Scandal

Scandal
Part 104


Sementara itu ditempat lainnya, lebih tepatnya disebuah gedung perkantoran yang bertuliskan Exxon. Edgar berjalan dengan langkah tegap memasuki gedung tersebut dengan perasaan campur aduk. Karena sebentar lagi ia akan menemui Dad Robert atau lebih tepatnya Robert, karena satu tahun yang lalu statusnya sudah bukan putra kandung dari Tuan Robert Collins.


Dan kini diruangan yang dulu sering didatanginya. Edgar menatap pria paruh baya yang berdiri dihadapannya dengan perasaan berkecamuk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya mereka bisa bertemu kembali meski dengan status yang berbeda, dan sedih karena di usia Robert yang sekarang seharusnya sudah pensiun, pria paruh baya itu justru masih mengurus perusahaan Exxon.


"Bagaimana kabar Anda?" Edgar memulai pembicaraan mereka sembari menahan rasa ingin memeluk Robert. Walaupun hubungan keduanya sebagai ayah dan anak seringkali berbeda pendapat, tapi jujur dari dalam hatinya Edgar sangat menyayangi dan menghormati Robert Collins.


Sementara itu Robert yang ditanya hanya diam saja. Ia menatap Edgar dengan mata berkaca-kaca karena bahagia bisa bertemu kembali dengan Edgar, setelah hampir satu tahun lamanya mereka tidak bertemu.


Dulu Edgar adalah putra kebanggaannya, dan kini anak muda tersebut menjadi orang asing setelah hasil tes DNA keluar memperkuat pernyataan Nela pada waktu itu. Dan setelah mengetahui Edgar bukan anak kandungnya, rasa sayang itu ternyata masih ada. Bahkan tadi saja ia merasa sedih saat Edgar memanggilnya dengan Anda tanpa embel-embel Daddy.


"Kabarku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku baik Dad. Em, maksudku Tuan Robert Collins." Ucap Edgar dengan tersendu dan tanpa sadar air mata menetes dikedua pipinya.


Melihat Edgar menangis, reflek Robert memeluk dan ikut menangis bersama. Keduanya pun larut pada pertemuan tersebut yang saling mengobati rasa rindu dan rasa sakit yang selama ini mereka rasakan, terutama Robert. Kini ia sadar walaupun sangat membenci Nela atas semua perbuatan wanita ****** itu, tapi Robert tak bisa membenci Edgar.


"Maaf aku tidak pernah melihat keadaanmu selama ini." Ucap Robert setelah lama mereka saling berpelukan dan menangis.


"Tidak apa-apa aku mengerti." Karena Edgar tahu tidak mudah bagi seorang Robert menghadapi kekecewaannya, terlebih ia tahu betul Robert sangat menyayangi dan membanggakan kehadirannya selama ini.


Keduanya pun kembali terdiam cukup lama.


"Ada apa kau kemari?" Robert yakin ada hal penting yang ingin disampaikan Edgar. Karena pria itu sampai datang ke Jakarta langsung setelah hampir satu tahun berada di Singapore.


"Kedatanganku kemari karena ingin melamar putri Anda yang bernama Lara Collins."


Deg.


"Ed apa aku tidak salah dengar?" Robert ingin menyakinkan kembali apa yang didengarnya itu nyata.


"Tidak, Anda tidak salah dengar. Kedatanganku kemari khusus untuk meminta Lara."


"Tapi Ed, kau tahu betul Miranda sangat membencimu dan bukankah kalian sudah sepakat untuk —"


"Aku disini tidak ingin membahas Miranda. Aku datang kemari untuk meminta restu Anda Tuan Robert Collins, untuk urusan selanjutnya aku yang akan menghadapi." Ucap Edgar dengan sangat yakin dan tegas.


Robert yang bingung harus menjawab apa, merebahkan punggungnya pada sandaran kursi sembari menghela napas. Jujur ia senang jika seandainya Edgar menjadi menantunya, jadi ia bisa menyerahkan tanggung jawab untuk melindungi Lara dan perusahaan Exxon ditangan Edgar. Tapi mengingat bagaimana Miranda sangat membenci Nela, hubungan itu rasanya tidak mungkin terjalin sampai hari kiamat sekalipun.


"Aku mohon restui kami Tuan Robert Collins, aku berjanji akan menjaga Lara dengan baik dan akan mencintainya seumur hidupku." Pinta Edgar dengan memohon sepenuh hati.


"Baiklah aku merestui kalian." Ucap Robert pada akhirnya setelah melihat ketulusan dan tekad Edgar untuk menikahi Lara.


"Terima kasih Tuan..."


"Panggilan aku Dad, karena sebentar lagi kau akan menjadi anak menantuku."


Edgar pun langsung memeluk Dad Robert sebagai tanda terima kasih.


"Jaga baik-baik Lara, bahagiakan dia karena selama hidupnya anak itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh. "Pinta Robert dengan menepuk pundak calon menantunya.


"Pasti Dad." Ucap Edgar dengan tersenyum karena sudah berhasil mendapatkan restu dari Robert.


Kini tinggal tersisa satu restu yang harus didapatkannya dari Miranda, dan ia tahu tidak akan mudah mendapatkan restu tersebut. Tapi Edgar tidak akan menyerah, karena semua itu demi kebahagiaan dirinya dan wanita yang sangat dicintainya.