
Hari-hari berikutnya yang dilewati Miranda tidak lagi tenang, karena setiap hari Edgar datang hanya untuk berdiri di depan gerbang rumahnya. Belum cukup sampai disitu, Edgar pun mengikutinya kemanapun Miranda pergi.
Belum lagi dengan kelakuan Lily dan Rose yang mendukung Edgar untuk bisa bersama dengan Lara. Sungguh aneh bukan ke-dua putrinya itu, karena menyetujui Lara dan Edgar untuk segera menikah sementara mereka berdua saja belum memiliki pasangan.
"Kau mau apa lagi?" tanya Miranda dengan kesal, pada Edgar yang memaksa membawa kantong belanjaan miliknya.
"Tentu saja membantumu Mom."
Nah satu lagi yang membuat Miranda semakin kesal, karena Edgar dengan lancang memanggilnya dengan sebutan Mom.
"Sudah aku katakan jangan memanggilku Mom, aku tidak sudi memiliki anak haram sepertimu." Sahut Miranda dengan menghina dan berbohong.
Ya, berbohong. Karena sebenarnya jauh dari lubuk hati Miranda yang terdalam, merasa senang jika mempunyai anak laki-laki seperti Edgar. Karena selama hampir satu bulan ini selalu di ikuti Edgar membuatnya terbiasa dengan kehadiran pria itu, dan mau tidak mau rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya karena Edgar selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
Edgar selalu membantunya, menemaninya berbelanja, dan menjadi pendengar yang baik saat Miranda tengah emosi pada seseorang dan meluapkannya pada Edgar. Padahal Miranda selalu mengusir anak muda itu, mempermalukannya di tempat umum dengan mengatakan bahwa Edgar anak haram dan masih banyak hinaan lainnya yang tentu saja mampu membuat Edgar sakit hati.
Namun Edgar tidak pernah marah dengan apa yang dilakukannya, dan masih terus mengikuti kemana pun Miranda pergi. Sungguh ia tak menyangka seorang Nela yang sangat jahat, dikaruniai seorang putra yang sangat baik seperti Edgar.
"Anda calon ibu mertuaku, jadi sudah seharusnya aku memanggil Mom." Sahut Edgar tanpa rasa marah sedikit pun oleh sikap Miranda yang ketus. Cukup sekali dirinya membuat kesalahan disaat pertemuan pertama mereka, jadi Edgar tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Kembalikan semua belanjaanku." Miranda meminta kembali kantung belanjaan yang tengah dipegang Edgar. Namun pria itu seperti tuli tidak menggubrisnya sama sekali dan terus berjalan menuju mobil miliknya. "Lain kali jangan mengikutiku lagi! Kau mengerti." Ucapnya setelah ia masuk ke dalam mobil, dan tentunya setelah Edgar memasukkan semua barang belanjaannya.
Edgar sendiri hanya menjawab dengan senyuman, lalu menghela napas panjang setelah mobil yang dikendarai Mom Miranda menjauh.
"Sabar Ed, sabar. Ingat Lara Collins." Ucapnya pada diri sendiri. Ia harus lebih banyak bersabar karena tenyata begitu susah untuk mendapatkan hati Mom Miranda. Bahkan hampir satu bulan ini ia bersikap baik, tidak marah saat dihina dan dicaci maki didepan umum, tapi sampai detik ini Miranda masih bersikap dingin dan ketus.
Edgar pun masuk ke dalam mobil menuju rumah Mom Miranda tentunya, dan setelah sampai di rumah tersebut ia dapat melihat Lara yang tengah tersenyum di atas balkon. Sungguh rasa lelahnya hilang begitu saja setelah melihat wajah wanitanya. Meksipun mereka hanya bisa saling menatap dari kejauhan, tapi bagi Edgar itu sudah cukup.
"Masuklah ke dalam!" Ucap Edgar dengan setengah berteriak.
Lara yang mengerti menganggukan kepalanya. "Kakak pulanglah, besok berjuang lagi!" Balas Lara dengan tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendapat anggukan kepala dari Edgar.