
happy reading genkkk!!!
****
Sebelum pergi bekerja, Kai mengantarkan Kean ke sekolah terlebih dahulu sebelum kemudian mengantarkan Krystal ke rumah sakit untuk menjenguk papa Ryan.
Mertuanya itu belum juga sadarkan diri sejak kemarin, dan ia juga tidak bisa melarang Krystal untuk tetap di rumah dan tidak perlu terlalu cemas. Karena bagaimana pun Kai sangat memgkhawatirkan kesehatan sang istri, terlebih saat ini Krystal sedang hamil tua. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh.
Meski kehamilan Krystal tidak memiliki resiko apa pun, tetap saja ibu hamil dilarang untuk terlalu stres. Itu yang Kai pikirkan sejak tadi.
"Inget ya, jangan telat makan kamu."
Sudah hampir sepuluh kali Kai mengatakan itu untuk mengingatkan Krystal agar tidak menunda makannya.
"Iya, aku pasti makan kok. Kamu udah sepuluh kali bilang kayak gini, gimana aku gak inget." jawab Krystal sembari membuka seatbelt nya.
Kai yang berada di balik roda kemudi menatap sang istri lamat-lamat. "Aku tahu kamu, Krys. Aku udah hapal gimana sifat kamu. Kalo gak laper kamu pasti gak akan makan."
Bibir Krystal mencebik dengan kerutan di dahi. "Masa aku kayak gitu?" kelakarnya mencoba untuk meredakan kekhawatiran sang suami. "Aku tuh doyan makan, tenang aja kamu, aku pasti makan banyak hari ini."
"Bener ya?"
Krystal mengangguk. "Bener dong, mana pernah aku bohong."
Akhirnya raut cemas di wajah Kai perlahan berubah. Ia tersenyum tipis seraya mengusap pipi Krystal lembut.
Saat ini mereka masih berada di parkiran rumah sakit. Rencananya Kai hanya akan mengantakan Krystal sampai parkiran saja, tidak ikut masuk karena ia masih ada keperluan rapat mendesak di kantor—yang kemarin sempat ia abaikan mengingat telepon Krystal yang mendadak menakutkan itu.
"Jangan sakit ya, sayang." ujar Kai tulus. Punggung jari tangannya masih asik mengelus pipi sang istri, seolah tidak rela melepaskannya. "Aku masih butuh kamu, Kean juga masih butuh kamu."
Krystal menggengam tangan Kai yang berada di wajahnya, menggulum senyum simpul ke arah sang suami. "Hm ... aku pasti jaga diri. Buat kamu sama Kean." Lalu pandangannya jatuh ke arah perut. "Sama buat jagoan kita yang masih berada di dalam perut." lanjutnya lagi di akhiri dengan kekehan. "Ya udah, aku masuk ya. Kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang, terus kalo udah selesai rapat jangan lupa hubungin aku."
"Iya ..." balas Kai dan mengecup kening Krystal lama. "Sayang kamu banget."
"Aku juga sayang kamu."
***
Mesin pendeteksi jantung terdengar nyaring sekali di dalam ruangan itu. Ada mama Maria yang duduk di sofa ruangan, dan Airin di sebelahnya. Mas Rendi juga ada di sana untuk menguatkan Airin, sama seperti yang dilakukan oleh Kai.
Karena kondisi jantung papa Ryan yang sudah terlalu parah, jadi tidak memungkinkan untuk beliau melakukan prosedur operasi. Semua tergantung pada obat-obatan dan kekuatan papa Ryan dalam melawan penyakitnya.
Mereka hanya berpasrah dan berdoa untuk kesembuhan lelaki paruh baya itu.
"Kamu udah makan, Krys?" Mama Maria bertanya dari tempatnya, sementara Krystal sedang terduduk di kursi samping ranjang.
"Udah, mah," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari papa Ryan, tangannya terus menggenggam tangan sang ayah yang tidak bergerak itu. "Tadi di rumah, aku udah sarapan sama Kai."
"Lo sebenernya gak usah ke sini, Krys, inget kandungan lo." Kali ini Airin yang bersuara.
"Aku gak apa-apa kok, kak."
"Airin bener, Krys. Mau aku anter pulang ke rumah?" Rendi menawarkan.
Tapi kepala Krystal menggeleng lemah. Sudut matanya bahkan sudah mengeluarkan air. "Gak usah, mas. Aku di sini aja, mau nungguin papa. Nanti kalo papa buka mata aku gak tau."
"Kita bisa hubungin lo nanti."
"Gak mau. Aku mau jadi orang pertama yang papa lihat pas dia sadar."
Kalau sudah seperti ini, mereka bisa apa? Airin hanya menghela napasnya pelan, sementara Rendi mengelus bahunya lembut.
Detik demi detik berjalan, sudah hampir lima jam Krystal duduk di kursi itu. Padahal wajahnya sudah terlihat pucat, di tambah tubuhnya yang kini harus menopang satu nyawa lagi.
Krystal butuh istirahat, terlalu lama duduk juga tidak baik untuk mereka. Berulang kali Airin memaksa sang adik untuk berbaring, tapi Krystal menolak. Krystal juga meminta mereka semua untuk tidak menghubungi Kai, tidak ingin suaminya menjadi cemas.
"Makan dulu, yuk." Di ruangan itu kini tinggal mereka berdua. Mama Maria sudah pulang ke rumah untuk beristirahat di antar oleh Rendi yang sekalian pergi bekerja. "Udah waktunya makan siang." bujuk Airin.
"Aku belum laper, kak. Kalo kamu mau makan gak apa-apa, aku yang jaga papa."
"Gak gini, Krys." Airin mulai jengah. Baginya, kesembuhan papa memang yang utama, tapi menjaga diri sendiri itu juga kewajiban. "Jangan ngeyel deh, gue telepon Kai ya kalo lo masih ngeyel."
"Kak ...," Krystal menoleh ke samping, dimana Airin berdiri di sana. "Jangan, Kai kemarin udah ngelewatin kontrak bagus cuma untuk nemenin aku. Tolong jangan buat dia cemas."
"Nah, makanya lo makan. Nurut sama gue sekali aja, Krys. Lo gak nganggep gue sebagai kakak?"
Mata Krystal berkaca-kaca. "Papa, kak ...."
Airin memberikan sapuan lembut di bahu Krystal. "Gue tahu ... gue ngerti. Papa kuat kok, dia pasti sembuh. Lo jangan merasa bersalah, inget kandungan lo."
Tapi Krystal sudah merasakan itu. Ia telah kehilangan Ibu, dan papa sekarang belum juga membuka matanya. Rasanya Krystal tidak bisa menahan diri dari rasa bersalah yang menghimpitnya.
"Kalo lo emang merasa bersalah, tebus semuanya dengan diri lo. Elo harus tujukin sama papa kalo lo bisa hidup lebih baik. Lo harus sehat. Lo harus kuat."
Dan Krystal mulai terisak. Ada banyak rasa yang melingkupi dirinya saat ini. Tapi ketakutan lebih mendominasi. "Kak ..."
"Ayuk kita makan, biar papa di jaga sama suster. Lo harus isi perut, Krys."
Kini Airin bisa mendesah lega karena Krystal menganggukan kepalanya. Ia meraih lengan sang adik untuk membantunya berdiri, namun begitu Krystal beranjak dari kursi. Airin dikejutkan karena secara mendadak tubuh Krystal limbung dan terjatuh ke atas lantai.
"Krystal!"
****
hahaha ini aku jadi kayak buat cerita baru ya, ada sedikit ketegangan di dalamnya.
enjoy ya kalian, semoga makin suka sama cerita aku