
Raline tercengang mendengar suara seorang pria, suara tersebut terdengar sangat tidak asing di telingannya. Lengannya di tarik kembali ke kursi, Raline langsung terduduk sembari wajahnya yang semaki terlihat gusar. Pandangannya mengedar, Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kau terkejut sehingga membuat wajahmu menjadi seperti itu, ” ujar pria tersebut, Raline menoleh pelan ke arahnya.
“Sialan! ” umpatnya dalam hati, “Kau! Mengapa kau bertindak sejauh ini? Dan kemana kau akan membawaku pergi? ” teriaknya, membuat gendang telinga siapapun yang mendengarnya terasa akan pecah.
“Kenapa kau begitu berisik? ” tanya Kendrick mengerutkan keningnnya
“Lepaskan aku! Aku mau keluar! Kau dasar kau, menyebalkan! ” Raline terus meronta, mencoba melepaskan genggaman tangan Kendrick pada pergelangan tangannya.
Kendrick berkerut kening menatapnya heran, sementara Raline masih terus meronta agar Kendrick melepaskannya. Namun, bukannya melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Raline, genggamannya malah semakin erat dan membuat Raline meringis kesakitan.
“Kau menangis? ” tanya Kendrick
Raline terus meronta, “Sakit ... ini sakit! ” ujarnya sembari terisak menangis, Kendrick menarik lengan Raline kemudian memeluknya. Sementara Raline, Ia terus-menerus menangis.
Kendrick memeluk erat gadis itu, Ia tahu kesedihannya bukan di akibatkan genggaman Kendrick kepadanya, melainkan karena masalahnya bersama Daniel. Entah rasa simpati atau Kendrick merasa benar-benar peduli kepada Raline, yang pasti ketika melihat gadis itu menangis, Ia hanya ingin menenangkannya dan membuatnya tersenyum kembali. Sebelumnya, Kendrick tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada seorang wanita, hatinya menjadi mati sejak empat tahun yang lalu.
***
Kendrick memutarkan gelas berisikan wine lalu menghirupnya, suasana terasa tenang saat Ia berdiri bersender di ambang pintu sembari matanya terus menatap ke arah gadis cantik yang tengah berbaring dan tertidur dengan sangat pulas. Bukan tertidur, tetapi di paksa tidur.
Kini, mereja berdua sudah berada di sebuah resort mewah. Raline tidak sedang tertidur, melainkan Ia tidak sadarkan diri karena sengaja di bius oleh Kendrick. Selama penerbangan berlangsung, Raline tidak pernah diam dan memaksa untuk keluar danturun dari pesawat, mustahil! Beberapa orang Kendrick sampai kewalahan karena menahannya. Kendrick yang merasa jengkel pun terpaksa memerintahkan kepada salah seorang kepercayaannya untuk menyuntikan obat bius kepada Raline. Lalu, lima menit kemudian suasana pesawat menjadu tenang dan hening.
Kendrick melangkah keluar dari kamar Raline. Sebelum pergi, Ia sempat memerintahkan dua orang bodyguardnya untuk berjaga di depan pintu kamar Raline, untuk berjaga-jaga jika Raline sudah sadar dan berencana untuk kabur. Sementara Kendrick, Ia ada urusan pekerjaan, yang harus melibatkan dirinya ke dalam rapat penting.
***
Raline membuka matanya perlahan, kepalanya terasa begitu berat dan pening, pandangannya seakan kabur dan berputar-putar. Raline memejamkan matanya kembali, mencoba menetralisir pening di kepalanya. Kemudian tak lama Raline membuka matanya kembali, dengan setengah matanya yang terbuka, Raline focus menatap ke sekeliling ruangan. Matanya terbelalak, mendapatu dirinya sudah terbangun di sebuah tempat asing. Raline memukul-mukul kepalanya ringan, Ia berusaha mengingat kembali hal terakhir kali sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Matanya membulat, Raline ingat kejadian terakhir kali sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Saat itu, Raline tengah berada di dalam sebuah pesawat bersama Kendrick. Tidak sadar Raline menangis di dalam pelukan Kendrick, hal yang paling membuatnya tidak tenang selama penerbangan dan berusaha menghindar jauh-jauh dari Kendrick. Raline merasa dirinya sangatlah bodoh, mengapa Ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga Ia bisa berada di dalam pelukan paman suaminya sendiri.
Kedua orang penjaga diluar saling bertatapan muka ketika mendengar teriakan Raline dari dalam, namun mereka tidak berani untuk membuka kunci kamar dan masuk ke daoam kamar Raline tanpa mendapat persetujuan dari tuannya. Sementara Kendrick, Ia tengah melakukan rapat penting dan akan marah jika ada yang mengganggunya.
Raline beranjak dari peraduannya, Ia menciba membuka pintu namun pintunya terkunci. Raline mencoba mencari ke setiap sudut ruangan, mencari keberadaan kunci tersebut, namun Ia tidak menemukannya. Raline semakin merasa kesal, mengapa dirinya di kurung bagai sandera seperti itu.
“Pria sialan itu ... awas saja kau! ” umpat Raline kesal,
Raline menggedor-gedor pintu itu dengan sangat keras dan sesekali berteriak meminta agar pintu segera di bukakan, namun usahanya sia-sia, tidak ada satu orangpun yang mau mendengarkannya, termasuk kedua orang bodyguard yanga berjaga di depan pintu. Raline berbalik arah dan berhenti menggedor pintu itu dengan sangat keras. Tiba-tiba pintu terbuka, dengan refleks Raline langsung menendang sekuat tenaga kaki seseorang yang akan masuk ke dalam kamarnya.
“Kau ... ” Raline menunjuk orang tersebut dengan ekspresi terkejut
“Berani sekali kau menendang kakiku! ” tegas Kendrick, tatapannya menyorot tajam ke arah Raline.
Raline mengangkat wajahnya, seorang tengah menantang Kendrick, “Apa? Kau ingin membalasnya? Ayo balas! ” ujar Raline dengan nada lantang,
Tiba-tiba Kendrick mengangkat sebelah telaoak tangannya, tindakannya itu langsung di angguki oleh kedua bodyguard yang tengah menjaga di luar. Seketika pintu tertutuo dengan rapat, Raline terkejut, Ia mencoba membukannya bahkan mengetuk-ngetuk agar segera di bukakan.
“Apa sekarang kau takut? ” tanya Kendrick, sembari melangkah ke arah Raline. Raline tertegun, Ia melangkah mundur menjauh dari Kendrick.
Kendrick terus menatapnya tajam, Ia terus melangkah mendekat ke arah Raline, sembari membuka satu persatu kancing kemejanya. Mata Raline membulat rajam, Ia terus melangkah mundur dan tertegun melihat tindakan Kendrick, untuk apa Kendrick membuka bajunya seperti itu. Tiba-tiba langkah Raline terhenti, ketika badannya berbenturan dengan tembok, menandakan dirinya sudah tidak bisa lari kemanapun.
Kendrick semakin mendekatinya, Ia mengulurkan lengannya lalu di sandarkan di tembok, di hadapannya terdapat Raline dengan ekspresi gusarnya. Kendrick semakin tertarik dan bersemangat ketika melihat Raline menciut sepert itu, Ia tersenyum simpul menatap ke arah Raline.
Raline memberanikan dirinya menatap ke arah Kendrick, wajah Kendrick hanya berjarak beberapa cm di atasnya. Mereka berdua saling bertatapan, yang satunya adalah seekor singa lapar yang siap menerkam domba kecil di hadapannya kapan saja.
Kendrick mendekatkan wajahnya pada wajah Raline, Raline semakin tertegun dan gugup. Raline terlihat begitu gugup, Raline memejamkan matanya erat ketika wajah Kendrick semakin dekat dengan wajahnya. Nafasnya berhembus menyapu wajah Raline, wangi khas rokok terasa begitu pekat. Tiba-tiba, Kendrick menempelkan bibirnya tepat du telinga Raline, tubuh Raline seketika mengejang mendapat sentuhan demi sentuhan dari Kendrick.
Kendrick membelai rambut Raline , Ia juga menyentuh pipi Raline dengan begitu lembut. “Aku akan pergi mandi, ” bisik Kendrick, mata Raline terbuka secepat kilat.
“Apa katamu? ” ujar Raline