Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Solusi Mo Jingtian


Malam hampir datang. Di Benua Tongxuan, Qing Yue’er sudah menyelesaikan sebagian besar misinya. Lubang iblis di selatan, timur, utara dan tengah Benua Tongxuan sudah disegel. Hanya tersisa bagian barat.


Sebelumnya Niu Longhao sudah memberi tahu agar dia berhati-hati di Tongxuan Barat karena ada gunung berapi yang krusial. Jadi, Qing Yue’er sengaja menempatkan itu di tempat terakhir.


Cahaya putih melesat di langit senja. Itu berhenti di puncak gunung berapi dan berubah menjadi sosok Qing Yue’er dan Mo Jingtian. Mereka mendarat dari pedang terbangnya.


Qing Yue’er cukup terkejut ketika melihat beberapa orang ada di sana dan salah satunya adalah orang yang dia kenal. Seorang gadis yang terlihat maskulin karena selalu berpenampilan seperti laki-laki. Siapa lagi jika bukan Zi Xian?


Di masa lalu Zi Xian pernah bersaing dengan Qing Yue’er dalam kompetisi pedang terbang yang diadakan di Sekte Angin Utara. Dia adalah putri salah satu penguasa kota di Tongxuan Barat.


“Yoh, aku tidak menyangka akan ada penyambutan di sini,” komentar Qing Yue’er dengan santai.


Orang yang ada di sana kebanyakan adalah orang tua. Usia dan kekuatan mereka berada di atas rata-rata. Sudah pasti mereka adalah para penatua atau pantolan dari kekuatan-kekuatan di Tongxuan Barat.


Ini sama sekali bukan hal yang diharapkan. Apakah mereka sengaja menunggunya?


“Xinyu, ini benar-benar kamu!” Zi Xian yang pertama kali mendekati Qing Yue’er. Dia mengamati penampilannya dari atas ke bawah sambil menyeringai, seperti seorang tuan muda ketika melihat wanita cantik.


“Kupikir setelah cukup lama berpisah, kau akan menjadi putri wali kota yang cantik.” Qing Yue’er menyindir gadis itu.


Zi Xian tertawa. “Apakah aku tidak cukup tampan hari ini?”


Mo Jingtian yang berada di samping Qing Yue’er sedikit mendengkus. Dia menyelipkan tangannya di pinggang gadis itu, lalu menariknya lebih dekat. “Kenapa kita tidak langsung melakukan apa yang harus dilakukan?”


“Baik.” Qing Yue’er mengangguk sambil menahan senyumnya. “Zi Xian, aku tidak bisa menemanimu bermain peran. Tolong sampaikan pada mereka untuk menungguku di sini.”


“Nona, tunggu!”


Salah satu orang tua di sana berjalan mendekati Qing Yue’er. Dia memakai jubah putih dan membawa kocokan ekor kuda yang membuatnya terlihat seperti seorang taois. Wajah tuanya menunjukkan senyum lembut.


“Nona, apakah keberadaan kami membuatmu merasa tidak nyaman? Sejujurnya Kepala Akademi Niu Longhao sudah memberi tahu kami mengenai rencanamu. Dia merasa khawatir dengan Tongxuan Barat, jadi kami di sini untuk mencegah jika ada sesuatu yang buruk.”


Qing Yue’er tersenyum mendengar itu. Selama mereka tidak membuat masalah, itu sudah cukup. Dia tidak ingin menjadi mencolok memang karena tidak ingin mengundang masalah.


“Itu baik-baik saja, tapi kalian tidak perlu pergi bersamaku. Tolong tunggu di sini. Jangan datang kecuali aku mengirim sinyal pada kalian.”


Mereka tidak menolak atau memprotes. Hanya Zi Xian yang merasa sedikit tidak setuju. Gadis itu menyilangkan tangan di dadanya.


“Kau akan menutup lubang iblis itu hanya dengan orang ini?” Dia mengarahkan dagunya pada Mo Jingtian yang penampilannya terlihat begitu eksentrik. Apakah pria itu bisa diandalkan?


Qing Yue’er tahu apa yang dipikirkan Zi Xian. Dia tersenyum. “Percayalah, dia jauh lebih bisa diandalkan daripada siapa pun.”


Tanpa menunggu respons gadis itu, dia langsung menarik Mo Jingtian pergi menuju lubang iblis. Dia tidak ingin mendengar atau melihat siapa pun memandang rendah pria itu. Dia juga tidak memiliki banyak waktu untuk memberi mereka pengetahuan tentang kehebatannya.


Mo Jingtian, di sisi lain tidak bisa menahan senyumnya. “Haruskah aku tetap menjadi lemah agar kau mau menunjukkan kasih sayangmu di depan orang lain?"


Gadis itu terbatuk lalu mendengkus tanpa menoleh. “Jingtian, itu karena kau tidak pernah menunjukkan dirimu di depan orang-orang. Bagaimana aku bisa melakukan itu sementara kau selalu pergi ke sana kemari dan menghilang dengan urusanmu?”


“Oh, benarkah?” Mo Jingtian merasa geli. Dia ingat ketika Qing Yue’er menyembunyikannya di balik pintu kamar penginapan setelah mereka kembali dari Kuil Nushen. Saat itu gadis itu tidak ingin anggota Akademi Surgawi menemukan kebersamaan mereka.


Dia juga ingat ketika gadis itu mendorongnya bersembunyi di gazebo kecil di tepi danau di Puncak Awan Abadi hanya agar keberadaanya tidak diketahui oleh salah satu guru di sana.


Bukankah gadis itu begitu bagus mencari alasan?


“Kalau begitu aku tidak akan pergi ke mana-mana agar kau bisa lebih sering memedulikanku, dan menunjukkan kasih sayangmu di depan orang lain,” kata Mo Jingtian dengan santai.


Wajah Qing Yue’er menjadi merah. Dia selalu malu menunjukkan keintimannya dengan Mo Jingtian di depan orang lain. Jika bukan karena pria itu mengalami masalah dengan kultivasinya, dia mungkin masih akan menyembunyikan keberadaannya dan statusnya.


Mo Jingtian terkekeh. Dia mempercepat langkahnya dan mengejar gadis itu. “Kau tahu, hanya dengan cara ini aku bisa selalu ada di dekatmu.”


Qing Yue’er tidak mau menjawab kata-kata itu. Ekspresinya tampak muram. Mo Jingtian akhirnya tersenyum tipis. “Jika aku mendapatkan kekuatanku kembali, aku pasti akan menjadi sibuk. Bahkan tidak memiliki waktu untuk mengunjungimu.”


“….”


“Kau akan berbaring sendirian dan kesepian,” ucap pria itu dengan lirih.


Hati Qing Yue’er menjadi masam. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. “Itu baik-baik saja selama kau mengingat bahwa aku pernah ada untukmu,” jawabnya dengan suara bergetar.


“Bahkan jika dunia melupakan pengorbananmu? Hanya dalam seribu tahun makammu akan dihuni oleh sarang laba-laba. Siapa yang akan peduli dengan orang yang sudah mati? Dunia sudah damai. Orang-orang hanya akan tahu itu.”


“Diamlah! Aku tidak ingin mendengarmu.”


Mo Jingtian tersenyum. “Yue’er, bagaimana jika aku mengajarimu beberapa hal? Aku adalah guru terbaik untukmu.


Qing Yue’er mencengkeram roknya hingga kusut. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui apa maksud pria itu? Mo Jingtian ingin mewariskan semua ilmu, pengetahuan, dan kekuatannya padanya. Dia mungkin akan menyerah pada takdirnya sebagai Anak Surga.


Pria itu ingin dia menjadi lebih kuat dan bisa mewakilinya melawan Baili Linwu. Pria itu lebih memilih menjadi sampah daripada mengambil risiko untuk mengambil nyawanya.


“Jingtian, aku tidak menginginkan ilmu atau apa pun darimu. Ayahku adalah seorang Dewa. Dan kakek guruku adalah mantan Tuan Pengadilan Surgawi. Apa kau pikir aku kekurangan seorang guru untuk mengajariku?” balas Qing Yue’er tanpa keramahan.


“Tapi mereka tidak akan sebaik aku.” Mo Jingtian tetap terdengar santai.


Qing Yue’er akhirnya menoleh menatap pria itu. Dia menggertakkan giginya dengan kuat. “Kau benar-benar ….”


“Aku benar-benar apa?”


“Kau benar-benar b*jingan!”


“Apa?” Mo Jingtian tidak bisa menahan kekehannya. Mereka sudah hampir tiba di kawah gunung berapi, dan lubang iblis itu berada di dekat kawah itu. Namun, dia tidak khawatir suaranya akan didengar oleh iblis-iblis.


“Untuk apa kau tertawa?!”


“Aku tidak pernah merasa selega ini.”


“Masalah ada di depan mata dan kau merasa lega?” Qing Yue’er merasa tidak bisa berkata-kata. Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan?


“Gadis, di masa lalu aku adalah seorang ambisius pengejar kekuatan. Masa mudaku penuh darah panas. Menjadi kuat adalah tujuan akhir. Dulu aku tidak pernah berpikir sedikit pun untuk melepaskan kekuatanku.”


Pria itu menunduk. “Tapi aku bisa melepaskannya sekarang. Bahkan jika aku harus menjadi lemah, itu akan baik-baik saja selama kau ada di sisiku dan kedamaian menyertai tiga alam.”


“Itu mustahil terjadi.” Qing Yue’er tiba-tiba berbalik dan mencengkeram lengan pria itu. “Kau tidak boleh melepaskan kekuatanmu.”


Mo Jingtian membelai wajah Qing Yue’er dengan lembut. Dia menatap kedua matanya bergantian. “Aku tahu kau mencemaskan Baili Linwu. Namun, dia juga dalam keadaan lemah sekarang. Aku memiliki waktu untuk menurunkan semuanya padamu.”


“Apakah ini solusi yang kau temukan?”


“Kau tahu, tidak ada yang lebih baik dari ini.”


Qing Yue’er melangkah mundur. Dia menjauh dari pria itu dengan perasaan yang rumit. “Jingtian, kupikir kau begitu hebat. Tapi ternyata kau hanya begitu-begitu saja,” ucapnya dengan nada mengejek.


Telapak tangannya bersinar terang. Setelah itu sosoknya tiba-tiba melesat cepat ke arah lubang iblis yang berada tak jauh dari mereka. Suara ledakan keras langsung menggema berturut-turut hingga menggetarkan tanah.


Lolongan iblis bercampur dengan suara teriakan marah Qing Yue’er. Gadis itu dengan brutal melampiaskan seluruh emosinya pada iblis-iblis yang menyedihkan.