
Di Fengxi tidak bisa berkata-kata setelah melihat kondisi Qing Yue’er. Dia menatap Mo Jingtian dan pria itu segera menyentuh tangan gadis itu. Aliran arus listrik langsung menyentaknya.
“Yue’er, kau ….”
“Guru, dia menyerap petirnya,” kata Di Fengxi dengan terkejut sekaligus takjub. Bagaimana gadis itu bisa berpikir untuk melakukan hal seperti ini?
“Fengxi, beri dia energi spiritual.”
Dengan patuh Di Fengxi segera menyalurkan energi spiritual ke tubuh Qing Yue’er. Beberapa saat kemudian gadis itu terbatuk dan menyemburkan darah. Matanya berkedip dan kilatan petir itu hilang.
“Jingtian ….”
“Ssstttt.”
Mo Jingtian membantu gadis itu bangun bertepatan dengan pintu kamar yang didobrak dari luar. Xie Song dan yang lainnya terkejut melihat Mo Jingtian di dalam. Mereka dengan cepat mengerti situasinya dan kembali menutup pintu.
Qing Yue’er menarik napas panjang lalu menatap Mo Jingtian dan Di Fengxi secara bergantian. Beberapa saat kemudian, dia segera menarik tangan pria itu untuk duduk di sampingnya.
“Jingtian, ada yang aneh,” katanya dengan serius.
“Ya, ada yang aneh.” Pria itu mengangguk beberapa kali. “Bagaimana kau bisa menyerap petir dari kesengsaraan surgawi?”
“Aku tidak tahu.” Sebelumnya, Qing Yue’er sudah mencoba membuat formasi untuk menahan kesengsaraan surgawi. Namun, itu tidak berguna. Formasi hancur dan petir itu menyerang tubuhnya.
Anehnya petir itu tidak terasa seperti hukuman petir surgawi milik Mo Jingtian. Itu memang sedikit menyakitkan, tapi tidak menghancurkan.
Setelah itu, tubuhnya seolah beresonansi dengan kesengsaraan surgawi. Petir itu memasuki tubuhnya dan merambat melalui meridiannya. Sekarang dia bahkan bisa merasakan serabut-serabut petir di dalam dantiannya.
“Aku tidak pernah mendengar seseorang menyerap petir kesengsaraan surgawi,” kata Di Fengxi kemudian.
“Aku juga tidak pernah mendengarmu,” balas Qing Yue’er yang mendadak sinis. “Siapa kau dan kenapa kau membawa Mo Jingtian pergi? Apa kau tahu aku menunggunya berhari-hari dengan tidak pasti?”
Di Fengxi terbatuk. Apa gadis itu sedang memarahinya?
Mo Jingtian memegang tangan Qing Yue’er dengan lembut. “Dia Di Fengxi. Aku yang memintanya pergi denganku.”
Qing Yue’er mendengkus. Sebenarnya dia sudah tahu nama Di Fengxi. Namun, dia ingin menumpahkan kekesalannya karena mereka berdua sudah pergi diam-diam tanpa memberi tahunya apa pun.
“Kupikir kau akan membiarkanku datang ke Istana Guang hanya dengan Guru Mo,” gerutunya.
“Bagaimana mungkin?” Mo Jingtian merapikan rambut Qing Yue’er yang berantakan setelah semalaman disiksa oleh rasa sakit. Dia juga menyeka darah di sudut bibirnya. “Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa kita akan pergi bersama?”
“Jadi kau kembali tepat waktu.”
Senyum manis akhirnya muncul di bibir Qing Yue’er. Dia menatap Di Fengxi dengan lebih ramah. “Terima kasih sudah membawa kembali orang ini dengan selamat.”
“Nona Qing, aku tidak mungkin membiarkan harapan dunia dihancurkan.” Di Fengxi tersenyum lalu mengangguk dengan sopan. “Senang bisa bertemu denganmu.”
“Senang bisa bertemu denganmu juga. Sebelumnya aku mendengarmu memanggil Mo Jingtian guru. Mungkinkah kau adalah … muridnya?” Qing Yue’er bertanya dengan penasaran.
Selama ini Mo Jingtian tidak pernah mengatakan apa pun tentang muridnya. Dia sendiri juga tidak bertanya. Siapa yang tahu ternyata pria itu memiliki murid seorang dewa.
“Nona, kau benar. Aku bertemu dengan Guru ketika aku masih hanya manusia biasa yang lemah. Betapa beruntungnya karena bisa mendapatkan petunjuknya.”
Mo Jingtian mendengkus. “Jangan membicarakan itu. Aku masih penasaran siapa yang sudah membantumu menerobos hingga ke tingkat roh perak.”
Qing Yue’er akhirnya teringat dengan Di Moxie. Dia langsung menceritakan tentang kedatangan sang Dewa Air yang memberinya banyak bantuan. Matanya berbinar ketika menceritakannya.
Kedua mata Mo Jingtian menyipit. Berani sekali Di Moxie menemui Qing Yue’er secara diam-diam. Bahkan mengambil kesempatan ketika dia tidak sedang bersamanya.
“Dia benar-benar begitu baik. Apakah kalian memiliki hubungan yang cukup dekat?” tanya Qing Yue’er.
“Dia memang baik. Dia sangat tenang dan berwibawa. Dia juga memiliki penampilan yang bagus. Bukan begitu?”
“Benar sekali!” Qing Yue’er mengangguk setuju. Tiba-tiba tatapan Mo Jingtian menjadi tajam padanya. Barulah dia mencium bau cuka dari pria itu.
Dengan cepat dia menggeleng dan tertawa. “Ah, tidak. Kau tetap yang paling tampan, tampan, dan tampan. Bukankah begitu, Calon Suami?” Dia mengerling manja.
Di Fengxi berdeham melihat itu. “Aku akan keluar dulu kalau begitu.” Dengan cepat dia keluar dari kamar Qing Yue’er agar tidak mengganggu pasangan itu.
“Kenapa kau tidak menjawabku?” Qing Yue’er menjadi semakin menggodanya. “Apa kau tidak ingin menikahiku dan membiarkanku menikahi pria lain?”
“Tidak!” Mo Jingtian segera menjawab dengan cepat. Dia menatap gadis itu dengan kaku. “Kau … hanya boleh menikah denganku.”
“Kalau begitu ayo lakukan. Tunggu apa lagi?”
Mo Jingtian menatap gadis itu dengan rumit. Beberapa saat kemudian dia mengetuk dahi Qing Yue’er dan memarahinya, “Kenapa kau selalu memikirkan tentang menikah, menikah, dan menikah? Urusan Istana Guang lebih mendesak!”
“Tapi--”
“Kau ingin tahu kenapa petir itu memasuki tubumu?” Tiba-tiba Mo Jingtian bertanya.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu secara pasti, tapi kurasa ini karena tubuhmu sudah menerima hukuman petir surgawi untukku. Jejak petir itu tidak hilang yang akhirnya menarik petir kesengsaraan surgawi masuk.”
Qing Yue’er membelai dagunya. Itu masuk akal. Dia hanya tidak tahu apakah itu berbahaya atau tidak. Bagaimanapun juga menyimpan petir di dalam dantian adalah sesuatu yang mengerikan. Bagaimana jika itu tiba-tiba menyerang tubuhnya?
“Jangan khawatir. Karena petir itu bisa bersarang di dantianmu dan kau baik-baik saja sekarang, itu pasti sudah menjadi jinak. Justru kau harus menggunakan kekuatan ini dengan baik.”
Kedua mata Qing Yue’er langsung berbinar. Mo Jingtian benar. Kenapa tidak dia memanfaatkan kekuatan petir surgawi dan menjadikannya sebuah senjata? Ini akan menjadi sesuatu yang besar.
“Aku akan mencobanya nanti,” katanya dengan antusias.
“Baiklah. Ini sudah pagi. Keluargamu pasti mencemaskanmu.”
Qing Yue’er mengangguk. Dia segera berjalan menuju pintu keluar. Namun, beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba berbalik dan berlari kembali mendekati Mo Jingtian.
Tanpa merasa malu dia langsung mencium bibir pria yang masih duduk di tepi tempat tidur. Dia tersenyum manis pada Mo Jingtian menatapnya dengan heran.
“Terima kasih karena sudah kembali,” ucapnya dengan tulus.
Mo Jingtian tersenyum tipis. “Bukankah aku selalu kembali kapan pun aku pergi?”
Qing Yue’er terkekeh lalu menarik Mo Jingtian untuk ikut dengannya. “Aku sudah memasuki roh perak. Maka kita harus berkumpul dan merayakannya dengan mereka.”
“Perayaan ….” Mo Jingtian menunduk menatap tangan Qing Yue’er yang menariknya pergi. Perasaannya menjadi hangat. Gadis itu tidak pernah meninggalkannya apalagi mengasingkannya.
“Ini adalah hal yang menggembirakan. Tentu saja harus dirayakan,” ujar Qing Yue’er dengan senang.
Dia membuka pintu lalu anggota keluarganya langsung berhamburan mendekat. Ibu, kakek, dan juga pamannya segera menanyakan keadaannya. Mereka terlihat begitu memerhatikannya.
Binatang-binatang miliknya juga tampak senang melihat keberhasilan itu. Qing Yue’er adalah satu-satunya gadis yang bisa memasuki ranah roh perak diusia semuda ini. Berita ini pasti akan menggemparkan Celestial.
“Kakek, Ibu, sebelum masalah di Istana Guang diselesaikan, jangan biarkan orang lain mengetahui terobosanku,” pinta Qing Yue’er.
“Ini … sedikit sulit. Beberapa orang pasti sudah melihat kesengsaraan surgawi di langit.”
“Tidak masalah. Katakan saja Kakek yang menerobos, atau Ibu.” Qing Yue’er terkekeh. “Lagi pula aku akan pergi sore ini. Aku hanya tidak ingin seseorang di sana diperingatkan karena ini.”
“Baik.” Mereka mengangguk setuju. Setelah itu mereka pun segera pergi ke aula untuk merayakan terobosan Qing Yue’er yang mengejutkan.
***
Di sore hari ketika matahari sudah di ujung barat, Qing Yue’er dan Mo Jingtian keluar dari kamar. Mereka mengenakan pakaian putih yang pinggirannya disulam dengan motif awan berwarna biru. Itu merupakan pakaian identitas keluarga Xie.
Qing Yue’er tersenyum melihat Mo Jingtian memakai jubah itu. Dia berdecak kagum. “Bukankah kau sudah cocok menjadi anggota keluarga Xie?”
Mo Jingtian menunduk sambil mengamati lengan bajunya yang baginya terlihat lebih indah daripada jubah dewa. “Aku tidak pernah memiliki baju identitas keluarga.”
“Kalau begitu ini yang pertama. Dan kau akan selalu memilikinya.”
Pria itu tersenyum tipis. “Ayo pergi. Kita akan melihat apa yang sebenarnya mereka rencanakan di Istana Guang.”
“Baik.”