Scandal

Scandal
Part 76


Lara menganggukkan kepalanya meski pun tak yakin akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik untuknya tanpa ia harus pergi ke luar negeri, dan kalau bisa tidak kehilangan Edgar Ayah dari janin yang dikandungnya. Tapi setidaknya Lara kini lebih tenang apalagi ada kak Lily yang memberinya semangat, sebuah perhatian dan dukungan yang sangat dibutuhkannya saat ini.


"Apa kau mencintai Edgar?" tanya Lily setelah mereka cukup lama terdiam.


Tanpa ragu Lara menganggukkan kepalanya. "Tapi kak Edgar bilang dia tidak mencintaiku." ucapnya dengan sendu.


"What?" pekik Lily dengan terkejut. "Dengar Lara kalian melakukannya dua kali, dan disini sudah ada bukti cinta kalian. Jadi mana mungkin Edgar tidak mencintaimu." Lily yakin Edgar mencintai Lara karena terlihat dari bagaimana cara Edgar melindungi adiknya itu, dan dengan nekatnya membawa Lara pergi di hari pernikahan Rose


"Tapi kak Edgar yang mengatakannya langsung." Lara kembali menangis sambil membuka bungkus coklat yang baru karena coklat yang tadi dimakannya sudah habis.


"Percaya padaku, Edgar mencintaimu. Dan jika memang tuhan sudah menakdirkan kalian bersama maka akan ada jalan bagi kalian untuk bersatu."


"Itu tidak mungkin kak, kami tidak mungkin bisa bersama karena kami kakak adik, dan tiga hari lagi Edgar akan menikah dengan Julia." Lara yang menangis dengan terisak sampai mengeluarkan ingusnya.


Melihat adik kesayangannya menangis dengan terisak, Lily pun memeluk Lara dengan erat dan penuh kasih. Namun rasa sayang itu menghilang begitu saja saat Lara dengan tanpa rasa bersalah mengusap ingusnya pada baju kesayangan Lily.


"Lara...!" Teriak Lily sambil mendorong kasar adiknya.


Sementara Lara yang didorong justru kembali asik memakan coklatnya tanpa mempedulikan kemarahan Lily.


*


*


"Kau selidiki ini." Miranda memberikan hasil tes DNA Lara dan Robert. "Dan lakukan tes DNA pada ini." Miranda menyerahkan rambut Lara dan rambut Robert yang sempat ia ambil sebelum pria itu pergi.


"Oke." pria dengan penampilan serba hitam itu mengerti apa yang diinginkan kliennya. "Apa ada lagi?"


Miranda menggelengkan kepalanya. "Aku ingin hasilnya secepat mungkin."


Pria itu menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari tempat tersebut, untuk menjalankan pekerjaan yang di minta Nyonya Collins. Sementara itu Miranda yang masih berada ditempat tersebut tengah mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sungguh ia masih tak menyangka jika selama ini Robert meragukan Lara sebagai putri kandungnya hanya karena foto-foto yang diberikan oleh seseorang.


Ya, memang Miranda akui foto-foto itu benar adanya dan bukan rekayasa. Namun saat itu ia datang ke Club untuk menemui rekan bisnisnya, namun entah bagaimana dia bisa sampai mabuk berat dan berakhir disebuah room. Saat sadar ia menemukan dirinya dengan seorang pria, pria yang mengaku tidak melakukan apa-apa kepadanya dan hanya menunggunya sampai sadarkan diri.


Merasa sudah terlalu lama berada ditempat tersebut, Miranda pun beranjak pergi setelah membayar tagihan minuman yang dipesan oleh orang kepercayaannya. Namun karena jalan dengan terburu-buru, ia tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan sampai ponsel milik orang itu terjatuh.


"Maaf." Miranda mengambil ponsel yang terjatuh itu. "Sekali lagi maaf, dan ini." Ia menatap sosok tersebut yang ternyata seorang pria. Pria yang menurutnya tidak asing dan merasa pernah bertemu sebelumnya tapi lupa dimana.


Pria yang ditabrak itu pun menatap wanita didepannya dengan intens. Ia juga merasa pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya namun entah dimana.


"Kau...!" Ucap Miranda dan Nelson bersamaan setelah keduanya mengingat satu dan lainnya.