
Haiiii ... tolong dukungannya yakkk
Happy reading!
••••
"Lo kenapa?"
Krystal terhenyak dari lamunannya saat suara Airin terdengar.
Setelah Kai menyetubuhinya dengan kasar tadi pagi, lelaki itu lalu pergi dari rumah tanpa pamit padanya, membuat hati Krystal semakin terasa sakit.
"Krys, oi!" Airin mendekat, menyentuh lengan sang adik saat merasa ada yang aneh dengannya. "Ada apaan?"
Krystal tersenyum. "Gak ada apa-apa, aku cuma kurang enak badan."
Airin lalu mengeratkan pegangannya di lengan Krystal, hingga perempuan itu tiba-tiba meringis sakit. Ia terkejut menatap Krystal.
"Kenapa? Lo diapain sama Kai?" tanyanya curiga. Sejak tadi Krystal seperti hilang konsentrasi.
Kepalanya menggeleng. "Gak kok, aku tadi kepentok pintu."
"Jangan bohong sama gue!"
Krystal menghindar. Ia tidak bisa memberitahukan pada siapa pun apa yang sudah Kai lakukan padanya. Ia harus merahasiakan pertengkaran mereka karena ini adalah masalah pribadi.
"Kai berbuat kasar sama lo?" desak Airin lagi. Pasalnya kini ia melihat bercak-bercak biru keungu-unguan di leher dan juga lengan Krystal. "Dia ngelakuin itu?"
"Kak ...." Krystal menghindar lagi. "Kita cuma lagi ada masalah kecil aja kok."
"Tapi kalo dia ngelakuin itu dengan kasar sama lo, itu namanya hubungan kalian udah gak sehat, Krys!" Airin berdecak. "Gue yakin lo juga gak nikmatin kan?"
Lalu tanpa pernah di duga, air mata Krystal tumpah. Airin segera menghampiri dan memeluk bahu sang adik. "Kenapa gak cerita aja sih sama gue! Biar gue hajar itu laki! Macem-macem aja."
"Jangan, kak .. aku gak apa-apa kok."
"Gak apa-apa gimana?" Airin melepas pelukan itu, mengambil jarak untuk melihat lebam di tubuh Krystal. "Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga, Krys!"
"Kai gak sengaja, kak. Dia mabuk terus hilang kendali."
"Masih aja lo belain itu moyet!" kesal Airin sampai menggebu-gebu. "Inget ya, Krys, kalo dia begini lagi sama lo, elo harus kasih tahu gue."
"Iya, kak."
***
Pukul tujuh malam Kai baru kembali ke rumah, seperti biasa tampilannya terlihat sangat berantakan. Sejak tadi Krystal sudah mencoba mengubunginya tapi tidak ada jawaban. Dan sekarang, ia bisa bernapas lega saat melihat tubuh jangkung sang suami ada di dalam rumah.
"Kamu udah makan?" tanya Krystal menghampiri lelaki itu.
Kai memandangnya tajam, membuat Krysal mengambil satu langkah mundur karena takut.
"Kamu cerita sama Airin kalo kita lagi berantem?"
Perempuan itu menunduk. "Aku gak cerita, kak Airin lihat lebam di lengan aku. Tapi aku beneran gak cerita kok."
Mata Kai langsung turun menuju lengan dan leher Krystal. Lebam-lebam itu masih ada. Ia mendesah, meraup wajahnya dengan kasar.
"Kean kapan pulang?"
Kai menyentuh lebam biru di lengan Krystal, dan seketika membuat perempuan itu meringis. "Sakit banget?"
"Ha?"
"Udah diobatin belum?"
Dengan gerakan pelan dan berat, Krystal menggelengkan kepalanya. Kai lalu menggenggam tangan sang istri, menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Buka baju kamu." ujarnya, masih dengan nada dingin.
Krystal mengerjap. Ia tidak bisa menerima pergumulan dalam bentuk apa pun saat ini. Pusat tubuhnya masih terasa sakit setelah dua kali Kai memasukinya dengan kasar, apa lelaki itu akan mengulanginya lagi?
"Kak ... tapi aku—"
"Buka, aku mau obatin lebam kamu."
Bahu Krystal merosot lega. Ia kira Kai akan menyetubuhinya lagi.
Krystal membuka kaosnya hingga ia hanya mengenakan bra saja. Kai menggiring Krystal untuk duduk di atas ranjang setelah ia selesai mengambil salep di kotak obat. Kai memposisika tubuhnya di belakang Krystal.
Perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mengolesi salep tersebut ke atas kulit Krystal yang lebam. Mereka hanya terdiam tanpa kata. Krystal bungkam karena tidak ingin merubah suasana seperti ini menjadi pertengkaran lagi.
Sementara Kai diam karena telah menyadari kesalahannya. Lelaki itu kemudian menciumi pundak Krystal yang terbuka, membuat snag istri tersentak kaget.
"Maafin aku ya?"
"Kak ..." Krystal melirih terkejut.
"Maaf aku udah egois banget dan gak mau ngedengerin penjelasan kamu." ujar Kai lagi.
Krystal lalu membali tubuhnya, membuat pandangan mereka bertemu. "Ada apa sih? Aku gak ngerti."
Kai menangkup kedua sisi wajah sang istri dengan lembut, lalu menyatukan bibir mereka sebentar. "Tadi aku ketemu Rekha, dan dia jelasin semuanya sama aku."
"Rekha?" Kedua alis Krystal merengut.
"Iya ... kemarin malem ada cewek yang kasih foto kamu sama Rekha di dalam kafe. Aku kalut banget, aku kira kamu janjian sama dia untuk ketemu."
Sampai di sini Krystal mengerti. Ia melebarkan matanya kaget. "Jadi ... kamu pikir aku sama Rekha?"
"Iya, maaf. Maafin aku sayang."
"Astaga, kak, Rekha mau nikah, dia kasih undangan ke aku kemarin."
"Iya, dia juga jelasin itu ke aku." Kai segera memeluk tubuh Krystal, melampiaskan rasa menyesalnya di sana. "Aku minta maaf, Krys. Maaf banget aku udah gak dengerin kamu."
Krystal membalas pelukan itu. "Ya ampun kak, kamu ngelakuin ini ke aku cuma gara-gara itu?" Lalu air mata Krystal mengalir keluar. "Jahat banget sih kamu!"
Dan isakan kecil terdengar. Krystal menangis sambil terus memukul pundak Kai. "Kamu jahat tahu gak!"
"Iya, aku minta maaf sayang. Maaf aku udah jahat banget sama kamu." Kai mengeratkan pelukan itu, membiarkan Krystal menangis di dalam pelukannya, membiarkan Krystal memukuli tubuhnya, karena Kai tahu, ia pantas untuk itu semua.
••••
Kayaknya Kai kudu di kasih karma dulu ya baru kita end hahaha ... tungguin terus kelanjutannya ya. jangan lupa koin sama poin yang punya tolong di hibahin ke sini ahahahaha