
Daniel duduk di sofa ruang tamu, semalaman Ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Raline. Raline pergi ketika dirinya mengatakan akan memulai hubungan baru dengannya. Mengapa Raline pergi? Dan kemana? Seputar pertanyaan melayang di pikirannya. Daniel resah, bahkan malam tadi Raline tidak pulang ke mansionya.
Di luar dugaan. Daniel kira Raline akan senang mendengar keputusannya. Namun kenyataanya Raline malah pergi tanpa memberinya jawaban apapun. Terlebih, tingkah Raline tidak seperti biasanya, Ia terlihat tengah menghindar dari Daniel.
Melihat arloji pada pergelangan tangannya, membuat Daniel semakin gusar. Waktu menujukan pukul satu siang dan Raline belum juga kembali. Daniel beranjak kemudian Ia segera keluar dari dalam mansion dan berjalan menuju halaman untuk menghampiri mobilnya yang terparkir di sana.
Mobil Daniel melesat dan membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Saat ini kemungkinan terbesar Raline berada adalah di tempat Jenni. Ya, Daniel mengenalnya. Daniel sudah beberapa kali bertemu dengan Jenni, sering wanita itu mengantar Raline pulang dalam keadaan mabuk.
“Dimana Jenni? ” tanyanya kepada seorang bartender.
“Daniel? ” sapa wanita cantik yang sedang berjalan mendekat ke arah Daniel.
Daniel menoleh, ketika Ia menyadari bahwa wanita cantik itu adalah Jenni, Ia langsung mendekat ke arahnya.
“Jenni, apakah Raline bersamamu? ” tanyanya dengan wajah cemas.
Jenni menggigit bibir bagian bawahnya. Sebenarnya Ia juga tidak tahu dimana Raline saat ini, dan siapa pria yang semalam telah membawanya, sampai pria tersebut membuat keributan di dalam club milik Jenni dan melukai seorang bartendernya. Sedari tadi, Jenni juga tengah mengumpulkan beberapa.informasi mengenai keberadaan Raline. Namun hasilnya nihil, tidak ada satupun temannya yang tahu.
Kini, apa yang harus Ia lakukan? Apakah Ia harus jujur kepada Daniel? Tapi ... mengapa sikap Daniel menjadi seperti ini? Bukankah Ia tidak pernah memerdulikan Raline sebelumnya?
“Aku tidak tahu, ” akhirnya sebuah penolakan yang terlontar daru dalam mulutnya. Di matanya, Daniel adalah pria yang kejam dan menyebalkan, dimana seharusnya a beruntung mendapatkan wanita seperti Raline, tapi Ia malah membuat sahabatnya itu terus-terusan mendapat luka dan kekecewaan.
“Aaargh!” Daniel geram, Ia mencengkram kuat rambutnya menggunakan kedua telapak tangannya, Ia juga menendang kursi yang berada di depan bar.
Jenni menatapnya heran. Daniel tampak kacau dengan kondisinya saat ini. Ia gusar ketika tidak menemukan Raline di tempatnya. Sejak kapan Daniel peduli terhadap Raline? Dan Raline, wanita itu sebenarnya pergi kemana? Jenni begitu kerepotan mencarinya.
***
Erangan kuat saat hentakan terakhir sebelum pelepasannya, suara itu terdengar begitu nyaring. Tidak hanya itu, sebelumnya Raline juga mendengar suara dua orang yang tengah bergelut dalam gelora nafsu. Raline menelan ludahnya susah payah. Sebenarnya Ia sedang berada di mana sampai Ia bisa mendengarkan suara vulgar seseorang yang tengah asik bercinta?
Menyebalkan! Satu kata yang mewakili perasaanya saat dirinya menjadi saksi kedua orang yang tengah bercinta. Sial, padahal Raline sendiri adalah wanita yang belum pernah mencoba hubungan **** sebelumnya. Di saat semua harapannya itu mulai muncul, dengan terpaksa Raline harus menenggelamkanya hingga ke dasar. Itulah alasannya mengapa tadi malam dirinya pergi meninggalkan Daniel.
Raline beranjak dari peraduannya, Ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan kaki yang tertatih-tatih. Kakinya masih terasa sakit karena luka yang baru saja di jahit itu kembali terbuka.
“Sialan!” umpatnya ketika mengingat hal yang membuat luka di telapak kakinya kembali terbuka.
***
Satu jam yang lalu setelah dirinya selesai di obati oleh Nathan. Raline merasakan pengar di kepalanya karena efek mabuk semalam, dan pada kenyataanya perut Raline belum di isi makanan sedikit pun. Pening di kepalanya membuat Raline memutuskan untuk menyambung tidurnya. Tidak peduli dirinya tengah berada di mana, Ia hanya yakin jika dirinya tengah berada dengan Kendrick, maka Ia akan aman. Aman? Ya, aman dari orang lain tapi tidak berlaku pada Kendrick.
Beberapa menit Raline tertidur, tiba-tina saja Ia merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Raline merasakan perasaan panas yang menyelimuti perasaanya, dengan rasa kantuk yang tidak bisa Ia kuasai Raline hanya terdiam dan menikmati itu antara sadar dan tidak sadar. Namun, tiba-tiba Ia membuka matanya secepat kilat. Matanya terbelalak ketika mendapai Kendrick tengah menindih tubuhnya.
“Apa yang sedang .... um, ”
Kendrick langsung meluumat bibir Raline dengan rakus, Ia meluumat seluruh sisi bibirnya dengan nafsu yang memburu. Entah apa yang menyebabkannya seperti ini, ciuman itu terasa begitu brutal.
Raline mencoba mendorong dada Kendrick, namun tubuhnya yang kecil itu tidak mampu mendorong satu incipun tubuh Kendrick dari menindih tubuhnya. Sementara ciumannya terasa sangat kasar sampai tak memberikan ruang bagi Raline untuk bernafas.
Ciuman itu beralih turun menuju leher Raline, Kendrick menciumnya dan memberikan tanda kepemilikan di sana. Dan yang membuat Raline semakin gusar adalah, ketima jemari Kendrick mulai menyentuh bagian sensitif miliknya.
“Tidak! Lepaskan!” Raline terus berontak dan memukul dada Kendrick.
Mendapat perilaku mengganggu yang di lakukan oleh wanita yang kini berada di bawahnya, Kendrick langsung menarik kedua lengan Raline ke atas dan memegangnya kuat dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya Ia gunakan untuk menyentuh squishi milik Raline
“Lepaskan!” Raline terus berontak namum Kendrick tetap tidak memerdulikannya.
Kendrick mendongakan wajahnya untum menatap wajah Raline. Raline mengerutkan keningnya dan terdiam sesaat, satu tatapan tajam dari pria di atasnya mampu membuat dirinya tidak berkutik.
“Kau sangat kasar!” Raline terus berontak, kakinya terus Ia hentakan pada ranjang. Berharap menendang bagian tubuh Kendrick manapun agar Pria itu segera melepaskannya.
“Ck! Pertama kali kau melakukannya denganku bukankah kau juga sangat menyukainya? ” tatapannya tajam.
Kendrick beranjak bangun dengan badan yang hanya bertumpu pada lututnya, Ia berusaha melepaskan gaun yang tengah di pakai oleh Raline. Namun aksinya itu tiba-tiba terhenti saat Ia melihat perban yang berada di telapak kaki Raline kembali mengeluarkan darah.
“Apa yang kau lakukan?!” tanyanya menggertak, Raline berkerut kening tak mengerti dengan pertanyaan Kendrick. “Sialan!”
Kendrick beranjak turun dari ranjang dan langsung memungut kemeja putihnya yang tadi sempat Ia lempat ke atas lantai, Ia membuka pintu dan melangkah keluar lalu menutup pintunya lagi dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara yang begitu berat dan nyaring.
“Ada apa?” gunam Raline, Ia langsung duduk dan membenarkan bajunya yang sudah terkoyak oleh Kendrick tadi.
“Nona Raline, ” seseorang membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam.
“Nathan, untuk apa kau datang kembali? Bukankah lukaku sudah selesai kau balut?”
Mata Raline membulat ketika Ia melihat perban di telapak kakinya sudah penuh dengan bercak darah. Inikah yang membuatnya marah?