
Raline merasakan perih di perutnya. Sejak semalam Ia belum memakan apapun untuk mengisi ulang perutnya. Kejadian di meja makan tadi sukses membatalkan acara makan Raline. Walau dirinya sangat lapar, Ia gengsi untuk memakan makanannya setelah Ia mengumpat dan marah-marah tak jelas.
Raline beringsut turun dari ranjangnya, masih dengan jalannya yang berjinjit menahan linu pada telapak kakinya. Raline membuka kenop pintu dengan perlahan dan sangat hati-hati. Ia tidak mau bertemu Kendrick yang akan membuat harga dirinya jatuh jika tahu Ia keluar diam-diam untuk mencari makan. Ia menapa sekeliling, memastikan tidak ada Kendrick ketika dirinya ke luar dari kamar. Setelah mengamati sekitar dan merasa aman Raline lantas keluar dengan sangat hati-hati.
Kakinya melangkah dengan sangat hati-hati dengan pandangan mengedar ke sekitar. Ternyata mansion itu tampak sepi tidak terlihat orang satupun. Aneh, kemana perginya para pelayan? Raline mengangkat kedua bahunua tak peduli. Yang Ia pikirkan kini hanyalah makan untuk membuat perutnya kenyang.
Sesampainya di dapur Raline tidak mendapati pelayan ataupun koki yang Ia lihat tadi siang. Ada apa ini? Mengapa semuanya pergi. Raline terduduk lemas di atas kursi meja makan dengan wajahnya yang lesu.
Raline frustasi, perutnya sangat lapar tapi mengingat dirinya hanyalah seorang gadis manja dan tidak bisa memasak Raline hanya tertunduk pasrah. Raline meraih satu buah apel dan melahapnya, namun masih tidak bisa memenuhi perutnya yang begitu lapar. Raline perlu makanan berat. Dengan tekad yang kuat Ia mulai berjalan menuju lemari es dan mengambil beberapa bahan makanan di sana. Mie instan mungkin pilihan yang tepat dan mudah untuk di masak. Tak lupa Ia juga mengambil beberapa sosis dan telur untuk di tambahkan ke dalam mienya.
Setelah menyimpan beberapa bahan makanan itu di atas meja makan, Raline hanya melamun sembari memperhatikan-nya. Selanjutnya apa yang harus Ia lakukan? Oh Ia tidak bisa memasak mie instan sekalipun!
Raline akam mencari informasi lewat internet jika handphone nya itu ada. Tapi semenjak Ia terbangun dari tidurnya, jangankan handphone, tasnya saja tidak tahu berada di mana.
Raline terbiasa hidup dengan seorang pelayan di sampingnya. Dan semenjak hidup dengan Daniel sekalipun Ia selalu di layani oleh pelayan. Mungkin seumur hidupnya, Ia hampir tidak pernah menyentuh peralatan dapur kecuali sendok, garpu dan piring. Raline mencebik kesal.
“Tidak! Aku bisa! Aku tidak sebodoh itu!” gunamnya menyemangati dirinya sendiri. Menyangkal seluruh kenyataan yang ada.
Raline mengambil mangkuk dan garpu, tak lupa dengan pisau untuk mengiris sosis. Mengiris sosis yang pertama kali Ia lakukan, karena kegiatan itulah yang paling mudah menurutnya. Raline memotong sosis itu menjadi beberapa bagian kecil lalu memasukannya ke dalam mangkuk. Hal selanjutnya yang Ia lakukan adalah memecahkan telur. Tapi bagaimana?
Ia mencoba mengetu-ngetukan telur itu pada pinggiran mangkuk secara perlahan, namun usahanya itu tidak membuahkan hasih. Kini Raline mencobanya dengan sedikit keras dan berusaha, alhasil telur itu malah hancur dengan isinya yang berceceran kemana-mana. Raline meringis, bau amis untuk sebelah telapak tangannya.
Terlalu focus dengan kegiatannya, Raline sampai tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang kini tengah menatapnya dengan tajam sembari sesekali terkekeh melihat kekonyolan yang Ia buat.
Telur kedua, Raline mencobanya dengan sangat berhati-hati. Namun bukannya retak sedikit agar Ia bisa membuka cangkangnya, telur itu malah tetap utuh dan tidak retak sedikitpun. Merasa kesal, Raline melemparkan telur tersebut ke arah tembok hingga telur itu pecah dan meninggalkan bekas noda di sana. Raline mengalihkan pandangnya tak peduli.
“Kau ingin menghancurkan dapurku?”
Raline terhenyak dan langsung menoleh kepada seseorang yang sedang berjalan menghampirinya. Tertangkap basah. Raline sudah tidak peduli dengan perkataanya tadi yang tidak ingin bertemu dengan Ken, karena semua itu sirnah tertutup kabut kekesalan karena Ia tidak bisa memecahkan satu butir telur.
“Kau mau makan apa? Biar aku buatkan,” ujarnya seraya menggulung lengan kemeja miliknya.
Raline terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.
Kendrick memerhatikan mangkuk berisikan sosis dan telur di atas meja lalu terkekeh. “Kau ingin memasak mie instan di tambah kulit telur seperti itu? ” Ia menggelengkan kepala sembari terus tersenyum ketika melihat sosis dan telur besera kulitnya di dalam mangkuk.
Wajah Raline bersemu merah menahan malu. Tidak di pungkiri bahwa dirinya memang nol akan pengalaman hidup. Lupakan mengenai cita-citanya menjadi istri yang baik. Untuk memanjakan suami dengan masakanpun tidak bisa.
“Kau pikir, lelaki akan puas hanya karena melihat kau terlentang di atas ranjang?” celetuk Ken yang tengah sibuk menyalakan kompor.
Sontak Raline mendongakan kepalanya dan menatap sebal Ken, walaupun rona di wajahnya semakin terlihat jelas bahwa sindiran Ken tepat mengenai sasaran.
“Memecahkan telur saja tidak bisa. Tsk!” Ia menggeleng pelan tak percaya.
“Seperti mama yang terus mengomel,” gunam Raline dengan nada rendah. Tiba-tiba Ia teringat sosok ibunya ketika Ken berkata seperti barusan.
Raline baru menyadari bahwa lelaki di hadapannya ini benar-benar cerewet dan menyebalkan.
“Makanlah,” ujarnya sembari meletakan mangkuk berisikan mie ke hadapan Raline. Terlihat sangat enak.
Beberapa detik mata Raline terkagum melihat mie di dalam mangkuk, perutnya yang terus meronta memintanya untuk segera memakan itu. Namun tiba-tiba Raline menatap Ken dengan sinis.
Ia menyipitkan matanya,“Kau tidak menambahkan obat tidur atau semacamnya kan?” tanya Raline penuh selidik.
Ken menyimpulkan senyumannya, “Untuk apa aku melakukan semua itu?”
Raline memutar bola matanya dengan malas, “Kau tahu itu.”
“Aku tetap bisa menidurimu tanpa obat tidur sekalipun,” balasnya dengn rasa percaya diri yang tinggi.
Raline berdecak malas. Tapi memang pada kenyataan seperti itu, Raline berada di posisi yang lemah walaupun Ia terus-terusan menentangnya. Nyatanya dengan beberapa gertakan Raline akan tunduk pada lelaki di hadapannya.
“Tidak peduli! Perutku lapar.” gunamnya dalam hati seraya meraih mangkuk lalu memakan mie di dalamnya.
***
Raline menegak air putih di gelasnya hingga tandas. Mie instan buatan Ken benar-benar sudah memanjakan lidah dan perutnya. Tak di sangka, selain tampan dan pengusaha kaya, ternyata lelaki itu mahir dalam segala hal. Raline merasa terpojokan.
“Sudah kenyang?” tanyanya mematikan sulutan rokok ke dalam asbak.
Walaupun telah memanjakan lidahnya dengan masakannya. Nyatanya Raline tetap merasa kesal karena lelaki itu terus saja merokok ketika dirinya makan.
“Aku mau ke kamar.” ujarnya singkat lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Kau pikir aku melakukan semua ini dengan gratis? ”
“Apa?” gadis itu menoleh dan menatap Ken tajam.
“Kau harus membayarnya!” seringai itu terlihat begitu mengerikan.