
"Aku tidak bisa." Miranda meng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa?" Robert menyentuh tangan Miranda, tangan wanita yang sangat dicintainya. "Aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu dan terutama untuk ketiga putri kita."
"Ya, aku tahu itu dan melihatnya. Tapi saat ini aku tidak memikirkan hal tersebut. Kita sudah tua Robert, dan seharusnya yang kita pikirkan saat ini adalah mencari jodoh untuk putri-putri kita. Terutama untuk Rose, usianya sudah sangat cukup bahkan sangat matang untuk menikah, tapi sampai sekarang..."
Robert yang mengerti pun terdiam, karena benar apa yang dikatakan Miranda kalau putri tertua mereka sampai dengan saat ini belum menikah, tapi ia sudah sibuk berusaha untuk rujuk dengan Miranda.
"Baiklah aku akan coba mengenalkan Rose dengan beberapa anak dari rekan bisnisku, tapi aku tidak akan memaksa jika Rose tidak mau." Karena Robert tidak ingin kejadian dulu terulang lagi dimana Rose kabur melarikan diri karena dijodohkan.
"Terima kasih Robert." Miranda balik menyentuh tangan mantan suaminya dengan tersenyum. Karena kini Robert sudah bisa diajak untuk bertukar pikiran tentang masa depan ketiga putri mereka.
Ehem.
Lara berdeham keras, membuat pegangan tangan Miranda pada Robert terlepas.
"Mom, Dad, kalian terlihat sangat romantis. Kenapa tidak rujuk saja?" Goda Lara pada kedua orang tuanya.
Miranda menggelengkan kepalanya sembari berjalan mendekati putri bungsunya. "Jangan bicara sembarangan dan cepat berangkat! Kau kira Dad Robert pengangguran yang selalu menunggumu tidak jelas." Gerutunya.
"Ck, Daddy saja tidak keberatan untuk menunggu, kenapa jadi Mom yang keberatan." Sahut Lara dengan bibir yang ditekuk sembari menghampiri Dad Robert. "Benarkan Dad?"
"Tentu saja." Robert mengusap rambut Lara dengan penuh kasih. "Kita berangkat sekarang? Karena sebentar lagi Dad ada rapat."
"Kenapa kau sudah pulang?" Karena baru saja putrinya itu berangkat satu jam yang lalu tapi sudah kembali.
"Ada pakaian yang tertinggal, jadi aku pulang untuk mengambilnya. Oh ya, tadi aku berpapasan dengan mobil Daddy."
"Ya, seperti biasa Daddy mu menjemput Lara. Kau tahu Lily, Mom bahagia melihat Lara kembali ceria seperti dulu lagi." Ucap Miranda dengan tersenyum, namun Lily justru menghela napasnya.
"Mom, mungkin Lara terlihat bahagia tapi aku tahu jelas setiap malam dia melamun di balkon kamar, bahkan kadang sampai menangis."
"Apa maksudmu?" Miranda terkejut dengan perkataan Lily.
Lily terdiam sesaat, memantapkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya pada Mom Miranda, karena ia merasa sudah saat Mom Miranda tahu.
"Mom, Lara begitu merindukan Edgar. Dia—"
"Jangan membicarakan anak ****** itu lagi, mom tidak mau." Miranda memilih masuk kedalam rumah.
"Mom tunggu!" Lily menahan langkah Mommy nya. "Mau sampai kapan Mom membenci mereka? Mereka, terutama Nela sudah mendapatkan ganjarannya. Dia diceraikan Daddy. Putra kesayangan pergi tak pernah mau menemui, dan kabar terakhir yang aku dengar Nela sudah mengalami depresi berat sampai harus dirawat."
"Yang dialami Nela belum ada apa-apanya dibanding yang Mommy rasakan." Ucap Miranda dengan bibir bergetar hebat menahan tangis yang siap kapan pun untuk mengalir dari kedua matanya.