Scandal

Scandal
Part 44


Setelah pulang dari Cafe bersama Lily. Lara yang hendak masuk ke dalam kamarnya mengurungkan niat tersebut saat samar-samar mendengar suara tangis dari dalam kamar Rose yang kebetulan tak tertutup rapat. Lara pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam, berjalan mendekat pada sang kakak yang tengah menangis di sisi ranjang dengan posisi membelakanginya.


"Kak kau kenapa?"


"La-Lara..." Dengan cepat Rose mengakhiri panggilan ponselnya lalu menghapus air mata di kedua pipinya.


"Kak kenapa kau menangis?" Tanya Lara yang kini duduk di samping Rose.


"A-aku menangis karena—" Rose memutar otak mencari alasan yang tepat karena ia takut jika Lara sampai keceplosan berbicara jika alasan yang diberikannya tidak masuk di akal. "Karena perutku sakit, ini hari pertama aku datang bulan."


"Oh, aku kira kau kenapa." Lara menganggukkan kepalanya. "Lalu tadi kau berbicara dengan siapa?"


Deg.


Rose mengeratkan genggaman pada ponselnya. "Aku menghubungi dokter Reno untuk meminta resep obat pereda nyeri datang bulan." Bohongnya untuk kedua kali.


"Ck, kenapa kau meminta pada dokter Reno. Aku punya obatnya di kamar. Tunggu sebentar." Lara hendak beranjak dari tempat tersebut untuk mengambil obat yang biasa ia gunakan.


"Tunggu Lara!" Rose menahan adiknya untuk kembali duduk.


Lara pun akhirnya duduk kembali dengan bingung apalagi saat melihat raut wajah kakaknya yang terlihat sedih.


"Kenapa kak?"


Rose hanya diam tidak menjawab pertanyaan Lara, hingga ia menghela napasnya setelah cukup lama terdiam.


"Lara kau adikku yang selalu ceroboh, susah diatur, lemot dalam berpikir..."


"Kak kalau kau ingin mendata semua kekurangan ku, lebih baik aku keluar." Lara bukan tidak ingin mendengar semua kekurangan yang dimilikinya, tapi ia sudah tahu semua itu tanpa perlu diperjelas lagi.


"Tunggu Lara." Rose menahan adiknya dengan tersenyum saat melihat wajah Lara yang ditekuk. "Tapi kau adalah orang yang bisa diandalkan untuk menjaga kita semua." Jelas Rose.


"Itu pasti." Lara tersenyum bangga.


"Itu sebabnya aku percaya kau bisa menjaga Mom dan Lily." Rose menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan.


Lara mengerutkan keningnya dengan bingung. "Kenapa hanya Mom dan Lily? Kau tidak mau aku jaga?"


Rose tertawa sembari mengusap rambut adik bungsunya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Sekarang ambilkan obatnya, perutku sakit."


"Oke, tunggu sebentar!"


Lara pun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Rose yang menatap adiknya dengan sendu lalu kembali menatap ponselnya.


"Maafkan aku Mom."


Sementara itu di dalam kamarnya, Lara membuka nakas untuk mengambil obat yang diminta Rose. Namun ia mengerutkan keningnya saat menatap tumpukan pembalut yang ada di dalam nakas tersebut


"Aku belum memakainya sama sekali?" Gumamnya pada diri sendiri sambil mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan. "Tunggu dulu, apa jangan-jangan." Lara segera menuju kamar Rose dengan membawa obat ditangannya.


"Mana obatnya?" tanya Rose saat Lara kembali kedalam kamarnya.


"Ini kak." Lara memberikan obat tersebut dengan tatapan curiga. "Kak apa kau menukar pembalutku?"


"Menukar pembalut? Apa maksudmu?" tanya Rose dengan bingung.


"Kau memakai sisa pembalut ku dan menukarnya dengan yang baru?"


"Ck, untuk apa aku memakai pembalutmu, kau lupa kita memakai merek yang berbeda begitupun dengan Lily." Rose menggelengkan kepalanya.


"Oh iya aku lupa, lalu kenapa pembalutku masih utuh." Tanya dengan bingung.


"Ya, itu artinya kau belum memakainya begitu saja kau bingung."


"Iya juga." Lara menganggukkan kepalanya meskipun masih bingung.


"Sekarang keluarlah aku ingin istirahat." Usir Rose.


Lara pun meninggalkan kamar Rose meskipun masih bingung kenapa bisa ia belum menggunakan pembalutnya.


"Sepertinya aku terlambat datang bulan. Tapi kenapa bisa terlambat?" tanyanya pada diri sendiri sembari masuk kedalam kamar.


Namun alih-alih memikirkan kenapa ia terlambat datang bulan, Lara justru memilih tidur karena mengantuk.