Scandal

Scandal
Episode 12


Raline duduk menunggu di dalam sebuah restoran, saat ini Ia tengah berada di dalam restoran yang sudah Ia janjikan bersama Daniel. Daniel mengatakan akan menemuinya di restoran ini. Pikiran Raline berkecamuk semenjak dirinya pulang dan menginjakan kaki kembali ke dalam mansion itu, ketika Daniel memeluknya erat dengan wajah penuh rasa cemas. Hal yang paling Raline impikan dulu, kini hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk baginya.


Tiba-tiba, seorang pelayan datang mengantarkan satu botol minuman wine dan di simpan di atas meja Raline. Raline berkerut kening, padahal Ia tidak memesan itu.


“Tunggu, ” Raline menahan pelayan yang mengantarkan minuman Raline tadi, “Aku tidak memesan ini ... ” terunjuknya mengarahkan pada satu botol minuman wine yang tersaji di atas mejanya


“Maaf, Nona. Tuan itu yang.. ” “Aku yang memesan, ” suara yang selalu di ingat Raline, refleks Raline menoleh ke arahnya dan pelayan itupun segera permisi pergi


“Daniel ... ”


Daniel datang dengan pakaian yang begitu rapih dan wajah yang cerah. Penampilannya hari ini sungguh berbeda, tidak seperti biasanya. Caranya menatap dan memandang Raline.. seperti bukan Daniel!


Daniel mengayunkan kakinya mendekat ke arah Raline, Ia duduk di kursi yang saling berhadapan dengan wanita yang menyandang status sebagai 'istri'-nya. Daniel menggoyangkan telunjuknya, kemudian seorang pelayan datang dan menuangkan wine itu ke dalam gelas mereka masing-masing.


“Untuk kepulanganmu, ” Daniel menggoyangkan gelasnya lalu memajukannya ke depan, Raline tampak bingung dengan perilakunya, Ia hanya terdiam dan menatap Daniel dengan heran. “Cheers? ” ujarnya sembari menggoyangkan gelasnya di hadapan Raline.


Terenyak, Raline langsung meraih gelasnya dan memajukannya mendekat ke arah gelas Daniel. Raline menegak gelas minumannya, sorotan matanya tak teralihkan dari sosok Daniel di hadapan-nya. Tak lama, seorang pelayan kembali datang dengan membawa dua piring berisikan steak untuk sajian makan malam mereka. Daniel langsung memotong setiap bagian dagingnya dengan ukuran sedang dan sama, lalu Ia menukar piringnya dengan piring milik Raline.


“Makanlah, ” ujarnya sembari tersenyum


“Daniel, ada apa ini sebenarnya? ” tanya Raline, yang sama sekali tidak di tanggapi oleh Daniel. Raline mencoba mengalihkan pandangannya


“Daniel! ” suaranya mengeras, seketika Daniel menghentikan acara makannya.


Daniel meraih jemari Raline, Ia menatap Raline dengan raut wajahnya serius.


“Raline, aku tahu ... sikapku selama ini telah sangat menyakitimu. Hari ini, aku ingin menebus waktu yang hilang itu, aku ingin memperbaiki segalanya. Hubungan kita, ” Daniel berhenti sejenak untuk menghela nafas. “Seandainya kau tahu Raline, sedari dulu aku juga mencintaimu. Namun aku sadar, aku tidak bisa menyembunyikanmu dan egois hanya karena rasa cintaku. Dan sekarang, tidak peduli bagaimana ke depannya. Aku berjanji akan selalu menjagamu. ” gunamnya dalam hati


“Bagaimana? ” tanya Daniel, Raline hanya terbengong menanggapinya. “Aku tahu ini tidak mudah, ”


Raline, air matanya tiba-tiba muncul memenuhi kelopak matanya. Raline teringat akan kontrak yang sudah Ia tandatangani. Betapa sakit hatinya menerima kenyataan seperti ini, di saat orang yang paling di harapkan di dalam hidupnya datang dan melentangkan tangan ke arahnya, tapi Raline sendiri malah berada di pelukan lelaki lain di dalam kehidupannya. Terlambat! Daniel kau terlambat! batin Raline.


Air matanya tak dapat Ia bendung, satu cairan bening itu menetes, dua tetes tiga tetes cairan bening itu mulai membasahi wajah cantiknya. Tangisannya terisak, Ia menundukan kepalanya dalam, Ia tidak berani menatap wajah Daniel langsung. Aku malu Daniel, aku bahkan sudah menjual hidupku kepada pamanmu sendiri! keluh Raline dalam hati.


“Raline, ” Daniel menggoyangkan jemari Raline, di tatapnya Raline yang sedari tadi terisak dalam tangisannya.


Kendrick menyeringai, menatap ke arah layar tab miliknya.


***


“Nona Raline, aku memiliki racikan baru. Apa kau mau mencobanya? ” ujar bartender dengan paras yang tampan dan menawan. Raline mengangguk pasrah.


Raline kini tengah berada di dalam sebuah club malam milik Jenni. Seperti biasa, jika Ia merasa sedih atau frustasi seperti saat ini, Raline akan pergi ke tempat hiburan malam yang di kelola sahabatnya itu.


“Nona Jenni masih berada di dalam, ada seorang klien yang ingin menemuinya. Silahkan, Nona. ” ujar david; bartender tampan, sembari meletakan gelas minuman ke hadapan Raline


Raline meneguknya habis sekaligus, suasana hatinya sedang tidak baik, Ia ingin mabuk sampai tidak sadarkan diri malam ini guna menghilangkan rasa sakit hatinya. Sementara David, Ia melongo melihat Raline.


“Nona, alkoholnya sangat keras. Kau harus pelan-pelan meminumnya. ” “Diam kau! Buatkan aku satu gelas lagi! ” pinta Raline, kesadaranya kian memudar efek minuman beralkohol yang tadi Ia minum.


Beberapa menit kemudian...


“Jenni, dimana kau? Sialan! ” umpatnya, dengan nada bicara sedikit tidak jelas karena mabuk.


David sedari tadi focus memperhatikanya, Ia di tugaskan untuk menjaga nona muda manja kesayangan Bosnya ini. Sementara Jenni, Ia masih sibuk menemui klien pentingnya dan belum bisa bertemu dengan Raline. Jantung David sesaat terhenti ketika tiba-tiba Raline melakukan gerakan, karena jika sampai Raline terluka sedikit saja, maka David lah yang akan di omeli oleh Bosnya. Seperti tengah mengasuh seorang bayi besar. Ketus Daniel.


Tiba-tiba Raline beranjak dari duduknya, membuat David terkejut setengah mati. Ia berlari cepat keluar dari daerah kekuasaanya dan mendekat ke arah Raline. David menopangkan tangan Raline pada bahunya, mencoba menyeimbangkan langkah Raline yang berjalan dengan terhuyung.


“Dimana bosmu itu? ” bisik Raline tepat di telinga David, membuat pria yang dua tahun darinya itu bergidik geli.


“Nona Jenni masih bertemu dengan kliennya, Nona. ” jawabnya dengan pandangan mengedar mencari sofa kosong agar Raline dapat duduk dengan nyaman di sana. “Nona, sebelah sini. ” David menuntun tubuh Raline ke arah sofa, lalu Ia meletakan tubuh Raline pelan. “Huuh ... ” Ia menghela nafas lega. David kemudian memberi isyarat kepada teman bartendernya agar melayani tamu-tamu yang datang, sementara dirinya harus menemani Raline yang sudah tidak mampu membuka matanya sendiri karena mabuk berat.


Pandangan David menyelidik ke arah wajah Raline, wajahnya terlihat begitu cantik namun Ia heran mengapa banyak sekali masalah yang di hadapinya. Dan sering David dengarkan saat Raline berbicara melantur karena mabuk, David yakin bahwa masalahnya tak lain seputar perasaanya kepada seorang pria. Yang cantik saja selalu patah hati, bahkan wanita yang nyaris sempurna seperti Nona Raline ini. Pandangan David tak alih menyelidik wajah Raline.


“Tutup matamu itu, alihkan pandanganmu darinya. Atau aku takkan segan membuatmu buta sekaligus! ”


David terkejut...