Scandal

Scandal
Part 68


Melihat kondisi mereka yang sudah tidak kondusif, terlebih Miranda sampai pingsan berkali-kali serta Nela yang mengamuk dengan memukul Edgar setelah mengetahui Lara hamil. Robert pun mengambil keputusan untuk menunda pembicaraan mereka.


Semua orang harus menenangkan diri lebih dulu, termasuk dirinya agar bisa berpikir dengan kepala dingin. Robert juga memutuskan mereka semua tinggal di mansion Miranda, tentunya dengan pengawasan yang ketat pada Lara dan Edgar dengan mengurung ke-duanya di dalam kamar terpisah.


Untuk Miranda sendiri. Jangan tanyakan bagaimana sedihnya wanita itu setelah mengetahui putri bungsunya tengah hamil dari benih kakak tirinya sendiri. Miranda yang tidak tenang sebelum tahu kenapa putri polosnya itu bisa berani melakukan hal terlarang tersebut, memutuskan untuk ke kamar Lara dengan ditemani Lily.


Dan betapa terkejutnya Miranda setelah mendengar pengakuan Lara, bahwa semua itu terjadi berawal dari rencana mereka untuk menjebak Edgar. Rencana yang disusunnya justru membuat putri bungsunya itu ternoda dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sungguh Miranda benar-benar sangat menyesal sudah mengirim Lara ke Singapura.


Seandainya ia tidak terobsesi menguasai harta keluarga Collins, tentu kejadian itu tidak akan terjadi. Seandainya ia tidak bertindak gegabah dengan merencanakan sesuatu yang jahat, mungkin putrinya masih menjadi gadis polos yang tidak ternodai. Seandainya dan seandainya, namun kini nasi sudah jadi bubur dan tidak ada yang bisa Miranda lakukan selain menangis.


"Tapi kenapa kau melakukannya lagi Lara?" tanya Miranda masih tidak mengerti kenapa bisa putrinya kembali tidur bersama Edgar. Jika yang pertama masih bisa dimaklumi karena keduanya tidak sadarkan diri, tapi yang kedua tidak bisa Miranda maklumi.


"Karena..." Lara menautkan kedua tangannya dengan bingung. Ingin menjawab jujur tapi takut Miranda akan semakin marah.


"Jawab Lara." Lily yang berbicara dengan tatapan tajamnya.


"Aku.. aku melakukannya karena ingin."


"What?" pekik Miranda dan Lily bersamaan dengan wajah yang terkejut. Bagaimana bisa Lara melakukannya lagi hanya karena ingin.


"Lara Collins!" Bentak Miranda hendak menampar putrinya, namun tidak jadi saat mengingat ia pun punya andil dalam kesalahan tersebut.


Lara yang telah bersiap menerima tamparan dari Mom Miranda, perlahan membuka kedua matanya karena tak merasakan sakit di pipinya.


"Ya tuhan, apa kesalahan yang telah ku perbuat sampai harus mendapatkan ujian seperti ini." Miranda menangis dengan terisak. Kehidupannya hancur karena suaminya menikah lagi, putri pertamanya melarikan diri dihari pernikahannya, dan sekarang putri bungsunya tengah mengandung dari benih kakak tirinya sendiri.


"Mom.." Lara memeluk Mom Miranda dengan erat. "Maafkan aku Mom." Lara merasa sangat bersalah sudah membuat Mom Miranda menangis tanpa henti bahkan sampai jatuh pingsan berkali-kali. Tapi sungguh semua itu bukan keinginannya, hamil di usia yang muda dan menyukai kakaknya sendiri.


Lily yang juga merasakan sedih, ikut memeluk Mom Miranda dan Lara. Ya, Lily tidak bisa marah pada Lara karena awal dari kejadian itu sepenuhnya bukan kesalahan adiknya. Kalau pun saat ini Lara menyukai Edgar, bukankah hati tidak dapat memilih untuk jatuh cinta pada siapa. Seperti dirinya yang selalu jatuh cinta pada suami orang.


"Sudah berapa Minggu kandungannya?" Miranda menunjuk perut Lara setelah ketiganya cukup lama menangis sambil berpelukan.


Lara yang ditanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu Mom."


Miranda kembali menangis meskipun sudah menahannya. Ia merasa gagal telah melindungi putrinya dengan membiarkan Lara sendirian menanggung beban yang pastinya sangat berat untuk dipikul di usianya yang masih muda.