
Duan Mu menyeduh teh terbaik dan menyajikannya pada Qing Yue’er dan Mo Jingtian. Setelah itu, pria tua itu duduk di kursinya dengan santai. Tatapannya kembali jatuh pada Mo Jingtian.
“Nak, apa yang terjadi dengan kultivasimu?”
Qing Yue’er terbatuk mendengar Duan Mu memanggil Mo Jingtian dengan cara seperti itu. Bagaimanapun Mo Jingtian adalah dewa. Namun, pria tua itu benar-benar hanya menganggapnya seperti seorang pemuda biasa.
“Duan Tua, kau--”
“Yue’er, dia lebih tua dari ayahmu,” kata Mo Jingtian. Itu artinya dia membiarkan Duan Mu memanggilnya seperti itu. Akhirnya Qing Yue’er hanya bisa membiarkannya.
Kemudian Mo Jingtian menunjukkan belenggu hitam di lehernya. Duan Mu menghela napas dan menggeleng pelan ketika melihat itu.
“Belenggu Iblis …. Sayang sekali,” lirih Duan Mu dengan sedikit kecewa. “Itu sangat sulit.”
Mo Jingtian dan Qing Yue’er tidak mengatakan apa-apa. Hanya mereka yang tahu apa solusinya. Dan mereka tidak akan bertanya solusi yang lebih baik karena itu tidak akan ada.
“Tidak apa-apa. Meskipun kultivasimu bermasalah, kau masih bisa mengalahkan cacing tanah terkutuk itu. Itu artinya kau tidak selemah itu,” ucap kakek tua itu sambil terkekeh.
“Duan Tua, apa maksudmu adalah Di Ming De?” Qing Yue’er bertanya.
Duan Mu mengangguk. “Bukankah itu kalian yang melakukannya? Biarpun aku tidak ada di sana, aku selalu tahu apa yang terjadi,” katanya dengan bangga.
Qing Yue’er menjadi heran. Dia sungguh penasaran bagaimana orang tua seperti Duan Mu yang selalu sibuk memancing itu bisa mengetahui ini dan itu. Apakah kakek tua itu meletakkan matanya di mana-mana?
Pria tua itu terkekeh. “Dengan kultivasi yang bermasalah saja kau bisa melakukan itu. Aku menjadi penasaran, sudah berada di tingkat mana level kultivasimu?”
Mo Jingtian ragu-ragu untuk menjawabnya. Jika dia mengatakan itu sekarang dan tidak bisa membuktikannya, bukankah dia seperti sedang mengarang cerita?
“Jingtian, kenapa kau tidak mengatakannya?” Qing Yue’er yang juga merasa penasaran akhirnya ikut mendesak.
Sudah bertahun-tahun dia mengenal Mo Jingtian, tapi sampai sekarang tidak tahu seberapa tinggi tingkat kultivasinya yang sebenarnya. Pria itu selalu merahasiakannya, tidak pernah sedikit pun memamerkannya. Siapa yang tidak akan penasaran?
“Kurasa itu tidak begitu penting sekarang,” kata Mo Jingtian.
“Pelit sekali!” Duan Mu menggerutu. “Biar kutebak, seharusnya kau sudah mencapai roh emas, benar?”
Mo Jingtian mengangguk tapi kemudian menggeleng. “Di atasnya.”
“Apa?!”
Kedua mata Duan Mu dan Qing Yue’er langsung melebar. Di atas roh emas! Apakah pria itu sudah mencapai tahap alam abadi?
Mo Jingtian terbatuk. “Aku terjebak di alam abadi.”
Qing Yue’er langsung menyemburkan tehnya. Apakah ini adalah calon suami yang sudah dijebak dan dicemarinya di tempat tidur? Yang sudah ditindas dan juga digoda olehnya?
Dia tertawa dengan linglung. Jika kultivasi Mo Jingtian tidak bermasalah dan pria itu tersinggung dengan tindakan-tindakannya, bukankah pria itu hanya perlu mengedipkan mata dan dia akan dikirim menemui raja neraka?
Semua orang harus tahu bahwa tahapan alam abadi berada tepat di bawah alam ilahi. Keduanya memiliki persamaan penting, yaitu tidak dibedakan dengan sembilan tingkat seperti ranah-ranah kultivasi yang lain. Itu hanya memiliki satu tingkatan saja, yaitu alam itu sendiri.
Ini berarti Mo Jingtian sudah mendekati puncak kultivasi!
Duan Mu menatap Mo Jingtian dengan takjub. Di masa lalu dia sudah bertemu dengan beberapa dewa. Namun, kebanyakan dari mereka hanya barada di ranah roh perak dan roh emas. Belum pernah dia melihat dewa yang berada di ranah abadi.
“Itu … itu …. itu mengerikan,” gumamnya.
Mo Jingtian menggeleng pelan. “Sayang sekali aku belum mencapai alam ilahi dan Baili Linwu sudah melakukan ini padaku. Jika saat itu aku sudah sampai di sana, aku tidak akan lagi terikat dengan status kedewaanku. Mengalahkan pria itu pasti akan menjadi hal yang mudah.”
Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata mendengar itu. Baginya kekuatan Mo Jingtian sudah sangat hebat. Itu bukan kesalahannya jika Tuan Pengadilan Surgawi masih berkuasa di atasnya.
“Kalau begitu seberapa kuat Baili Linwu itu?” Duan Mu bertanya dengan serius. “Aku sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Qing Yexuan. Tuan Pengadilan Surgawi itu benar-benar tercela!”
“Terakhir kali Baili Linwu hampir berada puncak roh emas. Namun, sekarang dia juga mengalami kelumpuhan.”
Duan Mu langsung menatap Qing Yue’er dengan mata melebar. Senyum semringah muncul di wajahnya. “Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk membebaskan ayahmu?”
Qing Yue’er mendengkus tidak berdaya. “Kita tidak bisa naik ke Pengadilan Surgawi. Bahkan jika kita bisa, dengan begitu banyak dewa di sana, bagaimana mereka tidak akan mendeteksinya?”
“Apakah benar-benar tidak ada dewa yang bersedia membantu?”
Mo Jingtian menarik napas panjang. Dia mengetuk jarinya ke meja beberapa kali. Kemudian berkata, “Di Fengxi pernah menyelidikinya. Namun, dia tidak berhasil masuk ke ruangan penjara itu.”
Dia memegang tangan Qing Yue’er dengan lembut. “Apa kau ingin aku meminta bantuan dewa yang lain?”
“Tidak.” Qing Yue’er menggeleng. “Jika mereka tertangkap, pasti Baili Linwu tidak akan memberi ampun. Satu-satunya cara sekarang hanyalah mengalahkannya. Barulah segala kejahatan yang terkait dengannya akan lenyap.”
Duan Mu mengangguk setuju. “Gadis ini benar. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana dia bisa diangkat menjadi seorang Tuan Pengadilan Surgawi.”
Mo Jingtian akhirnya teringat dengan cerita masa lalu. Sebelum menjadi Tuan Pengadilan Surgawi, Baili Linwu adalah seorang dewa yang selalu menunjukkan sikap baik dan tanpa cela. Dia pandai bersosialisasi dan membangun hubungan yang baik dengan dewa lain.
Tentu saja tidak ada yang meragukannya sama sekali. Setelah dia diangkat menjadi Tuan Pengadilan Surgawi dan memegang kendali penuh, barulah dia menunjukkan taring dan cakarnya.
“Tidak ada yang bisa disalahkan untuk masalah ini. Itulah yang sudah digariskan,” kata Mo Jingtian.
“Lalu bagaimana dengan dewa-dewa jahat seperti Di Ming De? Mereka seharusnya tidak memiliki emosi seperti manusia apalagi keinginan untuk membunuh.”
Mo Jingtian mendengkus. Dia menatap ke kejauhan dan berkata, “Pada saat upacara penyucian dan pengangkatan dewa, Baili Linwu sengaja melakukannya dengan cacat. Itulah yang membuat tujuh emosi dan enam keinginan mereka tidak bisa dibersihkan dengan sempurna.”
“Dia ingin dewa-dewa itu bisa dimanfaatkan. Jika tidak melakukan kecurangan itu, bagaimana mungkin seorang dewa yang selalu baik dan lurus mau dibodohi dan dimanfaatkan untuk tujuan pribadinya?”
“Baili Linwu benar-benar luar biasa!” Qing Yue’er berseru dengan sarkas. Jika orang itu berhasil mencapai tujuannya untuk mendapatkan kunci dan peta penjara Raja Iblis, maka dunia sekali lagi akan dikacaukan.
“Jingtian, sebenarnya siapa Baili Linwu ini? Kenapa dia ingin membebaskan Raja Iblis?”
Mo Jingtian menatap Qing Yue’er dan Duan Mu yang begitu penasaran. Dia tersenyum kecil lalu berkata, “Baili Linwu memiliki nama kecil Nanfeng Gu. Tapi apa kalian tahu apa nama kelahirannya?”
Kedua orang itu langsung menggeleng.
“Yan Diyu.”
Duan Mu langsung terkejut ketika mendengar nama itu. Tangannya sedikit bergetar. “Yan .... Mungkinkah ….”
Mo Jingtian mengangguk pelan. Dia menunduk dengan kening berkerut. “Dia keturunan Raja Iblis Yan yang lahir dari rahim manusia murni. Apa yang dilakukannya selama ini adalah demi membebaskan ayahnya yang dipenjarakan secara misterius oleh mantan Tuan Pengadilan Surgawi.”
“Ini sudah gila ….”
Qing Yue’er menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata. Pantas saja Baili Linwu mau bersusah payah melakukan hal-hal tercela itu. Ternyata dia memang keturunan dari Raja Iblis.
Selain itu, identitasnya tidak diketahui orang lain. Mungkin karena dia terlahir dari seorang manusia sehingga darah iblisnya bisa dipalsukan. Pria busuk itu pasti memiliki metode khusus untuk menyembunyikan darahnya.
“Lalu apa yang ingin kalian lakukan dengan ini?” Duan Mu bertanya dengan serius.
Senyum dingin muncul di bibir Mo Jingtian. “Aku dan Baili Linwu memiliki permusuhan yang tidak bisa didamaikan. Entah aku yang mati, atau dia. Kita akan melihat siapa yang akan bergerak mendahului siapa.”