
Lara terdiam dibawah tatapan penuh intimidasi dari Edgar. Pria itu seolah ingin menelannya hidup-hidup jika ia tidak menjawab pertanyaan tersebut detik ini juga.
"Jawab Lara!" Edgar mencengkram kedua bahu adiknya dengan kasar karena sudah tidak sabar. Ia ingin memastikan apa yang didengarnya tadi tidak salah.
"Aku.. aku hamil kak." Lirih Lara dengan kepala tertunduk. Tidak berani menatap sang kakak yang pastinya terkejut, terbukti dari cengkraman di bahunya yang lepas.
"Oh My God." Hanya tiga kata itu yang mampu dikatakan Edgar dengan wajah yang terkejut setelah mendengar jawaban Lara. Wanita itu mengatakan sedang hamil, dan pastinya anak yang ada dikandung Lara adalah miliknya. "Kau yakin?" Tanyanya dengan setenang mungkin, padahal rasanya ingin sekali Edgar tenggelam ke dasar lautan agar terlepas dari masalah yang menimpanya saat ini. Karena jujur ia takut. Takut pada apa yang akan terjadi jika Lara benar-benar hamil di saat pernikahannya dengan Julia akan berlangsung satu Minggu lagi. Ditambah lagi dengan permasalahan yang akan terjadi di keluarga Collins jika sampai seluruh keluarga tahu ia menghamili Lara, menghamili adiknya sendiri.
Lara hanya menjawab dengan anggukan kepala, membuat Edgar kembali shock sampai tak bisa berkata-kata.
"Aku sudah menggunakan test pack dan hasilnya positif. Kalau kau tak percaya aku akan mengambil hasilnya." Lara hendak berdiri, namun tangannya ditarik untuk kembali duduk. "Kak..."
"Diamlah!" Sentak Edgar sembari mengusap wajahnya kasar. Sungguh ia bingung dan tak tahu harus melakukan apa mengetahui kehamilan Lara. Meskipun Edgar sudah memprediksi hal tersebut akan terjadi mengingat saat melakukannya ia tak menggunakan pengaman. Tapi tetap saja berita tersebut membuatnya terkejut dan bingung.
"Kak jangan membentakku. Aku kan takut." Ucap Lara dengan menangis karena sudah dua kali Edgar membentaknya.
Melihat Lara menangis Edgar pun menarik wanita itu kedalam pelukannya. Memeluk dengan erat karena merasa bersalah sudah membuat Lara ketakutan sampai menangis hanya karena dirinya yang merasa tertekan sekaligus takut mengetahui kehamilan Lara.
"Maaf." Ucap Edgar sembari mengecup kening Lara dengan lembut.
Edgar menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan berat. "Anak kita. Dan aku akan bertanggung jawab dengan mengatakan yang sesungguhnya pada kedua orang tua kita untuk mencari solusinya."
Lara yang terkejut langsung melepaskan pelukannya. "Kak Edgar yakin? Bagaimana kalau mereka marah? Bagaimana nasibku jika dipecat jadi anak Mom Miranda, dan apa kata orang-orang di—" ucapannya menghilang ditelan angin saat bibirnya dibungkam oleh sebuah ciuman yang begitu menuntut. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Edgar Collins.
Lama keduanya berciuman, seolah menyalurkan rasa rindu yang mereka sadari sebuah rasa terlarang sama dengan yang tengah mereka lakukan saat ini.
"Jangan takut, ada aku." Ucap Edgar setelah melepaskan ciumannya. Mengusap perlahan bibir Lara yang dibuat bengkak olehnya.
Kini perasaan takut, bingung yang sejak tadi mendera hatinya hilang begitu saja berganti dengan sebuah kekuatan setelah mencium Lara. Mencium wanita yang kini tengah mengandung benihnya sekaligus calon ibu dari anak yang kelak akan dilahirkan. Sungguh ia tak menyangka wanita yang akan melahirkan keturunannya adalah adiknya sendiri, meskipun beda ibu tapi mereka tetap sedarah dan ini sebuah scandal bagi banyak orang termasuk di keluarganya. Tapi Edgar berjanji akan tetap bertanggung jawab dengan menanggung segala resikonya.
Sementara Lara tersenyum dengan lega. Kini ia tidak takut lagi untuk menghadapi permasalahan kehamilannya seorang diri karena ada Edgar yang akan bertanggung jawab. Bahkan tadi saja Edgar mengatakan anak kita, itu artinya kakaknya mau menerima kehamilannya.
"Nanti setelah menemukan solusinya kita akan periksa dia." Edgar menyentuh perut Lara yang masih rata. Entah apakah harus mengatakan ini sebuah musibah atau berkah tapi satu yang pasti Edgar akan menjaga kehamilan Lara.
"Kak aku harus kembali sekarang." Lara takut Mom Miranda terbangun dan menyadari dirinya tidak ada ditempat.
Edgar mengiyakan, ia mengantar Lara sampai pintu karena wanita itu mendorongnya masuk ke dalam karena takut terlihat oleh seseorang yang mengenal mereka. Ia pun akhirnya hanya bisa menatap kepergian Lara dengan perasaan campur aduk. Karena mulai saat ini Edgar harus bersiap menerima segala kemungkinan yang ada demi bertanggung jawab pada Lara. Karena bagaimana pun perbuatan mereka salah tapi janin yang ada di dalam kandungan Lara tidak bersalah. Janin itu hadir karena keegoisan orang-orang yang memperebutkan harta keluarga Collins.