
Holaaa, apa kabar.. mau bilang, ini sedikit banget karna aku juga manusia biasa yang butuh liburan. emang kalian aja yang mau liburan hahaha
happy reading!
••••
Pagi itu mereka terbangun dengan tubuh yang saling berpelukan. Krystal terlihat nyaman sekali berada di dalam pelukan Kai, tidak lupa sejak semalam Kai terus menciumi wajahnya, meminta maaf yang sangat banyak karena telah menyakiti wanitanya begitu kasar.
Berbeda dengan Krystal, semenjak Kai tidak menjawab pertanyaannya mengenai perempuan yang ia temui di dalam Black Devil dan memberikan foto Krystal bersama dengan Rekha, perempuan itu berubah menjadi pendiam.
Kai memiliki alasan untuk tidak memberitahukan pada Krystal tentang siapa perempuan itu karena ia tidak mau sang istri ikut dalam masalah ini, cukup dirinya saja yang akan memberi pelajaran pada perempuan itu.
Pukul tujuh pagi, Krystal baru saja masuk ke dalam mandi saat hape Kai yang berada di atas meja berdering. Lelaki itu segera turun dari ranjang dan mengambil ponselnya.
Sebuah nomor tanpa nama. Kai sedikit mengernyit saat tidak mengetahui siapa yang menghubunginya sepagi ini.
"Hallo?"
"Hai, bapak Kaisar Wira Atmadja yang terhormat." sahut seorang wanita di seberang sana. "Apa kabar?"
Kai refleks menggeram, melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. "Berengsek! Mau apa lo telepon gue!"
"Wow, galak ya?" terdengar ejekan geli dari sana. "Jangan galak gitu dong sama gue, nanti lo nyesel aja."
"Berhenti bicara omong kosong ya! Gue udah tahu semuanya, lo itu emang bener-bener iblis! Lo pikir gue gak bisa buat lo sengsara!" balas Kai menggebu-gebu, namun masih berusaha tenang dan tidak menimbulkan suara yang nyaring.
"Ya, kita lihat aja, siapa yang bakalan dapet masalah dari foto ini?" Wanita itu berdecih. "Ternyata banyak di luar sana yang masih suka gosip murahan, apa lagi itu menyangkut perselingkuhan. Contohnya, gosip tentang istri pengusaha muda yang telah tertangkap kamera sedang berkencan di salah satu kafe bersama seorang lelaki. Itu pasti akan jadi skandal yang paling heboh. Menurut lo gimana?"
"Brengsek!" tanpa sadar Kai mengatakan itu dengan nada keras. "Berani lo ngelakuin itu, gue bersumpah kalo lo gak akan bisa hidup tenang di dunia ini."
"Uhh, gue takut sama ancaman lo!" Lalu perempuan itu terkekeh. "Selama lo menuruti apa mau gue, foto itu gak akan tersebar."
"Mau lo apa, Bitchhh!"
"Temuin gue hari ini."
"Gue bakalan bunuh lo!"
Wanita itu tertawa meledek. "Kita lihat aja nanti, siapa yang bakalan mati!"
Begitu panggilan itu terputus, saat itu juga Krystal keluar kamar mandi dengan tampang bingung dan curiga. "Kenapa?"
"Terus kamu mau ke kantor? Ini kan hari libur?" tanya Krystal terlihat tidak suka.
Kai menghampiri, berhenti tepat di depan sang istri. Kedua tangannya terangkat untuk menangkup dua sisi wajah Krystal. "Sebentar kok, aku usahain langsung pulang kalo masalahnya udah selesai." lalu ciuman lembut menempel di bibir Krystal.
"aku juga kangen mau lihat Kean, udah berapa hari sih dia di rumah mama?"
Krystal terkekeh. "baru dua hari, kayaknya Kean gak mau pulang deh sayang."
"ya udah, gak apa-apa, dia masih liburan kan?"
"iya." Krystal lalu menyentuh punggung tangan Kai yang menempel di wajahnya. "kamu mau sarapan apa?"
"kamu." satu kata yang mampu Krystal mengerti dengan cepat.
"jangan aneh-aneh."
"kenapa? kamu masih sakit ya?"
kepala Krystal menggeleng pelan. "udah enggak, cuma kamu kan lagi buru-buru mau ke kantor."
"gak buru-buru banget kok. cukup buat makan kamu."
Krystal mencubit pelan perut berotot sang suami. "dasar nakal."
wajah memerah milik Krystal seolah seperti sebuah persetujuan untuk Kai memakan sarapannya pagi itu. Ia memangut bibir sang istri dengan amat sangat pelan, seolah bibir Krystal adalah barang pecah belah yang mudah pecah. Terhanyut, Krystal pun membalasnya. Ia melingkarkan lengannya di sepanjang leher Kai.
Dan ciuman itu terlepas saat keduanya butuh bernapas lebih baik. Mereka saling berpandang dan tersenyum. Kai mengelus lembut pipi sang istri dengan punggung jarinya.
"Aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku ya, Krys."
Krystal mengangguk. "Aku juga sayang sama kamu. Aku gak akan ninggalin kamu selama kamu gak nyakitin aku, maka itu, tolong jaga hati aku, kak."
"Pasti. Aku pasti akan jaga hati kamu. Aku cinta kamu, selamanya."
Lalu mereka kembali melanjutkan ciuman yang sempat terputus itu. Atau lebih tepatnya melanjutkan itu di atas ranjang. Bergulat dengan rasa rindu, percaya atau tidak pertengkaran membuat mereka saling merindukan.
••••