
Haiiiii ... aku datang lagi .... maaf menunggu lama
happy reading!
••••
Krystal merasakan kekosongan di atas ranjangnya. Jika biasanya Kai ada di sana, merengek seperti bayi besar, meminta mereka untuk bergelung di dalam pusaran gairah, kini yang ada hanya sprei putih dan halus. Ia seorang diri, meratapi nasibnya, memikirkan mengapa bisa ia mendapatkan cobaan sebesar ini.
Mungkin dosa-dosanya di masa lampau harus dibayar sekejam ini. Mungkin memang terlalu banyak dosa yang ia lakukan. Dari hari dimana ia meninggalkan Kai, meninggalkan rumah mereka,Krystal semakin merasa terpuruk. Sekian tahun bersama Kai, kini ia baru mengerti bahwa perpisahan sungguh sangat menyakitkan.
Ia butuh udara untuk melepaskan perasaan sesak yang bersarang di hatinya. Meski Krystal merasa kurang enak badan, tapi ia harus menjemput anaknya di sekolah. Ia tidak bisa terus menerus mengurung diri di kamar. Ia butuh kebebasan.
***
Mata Krystal melebar sempurna begitu mendapati Kai menyambut anaknya yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Mereka berdua terlihat begitu senang, bahkan Kai mengangkat tubuh Kean masuk ke dalam gendongannya.
Tubuh Krystal mematung melihat pemandangan itu, tak lama, mata mereka saling bertemu saat Kai membalikan tubuhnya.
"Bunda ...." teriak Kean memanggil Krystal.
Perempuan itu masih mematung di tempatnya. Terkejut. Sudah berapa hari ia tidak bertemu dengan lelaki itu? Hampir seminggu. Dan Kai terlihat sangat acak-acakan. Lelaki itu bahkan tidak mencukur bulu-bulu halus yang ada di wajahnya.
Setahu Krystal, Kai sangat tidak suka jika bulu halus itu memanjang, ia akan meminta Krystal untuk mencukurnya, tapi kini, Kai benar-benar terlihat sangat berantakan. Sama seperti hatinya.
"Bunda juga mau makan es krim ya?"
Krystal terhenyak saat mendengar pertanyaan si kecil. Ia melamun begitu lama sampai tidak sadar kalau Kai sudah berdiri di depan mereka.
"O—oh ... bunda gak ikut."
"Kenapa? Aku sama ayah mau makan es krim, bunda harus ikut."
Krystal berpaling saat Kai masih menatapnya begitu lekat. "Emm ... biar Kean sama ayah aja, bunda mau pulang."
"Tapi aku maunya sama ayah sama bunda." rengek sang anak.
"Tapi bunda—"
"Ikut aja, Krys. Kasian Kean." sela Kai cepat.
Krystal menjadi salah tingkah. Kenapa rasanya ia seperti anak muda yang baru pertama kali jatuh cinta. Malu-malu, tapi mau.
"Y—ya udah kalo gitu."
Sesampainya mereka di dalam mall. Kean berlari ke sana kemari dengan lincah. Krystal berjalan di belakang Kai, ia tidak ingin berdekatan dengan lelaki itu. Anggap saja ini karena ia masih marah, tapi jauh dari itu, Krystal takut kalau ia tidak sengaja menggandeng tangan Kai nantinya.
"Kamu mau es krim yang mana, Krys?" tanya Kai.
Krystal berdehem kecil sebelum menjawab, "aku gak usah."
"Loh kenapa? Udah di sini, pesen aja."
"Gak, perut aku lagi gak enak."
Seketika kening Kai langsung terlipat dalam dan matanya memandang Krystal lekat-lekat. "Udah ke dokter?"
"Gak perlu, paling masuk angin." Singkat dan jelas. Krystal berusaha untuk tidak membuat percakapan lebih banyak di antara dirinya dan Kai. Bagaimana pun, melihat Kai saat ini, masih membuat hatinya sakit dan pikirannya mengingat kejadian itu.
Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Krystal benar-benar menutup rapat bibirnya meski pun saat mereka melewati toko donat Krystal ingin sekali meminta Kai membelikan itu, tapi perempuan dan segala harga dirinya memaksa Krystal untuk menahan diri untuk itu.
Tubuh Krystal terasa sangat lemas, harusnya tadi ia tidak perlu memaksakan diri untuk menjemput Kean kalau tahunya akan seperti ini. Ia berjalan dengan pandangan kosong, tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya hingga Krystal merasakan tangan Kai meraih bahunya, ia tersentak. Hampir saja ia menabrak tempat sampah besar di depan sana.
"Kamu kenapa sih?"
"Hah?" Ia gelagapan. Tangan Kai masih merangkul bahunya, membuat mereka seperti berpelukan. "Gak apa-apa," balasnya sembari melepas rangkulan Kai dari bahunya.
"Kamu pucat. Sakit? Mau ke rumah sakit gak?"
"Gak usah." Krystal berujar sangat dingin bahkan tanpa mau melihat Kai. "Gak usah sok baik sama aku."
"Loh, sok baik gimana sih? Aku kan nanya."
Mungkin bagi Kai nada bicaranya terdengar biasa tapi bagi Krystal itu seperti membentak. Dan amarahnya kembali lagi. "Ya udah, kan udah jawab kalo gak apa-apa. Lagian aku gak maksa ikut kamu sama Kean ke sini—"
Mata Krystal membelalak. Kean? Dimana anaknya?
"Kean mana?" Matanya berkeliling menjelajah.
Mengetahui Kean tidak ada bersama mereka, Kai terlihat sama paniknya seperti Krystal.
"Kai ... Kean mana?"
••••
terima kasih buat yang masih setia. jangan lupa poin dan koin nya ya buat yang punya. i love you ❤❤❤