Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kedatangan Keluarga Yuan


Di kamarnya, Qing Yue’er mengangkat tangannya yang diselimuti dengan kekuatan spiritual. Seringaian lebar muncul di bibirnya ketika melihat Ying Jun sedang tidur dengan menyangga kepalanya di meja.


“Ying Jun, bangunlah! Ayo coba kekuatan baruku!” serunya dengan antusias.


Ying Jun mengerutkan kening. “Matahari bahkan belum muncul dan kau ingin mengajakku bertempur? Apa kau masih waras? Minggirlah! Lebih baik aku melanjutkan tidurku!” gerutunya sambil menepis tangan Qing Yue’er.


Gadis itu mendengkus. Dulu kekuatan Ying Jun mengalami penurunan karena cedera. Level kultivasinya akan naik dan kembali ke asal bersamaan dengan kekuatan Qing Yue’er yang terus naik.


Kini cederanya sudah sepenuhnya pulih dan kekuatannya pun sudah lama kembali ke tingkat semula. Bahkan dia sudah menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.


Qing Yue’er ingin mengasah keterampilannya menggunakan Ying Jun. Tapi burung pemalas itu benar-benar tidak memiliki hati untuk menuruti keinginannya.


“Bagus. Kalau begitu aku harus memaksamu!”


Dengan cepat dia melemparkan serangan spiritualnya. Bola cahaya putih melesat ke arah Ying Jun. Burung itu segera memelotot.


“Tidak, tidak! Aku tidak ingin--”


Whooshhh!


Boomm!


Bunyi ledakan terdengar ketika meja tempat di mana Ying Jun tidur itu hancur. Pria itu sudah menghilang dan pindah ke pintu.


“Nona, jangan memaksaku!” teriaknya dengan jengkel. Dia menggosok matanya yang masih sedikit lengket.


Qing Yue’er tersenyum menyeringai. Bola cahaya kembali muncul di tangan kanannya. Itu dilemparkan dan dengan cepat meluncur ke depan.


Ying Jun segera menghindar ke samping. Pintu kamar itu meledak dan hancur begitu saja. Suara batuk tiba-tiba terdengar beberapa kali dari sosok yang berdiri di antara reruntuhan pintu.


“Mo Jingtian!”


Qing Yue’er membulatkan matanya. Dengan cepat dia mendekati pria itu yang memasang wajah datar. Debu-debu sudah mengotori baju dan penampilannya.


Gadis itu tertawa canggung lalu segera membantu membersihkan debu-debu itu. Tangannya merapikan kerah jubah pria itu dan bertanya, “Kenapa kau ada di sini? Ini masih gelap.”


“Ini masih gelap dan kau sudah membuat keributan.” Pria itu menatapnya tanpa ekspresi.


Ying Jun yang mendengar itu langsung mengangguk. “Benar! Dia … dia harus dihukum!”


Mo Jingtian juga menatap datar pada binatang ilahi itu. “Dan kau menghabiskan semalam penuh dengannya.”


Kedua mata Ying Jun langsung melebar. “Aku kan …. Aku … hanya tidur.”


“Aku dan Qing Yue’er hanya tidur tapi mereka menuntutku untuk menikahinya,” desis Mo Jingtian dengan tajam.


Sudut bibir Ying Jun berkedut. Apa-apaan dewa ini?! Apa pria itu takut orang lain juga akan menikahkannya dengan Qing Yue’er?!


‘Aku adalah binatang!’ gerutunya dalam hati. Kemudian dia mendengkus.


“Baik! Aku akan pergi!” Dia menghentakkan kakinya lalu berjalan keluar kamar dengan perasaan jengkel. Ketika melewati Qing Yue’er, tak lupa dia memberinya tatapan tajam penuh dendam.


Qing Yue’er terkekeh pelan lalu memeluk lengan Mo Jingtian dengan manis. “Kenapa suasana hatimu tidak terlihat bagus? Matahari bahkan baru akan terbit, tapi kau sudah terlihat kusut.”


Pria itu meliriknya sekilas. Tidak ada keinginan untuk memberi tahu masalah Baili Linwu, jadi dia berpura-pura marah. “Bukankah itu karena kamu?”


Dia mengetuk kening gadis itu. “Jangan menghabiskan malam dengan pria lain di dalam kamar. Kau tahu aku bisa membatalkan pernikahan kita kapan saja,” ucapnya dengan sedikit menyeringai.


“Aiyah! Sepanjang malam aku sibuk berkultivasi. Lihat, aku bahkan sudah menerobos. Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat?”


“Selamat.”


“.…”


“Baik! Lebih baik kau kembali ke kamarmu. Aku akan tidur.” Qing Yue’er mendorong Mo Jingtian keluar.


“Pintu kamarmu sudah rusak,” ucap Mo Jingtian kemudian.


“Lalu apa?!”


“Kenapa tidak kau pergi ke kamarku?”


Qing Yue’er langsung menyeringai ketika mendengar itu. “Apa maksudmu, Tuan Mo? Apa kau ingin--”


“Tidak.” Pria itu langsung menggeleng tegas. Dia tahu gadis itu pasti ingin menggodanya.


Akhirnya Qing Yue’er mendengkus. “Lupakan!” Dia melihat langit di sisi timur yang sudah mulai terang. Sebuah pikiran melintas di kepalanya. “Ayo pergi ke menara.”


Dengan tidak sabar Qing Yue’er menarik tangan pria itu dan membawanya ke sudut lain Istana Tianjun. Senyumnya lalu mengembang. “Kita harus melihat matahari terbit. Di sana pasti sangat bagus.”


Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum tipis dan berpikir itu adalah ide yang bagus.


***


Siang harinya, berita kematian banyak keluarga kultivator yang dibunuh dalam semalam mengejutkan banyak orang. Sudah sejak kemarin mereka dibuat kebingungan dengan masalah Istana Guang. Sekarang berita baru ini membuat mereka semakin khawatir.


Di Istana Rongyao, Yuan Dawei menghela napas panjang lalu mengibaskan lengannya pada bawahannya yang melapor. “Aku mengerti. Pergilah dan terus pantau situasinya,” ucapnya.


“Baik, Tuan.”


Bawahan itu pergi. Kemudian seorang pria muda datang, yang tak lain adalah Yuan Yichuan. Melihat ayahnya gusar, dia menjadi heran. “Ayah, apa lagi yang terjadi?”


Yuan Dawei menggeleng pelan. “Beberapa keluarga kultivator telah dibunuh dalam semalam. Mereka bukan keluarga biasa.”


Informasi itu membuat Yuan Yichuan mengerutkan kening. “Bagaimana kematian mereka?”


“Semuanya disedot kering. Entah ini tindakan manusia atau iblis.” Yuan Dawei tampak muram. “Sepertinya aku ingin pergi ke Istana Tianjun.”


“Biarkan aku menamanimu, Ayah. Terakhir kali, aku belum sempat berterima kasih pada Nona Qing di Istana Guang.”


Pria tua itu mengangguk. “Bawa adikmu juga. Biarkan mereka lebih saling mengenal.”


“Baik.”


Setelah itu, Yuan Yichuan segera pergi untuk memanggil Yuan Xin’er. Awalnya gadis itu menolak pergi karena sibuk dengan formasi-formasi roh buatannya. Namun, pada akhirnya dia tetap ikut.


Ketiga orang itu menaiki kereta yang ditarik dengan empat kuda terbang. Itu kendaraan mewah yang biasanya dipakai oleh pemimpin-pemimpin istana di Celestial.


Kecepatan kereta itu sangat bagus. Hanya dalam sekejap, menara Istana Tianjun sudah terlihat.


Sementara itu, Istana Tianjun juga baru mendapat kabar tentang pembantaian di beberapa keluarga kultivator. Xie Song yang saat itu sedang berada di taman untuk mendengarkan permainan guqin Xie Wuqing langsung menghela napas.


“Peringatan Guru Mo memang benar. Kekacauan! Celestial benar-benar terancam,” ucapnya dengan kening berkerut.


“Aku tidak percaya ini perbuatan iblis. Pasti seseorang dari Pengadilan Surgawi,” kata Xie Wuqing sambil memejamkan matanya. Energi spiritual mengalir di tangannya saat memetik senar.


Suara yang keluar pada awalnya terdengar sangat merdu dan menghipnotis. Bahkan beberapa pelayan yang mendengarnya langsung jatuh cinta. Namun, sesaat kemudian nadanya menjadi lebih tinggi dan menyakitkan. Mereka langsung memuntahkan darah.


Xie Song segera menutup telinganya dan berteriak, “Teknik apa lagi yang kau pelajari?!”


Senyum di bibir Xie Wuqing mengembang. Dia terlihat lebih tampan dan cantik secara bersamaan. “Aku tidak tahu apa namanya. Tapi jika bisa melatihnya dengan sempurna, aku bisa membunuh seseorang dengan elegan.”


Pemimpin istana yang sudah tua itu mendengkus. ‘Membunuh dengan elegan’ memang sangat cocok dengan kepribadian putranya itu.


Dia menghela napas. Pikirannya kembali pada masalah pembunuhan. Dia sudah mengkhawatirkan pernikahan Qing Yue’er dan sekarang masih harus mencemaskan nasib Celestial. Wajahnya menjadi semakin tua saja.


“Lolos dari bencana di Istana Guang benar-benar tidak menjamin mereka tetap aman,” gumamnya dengan sedih.


Pada saat itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Mereka segera menoleh hanya untuk melihat Qing Yue’er datang dengan kening berkerut.


“Yue’er ….”


Qing Yue’er sudah mendengar kata-kata kakeknya sebelumnya. Ini membuatnya bingung. “Kakek, ada masalah apa lagi?”


“Kau belum tahu?” Xie Song bertanya dengan heran. Dan gadis itu menggeleng. Akhirnya dia pun segera memberi tahu masalah mengenai pembantaian di keluarga kultivator.


Setelah mendengar itu, ekspresi Qing Yue’er menjadi datar. Apa Mo Jingtian menyembunyikan masalah itu? Mustahil jika dia tidak mengetahui kabar seperti ini.


Dia berdecak dengan perasaan bingung. Ini pasti tindakan Baili Linwu. Lalu apa yang harus dia lakukan? Jika dia menghadang mereka secara terbuka, itu hanya akan mengantar nyawa.


“Yue’er, apa Tuan Mo tidak memberi tahu apa pun?” Xie Wuqing bertanya.


“Tidak, Paman. Dia memang menyebalkan,” gerutunya.


“Mungkinkah dia sudah mengambil langkah sehingga kau tidak perlu tahu dan khawatir?”


Qing Yue’er hanya menggeleng tidak yakin. Pada saat itu seorang bawahan tiba-tiba berlari melapor, “Tuan, Pemimpin Istana Rongyao ingin bertemu.”


Xie Song dan Xie Wuqing saling menatap. Biasanya jika Yuan Dawei atau pemimpin istana lain ingin berkunjung, mereka akan memberi tahu terlebih dahulu. Namun, ini begitu tiba-tiba.


“Cepat biarkan dia datang ke sini. Lagipula aku tidak sibuk,” kata Xie Song.


Bawahan itu mengangguk lalu segera pergi. Beberapa saat kemudian, Yuan Dawei dan kedua putra dan putrinya akhirnya muncul.