
Qing Yue'er berjalan mengitari patung wanita yang ada di ruangan itu. Dia baru menyadari bahwa patung itu adalah sosok yang terlihat begitu sempurna. Wajahnya cantik, tubuhnya adalah yang terbaik dari wanita-wanita yang pernah dia temui sebelum-sebelumnya.
“Yue'er, ayo pergi saja. Sepertinya tidak ada apa pun di sini,” ucap Yin Hu. Dia hanya takut jika ada sesuatu yang buruk terjadi. Lagi pula tempat itu rasanya sedikit aneh baginya.
“Tidak, aku masih ingin melihat-lihat. Jika Leluhur ingin pergi maka pergilah, jangan merasa terganggu oleh keberadaanku. Kita bisa bertemu lagi ketika sudah keluar.” Qing Yue'er tersenyum pada leluhurnya. Bukan tanpa alasan dia menolak permintaan leluhurnya.
“Haih, bagaimana aku bisa meninggalkanmu di sini sendirian? Baiklah, aku akan menunggumu.” Akhinya Yin Hu melepaskan masalah ini. Dia sudah mendapatkan beberapa harta dan itu sudah cukup untuknya.
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian dia masih menelusuri patung dan juga ruangan di mana dia berada. Setelah penelusuran selama beberapa saat, Qing Yue'er melihat sesuatu yang sedikit familiar di bagian bawah patung. Namun, karena posisinya di bawah jadi dia tidak bisa melihatnya dengan begitu jelas.
Akhirnya Qing Yue'er bergerak untuk mencabut salah satu lentera yang ada di tembok untuk dijadikan penerangan. Namun, siapa yang tahu ketika dia mencabut salah satu lentera, tiba-tiba lentera-lentera yang lain ikut terlepas dari tempatnya.
“Ah?” Qing Yue'er tertegun sejenak. Ada hal yang seperti ini? Apa mungkin dia harus melakukan sesuatu terhadap lentera-lentera itu?
“Apa yang terjadi?” Yin Hu bertanya dengan bingung. Ketika dia ingin mendekati lentera tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Lentera itu bergerak mendekati mereka berdua dengan kecepatan yang cukup cepat.
“Mereka menyerang kita!" seru Yin Hu tidak percaya.
Qing Yue'er menjadi waspada. Dia langsung melemparkan lentera yang ada di tangannya ke dinding dengan keras. Dia pikir lentera itu akan hancur dan lentera lainnya mungkin akan berhenti. Namun, siapa yang tahu ternyata lentera yang dilemparkan ke tembok itu tidak mengalami kerusakan apa pun.
Sementara itu lentera yang lainnya mulai mengitari mereka berdua dan membentuk lingkaran yang sederhana. Qing Yue'er dan Yin Hu menjadi semakin waspada. Mereka berdiri saling membelakangi di tengah-tengah lingkaran lentera.
“Mereka mungkin tidak menyerang kita,” ucap Qing Yue'er.
“Bagaimana kamu bisa yakin?” Yin Hu tidak mempercayainya. “Aku akan mencoba menyerang mereka.”
Kemudian Yin Hu mulai mengambil kuda-kuda. Qi spiritual yang kuat turun ke telapak tangannya, menciptakan cahaya yang cukup terang. Setelah itu dia pun mulai memerangi lentera-lentera aneh yang melingkari keberadaan mereka.
Qing Yue'er masih mengamati apa yang terjadi. Dia terkejut saat serangan dari leluhurnya itu ternyata malah dihindari oleh lentera. Secepat dan segesit apa pun serangan dari Yin Hu, rupanya lentera itu bahkan lebih cepat dan gesit lagi. Ini memang cukup aneh.
“Leluhur, sepertinya kita harus mencari tahu apa ini sebenarnya. Mari kita keluar dari lingkaran,” ajak Qing Yue'er.
“Baiklah.” Yin Hu mengangguk setuju. Setelah itu mereka berdua pun akhirnya bergerak untuk keluar dari lingkaran lentera. Sayangnya ketika hendak melanggar lingkaran, mereka kembali terlempar ke dalam.
Ini memang tidak bisa dimengerti. Kalau begitu apa yang diinginkan oleh lentera ini? Karena merasa heran akhinya Qing Yue'er bertanya, “Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kalian tidak melukai kami tetapi juga tidak memperbolehkan kami keluar.”
“....”
Tidak ada jawaban apa pun. Akhinya Qing Yue'er menggaruk kepalanya. Kemudian dia menoleh ke arah patung wanita. “Tidak ada respons tidak ada petunjuk, bukankah kamu memberi terlalu banyak kebingungan untukku?” tanya Qing Yue'er dengan sedikit sindiran.
Setelah dia bertanya tiba-tiba salah satu lentera yang paling dekat dengan Qing Yue'er melesat dengan kecepatan kilat. “Woah, apa yang akan kamu lakukan?” Qing Yue'er menjadi waspada. Saat itu juga lentera tersebut langsung mengetuk kepalanya dengan keras.
“....”
“Tentu saja. Mungkin patung itu memiliki kuasa besar di sini dan seseorang mungkin harus bersikap sopan padanya,” ujar Yin Hu meskipun tidak begitu yakin.
Qing Yue'er akhinya menghela napasnya. Dia terdiam dan memikirkan kemungkinan yang terjadi. Lentera-lentera ini terlepas karena dia mencabut salah satu lentera dari tempatnya. Tujuannya adalah untuk menerangi bagian bawah patung.
Oh, itu benar. Bagaimana kalau dia melanjutkan niatnya?
Setelah beberapa saat akhirnya Qing Yue'er meraih lentera yang pertama kali dia ambil. Tidak ada apa pun yang terjadi. Kemudian dia pun melanjutkan tujuannya. “Leluhur, ikuti aku mendekat ke patung itu.”
Yin Hu mengangguk. Kemudian mereka berdua pun melangkah dengan perlahan menuju patung wanita. Apa yang selanjutnya terjadi sedikit mengejutkan. Ternyata mereka tidak keluar dari lingkaran, melainkan lentera itu mengikuti pergerakan mereka dengan tetap melingkari keduanya.
Qing Yue'er mengangguk-anggukan kepala meskipun dia masih belum memahaminya. Setibanya di dekat patung, dia kembali menyorot pada bagian bawahnya. Ternyata di sana ada rune yang sebelumnya ada di bagian pintu masuk.
“Rune lagi? Apa yang harus dilakukan selanjutnya?” gumam Qing Yue'er. Dia membelai dagunya sambil berpikir.
“Mungkin ada kaitannya dengan lentera ini," ucap Yin Hu.
Qing Yue'er memikirkan ucapan leluhurnya. Kemudian dia menatap barisan lentera yang masih mengelilingi mereka. Jumlahnya mungkin ada puluhan. Memang sangat banyak sehingga ruangan ini bisa tetap terang.
“Aku tahu sekarang,” ucap Qing Yue'er.
Yin Hu menjadi heran. Apa yang gadis itu pahami? Saat sedang merasa heran lalu dia melihat Qing Yue'er yang bergerak untuk mengambil lentera-lentera itu dan memindahkannya ke lantai. Dia ingin bertanya tapi segera mengurungkan niatnya. Mungkin dia akan segera mengetahuinya.
Qing Yue'er terus menata lentera di lantai hingga membentuk rune yang sama dengan yang tertulis di bagian bawah patung. Dia tidak memiliki alasan yang kuat untuk ini, sebenarnya dia hanya merasa heran karena lentera itu terus mengikuti mereka. Mungkin ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh lentera-lentera itu. Buktinya mereka tidak melawan saat Qing Yue'er mencoba menatanya.
Pada saat lentera itu membentuk rune secara sempurna, sebuah hal yang mengejutkan pun terjadi. Rune besar yang terbentuk oleh barisan lentera itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Begitu terang hingga Qing Yue'er dan Yin Hu harus menutup kedua matanya.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya membuka matanya lagi. Apa yang muncul di depan mereka adalah ruangan yang sama sekali berbeda. Kali ini bukan ruangan yang gelap seperti labirin-labirin sebelumnya, melainkan ruangan yang terlihat lebih terbuka. Ada beberapa jendela lebar di sisi-sisi dindingnya.
Qong Yue'er mencoba melihat apa yang ada di luar jendela tetapi dia hanya melihat sesuatu yang putih dan polos. Tidak ada pepohonan atau mungkin lingkungan bawah laut seperti yang semestinya.
“Lihat, patung itu lagi!” Yin Hu menunjuk pada tengah-tengah ruangan.
Qing Yue'er langsung mengalihkan perhatiannya dari luar jendela. Dia menatap ke depan, ke tengah ruangan dan melihat patung wanita yang sama dengan yang ada di ruangan sebelumnya. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda karena di tangan patung itu terdapat benda panjang yang sedang digenggam.
“Itu adalah ....” Kedua mata Qing Yue'er langsung berkilat. “Trisula?”