
Setelah Mo Jingtian membunuh pemimpin iblis yang ada di tempat itu, Qing Yue'er bergerak menelusuri setiap lorong gua. Dia ingin melihat apakah ada hal-hal yang bisa dia temukan. Sayangnya, tidak ada hal yang berarti banyak untuknya. Hanya ada harta-harta kelas rendah yang tidak begitu berarti.
Setelah menjelajahi seluruh lorong, Qing Yue'er akhirnya menyadari bahwa setiap ujung lorong akan berakhir di tempat lain. Lorong gua yang jumlahnya ada banyak itu menyebar di seluruh pulau dan ruangan luas itu merupakan pusat dari semuanya.
Pada saat itu, tiba-tiba gua berguncang dan beberapa reruntuhan mulai jatuh. Qing Yue'er mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tiba-tiba dia merasakan Mo Jingtian yang menariknya bersembunyi di balik dinding.
“Kenapa?” bisik Qing Yue'er tidak mengerti.
“Ada yang datang.” Mo Jingtian menatap pada salah satu lorong dan benar saja seorang pria berjubah abu-abu tampak berjalan menuju ruangan yang luas dengan wajah menghitam muram.
Qing Yue'er tidak mengenalnya. Namun, dia bisa melihat bagaimana pria itu memiliki aura yang berbeda dari tempat ini. Ya, pria itu memiliki aura yang lebih terang dan seakan membawa keagungan. Samar-samar dia juga merasa ada aura tertentu yang menyerupai Mo Jingtian atau Dewa Alkimia.
“Siapa dia?” tanya Qing Yue'er.
“Di Feng Xuan,” balas Mo Jingtian. Dia akhirnya melihat dengan kepalanya sendiri dewa yang terlibat dengan masalah ini. Biasanya dia hanya mengetahui hal-hal dengan kemampuan berpikirnya, atau dengan merasakan auranya.
Qing Yue'er akhirnya mengerti. Meskipun dia tidak tahu siapa Di Feng Xuan dan apa tugasnya, tetapi dia tahu marga Di akan dipakai oleh dewa. Pantas saja dia bisa merasakan aura yang sama dengan Mo Jingtian. Jadi itu adalah aura kedewaan.
Di sana, Di Feng Xuan sedang menatap marah ketika menyadari semua iblis sudah lenyap. Jika tuannya tahu maka dia pasti akan menerima kemarahan lagi. Siapa yang melakukan ini? Dia ingin mengetahuinya, tetapi tidak ada jejak yang bisa dia kenali.
“Sial!” rutuknya marah.
Sementara itu si makhluk bertanduk yang dipaku ke dinding melihat Di Feng Xuan dengan penuh kebahagiaan. Dia mencoba berteriak, tetapi tidak ada ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia sudah merusak pita suaranya karena berteriak terlalu berlebihan. Selain itu robekan di mulutnya juga memengaruhinya.
Dia hanya bisa menangis tanpa suara ketika melihat Di Feng Xuan akhirnya berlalu pergi. Tidak ada harapan lagi. Di Feng Xuan juga tidak melihatnya, itu berarti keberadaannya sudah disembunyikan oleh Mo Jingtian. Makhluk bertanduk itu hanya bisa mengutuk dengan gila di dalam hati.
Qing Yue'er merasa lega ketika melihat Di Feng Xuan pergi. Bagaimanapun juga dia belum siap tertangkap, belum siap melihat Mo Jingtian bertempur dengan dewa yang lain. Setidaknya tunggu sampai dia memasuki roh perak, maka dia sendiri bisa berhadapan dengan dewa.
Sejujurnya dia merasa masih terkejut. Di Feng Xuan jelas-jelas terlihat marah karena iblis-iblis yang lenyap. Sekarang dia melihatnya sendiri, ternyata tentang dewa yang mencoba menyelundupkan iblis itu sangat nyata. Dan dia sudah melihatnya sendiri hari ini.
“Aku masih tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu,” gumam Qing Yue'er. Belum lagi mendapat jawaban dari Mo Jingtian, tiba-tiba tempat itu terguncang untuk kedua kalinya. Alis Qing Yue'er berkerut. “Apa lagi kali ini?”
Namun, itu bukan seseorang yang datang. Guncangan itu datang dari salah satu tempat yang tidak terduga. Itu berasal dari atas langit-langit pusat ruangan. Qing Yue'er menjadi penasaran dan juga waspada.
“Apa itu?”
Tiba-tiba sesuatu yang berwarna ungu terang meluncur turun dan jatuh menggelinding di lantai. Itu adalah batu sebesar kepalan tangan dengan aura misterius yang menyelimutinya.
Qing Yue'er menjadi penasaran. “Jingtian, bisakah aku melihatnya?”
Mo Jingtian mengangguk. Akhirnya Qing Yue'er berlari mendekati batu itu. Namun, dia tidak langsung menyentuhnya. Ada aura iblis yang sangat kuat di sana dan dia tidak bisa menyentuhnya dengan sembarangan.
Batu ungu itu terlihat seperti kristal. Ada asap hitam yang menyelubungi bagian luarnya. “Jingtian, apa ini?” Qing Yue'er bertanya penasaran.
“Itu adalah Kristal Iblis. Mungkin itu harta yang akan digunakannya untuk memikat manusia agar datang ke sini.”
Baru saja Mo Jingtian berbicara, tiba-tiba Qing Yue'er mendengar suara langkah kaki yang terdengar seperti sedang berlari mendekat. Pasti manusia-manusia itu sudah mengetahui tempat ini dan mungkin merasakan keberadaan harta ini.
“Jadi benar-benar ada harta?” Qing Yue'er merasa cukup terkejut. Namun, sesaat kemudian dia langsung tersadar. “Bagaimana mungkin aku membiarkan mereka memilikinya?” Dia tertawa senang dan segera melapisi tangannya menggunakan kekuatan roh. Kemudian tanpa ragu dia langsung mengambil Kristal Iblis itu.
“Ayo, pergi!” Qing Yue'er menarik Mo Jingtian keluar dari sana.
Ketika orang-orang berhasil masuk ke dalam gua, Qing Yue'er sudah pergi jauh. Mereka mencari-cari di mana letak harta yang keluar. Belum lama ini mereka melihat sinar cahaya ungu yang menjulang ke langit disertai dengan tanah yang bergetar. Itu adalah tanda-tanda kemunculan harta.
Mereka terus mencari keberadaan harta di seluruh gua. Namun, tiba-tiba dikejutkan oleh keadaan di sana. Mereka melihat ada banyak mayat iblis di sepanjang lorong gua. Itu sangat menakutkan.
“Apakah iblis-iblis ini adalah pelindung harta?”
“Sepertinya begitu.”
“Mereka semua sudah mati. Bukankah ini berarti seseorang sudah datang mengambil harta itu?”
“Ah, sial! Siapa yang kira-kira sudah bergerak secepat itu? Apakah mungkin senior itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu? Ayo kita cari sesuatu yang lain! Siapa tahu ada harta yang tersisa.”
Mereka masih berusaha mencari. Sementara itu Qing Yue'er sudah sejak tadi meninggalkan gua. Setelah keluar dari gua, dia berakhir di tempat yang berbeda. Kali ini dia tiba di atas tebing tinggi yang menghadap tepat ke arah Laut Tulang Darah.
Qing Yue'er merasakan semilir angin dan segera mengambil tempat duduk di dekat pohon. Dia meletakkan Kristal Iblis di atas rerumputan dan bertanya, “Ini ... kira-kira apa fungsi kristal ini?”
“Sebenarnya kristal itu bisa digunakan untuk menguatkan senjata. Namun, aura iblis di dalamnya bisa memengaruhi senjata dan menyebabkan mereka menjadi senjata jahat.”
“Kalau begitu ini akan baik-baik saja jika aura iblis itu dihilangkan bukan?”
Mo Jingtian mengangguk. Kemudian Qing Yue'er menyerahkan kristal itu padanya. “Tuan Mo yang baik, bisakah kau membantuku menyingkirkan aura iblis yang ada di dalam?” Saat mengatakan itu Qing Yue'er mengedipkan matanya beberapa kali.
Bagaimana mungkin Mo Jingtian akan tega menolaknya? Dia tersenyum dan langsung mengambil alih kristal. Kemudian dia memadatkan aura kedewaan hingga membentuk lingkaran cahaya emas.
“Woah. Luar biasa!” Qing Yue'er berseru senang. Dia ingin meminta kristal itu kembali, tetapi Mo Jingtian segera menjauhkannya.
“Setidaknya kau harus berterima kasih padaku,” ucap Mo Jingtian sambil menyunggingkan seringai liciknya.
“Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih,” Qing Yue'er berkata dengan cepat. “Sekarang berikan padaku. Aku bahkan sudah berterima kasih tiga kali,” ucap Qing Yue'er yang merasa tidak sabar.
“Tapi aku tidak merasakan ketulusan apa pun.” Mo Jingtian masih tidak mau menerimanya.
Qing Yue'er menyipitkan matanya. Kemudian bertanya, “Jadi kau masih tidak mau memberikannya, ah? Baiklah. Aku tahu otakmu sedang memikirkan apa.” Dia menatap tajam pada pria yang ada di sampingnya itu.
Kemudian dalam hitungan detik dia langsung mendekatkan wajahnya pada Mo Jingtian. Untuk yang kesekian kalinya Qing Yue'er mempertemukan bibir mereka. Namun, kali ini cukup lama hingga dia merasa tenggelam.
Mo Jingtian sudah mengantisipasi ini, tetapi ketika hal ini terjadi dia masih merasa terkejut. Jantungnya berdebar. Tangannya bergerak menahan kepala Qing Yue'er sebelum dia mulai mencecap rasa manis di mulutnya.
Kedua mata Qing Yue'er sedikit terbelalak. Namun, Mo Jingtian justru semakin memperdalam dan membuatnya terbuai. Qing Yue'er menutup mata dan tanpa sadar mulai membalas.
Mo Jingtian dipenuhi dengan perasaan tidak tenang. Dia menjadi semakin rakus dan menginginkan sesuatu yang lebih. Secara perlahan dia mendorong Qing Yue'er hingga gadis itu bersandar pada pohon yang ada di belakangnya.
“Jingtian ....” Qing Yue'er didera oleh perasaan aneh ketika Mo Jingtian menyapukan lidah tengkuknya. Wajahnya memerah dan dia bisa mendengar napasnya sendiri yang naik turun tidak teratur.
Mo Jingtian merasa sedikit terdesak. Namun, tiba-tiba mata hitamnya berkilat dengan cahaya emas, lalu kesadarannya langsung tertarik kembali. Akhirnya dia segera mengakhiri ini dan bergerak menjauh. Gadis itu terlalu berbahaya untuk sisi kelelakiannya.
“Aku harus pergi,” ucap Mo Jingtian setelah beberapa saat terdiam.
Qing Yue'er tidak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya dia merasa sedikit malu. Akhirnya dia mengangguk dan memilih pertanyaan untuk diajukan. “Apa kau akan lama?”
“Aku tidak tahu. Tentang tujuanmu selanjutnya, aku akan mengirimkan pesan nanti.” Mo Jingtian mengambil Kristal Iblis dan memberikannya pada Qing Yue'er. “Kau bisa memasangnya di trisula.”
Qing Yue'er menerimanya, lalu tersenyum tulus. Mo Jingtian merasa lega setelah melihat senyum Qing Yue'er. Setidaknya gadis itu tidak takut atau marah atas tindakannya. Dia tersenyum tipis sebelum akhirnya melesat pergi. Barusan dia merasa sebuah panggilan datang mendesaknya.
Setelah Mo Jingtian pergi, barulah Qing Yue'er menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jantungnya yang meledak-ledak tidak bisa ditahan. Senyum manis langsung mengembang di bibirnya.
Qing Yue'er mencoba menetralkan debaran jantungnya. Setelah beberapa saat dia pun mengambil trisula dan mencoba membandingkannya dengan Kristal Iblis. Sepertinya dia harus memecah kristal dan memperkecil ukurannya.
Akhirnya Qing Yue'er meletakkan Kristal Iblis di atas batu. Kemudian dia mengepalkan tangan sebelum akhirnya bergerak meninju kristal tersebut.
Bunyi ledakan langsung terdengar di tempat itu. Kebetulan kelompok Shang Lian berada tak jauh dari Qing Yue'er. Mereka pun merasa penasaran dan mencari dari mana sumber ledakan tersebut.
Ketika sudah tiba, mereka langsung dibuat tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Qing Yue'er. Bagaimana mungkin batu kristal yang tampak berharga seperti itu dihantam berkali-kali dengan kekuatan besar?
Meskipun mereka tidak tahu apa jenis kristal itu, tetapi mereka bisa merasakan keagungan dari aura kedewaan yang terpancar dari dalam kristal. Tentu saja mereka bisa memprediksi jika itu merupakan benda yang berharga. Namun, kenapa gadis itu justru menghancurkannya?
“Nona, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Shang Lian dengan sopan.
Qing Yue'er merasa mengenali suara itu. Dia langsung menoleh dan terkejut ketika melihat Shang Lian ada di sana. “Ah, aku ....”
“Nona, jika kau tidak menginginkannya lagi maka tangan kosong kami bisa menerimanya,” serobot Shang Tong dengan berani.
Qing Yue'er tidak menyukai Shang Tong. Dia akhirnya mendengkus dan mengabaikannya. Tatapannya justru beralih pada Shang Lian. “Kenapa kau memaafkan mereka dengan begitu mudah? Bukankah mereka selalu menggertakmu?”
Shang Lian terkejut mendengar pertanyaan Qing Yue'er. Bagaimana mungkin gadis itu mengetahui tentang hubungan persaudaraanya? Siapa dia? Shang Lian ingin bertanya lebih lanjut, tetapi gadis itu sudah terlebih dahulu pergi.
Shang Lian terdiam sambil berpikir. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu. Bukan, lebih tepatnya dia merasa pernah melihat matanya. Mata phoenix yang cantik. Namun, di mana? Dia tidak bisa memastikan ini.
Sementara itu Qing Yue'er berlalu keluar dari pulau. Urusan dengan iblis di tempat ini sudah selesai. Dia akan mengurus kristal nanti saja di tempat yang lebih aman. Karena jika orang lain melihat mungkin akan menimbulkan konflik yang tidak perlu.
Untuk sekarang, dia akan bergerak meninggalkan pulau ini terlebih dahulu. Qing Yue'er tiba di dermaga dan mencari keberadaan perahunya. Ada sejumlah perahu di sana dan dia perlu mencarinya dengan teliti.
Setelah beberapa saat dia pun menemukan perahunya. Namun, dia merasa tidak habis pikir ketika melihat ada seseorang yang sedang mencoba menaikinya. Tentu saja orang itu tidak bisa menjalankan karena hanya si peminjam awal yang bisa menggunakannya.
“Pak Tua, ayolah turun dari sana. Itu bukan perahumu,” ucap Qing Yue'er dengan malas.
“Bagaimana mungkin? Aku jelas-jelas menggunakan perahu ini sebelumnya,” bantah si pria tua.
Qing Yue'er dalam suasana hati yang baik. Jadi dia tidak merasa marah dan hanya duduk di papan dermaga sambil menonton pria tua yang keras kepala. Sampai tahun kapan pun akan percuma, pria itu tidak akan bisa menjalankannya.
Setelah mencoba cukup lama akhirnya pria tua itu merasa putus asa. Dia menatap Qing Yue'er dengan malu. “Sepertinya ini memang bukan perahuku.”
Qing Yue'er tersenyum malas. “Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?”
Akhirnya pria itu pun keluar dari perahu Qing Yue'er. “Hahah .... Jangan seperti itu. Pria tua memang sering melakukan kesalahan,” alibinya.
Qing Yue'er tidak membalas lagi. Terlalu malas untuk berurusan dengan orang seperti itu. Akhirnya dia turun memasuki perahunya sendiri, lalu menjalankannya tanpa terburu-buru.