keperluannya.


Dia melihat keluar jendela yang ternyata masih sangat pagi. Kedua alisnya dirajut secara bersamaan. Tidak biasanya pagi-pagi sekali dia mendengar suara bising dari luar kamar. Karena penasaran akhirnya dia bangkit dan berjalan membuka pintu.


"...."


Apa yang dilihat di luar hanya bisa digambarkan dengan kekonyolan. Dia bahkan harus tercengang ketika melihatnya.


"Qing Yue'er, aku akan memberikanmu kenangan kecil. Tolong diterima!" Seorang remaja seusianya mengulurkan bingkisan kecil kepadanya. Wajahnya yang tidak terlalu asing tampak sangat bersemangat.


"Untukku?" tanya Qing Yue'er dengan heran. Sedikit ragu apakah harus menerima atau menolaknya saja.


"Ya, bukan hanya itu. Teman-teman di sini semuanya sudah menyiapkan hadiah perpisahan untukmu."


"Itu benar! Benar!" seru murid yang lainnya.


Mata Qing Yue'er langsung berbinar. Meskipun dia tidak mengharapkan hal seperti ini, tapi Ini adalah sesuatu yang menguntungkan! Bagaimana mungkin dia tidak memanfaatkannya?


Akhirnya dia tersenyum manis yang membuat murid-murid terpesona. Mereka semua memandang Qing Yue'er dengan ketakjuban yang tidak berhenti. Mengamati setiap gerakannya meskipun itu hanya rambut panjang yang tertiup angin.


Qing Yue'er menerima setiap pemberian dari murid lain. Dia tidak pernah meminta hal seperti ini, namun dia seharusnya tidak menolak pemberian orang lain bukan?


Jika Ji Fan atau Qi Rong mengetahui apa yang dipikirkan oleh Qing Yue'er pasti mereka akan langsung mengatakan, "Alasan."


Setelah Qing Yue'er menerima semua pemberian dari orang lain, dia berdiri di depan pintu. Kedua tangannya sudah penuh dengan berbagai macam barang, mulai dari beberapa kepingan emas, batu roh, atau bahkan yang hanya sebuah kipas lipat.


"Aku menerima semua niat baik kalian, terima kasih semuanya. Sebagai gantinya aku akan memberikan kalian hal yang lain. Tunggu di sini sebentar," ucap Qing Yue'er yang kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.


Setelah beberapa saat dia kembali dengan membawa beberapa botol porselen. Ya, itu adalah Embun Jade. Ya mau bagaimana lagi, dia terlalu miskin sehingga tidak memiliki hal lain kecuali air Yin Yang di dalam dimensi.


Meskipun begitu Embun Jade bukanlah barang yang buruk karena itu adalah air Yin Yang dalam versi yang lebih ringan. Manfaatnya tetap ada meskipun energi spiritual di dalamnya tidak sepadat air Yin Yang.


Qing Yue'er membagikan botol-botol porselen ke semua murid yang telah memberikan hadiah untuknya. Katakan saja itu adalah hadiah perpisahan untuk mereka. Meskipun dia tidak terlalu mengenal, namun mereka masih satu akademi.


"Cih, sejak kapan kamu menjadi tidak pelit?" Suara Ying Jun terdengar di benaknya.


"Aku masih pelit. Ini pengecualian," jawab Qing Yue'er singkat yang dibalas dengan dengusan Ying Jun.


Kemudian dia kembali masuk ke kamar setelah menutup pintu rapat-rapat. Barang-barang yang baru saja dia dapatkan langsung disimpan, setelah itu tubuhnya kembali dibaringkan di tempat tidur. Dia masih ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


***


Ketika hari menjelang siang, beberapa penatua sudah berkumpul di puncak utama. Mereka akan melihat kepergian Qing Yue'er, seperti yang telah diminta oleh Leluhur Yin. Ini adalah bentuk penghargaan yang hampir tidak pernah diraih oleh murid lain.


Qing Yue'er tersenyum menatap beberapa kerabatnya yang sudah ada di sana. Meskipun banyak kejadian yang tidak menyenangkan, namun dia merasa senang telah menginjak tanah ini.


"Yue'er, aku sudah mengirim surat untuk ayah. Sekarang kamu akan pergi yang mungkin memakan waktu lama dan jarak yang jauh, tolong perhatikan dirimu sendiri. Jangan membuat masalah sembarangan." Bai Fu'er memegang tangan Qing Yue'er dengan lembut.


"Baiklah baiklah. Kamu juga harus menjaga dirimu dengan baik." Qing Yue'er terkekeh ringan. Dia tidak terlalu banyak berbicara, mungkin karena tidak mau perasaannya menjadi sentimental.


Zu Tiankong mendekatinya. Dia terkekeh menepuk bahu muridnya itu. "Ternyata Ruochu tidak ingin ikut denganmu." Dia menghela napas. "Biarkan saja. Aku harap kamu akan tumbuh semakin kuat dan membanggakan. Jangan katakan apa-apa, orang tua ini akan baik-baik saja."


Qing Yue'er mengangguk dengan senang. Kemudian dia membungkuk pada gurunya sebanyak tiga kali. Setelah itu dia berbalik lalu membungkuk pada Leluhur Yin. Sedangkan untuk penatua yang lain, Qing Yue'er hanya mengangguk. Dia masih merasa tidak senang dengan kejadian tentang tuduhan sebelumnya.


"Ini adalah waktu yang tepat. Aku sudah menyiapkan kuda untukmu. Pergilah sekarang," ucap Leluhur Yin.


Qing Yue'er bisa melihat kuda berwarna coklat kemerahan yang berada tidak jauh dari mereka. Jika dibandingkan dengan kuda lain, mungkin warnanya yang lebih mencolok. Dan yang terpenting adalah hanya dari sekali pandang saja, Qing Yue'er sudah bisa merasakan energinya yang kuat.


Dia mungkin tidak terkejut, lagipula dia tidak tahu menahu tentang masalah kuda. Namun berbeda dengan para penatua. Mereka tahu jika kuda yang disiapkan untuk gadis itu adalah kuda langit yang dikenal memiliki kecepatan tinggi.


Selain itu kuda langit juga bisa mempertahankan energinya lebih lama dari jenis kuda yang lain. Hal itu sangat cocok jika dipakai untuk perjalanan jauh. Sayangnya mereka tidak berani mengatakan apa pun entah itu pujian atau ungkapan lainnya.


"Terima kasih, Leluhur. Kalau begitu Qing Yue'er akan berangkat sekarang."


Qing Yue'er membungkuk sekali lagi dan berjalan mendekati kudanya. Dia sedikit menepuk punggungan kuda sebelum melompat naik. Tidak ada perlawanan hanya ada suara ringkikan kuda.


Dia menoleh ke samping dan tersenyum. Hari ini akhirnya dia akan memulai perjalanan yang tidak tahu kapan akan berakhir, yang entah itu sulit atau mudah. Bagaimana pun ini adalah jalannya.


"Aku pergi. Selamat tinggal!" serunya sambil melambaikan tangan. Setelah itu kuda pun bergerak dengan stabil untuk menuruni puncak.


***


"Jadi dia pergi? Kemana?" Seorang pria dengan pakaian santai berwarna cyan berbicara sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. Air mukanya terlihat sangat tenang.


"Klan Jiang, sepertinya ada sesuatu yang penting," jawab orang lain yang berdiri tidak jauh di belakang Song Yi Sheng.


"Hmm ... baiklah." Song Yi Sheng meniup teh yang masih panas sebelum meminumnya sedikit.


"Mungkinkah Tuan memiliki keperluan dengan gadis itu?" Orang itu bertanya dengan ragu. Tidak biasanya tuannya menanyakan hal mengenai seorang gadis.


Song Yi Sheng terkekeh ringan. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ke luar jendela. Setelah beberapa saat dia pun menjawab, "Tidak. Dia pergi ke Xirei, pasti akan ada pertunjukan yang bagus."


"Haruskah kita mengawasi pergerakannya?" tanya orang itu lagi.


"Tidak perlu." Song Yi Sheng tersenyum dengan samar.