
Maap ye kalo rada-rada aneh part ini hahaha yang penting update kan yaaa
🤧🤧🤧
****
Krystal membelalak takjub saat mendapati dua bungkus alat kontrasepsi ada di antara banyaknya jajanan Kean yang anak itu beli tadi di mini market bersama sang ayah.
Tentu saja pikiran buruknya jatuh kepada sosok besar yang seharusnya menjadi tanggung jawab atas semua keanehan ini. Siapa lagi kalau bukan Kai. Lelaki dewasa yang kini sedang ia tatap itu memberikan cengiran takut.
"Bukan aku," ujarnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Krystal. "Sumpah bukan aku."
"Terus? Kamu pikir Kean ngerti ini gunanya buat apa?" Krystal sedikit berteriak, namun tetap memasang wajah tenangnya karena kini Kean sedang membuka-buka bungkusan belanjaannya tadi.
"Aku bisa jelasin, Krys."
Kepala Krystal menggeleng dengan pejaman mata erat. Ia lalu menyuruh Kean memakan es krimnya jauh dari mereka berdua.
"Dua bungkus?"
"Tadi Kean yang minta, pas aku mau bayar jajanan dia, Kean lihat ini di deket meja kasir." jelas Kai.
Krystal mengernyit? "Kenapa bungkusan seperti ini ada di deket kasir?"
"Mana aku tauuuu ... tuh salahin mbak-mbaknya. Jual begituan di pajang di kasir. Untung aja anak kamu gak minta bungkus rokok yang ada di belakang mbak-mbaknya."
"Kenapa gak kamu larang?"
"Ya Tuhan, Krys ... kamu gak tahu sifat anak kamu kayak gimana?" Kai mendengkus. "Bukan cuma aku yang larang, mbak-mbak kasirnya juga udah bilang itu gak dijual, tapi anak kamu malah guling-gulingan di lantai." Ia lalu duduk di sebelah Krystal. "Aku gak mau lagi jalan sama Kean kalo gak ada kamu, gak ada yang bisa bujuk."
"Rasain!" Dengusnya, Krystal lalu mengambil dua bungkusan alat kontrasepsi berwarna merah tadi. "Mau diapain nih?"
"Pake lah," jawab Kai terlampau santai, membuat Krystal memutar kedua bola matanya galak.
"Bilang aja memang kamu yang mau beli."
"Kenapa jadi kamu yang ngebet banget sama benda itu?" Krystal masih memicik tidak percaya pada sang suami. Lagian, bisa-bisanya Kean meminta itu, membuat Krystal tidak habis pikir.
Semoga saja Kean kalau sudah besar tidak seperti ayahnya. Senang bermain dengan benda itu.
Ihh ... Krystal langsung bergidik ngeri memikirkannya.
"Memangnya mau digimanain lagi? Kamu mau Kean minta buka ini? Terus kalo dia minta tiup gimana? Nanti dia sangka balon. Eh, tapi emang mirip balon sih ya, jadi bisa buat mainan dia." Kai tergelak saat tanpa sadar ia mengucapkan kalimat itu.
Entah apa yang ada di dalam kepalanya hingga Kai bisa tertawa nyaring begitu memikirkan Kean meminta benda itu ditiup dan di jadikan mainan.
"Udah deh, umpetin aja!" perintah Krystal. "Nanti dia juga lupa."
"Dari pada di umpetin, mending di pake, jadi gak mubajir."
Astaga! Krystal benar-benar ingin sekali mengetuk kepala suaminya. Kenapa sih Kean harus meminta itu, membuat dirinya harus memberi jatah pada bayi besarnya ini.
"Ayo Krys ... mau ya ... ya ...?"
Perempuan itu mendengkus, lalu menatap Kai pasrah. "Aku boboin Kean dulu."
"Yes!!" Kai berteriak senang.
Ternyata perjuangan di mini market tadi berbuah manis.
Sebelumnya, Kean sempat mengamuk saat Kai tidak ingin membelikan benda itu. Anak lelakinya itu berguling-guling di lantai hingga semua pengunjung yang datang memperhatikan mereka.
Bukan hanya itu, lebih malu lagi saat mereka semua tahu apa yang diminta oleh anak laki-lakinya itu hingga menimbulkan kekacauan. Tidak ingin bertambah malu, akhirnya Kai mengalah dan membelikan 2 bungkus benda yang Kean kira adalah permen.
Sumpah demi apapun, Kai ingin sekali memarahi team marketing dari mini market itu. Kenapa harus meletakan benda yang sangat berbahaya itu di dekat kasir??? Membuatnya malu saja.
****
Baca cerita aku yang lain dong genks