
holllaaaa, sebelum kalian baca, aku mau bilang kalo part ini dikit, karena aku juga lagi mengerjakan beberapa cerita, besok kita lanjut lagi yaa, jadi kalo kalian gak mau baca sedikit, gabung sama besok aja hahaha serius karena dikit banget ini.
happy reading!
••••
Krystal sama sekali tidak bisa tertidur. Sudah pukul tiga dini hari dan ia belum sama sekali memejamkan matanya. Perasaan cemas dan tidak enak yang mengganjal sejak kepergian Kai tadi membuatnya uring-uringan tidak jelas.
Tubuhnya masih bergerak ke sana kemari di dalam kamar, sebelah tangannya terus memegang ponsel, berharap Kai menghubunginya. Kecemasan kali ini benar-benar membuatnya tidak tenang. Krystal sedikit menyesal tidak bisa mencegah Kai tadi. Harusnya ia bisa menahan lelaki itu untuk tetap tinggal.
Waktu terus berputar. Mata lelah itu masih tidak bisa terpejam. Meski terlihat sekali raut mengantuk di wajahnya, tapi Krystal tetap menjaga matanya untuk terbuka.
Ia terduduk di meja kaca, memandangi alat tes kehamilan dengan dua garis merah di atasnya. Dalam hati terus melapalkan doa, meminta keselamatan sang suami. Bisa gila Krystal kalau lelaki itu benar-benar meninggalkannya.
"Astaga ...," Krystal mendesah. "Kai pasti akan baik-baik aja." gumamnya pelan.
Tanpa sadar matahari mulai meninggi, Krystal menggeliat dengan kepala menelungkup di atas meja kaca. Ternyata ia tertidur di sana. Perlahan ia menggerakam tubuhnya. Sudah jam tujuh pagi. Buru-buru Krystal mengecek ponselnya, tidak ada panggilan atau pesan dari Kai.
Bahunya kembali merosot, rasa takut itu kian membesar. Krystal berinisiatif menghubungi Kai lebih dulu, tapi ponsel lelaki itu tidak aktif. Sudah tidak bisa dijelaskan seperti apa perasaan Krystal saat ini. Bulir-bulir air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, dimana Kai sekarang? Kenapa ponselnya tidak aktif?
Kepala Krystal menggeleng pelan, mengusir pikiran-pikiran buruk. Dilangkahkan kakinya menuju kamar mandi, mungkin membersihkan diri bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Selesai membersihkan diri, pintu kamar Krystal diketuk dari luar. Airin berdiri di sana dengan wajah tegang. Melihat sang kakak yang berdiri dengan tampang seperti itu membuat rasa takut Krystal kembali lagi.
Ya Tuhan, ada apa ini?
"Krys ...."
"Ada apa sih, kak? Kak Airin kenapa?" Cairan bening yang sejak tadi bertahan di pelupuk matanya, tiba-tiba menetes, menjadikan dadanya berdebar kuat.
"Lo tenang ya," Airin berujar sembari menyentuh bahu Krystal. "Rendi barusan ngabarin gue, semalem dia sama Kai—"
"Kak, please .... aku gak mau denger kabar buruk." Krystal menggeleng dengan wajah penuh air mata.
"Krys ... lo harus kuat, tenang ya." Airin mencoba menenangkan perempuan itu. Mengusap bahunya berulang kali. "Semalam Kai dapat kabar tentang keberadaan Raisa,"
Bahu Krystal merosot lemah dengan kepala yang terasa pening. Wanita itu lagi, astaga rasanya Krystal ingin menamparnya saat ini juga.
Dalam sekejap Krystal merasakan dunianya runtuh. Tubuhnya limbung ke belakang, merosot hingga tergeletak di atas lantai. Ia menatap nanar sekeliling.
"Krys, ya Tuhan ..." Airin memeluknya erat. Krystal terlihat sangat menyedihkan, perempuan itu tidak mengucapkan apa-apa, hanya terduduk dengan wajah penuh air mata. "Lo harus kuat. Kasihan baby-nya."
"Aku mau ke rumah sakit, kak. Aku harus lihat Kai."
***
Pagi itu, seperti mimpi buruk untuk Krystal. Ia yang berada di sebelah Airin hanya bisa melantunkan doa demi keselamatan suaminya. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan Kai di rumah sakit. Mereka hanya dapat kabar kalau Kai ada di sana.
Jantung Krystal terus berdegub kencang. Bahkan ia semakin kalut saat langkah kakinya membawa tubuhnya untuk masuk ke dalam ruang UGD, dan lebih dari itu saat ia mendapati ada beberapa orang yang terkapar di sana.
Tidak. Ia tidak boleh menemui Kai dalam keadaan seperti itu. Krystal terus mencari, membiarkan kakinya yang sudah lemas itu menjelajah ruang UGD.
"Mas Rendi!" teriaknya saat melihat tubuh Rendi berdiri di depan sana. Air mata membuat pandangan Krystal mengabur.
"Krys."
"Dimana Kai, mas?" tanyanya penuh kepanikan.
Rendi menggeleng dengan lemas, berulang kali lelaki itu mengusap wajahnya. Airin yang sejak tadi ada di belakang Krystal kemudian mendekati sang suami.
"Ren, kasih tau, Kai dimana?" Airin pun mendesak lelaki itu.
Sebelum menjawab, terdengar helaan napas lelah keluar dari bibir Rendi. "Kai ada di kamar mayat."
Detik itu, Krystal tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas ia merasa seperti melayang, tidak berpijak, lalu semuanya gelap.
••••
happy ending or sad ending???
hayoooo Kai di kamar mayat, ahahaha. makasih ya genks, meski sedikit aku meluangkan waktu ini buat kalian. semoga suka ❤❤❤