Scandal

Scandal
Scandal: Bimbang


Raline berjalan di pinggiran jalan dengan terus menundukan wajahnya, make upnya rusak tak beraturan karena air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Raline melamun, mengingat perlakuan Daniel yang kasar dan terus mengabaikannya, namun walau begitu Raline dengan bodohnya tetap bangkit dan menganggap semuanya baik-baik saja, meskipun hatinya benar-benar terasa hancur.


Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkannya, lamunannya buyar seketika, Raline pun langsung menoleh ke arah mobil yang menglaksoninya tadi. Ternyata itu adalah Jenni, teman dekat Raline. Sebelum berangkat tadi, Raline memang menghubunginya dan meminta bertemu dengan Jenni, namun tidak di sangka Ia bertemu dengannya di tepi jalan seperti ini.


Jenni meminta agar Raline cepat masuk ke dalam mobilnya, karena di luar matahari sedang terik dan begitu panas, malang jika wajah cantik Raline terus-terusan terpapar sinar matahari.


“Hei, ada apa dengan wajahmu itu? Aku sampai tidak bisa mengenalimu tadi, ” Jenni terkekeh melihat penampilan temannya itu,


Raline berkerut kening, “Ada apa dengan wajahku? ” Raline bergunam lalu Ia melihat ke arah kaca spion


Matanya terbelalak, melihat bayangan dirinya di dalam cermin. Penampilannya sangat tidak karuan. Raline langsung menyambar tissue yang berada tak jauh darinya, Ia juga merogoh tasnya dan mencari botol yang berisikan cairan penghapus make up. Raline sibuk membersihkan make upnya, lalu memoleskan kembali make up tipis dan natural pada wajahnya. Kini penampilannya terlihat lebih baik dari sebelumnya.


“Ada apa? Kau menghujani matamu dengan air mata seperti itu, ” tanya Jenni, sembari terus terkekeh.


Raline menatapnya sinis, “Terus saja tertawa seperti itu! Jelas kau sudah tahu, tapi kau masih saja terus bertanya. ” Raline memalingkan wajahnya dari Jenni


“Kau gadis bodoh! ” umpat Jenni, Raline berdecak kesal.


Jenni memarkirkan mobilnya di sebuah cafe, tempat biasa dimana Ia sering bertemu dengan Raline di sini. Karena sedari tadi Raline hanya terdiam dan tak bersuara, jadi Jenni memesankan jus mangga kesukaannya.


“Ayolah, Raline ... ” keluh Jenni ketika melihat Raline yang tidak bersemangat.


“Jenni, bagaimana ini? Aku harus bagaimana ... ” tanya Raline dengan nada lesu


“Raline berpikir jernihlah. Setahun pernikahanmu, tapi Daniel tidak pernah memandangmu sekalipun. Lupakanlah cinta semu mu itu, ” ujar Jenni sembari meminum cofee drink pesanannya


“Benarkah, bisakah aku melakukannya? ” Raline memutarkan kedua bola matanya dan berpikir, bisakah dirinya melupak Daniel begitu saja.


Setahun pernikahannya bersama Daniel, jangankan untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, Daniel bahkan tidak pernah menganggap Raline ada. Daniel hanya memberikan nafkah lahir kepada Raline dan tanpa bisa menafkahi istrinya secara batin. Bagi Raline, uang adalah hal yang biasa, bahkan dirinya saja terlahir dan di besarkan di keluarga terpandang. Uang tidaklah penting bagi Raline, cinta Daniel lah yang terpenting.


Raline memang selalu mengalah dan menerima semua perilaku dingin dan kasar Daniel kepadanya, walaupun hatinya sakit ketika Daniel membentak dan menghinannya, namun Raline tetap kokoh pada pendirian dan rasa cintanya terhadap Daniel. Namun, semua hal mempunyai batasannya. Raline tidak bisa terus seperti ini, Ia harus tahu kapan Ia harus mengakhirinya aja semua ini selalu merugikan dirinya.


Raline seorang gadis yang ceria, seumur hidupnya Ia tidak pernah di perlakukan kasar dan tidak adil oleh siapapun. Bahkan di dalam keluarganya, Raline di perlakukan layaknya seorang putri raja. Daniel adalah cinta pertama Raline, satu-satunya pria yang mampu membuat hati Raline tergerak. Oleh karena itu, Raline begitu memperjuangkan Daniel.


Jenni memandang arloji pada pergelangan tangannya, Ia menatap Raline dengan tatapan menyesal. Waktu sudah menunjukan pukul 15:45 wib, waktunya untuk Jenni kembali bekerja. Jenni adalah seorang wanita karier yanh sibuk, Ia mempunyai beberapa tempat hiburan malam seperti karaoke, cafee dan club malam, sehingga membuat dirinya begitu sibuk. Meskipun begitu, Jenni tetap bisa meluangkan waktu untuk bertemu sahabat tercintannya itu.


“Aku harus segera pergi, ” ujar Jenni dengan nada menyesal karena harus meninggalkan Raline di saat seperti ini.


“Pergilah, ”


Jenni menghela nafasnya berat, Ia merogoh tas dan mengambil sesuatu lalu di berikannya kepada Raline. “Pikirkan apa yang ku katakan tadi baik-baik, bye Raline. ” Jenni mengecup pipi kiri dan kanan sahabatnya itu kemudian berlalu pergi.


Raline menatap sebuah lipatan kertas yang tadi Jenni berikan kepadanya, Ia membuka itu, ternyata itu tak lain adalah sebuah brosur tempat liburan. Brosur itu memperlihatkan sebuah penginapan mewah dan beberapa wisata yang bisa di kunjungi. Raline tahu apa maksud Jenni memberikan ini padanya, namun apakah Raline bersedia untuk pergi berlibur.


“Apakah harus ... apakah harus aku melupakan Daniel? ” gunam Raline menanyai dirinya sendiri.


Pintu mansion di bukakan oleh pelayan, beberapa pelayan tengah berjejer menyambut kadatangannya, mereka membungkukan setengah badannya memberi hormat kepada tuannya. Tidak seperti biasanya, kedua tuan muda ini pulang bersama-sama.


Daniel melihat ke sekeliling, hari ini ada yang berbeda dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang hilang. Daniel menyadari bahwa hari ini Raline tidak menyambut kepulangannya, biasanya Raline akan menyambut Daniel dengan senyum merekah di wajahnya dan ocehan manisnya ketika memperhatikan Daniel, walaupun Daniel sama sekali tidak menganggapnya, namun Raline tidak pernah absen melakukannya.


“Kau mencarinya? Apa kau merindukannya? ” tegur Kendrick ketika melihat keponakannya itu terlihat tengah mencari seseorang. Daniel berdesis, kemudiam Ia berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Waktu menunjukan pukul 9 malam, namun Raline belum juga kembali pulang. Kendrick dan Daniel berada di meja makan dan tengah memakan makan malam mereka dengan tenang, sesekali Daniel melihat ke sekitar. Entah apa yang di rasakan Daniel, Ia sangat tidak menyukai Raline, namun ketika Raline tidak ada Ia justru mengkhawatirkannya. Sementara Kendrick, walaupun makan malamnya telah selesai, tapi Ia tidak langsung kembali ke dalam ruangannya dan malah duduk bersama dengan Daniel di meja makan, dengan sebatang rokok menyulut di selah jemarinya.


“Nona, kau sudah pulang? Apa kau memerlukan sesuatu? Saya akan segera menyiapkannya untukmu, Nona. ” ujar seorang pelaya, Nona itu siapa lagi jika bukan Raline


Daniel tampak lega mengetahui Raline sudaj pulang ke rumah, cukup baginya mengetahui bahwa Raline baik-baik saja. Kemudian, Daniel pun langsung beranjak pergi menaiki tangga dan menuju kamarnya.


“Tolong kemasi barang-barangku, ” ujar Raline, seketika langkah Daniel tercekat setelah mendengarnya. Begitupula Kendrick, yang tampak terkejut mendengarnya.