
Bai Su pergi meninggalkan Qing Yue'er dan Xie Wuqing. Dia sudah mengatakan apa yang seharusnya dia katakan.
Setelah menutup pintu dia menghela nafas lega. Dia merasa tanggung jawabnya sudah terpenuhi. Tangannya mengusap sudut matanya yang sedikit basah lalu berjalan pergi.
Xie Wuqing mendekati Qing Yue'er. Gadis itu tampak tenang di permukaan, tapi dia tahu hatinya sangat goyah saat ini.
Dia merangkul gadis itu dan menanamkan kecupan lembut di pucuk kepalanya.
"Tenanglah." Xie Wuqing berkata perlahan.
Qing Yue'er berkedip menatap pamannya. "Paman, seperti apa orang tuaku?"
Paman Wuqing terdiam.
"Aku belum bisa memberitahu hal ini. Tapi orang tuamu adalah sesuatu yang sangat hebat."
"Yue'er, aku mungkin harus mengatakan sesuatu yang kejam. Tapi kamu memang masih terlalu lemah untuk mengetahui hal itu."
Qing Yue'er tertegun dengan kalimat pamannya. Benar, dia terlalu lemah. Jalur Dao masih sangat panjang. Dia hanya semut kecil di sudut bumi. Sekali terpijak, dia akan mati dengan mudah.
"Selama kamu menginjak alam surgawi maka kamu akan bisa datang menemui ibumu."
Tubuh Qing Yue'er bergetar. Bayangkan! Itu adalah alam surgawi!
Jangan bicarakan alam surgawi, bahkan di kerajaan ini tidak ada ahli alam langit.
"Nama klan kita adalah Xie. Dan aku memperingatkanmu untuk menghindari orang dengan nama Liu."
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa, hanya saja ada konflik antar klan. Tapi itu terletak sangat jauh, kamu hanya perlu waspada."
"Namamu sekarang Qing Yue'er. Beberapa hari lagi kamu akan pergi ke Akademi Xinfeng. Belajarlah dengan benar. Kita akan bertemu lagi tiga tahun kemudian." Paman Wuqing berkata dengan serius.
Perasaan Qing Yue'er menjadi begitu rumit. Hatinya merasa tegang.
"Kemana Paman akan pergi? Bukankah kita akan pergi bersama?"
Paman Wuqing menggelengkan kepalanya. "Sebelumnya aku berpikir seperti itu, tapi ternyata ada banyak hal yang harus aku lakukan."
Qing Yue'er memeluk pamannya. Dia sedikit tidak rela dengan kepergiannya.
Paman Wuqing terkekeh lalu balas memeluk gadis itu.
"Yue'er, aku tidak bisa lagi melindungimu, kamu juga tidak perlu melindungiku. Kita akan berpisah, tapi aku berharap saat kita bertemu lagi kamu sudah menjadi ahli alam surgawi."
Qing Yue'er menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia berkata dengan tegas, "ya, saat itu juga aku akan menjadi ahli alam surgawi."
"Bagus, kemudian istirahatlah. Selamat tinggal."
Xie Wuqing berdiri lalu berjalan mendekati pintu keluar. Saat dia hendak melangkah, suara yang halus terdengar dari belakang.
"Paman..."
Kaki Xie Wuqing terasa lemas, tapi dia tetap berdiri kokoh. Dia menoleh kebelakang.
"Hati-hati." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Qing Yue'er.
Xie Wuqing hanya tersenyum sebelum berlalu pergi. Dia merasa pahit di hatinya. Tapi mengingat ada orang lain yang lebih mampu untuk menjaga keponakannya, dia menjadi lebih lega.
Tubuh Qing Yue'er meringkuk di tempat tidur. Dia tidak pernah berharap hidupnya akan menjadi penuh misteri. Dia harus menjadi kuat! Dia harus bertemu orang tuanya!
"Yue kecil..."
Suara melodis terdengar di telinganya. Aroma cendana yang menenangkan menyeruak kedalam hidungnya.
Sebuah tangan kokoh melingkari tubuhnya dari belakang. Hatinya yang sudah terombang-ambing kemudian hanyut kedalam ketenangan.
"Jingtian.." Qing Yue'er memejamkan matanya.
"Aku disini." Mo Jingtian menjawab dengan tenang.
Hening.
"Terima kasih."
"Tidak. Kamu telah melakukan dengan sangat baik."
Qing Yue'er terdiam. Dia tidak merasa telah melakukan hal-hal dengan baik. Bahkan dia masih harus mengandalkan pertolongan Mo Jingtian.
"Apa ini sakit?" Tangan pria itu mengusap punggungnya yang terluka.
"Tidak, rasa sakit itu sudah berlalu."
Qing Yue'er mengatakan kebenaran. Lukanya sudah sembuh karena sudah berlalu dalam 5 hari.
"Jika itu sakit maka katakanlah, jangan menahannya." Suara itu terdengar sangat lembut.
Mo Jingtian adalah pria yang telah berdiri meninggalkan dunia di belakang. Dia hampir tidak berurusan dengan hal yang duniawi. Tapi dia masih tetap datang menemuinya.
Mo Jingtian tidak banyak bicara. Tapi setiap kali dia berbicara, kata-katanya akan membawa kehangatan di hatinya. Pria itu selalu bepergian yang dia tidak tahu entah kemana. Dia selalu memiliki urusanya sendiri. Tapi orang itu masih datang menolongnya tepat waktu.
Bahkan pria itu telah menyiapkan teknik untuknya yang dititipkan pada Ying Jun.
Qing Yue'er merasa kewalahan dengan perhatian-perhatian yang datang secara tersirat.
Qing Yue'er membalikkan badannya menghadap Mo Jingtian. Dia menatap mata emas itu dengan wajah memerah.
"Aku.. aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu." Dia menundukkan kepalanya ke bawah.
Mo Jingtian terkekeh lalu mendekap tubuh itu dengan erat.
"Maka jangan membalasnya. Kamu hanya harus terus hidup."
"En." Qing Yue'er menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu namaku?"
"Aku menguping pembicaraanmu." Mo Jingtian berkata dengan acuh.
"Aku tidak tahu ternyata kamu sangat tidak bermoral."
Mo Jingtian tertawa lebar.
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. Dia tahu Mo Jingtian berbohong. Kemungkinan dia sudah tahu tentang identitasnya.
"Jingtian, apa kamu pernah pernah pergi ke tempat tertinggi?" Qing Yue'er bertanya.
Mo Jingtian mengangkat alisnya. "Apa bagusnya tempat tertinggi? Bahkan tempat tertinggi belum tentu menjadi tempat yang suci."
Jawaban Mo Jingtian membuat dia tertegun. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya tapi menjawab dengan penilaiannya terhadap dunia.
"Kamu benar, Di Futian." Qing Yue'er menatap pria di depannya.
Sebelah alis Mo Jingtian terangkat. Dia tidak berpikir gadis ini akan tahu nama itu.
"Itu nama yang buruk, jangan memanggilku seperti itu."
"Kamu adalah dewa?"
"Aku bukan."
Jawaban pria itu sangat langsung. Tidak ada keraguan sama sekali.
Mo Jingtian terkekeh. "Apa kamu sangat ingin tahu tentang identitasku, hm?
Qing Yue'er hanya bisa tersenyum malu.
"Kamu harus menciumku disini lalu aku bisa mempertimbangkan untuk memberitahu kepada mu." Tangannya menunjuk bibirnya sendiri.
Wajah Qing Yue'er memerah. "Kamu.. kamu hanya mesum! Tidak bermoral!"
Mata emas itu berkedip dengan polos. "Bagaimana mungkin? Aku tidak."
Qing Yue'er hampir tertipu dengan wajah polosnya. Pria itu sangat pandai menggoda orang.
"Lupakan, aku tidak ingin tahu." Dia hanya bisa memalingkan kepalanya.
Author: Aku merasa sedih dengan kepergian paman. Jadi, aku memberikan pemanis di akhir chapter.