
"Tidak bisa!"
Lagi Miranda dan Robert berucap bersamaan. Menolak dengan keras ide gila yang disampaikan putri kedua mereka.
"Lara masih muda, dia harus melanjutkan sekolahnya lebih dulu." Sahut Miranda kembali.
"Ya, aku juga tidak setuju. Lara sudah memiliki calon yang sudah kupilih." Robert ikut menimpali perkataan Miranda tanpa sadar. Membuat istri dan putri keduanya kini menatap dirinya.
"Kau ingin menjodohkan Lara dengan siapa?" Tanya Miranda penuh tanya.
"Jangan katakan dengan Gavi." Tebak Lily dengan asal. Namun ternyata tebakannya benar karena Dad Robert diam saja tak membatah apa yang diucapkannya.
"Benar kau akan menjodohkan Lara dengan Gavi?" Miranda memastikan.
"Ya." Robert menganggukkan kepala. "Mereka sudah bersahabat lama dan Gavi dari keluarga terpandang juga pemimpin di negeri ini, jadi tidak ada salahnya menjodohkan mereka." Jelas Robert.
"Serius kau akan melakukannya?" Tanya Miranda tak percaya. "Bisa-bisanya kau menjodohkan putriku tanpa ijin dariku. Kau dengar baik-baik Robert, kau tidak punya hak untuk menjodohkan Lara!"
"Kenapa aku tidak berhak?" Tanya Robert dengan suara yang mulai meninggi.
"Karena kau tidak pernah ada untuk kami, terutama Lara. Kau bukan hanya tidak berhak menjodohkan Lara tapi juga tidak berhak mencarikan jodoh untuk semua putriku." Ujar Miranda dengan emosi.
"Kau..."
"Stop! Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?" gerutu Lily dengan kesal. "Masih ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan dari perdebatan kalian. Apa Mom dan Dad lupa, di luar sana mempelai pria pasti sudah bersiap."
"Lily, hanya kau yang bisa menggantikan Rose." Ucap Miranda dengan memohon. Karena tidak mungkin mengorbankan Lara yang usianya masih sangat muda.
"Tidak bisa Mom, kalau pun aku bersedia keluarga mempelai pria pasti tidak akan mau menerimaku. Bukankah mereka sudah tahu bagaimana reputasiku selama ini."
Miranda pun mengiyakan perkataan putri keduanya. Reputasi Lily yang sering berganti pasangan dan terlibat scandal bersama pria beristri, pasti akan membuat pihak mempelai pria keberatan untuk menerima Lily.
"Lara gadis polos yang tak pernah pernah memiliki kekasih. Dia juga sebentar lagi akan lulus sekolah jadi keluarga mempelai pria pasti setuju jika Lara yang menggantikan Rose." Ucap Lily kembali. Berusaha menyakinkan Mom Miranda agar dirinya terbebas dari permasalahan yang ditinggalkan Rose.
Miranda mengerutkan keningnya dengan berpikir sembari menatap Lara yang tertidur di atas ranjang. Semua yang dikatakan Lily benar dan ia tidak punya cara lain selain memilih Lara untuk menggantikan Rose agar mereka terselamatkan oleh rasa malu karena scandal yang dibuat Rose.
"Baiklah." Ucap Miranda pada akhirnya.
"Aku tetap tidak setuju." Protes Robert.
"Aku tidak tanya pendapatmu. Bukankah sudah aku katakan kau tak berhak mengambil keputusan untuk kehidupan putri-putriku." Ucap Miranda dengan sengit.
"Kau..." Robert mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Sungguh ia tak mengira wanita yang dulu selalu menurut dan diam dengan keputusan yang dibuatnya sekarang berani melawan setelah mengajukan gugatan cerai padanya.
"Dari pada kau disini hanya untuk berdebat, lebih baik sekarang pergi temui keluarga mempelai pria dan katakan apa yang telah terjadi. Dan beritahu juga keputusan kita yang akan menggantikan Rose dengan Lara, kalau tidak ingin nama keluarga Collins hancur." Putus Miranda tak mau diganggu gugat.
Robert pun mau tidak mau beranjak dari tempat tersebut. Meskipun ia tidak setuju dengan keputusan Miranda tapi yang dikatakan istri pertamanya itu benar. Hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dari permasalahan mereka agar nama baik keluarga Collins tidak rusak.