Scandal

Scandal
Part 69


"Mom jangan menangis lagi." Lara kembali memeluk Mom Miranda.


Miranda sendiri langsung mengusap air matanya, berusaha untuk tegar dihadapan kedua putrinya. "Lupakan Edgar sayang, karena sampai kapan pun kalian tidak bisa bersama. Dia kakakmu Lara."


Lara hanya diam dengan tangis yang semakin keras. Apakah ia bisa melupakan Edgar setelah apa yang terjadi diantara mereka? Tapi yang jelas saat ini Lara sadar hatinya benar-benar telah jatuh cinta pada Edgar setelah menyadari mereka tidak akan pernah bisa bersama. "Lalu bagaimana dengan anak ini Mom?" ia mengusap perutnya.


Kini gantian Miranda yang terdiam. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan dirinya, Robert, dan Nela pada janin yang ada di kandungan Lara. Apakah akan dipertahankan atau digugurkan, tapi yang jelas kedua pilihan itu sama-sama memiliki resiko yang besar.


*


*


Sementara itu di dalam kamar yang berbeda. Nela yang masih sangat marah dengan apa yang dilakukan Edgar, terus menangis sambil memukul putranya berulang kali.


"Kenapa jadi begini Ed. Kenapa bisa kau menghamili anak bodoh itu?"


"Lara tidak bodoh, Mom." Sela Edgar yang sedang mengompres luka di sudut bibirnya.


"Ya, terus saja kau bela dia. Kau sadar tidak Lara adikmu, bukan wanita yang bisa kau tiduri." Sentak Nela dengan penuh amarah. Bagaimana tidak marah, jika rencananya untuk menguasai harta Collins jadi berantakan karena perbuatan Edgar yang diluar dugaan. Terlebih nama baik putranya yang tidak pernah melakukan kesalahan kini hilang sudah.


"Mom aku lelah, lebih baik Mom keluar sekarang." Edgar tidak mau berdebat, karena ia butuh waktu untuk menyendiri agar bisa berpikir dengan tenang. Apalagi besok akan jadi penentu hubungan dirinya dengan Lara untuk kedepannya.


"Dengar Ed, Mom tidak akan membiarkan janin haram itu merusak semuanya. Merusak masa depanmu yang berharga." Ucap Nela dengan sengit.


"Apa maksudmu, Mom?" Edgar mulai takut Mom Nela berencana mencelakai Lara dan kandungannya.


"Mom...!" Bentak Edgar dengan sangat marah. Bagaimana bisa Mom Nela berpikiran ingin melenyapkan darah dagingnya, yang secara tidak langsung cucunya sendiri. "Janin itu tidak bersalah. Disini akulah yang salah, jadi bunuh saja aku."


"Kau!" Nela kembali memukul Edgar yang sudah kehilangan akal sehatnya. "Janin itu masih berupa darah, dan masa depanmu lebih penting Edgar! Lagi pula jika dipertahankan untuk apa? Siapa yang akan mengasuhnya?"


"Kami yang akan mengasuhnya." Jawab Edgar dengan penuh keyakinan.


"Kami?" Nela tertawa dengan keras. "Kau dan Lara sampai kapan pun tidak bisa bersama. Kalian kakak adik." Bohong Nela. Karena ia tahu jelas keduanya bisa hidup bersama karena Edgar dan Lara tidak terikat hubungan darah. Tapi Nela tidak akan membiarkan itu terjadi sampai kapan pun.


Edgar sendiri terdiam. Karena ia tahu apa yang dikatakan Mom Nela benar, mereka tidak akan pernah bisa bersama karena terhalang status ikatan darah.


Melihat putranya terdiam, Nela pun tersenyum dengan seringai tipis dibibirnya. "Kau harus memilih Ed. Jika kau ingin anak itu tetap lahir ke dunia, maka menikahlah dengan Julia."


"What? Aku tidak mau." Ide gila macam apa itu. Menikah dengan Julia sama saja dengan menambah masalah.


"Pikirkan baik-baik, jika kau menikah dengan Julia bayi itu bisa kalian asuh berdua. Tapi jika kau tidak mau menikah dengan Julia, maka mom pastikan anak itu tidak akan pernah lahir ke dunia. Kau tahu betul Dad Robert seperti apa, dia tidak akan membiarkan scandal besar seperti ini merusak nama baik Collins."


Deg.


Edgar tidak pernah berpikir sampai kesana. Ia lupa jika Dad Robert akan melakukan apa pun untuk menutup Scandal besar yang akan merusak nama baik Collins, termasuk melenyapkan janin yang ada di kandungan Lara.


"Pikirkan baik-baik, semua keputusan ada di tanganmu." Nela keluar dari kamar tersebut, yang dijaga oleh dua orang pengawal dengan tersenyum penuh kemenangan.


Ya, meskipun rencananya sudah berantakan. Tapi Nela tidak akan membiarkan semuanya hancur. Edgar harus tetap menikah dengan Julia apa pun yang terjadi, dan untuk Lara juga kandungannya Nela tidak peduli.