
Qing Yue'er melesat pergi ke sembarang arah. Tidak lupa dia juga menyembunyikan dirinya dalam bayang-bayang agar orang lain tidak dapat melihatnya kecuali orang yang lebih kuat darinya atau spiritualis dunia yang lain. Kemudian dia menyusuri jalanan malam yang sangat sepi.
Dia sempat melewati beberapa tempat-tempat besar yang menjadi kekuatan pusat Dataran Tengah. Seperti misalnya sekte Api Surgawi, sekte Awan Hitam atau sekolah akademi pada umumnya.
Beberapa dari mereka ada yang keluar mungkin untuk mengawasi dan ingin mencari tahu tentang pelaku pembunuhan itu. Seperti halnya sekte Api Surgawi, mereka mengeluarkan beberapa kelompok yang terdiri dari puncak alam langit dan tahap awal alam duniawi.
Qing Yue'er mengamati apakah ada sesuatu yang mencurigakan tetapi ternyata tidak ada. Akhirnya dia pun melesat pergi. Tiba-tiba saat langkahnya semakin maju, dia mendengar teriakan yang datang dari depan.
Dia langsung bergerak cepat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Namun, meskipun dia sudah cepat tetap saja dia sudah tertinggal. Dia melihat dua mayat yang sudah membujur di tanah.
“Sial!” rutuknya. Sebuah bayangan melesat ke arah pepohonan rimbun. Dia pun segera mengejarnya. Akan tetapi, saat dia sudah masuk ke wilayah yang rimbun itu, dia lagi-lagi kehilangan jejak.
Qing Yue'er pun menutup matanya dan menajamkan inderanya. Seketika matanya langsung terbuka. Dia dapat merasakan aura iblis yang sangat samar. Benar-benar sangat samar. Jika dia tidak hati-hati maka dia tidak dapat merasakannya.
“Apa? Dua mayat?” Samar-samar Qing Yue'er mendengar seseorang yang sedang berbicara dari kejauhan. Karena dia sudah kehilangan jejak akhirnya dia berbalik dan kembali menuju keberadaan mayat yang belum lama ini mati.
Di sana ada tiga orang pria yang sedang memeriksa keadaan kedua mayat. Dia mengamati mereka untuk melihat apakah ada yang berbeda dari mayat-mayat itu. Namun, ternyata sama saja seperti mayat lain, yaitu bekas tusukan di belakang telinga.
Mungkinkah itu iblis? Qing Yue'er tidak dapat memastikannya. Itu karena dia tidak melihat bayangan yang melesat dengan jelas. Namun, sebuah fakta bahwa bayangan itu memiliki kekuatan yang lebih kuat darinya.
Qing Yue'er menghela napas. Akhirnya dia kembali berkeliling, mungkin dia bisa menemukan sesuatu yang lain. Dia melewati banyak rumah-rumah penduduk. Memang, pencariannya sangat acak dan tidak tertata.
Ketika dia memasuki area yang gelap, dia dikejutkan oleh sesuatu. Seseorang tiba-tiba muncul di depannya seolah ingin menghentikan langkahnya.
“Gadis, kembalilah. Apa yang kau lakukan hanya akan membahayakan diri.”
Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya. Itu adalah seorang pria tua. Namun, dia tidak dapat melihat rupanya karena orang itu membelakanginya. Hanya rambut putihnya yang terlihat dengan jelas.
“Mungkinkah aku mengganggumu?” tanya Qing Yue'er. Dia tidak bisa bertindak sembarangan. Karena orang itu bisa menemukannya pasti kekuatannya jauh lebih tinggi darinya, atau bisa juga kalau orang itu adalah spiritualis dunia.
“Kematian sudah digariskan untuk orang yang keras kepala. Jangan mencampuri garis takdir siapa pun.” Orang itu berkata dengan pelan sebelum akhirnya menghilang dengan tiba-tiba.
Qing Yue'er mendengus. Apakah ia sedang mencampuri garis takdir? Dia tidak percaya hal seperti itu. Siapa yang akan tahu jika dia adalah bagian dari takdir itu sendiri?
“Orang aneh,” gumamnya. Menurut dia takdir di dunia ini terlalu abstrak dan tidak bisa ditebak. Seperti yang dia bilang, sapa yang tahu jika apa yang dia pikir sedang mengubah takdir ternyata justru bagian dari takdir itu sendiri.
Omong kosong. Mungkin hanya seorang dewa yang tahu apa itu takdir sebenarnya. Jika dulu dia percaya takdir maka setelah melalui banyak hal, kini dia tidak begitu. Di dunia yang praktis ini, yang kuatlah yang berkuasa. Jika seseorang menjadi kuat bukankah dia akan mudah menentukan hidupnya sendiri?
Itu, itulah yang dia inginkan sebenarnya. Menentukan hidupnya sendiri. Dan untuk mencapai hal seperti itu dia pasti membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan.
Qing Yue'er menatap langit. Tanpa sadar dia sudah melewati malam yang panjang dengan sebuah pencarian. Sepertinya dia harus kembali. Dia takut Li Xia atau Chen Yi mencarinya dan menemukan bahwa dia tidak ada di sana.
Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke paviliun belakang tempat tinggal Shen Hua. Beruntung orang-orang belum kembali dan tidak ada yang mencarinya juga.
Qing Yue'er duduk di dalam paviliun. Dia sedang memikirkan orang yang baru saja menghadang langkahnya. Orang tua itu, sayang sekali dia tidak dapat melihat wajahnya. Itu terlalu misterius.
Saat dia sedang melamun, tiba-tiba Shen Hua mendatanginya. Pria paruh baya itu tersenyum dan menyapanya dengan sopan. “Namamu Xinyu bukan?”
“Tidak ada apa pun,” jawab Qing Yue'er. Kemudian dia pun memikirkan sesuatu. “Tuan Shen, apa di sini ada seseorang yang meminta orang-orang untuk pergi dari wilayah Dataran Tengah?”
Shen Hua mengangguk. “Banyak, tentunya. Misalnya kepala sekte yang bijak pasti ingin warga biasa pergi dulu dari sini, untuk sementara.”
“Apa banyak yang menurut?” tanya Qing Yue'er.
“Tidak juga. Kamu bisa melihat sendiri, beberapa orang masih tidak mau pergi dari sini. Kebanyakan mereka mengatakan jika ini adalah tanah kelahiran jadi tidak mau pergi. Mereka lebih memilih setia pada tempat ini meskipun kematian bisa datang kapan saja.”
Qing Yue'er merenung. Apakah maksud 'orang keras kepala' yang dikatakan oleh pria tua misterius itu adalah penduduk biasa yang tidak mau pergi? Itu memang bukan hal yang tidak mungkin. Jadi siapa kira-kira orang tua itu? Sejujurnya dia juga penasaran. Sayang sekali pria itu hanya muncul sesaat saja.
“Benar juga,” ucap Qing Yue'er untuk merespons penjelasan Shen Hua.
Pada saat itu rombongan Niu Ren dan Xie Wuqing akhirnya kembali. Qing Yue'er penasaran apakah mereka menemukan sesuatu. “Apakah kalian mendapatkan informasi?”
Niu Ren menggeleng. “Kami memang mendapatkan banyak mayat berjatuhan tetapi masih belum ada petunjuk,” ucapnya.
“Sayang sekali,” ucap Qing Yue'er.
“Baiklah, kalian silakan mengobrol. Aku akan masuk.” Shen Hua yang merasa mengganggu akhirnya memilih untuk masuk ke rumah. Dia hanya tidak mau jika kehadirannya membuat mereka semua ragu untuk berdiskusi.
Setelah Shen Hua pergi, beberapa orang yang lain pun pergi. Yang tersisa hanyalah Qing Yue'er, Xiao Ling, pamannya dan Niu Ren. Mungkin mereka ini memiliki pemikiran masing-masing.
Xie Wuqing menatap Qing Yue'er. Dia penasaran apakah Qing Yue'er telah menemukan hal lain. Dia tidak percaya jika gadis itu hanya duduk di sini seperti orang bodoh. Itu tidak mungkin. Dia sendiri sangat tahu sifatnya.
“Xinyu, kamu memiliki sebuah gagasan?” tanya Xie Wuqing.
Qing Yue'er mengangguk. “Barusan aku pergi keluar,” ucapnya malu-malu.
Niu Ren menatap Qing Yue'er. “Seharusnya kamu tidak ke mana-mana.”
Qing Yue'er tidak memedulikan ucapan Niu Ren. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun tetapi pria itu melarangnya melakukan apa yang dia mau. Akhirnya dia melanjutkan, “Ada aura iblis yang aku temukan. Terlalu samar, mungkin akan sulit untuk diperhatikan.”
Xie Wuqing mengerutkan alisnya. “Apa itu tepat setelah mayat terjatuh?”
“Ya, seharusnya tidak lama setelah itu.” Qing Yue'er mengangguk.
Niu Ren berdehem. “Mungkinkah ini adalah perbuatan iblis?”
“Itu bukan hal yang tidak mungkin, iblis memang lebih menyukai malam hari. Ini sedikit mencurigakan.” Xiao Ling menimpalinya.
“Kalau begitu kita harus menggunakan cara yang berbeda. Menangani iblis memerlukan cara yang lebih kompleks. Kita akan membicarakannya nanti. Kalian bisa istirahat dulu,” ucap Niu Ren.
Akhirnya semua orang pun setuju dan kembali masuk ke rumah. Pasti matahari juga sebentar lagi muncul. Dan pencarian itu pun berakhir untuk sementara.