
Hari-hari selanjutnya yang dilalui Lara semenjak Edgar tinggal di mansion Miranda seperti sedang menaiki sebuah rollercoaster.
Terkadang membuat Lara jantungan karena keberanian Edgar yang diam-diam masuk ke dalam kamarnya. Terkadang juga membuat Lara kesal setengah mati karena selalu diikuti kemanapun ia pergi bahkan ikut berkumpul dengan teman-teman sekolahnya. Dan terkadang membuatnya marah dan rindu secara bersamaan seperti yang dialami Lara saat ini.
Bagaimana tidak marah saat Lara begitu merindukan kehadiran Edgar yang sudah hampir satu Minggu ini tidak pernah menggangunya, tiba-tiba saja pria itu mengajak Lara pergi namun kesebuah butik dimana Julia dan Edgar memesan pakaian pernikahan mereka.
Ya, Edgar dan Julia kini tengah melakukan fitting terakhir untuk pakaian yang akan dikenakan dihari pernikahan keduanya. Karena memang pernikahan mereka akan dilaksanakan satu Minggu setelah acara pernikahan Rose berlangsung. Dan acara pernikahan Rose sendiri kini tinggal menghitung hari.
"Wah.. calon pengantinnya cantik sekali." Puji sang pemilik butik pada Julia.
Julia tersenyum malu-malu sembari menatap pada Edgar, sedangkan yang ditatapnya hanya diam saja.
"Bagaimana Lara, gaunnya bagus tidak?" Tanya Julia pada calon adik iparnya.
"Tentu saja bagus, kakak terlihat sangat cantik." Jawab Lara dengan jujur meksipun hati nya saat ini begitu panas oleh amarah. Bagaimana tidak marah saat melihat pria yang pernah menidurinya, pria yang selalu menciumnya kini tengah mempersiapkan pernikahan dengan wanita lain. Membuatnya merasa seperti selingkuhan Edgar meskipun status mereka kakak adik satu ayah. "Jangan bilang kalau aku sedang cemburu?" gumam Lara dalam hati sembari menatap Edgar yang duduk di sampingnya.
Menatap pria tampan yang hampir satu Minggu ini tidak memperdulikan dirinya, bahkan pria itu kini memasang wajah datar dan dingin. Tadi saja saat di dalam mobil Edgar hanya diam tak mengajaknya berbicara sama sekali. Jika dipikir-pikir pria itu berubah sikap setelah kejadian malam itu dimana mereka hampir ketahuan berduaan di dalam kamar oleh Kak Rose.
Flashback on.
Lara terkejut saat Edgar lagi-lagi masuk ke dalam kamarnya, atau kata yang lebih tepat pria itu berada di atas ranjang bahkan masuk di satu selimut yang sama dengannya. Membuat Lara kesal setengah mati karena tidurnya terganggu dengan kelakuan Edgar yang lagi-lagi mencium ketiaknya.
Ya, sudah beberapa hari ini tiap malam Edgar selalu menyelinap ke kamarnya hanya untuk mencium ketiaknya. Padahal Lara sudah mengunci pintu kamarnya tapi tetap saja pria itu bisa masuk entah dengan cara apa.
"Kak apa kau tidak jijik melakukan itu?" Lara menjauh dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam. Karena seperti biasa saat tidur Lara hanya mengenakan pakaian dalam saja, hingga memudahkan Edgar mencium ketiaknya.
"Tidak."Jawab Edgar dengan menatap Lara di dalam penerangan redup di ruangan tersebut, karena hanya ada lampu kamar yang menerangi kamar itu.
"Kau itu aneh sekali." Gerutu Lara dengan kesal.
"Ya, aku memang aneh." Edgar menghela napas dengan panjang. Ia sendiri tidak tahu kenapa selalu ingin mencium ketiak Lara setiap malam, dan jika tidak melakukan hal tersebut maka Edgar tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ck, sekarang keluarlah aku ingin tidur lagi." Bohong Lara.
Karena sebenarnya rasa kantuk itu sudah menghilang berganti rasa was-was di dalam dada. Ia takut terjadi hal yang tidak-tidak diantara mereka, karena setiap kali mereka berdekatan seperti ada magnet yang membuat keduanya lupa diri. Seperti yang sudah terjadi beberapa hari ini, setelah Edgar puas mencium ketiaknya maka tanpa mereka sadari akan berakhir dengan sebuah ciuman yang memabukkan.