
Disinilah Miranda dan Nelson berada, di sebuah taman kota setelah pertemuan tak terduga diantara mereka. Sungguh Miranda tak menyangka bisa bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalunya yang berkaitan langsung dengan kejadian di Club belasan tahun yang lalu. Begitu pun dengan Nelson, ia tak menyangka bisa kembali bertemu dengan wanita yang pernah ia tolong bertahun-tahun lamanya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Miranda lebih dulu setelah cukup lama terdiam.
"Baik. Bagaimana denganmu?" Nelson bertanya balik.
"Kabarku kurang baik." Miranda menghela napasnya dengan berat lalu menatap pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Nelson dengan intens. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Nelson menganggukkan kepalanya tanpa ada niatan untuk bertanya kenapa wanita itu dalam keadaan kurang baik, karena ia merasa tidak sedekat itu untuk berbincang lebih intim.
"Saat malam itu di Club, apa kau yakin tidak menyentuhku?" Tanya Miranda dengan hati-hati karena takut pria itu tersinggung.
Nelson yang ditanya awalnya bingung, namun setelah memahami pertanyaan tersebut ia pun tersenyum.
"Apa perlu aku bersumpah?"
Miranda menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kaku, kini ia merasa tidak enak pada Nelson karena mencurigai pria itu.
"Aku benar-benar tidak menyentuhmu, percayalah." Ucap Nelson karena melihat keraguan di wajah Miranda.
"Aku percaya, tapi masalahnya..."
Nelson pun hanya diam, menjadi pendengar yang baik bagi Miranda yang tengah menghadapi permasalahan rumah tangga yang pelik. Diam-diam Nelson merasa kagum pada sosok Miranda yang terlihat kuat menghadapi semua permasalahan yang datang silih berganti terutama masalah mengenai anak-anak wanita itu. Menurut Nelson, Miranda cukup baik sebagai seorang Ibu karena memendam semua kesedihannya untuk kebahagiaan putri-putrinya.
"Apa perlu aku bersaksi dihadapan suamimu agar permasalahan kalian clear?" Dengan senang hati Nelson bersedia membantu Miranda. Sungguh aneh sekali bukan? Seorang Nelson yang terkenal sebagai pengusaha bertangan dingin, mau membantu orang asing untuk ke-dua kalinya. Karena biasanya Nelson tidak pernah peduli dengan urusan dan permasalahan orang lain.
"Tentu Nelson, itu yang aku butuhkan." Miranda tanpa sadar menggenggam tangan Nelson karena sangat bahagia. "Maaf aku tidak sengaja." Ia pun melepas genggaman tangannya.
"Jadi kapan? Kalau bisa secepatnya karena Minggu depan aku harus kembali ke London."
Ya, Nelson tidak menetap di Jakarta. Ia hanya hanya sesekali datang ke kota ini untuk menemukan seseorang yang sudah lama dicarinya.
"Secepatnya, boleh aku minta nomer kontak mu?"
Nelson menganggukkan kepala, memberikan nomer ponselnya pada Miranda untuk memperlancar urusan wanita itu. Setidaknya Nelson berharap dengan ia membantu Miranda, maka urusannya pun bisa segera terselesaikan.
Setelah berbincang dengan Nelson cukup lama, Miranda pun bergegas pulang karena teringat pada putrinya Lara. Putri bungsu yang sejak dilahirkan tidak seberuntung kakak-kakaknya yang bisa merasakan kasih sayang seorang ayah walaupun hanya sedikit. Itu sebabnya Miranda menamai putri ketiganya dengan nama Lara, sebagai pengingat betapa malangnya nasib putri bungsunya itu. Dan sekarang ia baru tahu alasan Robert tak peduli pada Lara meskipun terkadang pria itu memperlihatkan kasih sayangnya dengan sembunyi-sembunyi, dan semua itu hanya karena kesalahan pahaman yang terjadi belasan tahun yang lalu.
Sungguh Miranda berjanji pada dirinya sendiri akan pergi menjauh dari Robert dan tak akan pernah kembali, setelah semua kesalahpahaman diselesaikannya. Luka yang diperbuat Robert padanya mungkin masih bisa dimaafkan, tapi luka yang dirasakan Lara karena terabaikan dengan alasan yang konyol tidak akan pernah Miranda maafkan.