Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Itu Akhirnya Datang


Biji kacang polong hijau tersangkut di mata kanan Hua Tian. Orang-orang yang melihat itu secara alami terkejut. Mereka langsung menatap Mo Jingtian dengan rumit.


Bukankah pria itu tidak berkultivasi? Bagaimana dia bisa menyerang dengan begitu cepat dan tepat sasaran? Dan dia hanya menggunakan kacang polong!


Mereka menjadi heran. Bagaimana pria tanpa kekuatan seperti dia berani melukai keturunan klan Hua tepat di Istana Guang? Apa dia tidak takut menyinggung tuan rumah?


“Tian’er!”


Hua Yan dengan cemas segera mendekati putra kesayangannya. Dia menatap takut pada mata Hua Tian yang terluka begitu serius. Setelah ini matanya pasti buta!


“Ayah …!” Hua Tian meraung. “Sakit sekali! Kau harus membalaskan keluhanku!”


“Baik, baik. Ayah tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja!”


Pria paruh baya itu segera memanggil bawahannya untuk mengantar Hua Tian masuk dan mengundang tabib istana. Dia sangat khawatir dengan kondisi putranya.


Namun, sebelum Hua Tian bisa pergi, suara Mo Jingtian terdengar. “Siapa yang mengizinkannya pergi? Aku masih belum selesai.”


“Sialan kamu! Mata putraku sudah buta dan kau masih berani mengatakan itu?!” Hua Yan berteriak dengan murka.


“Itu baru satu,” jawab Mo Jingtian. Dia mengambil biji kacang polong lagi dan dengan santai menjentikkan jarinya. Benda bulat itu langsung meluncur cepat.


Kali ini Hua Yan tidak hanya diam. Dia segera menangkap kacang itu dengan tangan kosong, berpikir itu hanya serangan sepele. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Kacang polong itu menembus telapak tangannya seperti peluru. Kedua matanya langsung melebar. Bagaimana mungkin?


Benda hijau itu kembali menargetkan Hua Tian yang sudah memucat. Pria itu ingin menghindar. Namun bahkan setelah menghindar, kacang itu seperti memiliki mata yang mengetahui ke mana dia menghindar.


Whoosshh!


“Arrgghh! Tidaaakkk!” Hua Tian kembali meraung. Dia memegangi kedua matanya yang mengalirkan darah segar. Kakinya lemas dan dia jatuh terduduk di tanah.


Situasi yang mengerikan itu langsung membuat orang-orang kebingungan. Mereka tidak menyangka akan melihat hal-hal seperti ini. Perjamuan yang menyenangkan seketika lenyap digantikan dengan kesunyian.


Tidak ada yang berani bersuara. Untuk saat ini, mereka hanya akan menyaksikan kekacauan ini dalam diam.


Hua Yan menjadi semakin murka melihat perkembangan situasi ini. Kedua mata putranya buta dan telapak tangannya sendiri terluka oleh kacang polong Mo Jingtian. Bagaimana dia bisa menahan kerugian itu?


“Bajingaannn! Aku benar-benar akan membalasmu!”


Dia hendak menyerang Mo Jingtian, tapi Hua Mingshan segera menariknya. “Tian’er terluka. Kau harus memastikan keselamatannya terlebih dahulu alih-alih berteriak-teriak di sini!”


Hua Yan menatap Mo Jingtian dengan dingin. “Tunggu sampai aku mengurus putraku. Masalah ini belum selesai!”


Mo Jingtian hanya tersenyum datar. Dia menarik tangan Qing Yue’er agar gadis itu kembali duduk. Sikapnya terlihat begitu tenang seolah-olah dia tidak terkait dengan masalah itu.


Hua Mingshan menghela napas panjang. Setelah Hua Yan pergi membawa Hua Tian, dia pun berbicara dengan Mo Jingtian.


“Tuan Muda, bahkan jika cucuku mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan, kenapa kau harus melakukan ini? Usiamu terlihat lebih dewasa darinya. Kenapa tidak memaafkan mereka yang lebih muda?”


“Memaafkan yang lebih muda?” Mo Jingtian mengambil satu buah anggur lalu menyuapi Qing Yue’er dengan santai. Wajah gadis itu sedikit memerah. Situasi ini jauh dari kata pantas untuk bertukar kasih sayang.


Pria itu terkekeh lalu melanjutkan, “Lupakan yang lebih muda, bahkan jika leluhurmu membuat kesalahan seperti ini, aku masih tidak akan memaafkannya.”


Siapa pun yang mendengar itu hanya bisa tercengang. Semua orang tahu salah satu leluhur keluarga Hua adalah seorang dewa. Bagaimana pria ini bisa mengatakan hal berani dan sombong seperti itu?


“Bukankah leluhurmu adalah Dewa Perang Di Shi? Jika dia mengetahui apa yang telah juniornya lakukan, dia pasti akan merasa sangat malu dan berterima kasih karena aku sudah memberinya pelajaran,” kata Mo Jingtian yang membuat ekspresi Hua Mingshan menjadi jelek.


“Apa kau bahkan tahu apa yang baru saja kau katakan? Leluhur kami bukan sesuatu yang bisa kau sebutkan dengan bebas,” ujar Hua Mingshan dengan kening berkerut. Alis putihnya yang tebal meringkuk.


“Setelah ini mata Hua Tian pasti akan buta dan dia akan kehilangan masa depannya. Bagaimana kau akan menjelaskan ini kepada kami?” Pria tua masih tidak merelakan kondisi cucunya.


Qing Yue’er berdecih. “Bukankah kalian yang sejak awal membiarkannya?”


“Apa maksudmu?”


Gadis itu menyeringai. Sekarang giliran dia yang menyuapi Mo Jingtian dengan buah anggur. Pria itu tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.


“Manis,” katanya.


Orang-orang yang melihat tingkah laku pasangan itu hanya ingin memuntahkan darah. Tidak bisakah mereka berhenti bercanda? Ada begitu banyak penatua di sana. Apa mereka tidak malu menunjukkan keintiman seperti itu?


Yuan Yichuan berdeham. Jika Xie Song ada di sana, kira-kira apa yang akan orang tua itu lakukan?


Qing Yue’er terkekeh. “Tuan Hua, ketika Hua Tian mengatakan hal-hal yang merendahkan dan menghina seperti itu, kenapa kau hanya diam dan membiarkannya? Sekarang setelah dia menderita kerugian besar, kau mencoba menyalahkan orang lain?”


Pria tua itu terdiam.


“Seseorang boleh makan apa saja yang dia mau, tapi seseorang tidak boleh mengatakan apa saja semaunya,” lanjut Qing Yue’er dengan datar. “Cucumu memang terlalu banyak omong.”


Beberapa orang diam-diam mengangguk dan saling lirik. Sebenarnya Hua Tian memang sudah terkenal dengan tindakan dan kata-katanya yang berlebihan. Hanya saja tidak ada yang berani melawan karena identitasnya yang tinggi.


“Kakak, lupakan saja. Hua Tian selalu semena-mena. Jika dia tidak berubah, hal seperti ini pasti cepat atau lambat akan terjadi.” Hua Yanzhi yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.


“Kulihat Tuan Muda ini juga bukan benar-benar tanpa kekuatan. Seharusnya kita senang karena dia tidak sampai mengambil nyawa Tian’er. Bukankah begitu?” Wanita itu sedikit mengerutkan kening ketika menatap Mo Jingtian. Ada kehati-hatian dalam kalimatnya.


Sudut bibir Mo Jingtian sedikit terangkat. “Mengambil nyawa anak seperti dia memang bukan hal yang sulit.”


“Oh, benarkah?!” Suara amarah Hua Yan tiba-tiba kembali terdengar. Sosok pria itu melesat cepat ke depan. Aura level 6 alam surgawi langsung meledak.


“Kau sudah mengambil dua mata putraku, maka aku juga akan mengambil kedua matamu untuk didonorkan!” teriaknya sambil mengarahkan pedangnya pada Mo Jingtian.


Para tamu di sana yang melihat itu diam-diam merasa antusias. Sepertinya perkelahian tidak akan bisa dicegah. Mereka menjadi penasaran bagaimana pria tanpa kultivasi itu akan menghadapi Hua Yan.


“Yue’er,” Mo Jingtian tiba-tiba memanggil. “Apa kau merasakan pergerakan khusus?”


“Tidak.” Qing Yue’er menggeleng. Dia juga sedang menunggu pergerakan yang mencurigakan. Namun, sampai sekarang masih tidak ada sesuatu yang aneh. Mungkinkah orang-orang Baili Linwu tidak akan membuat pergerakan apa pun?


“Kalau begitu kita memiliki waktu untuk bermain-main dengannya,” ucap Mo Jingtian yang kemudian berdiri. Dia menatap Hua Yan sambil menyeringai.


“Hanya level 6? Qing Yue’er bahkan bisa memukulmu hanya dengan jentikan jari.”


“Omong kosong! Datanglah padaku dan pedangku akan mencongkel matamu!”


“Oh, apa kau tidak percaya?” Mo Jingtian menoleh. “Yue’er, jentikkan jarimu. Apakah aku berbohong atau tidak?”


Qing Yue’er tersenyum lebar. Dia menjentikkan jarinya dengan santai. Kekuatan tak kasat mata langsung memukul lutut Hua Yan hingga pria itu hampir terjatuh. Level 6 alam surgawi sungguh bukan apa-apa di depannya.


Ratusan orang yang melihat itu menjadi terkejut. “Trik apa yang mereka mainkan?”


“Lagi!” seru Mo Jingtian.


Qing Yue’er kembali menjentikkan jarinya dan lutut Hua Yan kembali dipukul. Pria itu kebingungan karena tidak bisa merasakan kekuatan spiritual yang menyerangnya. Itu hanya terasa seperti lututnya dipukul dengan tongkat keras.


Dia menatap Qing Yue’er dengan marah. “Apa yang coba kau lakukan, gadis sialan!”


“Sebagai calon istri yang baik, tentu saja aku harus mematuhi calon suami,” jawab gadis itu dengan senang. Dia menjentikkan jarinya lagi. Kali ini bukan lutut Hua Tian yang menjadi targetnya, melainkan pantatnya.


Pria itu melompat ke depan sambil memaki. Tangannya memegagi pantatnya yang kesakitan. Orang-orang yang melihat bagaimana Hua Yan dipermalukan berusaha menahan tawa. Bagaimanapun, itu terlihat lucu.


“Sialan kalian semua! Apa kalian pikir trik rendahan seperti ini akan mengalahkanku?!”


Hua Yan menjadi semakin marah. Dia melesat ke depan. Pedangnya menebas ke arah Mo Jingtian yang berdiri tak jauh darinya.


Whosshh!


Qi pedang berwarna perak melintas membelah udara. Mo Jingtian segera menghindar ke samping. Telapak tangannya bersinar dengan cahaya emas sebelum tiba-tiba menyerang punggung Hua Yan.


Pria itu terdorong ke depan dengan keras. Namun, tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Tatapan matanya justru berubah menjadi kosong.


Hua Yanzhi yang merasa hasilnya tidak akan baik pun segera menengahi. “Hua Yan, ini adalah perjamuan ulang tahun ayahmu. Jangan menambah noda darah lagi! Apa kau ingin ulang tahunnya menjadi sial?”


Hua Yan tidak membalas. Dia hanya menunduk dengan kening mengerut.


Hua Mingshan akhirnya menghela napas. “Baiklah. Lupakan saja.” Dia kembali ke kursi utama.


“Semua orang, tolong maafkan segala kekacauan yang terjadi. Perjamuan ini seharusnya menjadi reuni yang menyenangkan, tapi karena kesalahan cucuku, acara ini menjadi terganggu,” ucap Hua Mingshan dengan sopan.


“Silakan lanjutkan acara perjamuan ini tanpa merasa sungkan.”


“Tunggu ….” Mo Jingtian menatap mereka semua. “Sebelum kalian memutuskan untuk melanjutkan perjamuan ini atau tidak, Hua Yan ingin menyampaikan sesuatu.”


Hua Mingshan mengerutkan kening. Dia menatap Hua Yan yang masih tidak bergerak. Pria itu masih menunduk, ekspresinya datar.


“Yan, apa yang ingin kau katakan?”


Pria yang ditanya tidak membalas. Mo Jingtian sedikit tersenyum lalu dia berkata, “Hua Yan, kenapa kau tidak memberi tahu mereka alasanmu mengundang begitu banyak ahli alam surgawi?”


Hua Yan mengangkat wajahnya. Di bawah kendali kekuatan jiwa Mo Jingtian, dia bisa mengatakan segalanya. Namun, sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, tanah tiba-tiba terguncang.


Sosok Hua Yan ditarik oleh kekuatan tertentu dari dalam tanah. Tubuhnya terjatuh lalu diseret hingga bermeter-meter jauhnya.


Orang-orang yang melihat itu langsung terkejut. Apa yang terjadi? Siapa yang menariknya?


Setelah ditarik jauh, tubuh Hua Yan dilempar hingga menabrak dinding taman. Pria itu langsung menyemburkan darah sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


“Hahaha ….” Suara tawa jahat menggema di seluruh taman luas itu. Siapa pun yang mendengarnya langsung merasa merinding.


Qing Yue’er di tempat duduknya mengerutkan kening. “Itu akhirnya datang, kan?” tanyanya pada Mo Jingtian.


Pria itu mengangguk. Sorot matanya menjadi semakin dingin. “Dewa Bumi, Di Ming De.”